Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 35 : Korban


__ADS_3

Bus datang.


Semua sudah bersiap-siap untuk berangkat pulang dengan menaiki Bus. Tapi sebelum pulang ke rumah masing-masing, semua Bus berhenti dulu di kampus. Makanya jadwal keberangkatan harus di percepat sebelum Zuhur. Supaya kita semua tidak kesorean pulang sampai rumah atau kost.


Aku dan Bram berada di Bus yang sama. Kali ini keadaan tidak secanggung seperti di awal. Prita juga demikian, mulai berinteraksi dengan Bram dengan cara yang santai. Anehnya, Kak Resa juga ada di Bus yang sama kali ini. Kak Resa sebangku dengan Prita.


Keadaan dapat dikendalikan Bram dengan sangat baik selama perkemahan. Masyarakat sekitar menerima positif kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tiga hari. Kelestarian lingkungan juga terjaga dengan baik tanpa adanya kerusakan akibat perkemahan ini.


Bus melaju menuju kampus. Selama perjalanan, suasana di dalam Bus riuh. Ada yang nyanyi, ada yang main teka-teki dan ada juga yang berjoget. Musikpun berdendang sesuai request mahasiswa yang ada di dalam Bus.


Inilah salah satu manfaat dari perkemahan, yaitu bisa mengenal lebih dekat lagi antar mahasiswa dan para senior. Tidak hanya sesama jurusan, beda jurusan tapi juga berbeda fakultas.


"Zanu, kamu ngantuk?" tanya Bram dengan suara sedikit berbisik.


"Iya nih, tapi takut tidur," jawabku.


"Kenapa? Tidur saja kalau ngantuk. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai tujuan,"


"Bukan gitu, takut... takut..., nyendernya ke bahu Kakak," jawabku malu-malu.


"Ya tidak apa-apa, anggap saja bahuku bantal. Lagi pula, kalau tidak nyender, nanti kepala kamu kejedut ke jendela atau gagang besi Bus. Mau?" tanya Bram.


Aku menggeleng. Bram menggeser kepalaku ke bahunya. Aduh! Bram nggak ada malu-malunya. Langsung to the point.


"Nih, udah nyaman kan. Sekarang kamu tidur! Nggak baik kantuk ditahan-tahan," tegas Bram.


Aku diam saja. Makin lama suasana makin sepi. Mungkin karena sejuknya AC Bus atau capeknya di perjalanan, membuat hampir semua ngantuk dan tertidur. Begitu pula aku, kecuali Bram.


Aku tertidur terbuai mimpi yang tidak jelas.


*********


"Zanu.. Zanu.., bangun! Kita sudah sampai tujuan. Ayo bangun," ujar Bram sambil menggoyangkan tanganku.


Samar-samar dengan mata sedikit terbuka, aku bangun. Aku angkat kepala dan melihat keluar Bus melalui jendela. Memang benar, kita sudah sampai kampus. Syukurlah perjalanan tadi lancar tanpa hambatan.


Aku dan Bram membereskan ransel. Terlihat Prita dan Kak Resa mulai turun.


"Zanu, jangan jauh-jauh dariku. Aku antar pulang ya," ucap Bram.


"Baik Kak, tapi Prita ikut juga ya,"


Bram mengangguk. Aku dan Bram turun, lalu menghampiri Prita.


"Prita, kita pulang bareng Ketua ya," ujarku.


"Oke Zanu. Aku capek, masih ngantuk pula. Nanti pulang aku mau tidur lagi ah,"


"Sama, aku juga capek Prita,"

__ADS_1


Kak Resa tersenyum melihat aku dan Prita.


"Kakak duluan ya. Kakak di jemput di pakiran. Kalian berdua kan di antar Ketua?" ujar Kak Resa.


Aku dan Prita mengangguk bareng. Kak Resa berlalu dari sana menuju parkiran mobil. Sedangkan Bram masih melihat sekeliling sambil menghitung Bus yang sudah datang.


Masing-masing senior di dalam Bus sudah di beri instruksi oleh Bram sebelumnya bahwa sesampai Bus di kampus, diharapkan semua mahasiswa segera pulang. Termasuk semua senior yang sudah bertugas.


Untuk alat perkemahan juga sudah di urus panitia acara yaitu senior juga. Setelah situasi sudah kondusif dan mulai sepi, Bram mengajakku dan Prita mengikutinya ke parkiran mobil.


Setelah kita berada di dalam, mobil melaju menuju kostku.


"Ketua, Atif sekarang di mana ya?" tanya Prita memecah keheningan di perjalanan.


Wah! Berani betul Prita tanya-tanya. Ngebet banget Prita sama Atif. Ni anak sepertinya sudah jatuh cinta sama Atif deh! ucap dalam hatiku.


"Kenapa Prita? Memangnya Atif tidak bilang apa-apa?" tanya Bram balik.


"Tidak Ketua. Atif lebih banyak diam,"


"Nanti saya suruh Atif telepon ke kost kamu," jawab Bram.


Ya iyalah, Atif mana mau sembarangan memberikan informasi tentang dia. Tanpa seizin Bram. Ada-ada saja Prita, lagian kenapa harus Atif sih Prita?


"Zanu, apa tidak mau tanya-tanya tentangku?" ujar Bram sambil melirikku.


"Pinter kamu sekarang ya. Oke, kali ini kamu menang Zanu. Tapi nanti kalau aku tidak beri kabar, jangan kangen ya," goda Bram.


"Palingan Ketua yang kangen sama aku, opsst!" aku keceplosan dan malu dengan ucapan aku barusan.


Bram tersenyum mendengar ucapanku. Jemari Bram langsung mengusap kepalaku dari samping. Aku sedikit menghindar, karena malu di lihat Prita yang sedang duduk di belakang. Bram maklum dan menarik jemari tangannya dari kepalaku.


"Tidak apa-apa Zanu, jangan malu sama aku," celetuk Prita sambil tersenyum.


Aku dan Bram tersenyum ke arah Prita.


********


Beberap menit kemudian.


Mobil Bram hampir sampai di tempat kost. Tapi tiba-tiba di depan mobil, banyak orang yang berkerumun. Sehingga jalanan macet total. Terpaksa Bram menghentikan mobilnya.


"Ada apa ya?" tanyaku.


"Aku turun dulu, kalian tetap di dalam mobil," ujar Bram.


Lalu Bram turun dan bergegas menuju kerumunan. Ternyata terjadi kecelakaan antara mobil pribadi dan Angkot. Sekembalinya dari melihat-lihat, terlihat Bram sedikit panik dan langsung berjalan ke arah mobil.


"Zanu, Prita. Ada kecelakaan di sana. Mobil tidak bisa lewat, bagaimana kalau kalian berdua jalan kaki saja ke tempat kost?" tanya Bram.

__ADS_1


"Oiya Ketua, tidak apa-apa. Kost kita juga tinggal beberapa meter lagi. Tuh, dari sini sudah kelihatan kok," jawab Prita.


"Zanu, kita bisa bicara berdua di luar? Ada hal penting yang ingin aku beritau. Prita, pinjam Zanu sebentar," ujar Bram terlihat sedikit cemas.


Prita mengangguk.


Aku deg-degan, ada apa ya? Tidak biasanya Bram bersikap seperti itu? Apalagi setelah melihat kerumunan barusan.


Aku keluar dari mobil dan mengikuti Bram sedikit menjauh dari mobil.


"Zanu.. Kamu jangan kaget ya. Yang kecelakaan itu Sari sama adiknya Lutfa. Apakah boleh aku mengantarkan mereka ke rumah sakit? Bagaimanapun ini termasuk tanggung jawabku. Karena Lutfa habis pulang dari berkemah dan mereka juga mahasiswa di kampus kita," ujar Bram mulai panik.


OMG! Ada saja berita-berita yang membuatku kaget! Bagaimana ini ya keputusannya?


Pasti Bram juga tidak mau mendengar berita ini. Tapi mau tidak mau Bram juga harus ikut andil mengurus mereka.


"Ya nggak apa-apa Kak. Urus saja dulu mereka sampai selesai. Nanti kalau ada kabar lagi, jangan lupa hubungi aku ya. Telepon atau langsung saja ke kost aku,"


"Kamu tidak cemburu kan? Kamu tidak akan marah?" tanya Bram.


"Ya tidaklah. Masa' bikin aku cemburu dan marah. Sudahlah Kak, cepat urus mereka. Aku dan Prita jalan kaki saja ke kost, sekalian mau istirahat juga," jawabku.


Bram mengangguk. Aku memberi kode ke Prita untuk keluar mobil.


"Zanu, ranselku tolong di bawa ya. Nanti abis urus masalah ini, aku ke kost jemput ransel. Sekalian mau ketemu kamu," ujar Bram.


"Oke. Zanu sama Prita pulang dulu ya Kak," jawabku.


Bram mengangguk.


Aku dan Prita berjalan kaki menuju kost. Tak lupa juga aku membawa ransel Bram. Kulihat Bram berjalan menghampiri kerumunan.


Kecelakaannya tidak terlalu parah, tapi banyak yang terluka. Mobil Bram bisa membawa beberapa korban ke rumah sakit. Sambil menunggu bantuan lainnya.


Aku dan Prita akhirnya sampai kost. Lega rasanya bisa lagi ke sini. Rasanya jadi kangen sama anak-anak kost dan kangen berenang walau aku tidak bisa berenang.


"Zanu, siapa sih yang kecelakaan? Kok mau-maunya Ketua bantuin?" tanya Prita.


Pasti Prita penasaran.


"Bukan siapa-siapa Prita. Kan selagi bisa di bantu, Bram pasti bantu," jawabku terpaksa berbohong ke Prita.


"Iya sih. Ketua memang orangnya baik. Ya sudah aku ke kamarku dulu ya. Mau istirahat, nanti mau tidur cepat ah,"


"Oke Prita, aku juga mau ke kamar,"


Aku dan Prita pergi ke kamar masing-masing. Suasana di kost masih sepi, mungkin semua masih tidur atau sedang berada di luar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2