Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 31 : Bertengkar


__ADS_3

Mobil Bram akhirnya sampai di perkemahan. Hanya saja kali ini, berhenti di gerbang pintu masuk arah perkemahan. Jadi harus jalan kaki untuk masuk ke sana.


"Pak Jack. Nanti jemput kita sekitar jam satu malam ya, langsung masuk saja mobilnya ke dalam. Oiya, apa sudah dikerahkan malam ini?" tanya Bram.


"Baik. Sudah Ketua," jawab Pak Jack.


"Oke, kita ke dalam dulu. Terima kasih,"


"Sama-sama Ketua,"


Pak Jack langsung menuju mobil dan pergi meninggalkan aku dan Bram. Jalan menuju ke perkemahan hanya diterangi oleh obor yang sudah tersusun rapi di pinggir jalan. Tidak begitu terang alias remang-remang.


"Kamu takut jalan sini?" tanya Bram.


"Tidak juga. Eh iya," jawabku ragu-ragu.


"Yuk kita jalan!" ujar Bram langsung menggenggam telapak tanganku.


"Jangan pegang-pegang Kak, malu dilihatin orang nanti," aku menolak dan berusaha melepaskan genggaman tangan Bram.


"Oke Zanu, maaf ya," jawab Bram langsung melepaskan tangannya.


Aku lihat Bram tidak marah. Apalagi kecewa. Mungkin Bram merasa bersalah karena tidak izin dulu untuk menyentuh telapak tanganku. Mungkin.


Selangkah demi selangkah aku dan Bram berjalan beriringan. Suasana terasa mencekam menurutku.


Aduh! Kenapa suasananya jadi begini ya, aku takut!


Kurrr kurrr kurr auk auk..! Kurrr kurrr!


Aku kaget! Terdengar suara yang menakutkan dari atas pohon besar. Refleks aku memeluk pinggang Bram.


"Takut Kak!!" teriakku sambil memeluk lebih erat lagi.


"Ha..ha..ha..! Katanya tidak mau di pegang-pegang. Lha ini malah meluk. Bukan salahku ya..," Bram tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.


"Sudah, itu cuma suara burung hantu. Di sini aman soal begitu-begituan. Yuk jalan lagi, takutnya nanti terlambat," ujar Bram menghiburku.


"Nggak! Aku takut," jawabku masih memeluk Bram.


"Ya sudah, biar aku gandeng tangannya sampai ke dalam, nanti aku lepas saat sudah di sana, oke?"


Aku mengangguk tandanya setuju dengan pendapat Bram. Bram menggenggam telapak tanganku dan kita berjalan berdampingan lagi.


"Kamu terlihat lucu. Kamu tau, terkadang tingkahmu seperti ini bikin aku kangen," ujar Bram lirih sambil tersenyum melihatku.


"Eits! Dilarang menggombal di saat seperti ini," jawabku.

__ADS_1


"Beneran lho ini. Kamu pernah tidak kangen sama aku?" tanya Bram.


Deg!! Pertanyaan macam apa ini? Kangen? Kapan ya aku terakhir merasa kangen dengan seseorang? Apakah rasa kangen itu sama seperti rasa ke Abang itu ya? Tapi apakah aku pernah kangen sama Bram?


Waduh, mesti jawab apa ini? Tolong...


"Kok diam saja? Itu artinya kamu tidak pernah kangen sama aku kan?" tanya Bram lagi.


"Bu..bukan begitu Kak, mungkin kangenku belum kelar, Kakaknya langsung hadir. Aku juga belum paham bagaimana rasa kangen itu?" aku tanya balik.


"Zanu, suatu saat nanti, kamu akan merasakan apa itu kangen. Dan benar-benar kangennya sama aku. Percaya deh," ucap Bram antara serius dengan bercanda.


Aku diam saja. Jika kangen itu hadir, apakah Bram akan ada? Entahlah..


Api unggun sudah menyala dan terlihat mahasiswa mulai keluar dari tenda masing-masing. Bram melepaskan tanganku.


"Zanu, kamu jangan kemana-mana. Tetap selalu dibelakangku,"


"Oke Ketua,"


Bram berjalan menuju tenda senior. Aku mengikutinya. Terlihat beberapa pasang mata senior yang melihatku, apalagi senior cewek.


Aku berusaha cuek walau sebenarnya aku risih. Bram terlihat tenang, santai dan terlihat happy. Bram memberikan instruksi tugas apa saja yang akan dilakukan senior dan panitia penyelenggara. Kemungkinan malam ini acara berlangsung sampai jam satu.


"Oke, itu saja instruksi dari saya malam ini. Kita harus fokus dan perketat lagi keamanan mahasiswa. Pastikan berapa banyak adik-adik kita izin untuk ke sungai dan pengawasannya. Apa sudah lengkap semuanya?" tanya Ketua.


"Sudah siap Ketua. Untuk makan malam ini sedang proses pengiriman," jawab salah satu dari perwakikan senior.


Semua hening dan kusyuk membaca do'a termasuk aku.


Setelah selesai, Bram mengajakku ke tempat api unggun yang sedang menyala.


********


Di dekat api unggun terdapat banyak kayu-kayu kering yang tersusun rapi, untuk persediaan sampai tengah malam. Di dekat kayu terdapat snack-snack yang masih berada di dalam kantong plastik. Ada juga air gelas dalam dus. Lumayan banyak persediaan makanan untuk malam ini.


"Nah, kita duduk di sini ya Zanu. Sambil menunggu makan malam datang," ujar Bram yang langsung duduk di atas rumput kering.


"Ketua, boleh tidak aku ke tendanya Prita? Aku kangen temanku lho.. Masa' ketemu Ketua mulu," tanyaku manyun sambil ikut duduk di samping Bram.


"Lho, kamu tidak suka ya dekat aku terus? Kamu mau dekat Prita? Nanti kalau aku jauh, kamu kangen," jawab Bram sambil melirikku.


"Bukan gitu maksudnya. Dari awal berangkat sampai sekarang, aku lihat dan dekat Ketua terus. Ini kan perkemahan kegiatan buat mahasiswa baru dan harusnya aku ikut berbaur dengan yang lainnya. Ketua juga sibuk, aku jadi sering di tinggal," jawabku hati-hati. Takutnya Bram tersinggung, padahal dia sudah baik terhadapku.


"Zanu. Maaf kalau kamu merasa tertekan atau tidak nyaman. Tapi aku lakukan ini karena aku...., sudahlah.. Sekarang yang terpenting kamu aman dulu sampai perkemahan ini selesai. Setelah itu terserah kamu maunya bagaimana. Aku bersedia kok menjauh jika itu membuatmu nyaman, oke," ujar Bram lirih, terlihat raut wajah sedihnya.


Waduh, aku jadi tidak enak sama Bram. Bisa-bisa dia jadi salah paham.

__ADS_1


"Ketua, boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku sambil melihat ke arah Bram.


"Iya, boleh,"


"Ada hubungan apa Ketua sama Sari? Apa iya sekedar teman saja?" tanyaku.


"Iya Zanu, aku sama Sari hanya berteman. Tidak lebih dari itu, cuma dia memang pernah bilang suka sama aku dan aku menolaknya. Kamu tidak percaya aku Zanu?" tanya Bram.


Tiba-tiba aku ingat dengan foto di dalam jaketnya Bram. Aku mengambil dua foto tersebut dan memberikannya ke Bram.


"Ini! Aku temukan foto ini di dalam ransel Ketua. Coba jelaskan ke aku. Katanya tidak ada hubungan dengan Sari, tapi ini bukti kalian foto berdua. Aku merasa dibohongi!" ucapku mulai sedikit emosi.


Bram kaget dan langsung mengambil foto tersebut dari tanganku. Dia mengamati foto sambil geleng-geleng kepala.


"Zanu, aku tidak pernah menyimpan foto ini dalam ranselku. Ini foto saat aku menemani adiknya Sari mendaftar UMPTN. Kebetulan aku di sana mengurus jalannya pendaftaran UMPTN bersama yang lainnya. Mereka meminta foto denganku dengan alasan buat kenang-kenangan. Kamu ingat bukan saat aku meminjam pena? Itu formulir adiknya yang aku isi," jawab Bram juga dengan nada sedikit emosi.


"Terserah! Sudah tau Sari itu suka sama Kakak, kenapa mau foto sama dia?! Sudahlah Kak, jangan ditutup-tutupi begitu, kasian anak orang! Aku tidak mau berharap lebih dari hubungan ini, karena aku takut kecewa dan kehilangan lagi," suaraku mulai bergetar.


Ada perasaan sesak dihatiku, sedih, cemburu, marah menjadi satu. Aku mulai suka dan merasa nyaman dekat Bram. Tapi aku takut berharap lebih.


"Zanu!! Aku tu sayang sama kamu Zanu! Kamu tidak tau bukan? Aku belain ke sana kemari, mengurus ini itu hanya untuk bisa melindungi kamu! Aku tidak ada hubungan dengan siapa-siapa! Selain itu hanya kamu! Jelas Zanu?! jawab Bram sedikit teriak di depanku.


Bram menarik nafas dalam-dalam karena sedang menahan emosinya.


"Zanu, sampai saat ini aku belum menerima jawaban pasti darimu. Aku tetap sabar dan tidak memaksa. Untuk bisa dekatmu saja aku sudah bahagia, tidak tau apa nama perasaan ini lagi? Cintakah?" ujar Bram mulai melunak dan menunduk.


Aku terdiam dengan seribu bahasa. Bram juga ikut diam. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar gemericik api unggun dan suara-suara mahasiswa yang mendekat.


Tiba-tiba ada dua orang berbadan besar tergopoh-gopoh menghampiri Bram. Memakai stelan baju hitam dengan pin keemasan di bajunya. Kulihat pin itu berbentuk sebuah simbol Ox.


Ini orang yang sama, yang pernah aku lihat malam kemaren ditendanya Bram.


"Bos! Bos! Eh maaf, Ketua! Ada berita penting..," ujar salah satu dari mereka sambil melirikku sekilas.


"Kita bicara di sana saja. Dan kamu 09 tetap berjaga di sini!" ujar Bram dengan tegas.


"Siap!" ujar yang satu lagi, yang di sebut Bram dengan panggilan 09.


"Kamu di sini dulu ya. Jangan kemana-mana, nanti biar Prita yang ke sini temani kamu sementara waktu, oke?" ujar Bram sambil mengusap-usap kepalaku.


Aku mengangguk dan menatap Bram dengan penuh tanda tanya.


"Sudah, aku baik-baik saja. Nanti kita sambung lagi ya. Bye Zanu," ujar Bram.


Bram dan satu anggotanya berjalan menjauhi api unggun. Dan satu anggota lagi berdiri tidak terlalu jauh dariku. Dengan posisi siaga, melihat keadaan sekeliling lapangan.


Apa sebegitu bahayanya posisiku saat ini? Sampai di kawal segala.

__ADS_1


Aku diam dan memandangi api unggun. Tidak pakai lama, terlihat Prita keluar dari tenda dan berjalan menghampiriku.


...****************...


__ADS_2