
Aku dan Bram masuk.
Terlihat Prita sedang mengobrol dengan Atif. Saat melihat Bram, Atif menyingkir memberi jalan.
"Apa kabar Atif? Bagaimana kondisimu sekarang?" Bram justru bertanya ke Atif.
"Alhamdulillah baik Bos. Kondisi saya sebenarnya kurang fit karena menemani Non Prita setiap hari. Tapi Bos, melihat Non sudah siuman dan bisa bicara, saya jadi bersemangat. Hanya saja sayangnya Non belum mengenal saya sama sekali," terlihat raut wajah sendu Atif.
"Iya tidak apa-apa Atif. Memang kondisi awalnya seperti itu, kita harus pelan-pelan mengembalikan memory dipikirannya. Apa kamu siap besok ke Amerika?" tanya Bram lagi.
"Siap Bos. Apapun perintah Bos saya siap dan saya juga siap menemani Non Prita selama proses penyembuhannya," jawab Atif tegas.
"Bagus! Itu bearti kamu bertanggung jawab. Apakah nanti kamu bisa menemani Prita selamanya?"
"Maksudnya Bos?" Atif kaget dan tidak mengerti apa maksud dari Bram dengan bicara seperti itu.
Aku juga menyimak dan tidak tau maksud Bram. Kenapa ya? Itu masalah pribadinya Atif dengan Prita, tapi mengapa Bram ikut campur? Tidak biasanya Bram seperti itu.
"Prita menyukaimu Atif. Di saat seperti ini, dia pasti tidak tau kamu dan siapapun. Jika kamu benar-benar menyukai Prita, aku izinkan kamu selalu dekat Prita sekaligus menjaganya. Semoga suatu saat nanti ia sadar dan sembuh," terang Bram.
"I..iya Bos, saya menyukai Prita. Untuk saat ini hanya hanya fokus untuk kesembuhannya. Tapi diatas semua itu, saya mengikuti Bos ke Amerika karena saya di tugaskan untuk mendampingi Bos,"
"Tidak Atif, kamulah yang nanti mendampingi Prita. Sedangkan yang mengawaliku, ada bodyguard lain yang sudah lama ikut dengan keluargaku di sana,"
"Baik Bos,"
Bram menghampiri Prita. Terlihat Prita bingung dan memperhatikan Bram dengan seksama.
"Ka..kamu si..siapa? Ngapain ka..kamu ke sini?" tanya Prita dengan terbata-bata.
"Aku Bram dan ini temanmu Zanu. Apa kamu masih ingat?" tanya Bram.
"Bram mana ya? Zanu itu siapa?" tanya Prita masih dengan kondisi bingung.
Aku mendekati Prita dan memeluknya. Iba rasa hatiku melihat kondisi Prita seperti ini.
"Prita, aku Zanu temanmu," ucapku.
"Zanu, temanku? Apa itu teman?" tanya Prita lagi.
"Teman itu saling mengenal, seperti ini," aku menggenggam jemari Prita dengan erat.
"Teman," ujar Prita.
__ADS_1
"Prita, aku bersama Zanu, izin pulang ya," ujar Bram.
"Lho? Kok cepat sekali kita pulang Kak?" tanyaku heran.
"Dokter bilang kita tidak boleh lama-lama berkunjung. Prita harus di beri ruang untuk berfikir, ia tidak bisa menampung banyak memory di kepalanya, harus pelan-pelan. Biar Atif saja yang menemaninya di sini,"
"Tapi Kak, aku masih mau melihat Prita," rengekku.
"Maaf Zanu, sebaiknya kita keluar dari sini, demi kesembuhan Prita," ajak Bram.
"Baiklah Kak,"
Aku memperhatikan Prita yang seperti orang bingung. Terkadang ia lama memperhatikanku.
"Prita, aku pulang dulu ya bersama Bram. Semoga kamu lekas sembuh dan selamat jalan. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali," aku memeluk Prita untuk yang terakhir kalinya sebelum iya berangkat.
"Atif, titip dan tolong jaga Prita dengan baik ya," pesanku ke Atif.
"Baik Non," jawab Atif singkat.
Bram menggenggam jemari dan membawaku keluar dari ruangan. Kita berdua langsung menuju parkir mobil dan mobil melaju keluar dari rumah sakit.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Bram mengantarku langsung ke kost.
"Kak, aku sebenarnya takut lho. Bagaimana nanti aku menghadapi kedua orang tua Kakak?"
"Kamu tidak usah takut, ada aku Zanu. Selama di rumahku nanti, tidak akan kubiarkan kamu sendirian, oke," Bram meyakinkanku.
Aku hanya mengangguk walau sebenarnya aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Bagaimana tidak? Sudah jelas-jelas orang tuanya tidak menyetujui hubungan ini, jika aku masih saja bersama Bram, apakah orang tuanya akan berpikir aku perempuan yang tidak tau diri?
"Sudah ya Zanu, jangan dipikirkan. Aku pulang dulu ya, dandan yang cantik," Bram mengedipkan matanya.
"Baik Kak, hati-hati di jalan,"
Bram mengangguk dan mencium keningku. Ia masuk kedalam mobilnya dan langsung pergi menuju pulang.
Aku masuk ke dalam kost dan langsung ke lantai atas untuk tidur sejenak di dalam kamar.
*********
Alarm berbunyi, waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku terbangun dan bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
Setelah selesai sholat, aku turun kebawah. Ternyata teman-teman kost sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka kaget melihat kehadiranku.
__ADS_1
"Hei! Zanu...! Kamu kapan sampai? Kok kita nggak ada yang lihat?" sapa Kak Siska.
"Hai semuanya. Tadi pagi sampai Kak, semuanya kuliah," jawabku sambil duduk di antara mereka.
"Ada berita apa nih? Apa Zanu masih sama Ketua? Kita jarang lihat Ketua sama Zanu di kampus?" tanya Kak Rosi.
"Iya Kak, masih. Tadi Zanu sama Ketua melihat Prita di rumah sakit," aku tidak menjelaskan kenapa jarang berada di kampus.
"Oiya? Bagaimana perkembangan Prita? Apa dia sudah siuman?" tanya Rani. Terlihat mereka menunggu jawaban dariku.
"Sudah. Prita juga sudah bisa bicara walau belum fokus dan tidak mengenal siapapun,"
"Syukurlah ia sudah siuman. Memang butuh waktu untuk bisa mengembalikan memory di kepalanya. Semoga Prita bisa pulih seperti sedia kala," ujar Kak Siska.
"Oiya, apa kamu sudah mendengar kalau Mami kita sedang sakit Zanu?" tanya Kak Kinan.
"Hah? Sakit apa Mami Kak? Baru tau,"
"Mami sakit usus buntu dan besok akan di operasi. Rencana kita besok mau menjenguk Mami di rumah sakit, apa kamu mau ikut juga?" tanya Kak Kinan.
Deg! Aduh, bagaimana ini ya? Besok kan Bram sidang, aku harus menemaninya. Lanjut malamnya, sebelum ia berangkat, Bram akan menjelaskan duduk perkara yang selama ini ia simpan dariku.
"Zanu sebenarnya mau ikut Kak, tapi ada hal penting yang harus diselesaikan besok. Bisakah Zanu titip salam, lusa InsyaAllah Zanu bisa menjenguk," jawabku.
"Baiklah Zanu, tidak apa-apa. Besok kita saja yang mewakili, kamu selesaikan dulu masalahmu, oke," jawab Kak Siska.
"Oiya Kak, malam ini Zanu keluar, di jemput Ketua. Izin ya, jam sembilan Zanu pulang. Tolong bukain pintu ya Kak,"
"Ooo.., malam ini kamu ada kencan ya? Du..duu.., senangnya. Baiklah, nanti malam Kakak akan tunggu kamu pulang," jawab Kak Siska.
Memang Kak Siska orangnya bisa diandalkan apalagi urusan yang berhubungan dengan Bram.
"Terima kasih ya Kak,"
"Sama-sama Zanu. Kamu besok kuliah kan?"
"Tidak Kak, aku mau menemani Ketua sidang," jawabku pelan.
"Wah! Iya ya, besok kan sidang ya. Semoga lancar ya urusannya,"
"Aamiin,"
Aku dan yang lainnya menonton berita di televisi. Tiba-tiba tersiar kabar berita tentang seseorang yang kuliah di tempat kita bersama. Semua penghuni kost kaget, kecuali aku.
__ADS_1
...****************...