
Di dermaga terlihat ramai.
Tidak seperti hari-hari biasanya. Kulihat sudah banyak nelayan yang berkumpul di sana. Mereka hanya memakai pakaian seadanya, mungkin hari ini akan melaut lagi atau baru pulang dari berlayar, entahlah..
Terlihat mimik wajah mereka yang heran saat melihat sosokku yang datang bersama rombongan Pak Jack. Dan menurutku itu lumrah, karena mereka belum tau siapa aku.
Mereka pasti berpikir, mengapa ada perempuan yang datang ke dermaga?
"Selamat pagi semua! Perkenalkan ini Ibu Zanu, yang mulai hari ini dan sampai seterusnya akan menggantikan posisi Pak Bram. Semua keputusan yang saya ambil, harus melalui persetujuan beliau. Untuk urusan di lapangan tetap saya yang mengurus," ujar Pak Jack dengan suara lantang.
Semua yang hadir makin heran dan terlihat mereka berbisik-bisik satu sama lainnya.
"Ssst.. Dia terlalu muda dipanggil dengan sebutan Ibu. Paling juga masih seusia dengan anak gadisku,"
"Apa dia asistennya Pak Bram? Tapi kenapa posisinya diatas Pak Jack yang sudah senior? Atau jangan-jangan dia calonnya Pak Bram ya?"
"Masih muda sekali, apa bisa dia mengatur kita? Apalagi yang dihadapinya laki-laki semua,"
"Kemana ya Pak Bram?"
Bla..bla..bla..
Aku yang mendengarnya hanya diam dengan tetap tersenyum.
__ADS_1
"Saya tau apa yang Bapak-bapak pikirkan. Ibu Zanu ini sudah dipercayakan sepenuhnya oleh Pak Bram. Beliau juga sudah ikut membantu dalam pengembangan dan kemajuan perusahaan Pak Bram yang lainnya. Jadi walaupun usia beliau masih muda, kehebatannya jangan diragukan lagi. Baik, kita beri kesempatan buat Ibu Zanu untuk menyampaikan sesuatu ke kita semua yang berada di sini," Pak Jack mempersilahkan aku untuk berbicara.
Dengan sedikit grogi dan gugup, aku melangkahkan kaki kedepan.
"Selamat pagi Bapak-bapak dan salam kenal. Saya Zanu dan ini hari pertama saya bertemu dengan Bapak-bapak secara langsung. Pak Jack sudah menjelaskan posisi saya di sini dan berharap hasil yang diharapkan Pak Bram kedepannya bisa tercapai. Jadi butuh kerjasama yang baik diantara kita semua. Bapak-bapak bisa mengutarakan pendapat dengan bebas, nantinya kita bersama pula mengambil keputusan yang terbaik. Tapi memang, ada hal-hal tertentu yang saya atur dan keputusan mutlak dari saya. Tentunya semua sudah berdasarkan riset saya sendiri melalui info-info yang saya dapatkan baik dari lapangan maupun dari kemampuan saya sendiri. Sampai di sini, adakah yang mau ditanyakan ke saya?" dengan sangat lancar aku bicara seperti orang yang sedang berpidato. Kulihat mereka sudah mulai paham dengan posisiku dan kehadiranku di sini.
Seorang bapak-bapak berperawakan yang mulai tua, maju beberapa lagkah dari barisan. Dengan sedikit gugup ia melihat kearahku.
"Nak, apapun itu, kami semua yang berada di sini berharap kehidupan kedepan bisa lebih baik lagi. Mata pencaharian kami hanyalah sebagai nelayan dan hanya itu yang bisa kami lakukan. Anak-anak kami mulai tumbuh dan butuh biaya lebih setiap tahunnya. Dengan kehadiran Pak Bram selama ini, beliau sangat membantu keuangan kami yang sebelumnya hanya hidup pas-pasan. Semoga kamu sebagai pengganti beliau bisa menjadi tempat kami bersandar. Semoga kamu bahagia selalu nak, Bapak yakin kamu adalah pilihan terbaik dari Pak Bram," terlihat mimik wajah Bapak tersebut penuh harap dan haru kepadaku.
Ternyata Bram sudah membuat banyak perubahan untuk banyak orang. Bram memiliki power yang luar biasa dan empati yang luar biasa pula, diluar dari sikap dinginnya.
"Aamiin.., semoga saya bisa menjaga amanah tersebut. Terima kasih Pak sudah memberikan apresiasinya dan do'a baiknya buat saya," jawabku.
"Maaf Bos, langsung saja. Bagaimana nasib kami pemuda pemudi disini? Katanya ada jaminan pendidikan buat adek-adek disini? Apa bisa Bos menyusun semuanya, sedangkan Bos baru bergabung," ujarnya lugas dan tegas.
Aku mengerti, kalau pemuda ini memikirkan masa depan dan keluarganya. Walau orangnya lugas, terlihat raut wajah khawatir itu tersimpan di hati. Aku tersenyum sebagai arti jika yang ia sampaikan sudah aku pikirkan dengan matang, walau aku baru masuk ke dunia mereka.
"Disini, saya hanya melanjutkan apa yang sudah di atur Pak Bram sebelumnya. Untuk pengurusan yang lain, rinciannya sudah ada pada Pak Jack. Tentang pendidikan anak-anak, belum ada kepastian. Karena kelebihan atau keuntungan sudah dibagikan dalam bonus bapak-bapak. Jadi, semakin banyak pemasukan ikan yang didapatkan, maka semakin banyak pula mendapatkan bonus. Nanti saya akan pikirkan bagaimana caranya kita bisa menyisihkan bonus tersebut untuk pendidikan dan keperluan lainnya," jawabku.
Pemuda itu mangut-mangut, seakan mengerti dengan jawabanku. Ia kembali lagi masuk ke barisannya. Lalu kemudian, entah mengapa, Pak Jack bicara kedepan.
"Baik, saya rasa segitu dulu penjelasan dari Ibu Zanu. Untuk penjelasan lainnya cukup bicarakan dengan saya. Ibu Zanu harus mempelajarinya dulu. Yang pasti, semuanya ini dari kita dan untuk kita, sesuai dengan slogan Pak Bram. Oke, sekarang bapak-bapak boleh bubar dan melakukan kegiatan masing-masing. Kita akan bertemu lagi minggu depan, selamat pagi," Pak Jack menutup diskusi terbuka. Ia berjalan kearahku. Semua nelayan bubar dan beranjak dari barisan.
__ADS_1
"Maaf Non Zanu, saya terpaksa menutup diskusi hari ini karena jadwal mereka sudah ditetapkan untuk bersiap-siap melaut siang ini. Sebelum berangkat, kita memberi mereka waktu untuk bertemu keluarga masing-masing. Dan saya juga tidak ingin waktu Non Zanu terganggu karena diskusi ini," Pak Jack menyadari kesalahannya.
Aku tidak tersinggung dan mengerti maksud dari Pak Jack. Aku juga baru sadar kalau jam sepuluh ini ada janji privat menyetir, jadi memang harus segera pulang.
"Tidak apa-apa Pak. Kebetulan saya juga ada keperluan. Baiklah, saya sekalian saja pamit pulang. Kira-kira ada yang mau disampaikan Pak?" tanyaku.
"Oiya Non, mengenai mesjid. Jika Non mau melihat pembangunan mesjidnya, saya siap mengantarkan. Non bisa menghubungi saya jika ada keperluan," jawab Pak Jack sambil mengulurkan kartu namanya kehadapanku.
Aku mengambil kartu nama itu dan memasukkannya kedalam dompet.
"Baik Pak Jack, nanti saya akan hubungi. Terima kasih ya Pak,"
"Saya yang berterima kasih sama Non. Karena dengan kehadiran Non, perusahaan Pak Bram berjalan sebagaimana mestinya. Oiya, nanti ada driver yang mengantarkan Non pulang,"
"Tidak usah Pak Jack, saya bisa pulang sendiri. Sambil saya menikmati suasana pantai sendirian. Oke Pak, saya pulang dulu," aku menolak tawaran Pak Jack.
Terlihat raut wajahnya yang sedikit kecewa dan tidak enak hati. Mungkin Pak Jack takut terjadi sesuatu denganku.
Aku berjalan berlahan menjauhi Pak Jack beserta anggotanya. Mereka menatapku dengan perasaan bersalah. Tapi aku tidak pedulikan itu karena aku tau bodyguard Bram masih memantauku setiap saat. Kakiku melangkah menyisiri pinggir pantai dengan mengingat kenangan bersama Bram.
Kak, aku rindu.
...****************...
__ADS_1