Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 128 : Perintah Bram


__ADS_3

Yup! Itu Bram aku.


Ternyata ia tidak sendirian, ada beberapa bodyguard yang mengikuti Bram dari belakang, memakai seragam hitam dan pin gold.


Otomatis, semua pada liat dong! Hhmm, keren emang kekasihku ini.


Pacarnya Bayu melihat Bram dan langsung terkesima.


"Enak saja kamu mau menampar pacar aku!" Bram terlihat marah.


"Kalian bawa perempuan ini dari sini! Jangan sampai saya lihat lagi!" perintah Bram.


Si perempuan itu kaget! Ia langsung di seret bodyguard Bram dan meronta-ronta minta dilepaskan.


"Bayu! Bayu! Tolong aku! Cepetan Bayu, jangan diam saja," perempuan itu terus melihat ke arah Bayu yang sedang terdiam.


Bram menghampiri Bayu.


"Kamu juga, harusnya jangan diam! Masa' kamu takut sama perempuan itu? Gara-gara kamu, pacarku menjadi sasaran. Salah orang! Kalau mau perempuan itu selamat, segera minta maaf. Bagaimanapun caranya, itu urusan kalian!" Bram mulai posesif dan melindungiku dengan powernya.


Bayu mengangguk. Aku menghampiri Bram dan berbisik.


"Apa-apain sih Kak, itu urusan mereka. Lagian aku kan belum kena tampar. Udah ah, aku ingin pulang!" ujarku ketus.


"Nggak bisa gitu Zanu! Mereka harus tau berhadapan dengan siapa. Kamu itu kekasih aku dan tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu, apalagi menyakiti kamu!" Bram membalasku dengan ketus juga.


"Oiya? Apa Kakak tidak salah bicara? Kekasih yang mana? Yang akan ditinggal sebentar lagi tanpa kepastian apapun? Itu maksudnya kan? Yang menyakitiku siapa Kak? Kakaklah orangnya! Kakak tau sakitnya itu seperti apa? Percuma punya power ini itu, tapi Kakak sendiri yang aku hadapi! Aku pulang dan jangan ikuti!" aku berjalan ke arah warung untuk mengambil pesananku.


Terlihat semua orang di sana semakin senyap dan mereka tidak menyangka endingnya aku yang memarahi Bram. Mereka juga pasti bingung, mana yang harus mereka ketahui lebih dulu, pertengkaran Bayu atau aku?


Bram berbalik arah mengejarku, sedangkan Bayu masih saja diam. Penonton akhirnya bubar dan menyalahkan Bayu.


"Tuh! Gara-gara cewek dia, orang lain jadi ikut bertengkar," bisik salah satu penonton.


"Iya, itu cowok kok lempem amat yak? Diam terus dari tadi," sahut yang lainnya.


Bayu berdiri dan berjalan ke arah mobilnya. Mungkin ia tidak menyangka kalau cerita hari ini menjadi runyam hanya karena ia berbohong. Sekalipun yang ia lakukan saat ini adalah melaksanakan tugasnya sebagai guru privat nyetir.

__ADS_1


"Zanu! Zanu! Berhenti! Aku ingin bicara!" Bram teriak memanggilku dari kejauhan. Aku semakin mempercepat langkah kaki, menenteng plastik isi kelapa muda yang sedang aku minum.


Bram menarik tanganku dan langsung memeluk tubuhku dengan erat, hampir saja plastik kelapa mudaku jatuh.


"Kak! Lepasin aku! Malu tau dilihat orang banyak! Ini daerah tempat tinggalku," aku menolak dengan keras dekapan tangan Bram.


Perlahan Bram melepaskanku. Kulihat ia mengatur sejenak nafasnya dan sedang merangkai jawaban apa yang pas untuk menjawab semua amarahku tadi.


"Zanu, maafkan aku. Sekarang kamu pulang, biar aku yang antar," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bram.


Aku diam saja tanpa merespon apa-apa. Bram menjentikkan jemarinya ke atas untuk memanggil salah satu bodyguardnya.


"Bawa mobilku ke depan sana," perintah Bram.


"Siap Bos," jawab bodyguardnya.


"Zanu, kamu boleh marah kepadaku, tapi tolong pulangnya aku yang antar," Bram terlihat mulai memelas.


"Aku bisa sendiri Kak. Kan sudah dibilangin, ini daerahku, jadi aku tau semua apa yang ada di sini, kendaraan apa yang aku tumpangi nanti sampai depan rumah,"


"Bukan begitu Zanu, ini tanggung jawabku sebagai pacarmu. Dan aku khawatir jika terjadi sesuatu kepadamu," Bram mulai bicara serius.


"Tidak Zanu! Kamu harus ikut denganku! Dan dengar penjelasanku saat kita sudah berada di dalam mobil, ayo!" terlihat raut wajah Bram yang sangat serius, seakan ia memerintahku.


Bram menarik tanganku menuju ke tempat parkir mobilnya. Aku mulai meronta-ronta sambil berusaha melepaskan tanganku dari cengkraman Bram. Tapi percuma, ia memiliki tenaga yang sangat kuat.


Terlihat di setiap sudut mobil Bram ada bodyguardnya yang sedang berjaga-jaga. Tidak biasanya Bram membawa mereka di tempat umum dan dengan jumlah yang cukup banyak. Sampai menjadi pusat perhatian orang banyak.


Akhirnya aku mengalah dan mengikuti saja apa maunya Bram. Aku yakin, pasti Bram memiliki alasan tertentu, yang ingin secepatnya membawaku dari sini.


*********


Di dalam mobil.


"Kamu itu ya, apa salahnya ikut denganku?" tanya Bram sambil menyetir.


"Ya jelas salahlah. Masa' aku dipaksa-paksa? Istri Kakak juga bukan," jawabku sekenanya.

__ADS_1


"Tolong ya Zanu, jangan bikin aku marah. Aku lakukan ini demi kebaikan kamu sendiri kedepannya," jelas Bram.


"Oiya? Bukannya permasalahan itu datangnya dari Kakak sendiri? Aku kena imbasnya dan Kakak pergi menjauh meninggalkan masalah di sini. Demi kebaikan aku tentang apa? Apalagi Kak yang diinginkan dariku?" Aku tersulut emosi mendengar ucapan Bram. Bukan tanpa alasan, ini karena aku semakin takut kehilangan Bram.


"Ini demi keselamatan kamu Zanu! Percayalah!" jawab Bram ketus.


"Iya, aku percaya. Sangat percaya malah. Tapi untuk apa?"


"Tolong Zanu, jangan sakiti hatiku dengan kata-katamu itu!"


"Kenapa Kakak jadi yang sakit hati? Aneh,"


"Dengar ya Zanu, jika kamu menyinggung tentang perpisahan kita, itu sebenarnya salahmu! Aku ingin menikahimu, tapi apa? Kamu bilang masih kuliahlah, belum boleh menikah terlalu cepatlah, cari kerja dululah. Bahkan untuk bertunangan saja, orang tuamu tidak mau! Aku memiliki segalanya Zanu, apa yang kamu pikirkan? Menunda pernikahan karena umur masih muda? Aku bisa melindungi dan memperhatikanmu. Kamu bilang ingin kuliah dulu. Kan kamu bisa lanjut kuliah disaat kita sudah menikah. Apa salahku?" tanya Bram. Ia menghentikan mobil di pinggir jalan dan sedang menantikan jawabanku.


Deg! Sebenarnya apa yang dikatakan Bram itu benar. Apa alasanku untuk menolaknya? Aku tidak melihat kekurangan Bram, hanya saja ia orang yang posesif dan cemburuan. Itu juga karena Bram sangat mencintaiku.


"Kak, jika aku menyetujui menikah denganmu, apakah orang tuamu mau menerimaku? Tentu tidak bukan?"


Gantian Bram yang terdiam mendengar ucapanku. Fix, ia tidak akan bisa menjawabnya.


"Aku mau turun di sini saja," gagang pintu mobil sudahku pegang dan hendak keluar.


"Zanu!" Bram menarikku lagi masuk ke dalam mobil.


"Ada apa sih Kak? Tidak biasanya Kakak seperti ini!" Aku mulai kesal dan cemberut.


"Masuk!" perintah Bram.


Aku terpaksa mengikuti perintah Bram dengan duduk manis di sampingnya.


"Kamu dalam bahaya Zanu! Mulai hari ini kamu selalu aku pantau, sampai mendapatkan kabar selanjutnya.


"Hah?! Bahaya gimana? Ada apa?" aku mulai merasa khawatir mendengar ucapan Bram.


"Nyawamu sedang diintai Zanu! Jadi menurut saja apa yang aku perintahkan, ingat itu!"


Deg! Masalahku dengan Bram belum kelar, malah menambah cerita baru. Aku penasaran, bahaya apa yang akan menimpaku?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2