
Detik demi detik berlalu.
"Baik. Saya izinkan kamu membawa anak saya dan singgah ke rumahmu. Tapi, jika terjadi sesuatu dengan Zanu, tidak perlu orang lain yang saya cari," ujar Papa sangat tegas.
"Siap Om. Saya pegang pesan Om. Terima kasih izinnya untuk saya," jawab Bram.
Papa mengangguk. Alhamdulillah, akhirnya izin itu didapatkan lagi. Menurutku, sebenarnya Papa menyukai Bram. Tapi, sebagai seorang Bapak yang sangat menyayangi anak perempuannya, Papa harus selalu pasang badan.
"Baik Om, saya permisi dulu. Nanti abis zuhur saya InsyaAllah jemput Zanu kemari," pamit Bram.
"Oke, hati-hati. Terima kasih sudah mengantarkan anak saya," jawab Papa.
"Sama-sama. Yuk mari Om, Tante, Zanu,"
Bram berdiri dari sofa dan langsung berjalan ke arah pintu luar. Setelah menyalami Papa dan Mama, Bram berjalan dan masuk kemobilnya. Tidak lupa klakson dibunyikan, lalu mobil berlalu dari rumahku.
Aku masuk ke dalam. Diiringi Papa dan Mama.
"Zanu, Papa mau bicara sebentar. Kamu duduk dulu," ucap Papa.
Deg! Aduh, Papa mau bicara tentang apa lagi ya..?
Aku duduk berhadapan dengan Papa. Sedangkan Mama langsung ke ruang keluarga.
"Zanu, apa kamu yakin, Bram itu orangnya serius sama kamu? Apa kamu sudah tau latar belakangnya seperti apa?" tanya Papa.
Aku bingung mau menjawab apa. Karena belum semuanya aku ketahui tentang Bram. Akhir-akhir ini aku merasa Bram sedang menyembunyikan sesuatu.
"Iya Pa, sampai sejauh ini dia mau serius. Tentang latar belakangnya, baru sedikit yang Zanu ketahui. Karena Zanu baru mengenalnya Pa. Zanu sebenarnya menolak, tapi berjalannya waktu, dia selalu ada buat bantuin Zanu ketika ada masalah," jawabku.
"Tapi nak, jika seandainya dia bukan untuk Zanu, apa Zanu sudah siap? Karena kita sebagai manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Apalagi tentang jodoh. Papa berharap sekali kamu bisa menjaga diri sebaik mungkin sampai kamu benar-benar menemukan jodoh yang sudah ditakdirkan," ujar Papa serius.
"Iya Pa. Zanu mengerti akan hal itu. Zanu juga tidak terlalu berharap, hanya menjalani saja dulu. Sampai saat ini, dia masih memperlakukan Zanu dengan baik Pa,"
Tapi sebenarnya, hatiku mengatakan ingin bersama Bram. Dan aku sangat berharap untuk itu.
"Baiklah, jika Zanu sudah bisa membedakan mana yang terbaik, Papa hanya bisa mendo'akan yang baik-baik untuk anak Papa. Sekarang kamu berkemas dan istirahatlah, Papa mau keluar sebentar," ujar Papa.
"Baik Pa,"
Papa beranjak dari sofa dan masuk kedalam. Mungkin mau izin Mama dulu.
Aku ikut beranjak dan langsung naik ke lantai atas. Rasanya tubuhku lelah sekali.
Di kamar aku menemukan Zuri yang sedang mengerjakan sesuatu. Zuri berpaling saat mengetahui keberadaanku.
"Bagaimana Kak? Lancar urusannya?" tanya Zuri sambil duduk di atas kasur.
"Ya begitulah. Untung Papa izinin Kakak berangkat sama Bram," jawabku dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Wuiihh.. Berbunga-bunga dong. Sudah lampu hijau," balas Zuri.
Seketika aku ingat Damar. Damar yang sedang mendekati adikku. Apakah sebaiknya aku beritau Zuri ya?
"Kak, kenapa bengong? Apa ada sesuatu?" tanya Zuri mengagetkanku.
"Eh, tidak. Oiya, bagaimana kabar Damar? Jadi dia ke rumah kita kemaren ini?" tanyaku.
Zuri diam sejenak. Terlihat raut wajahnya yang sedih. Apakah Zuri sudah tau tentang perjodohan Damar dengan Laura?
"Iya. Dia kemaren ke rumah. Dia bercerita kalau sudah di jodohkan dengan perempuan lain. Zuri nggak bisa berharap juga Kak, karena Dia belum jadi siapa-siapanya Zuri," jawab adikku sambil menunduk.
Apakah Zuri menangis?
"Apa Zuri suka sama Damar?" tanyaku to the point.
Zuri diam. Tiba-tiba Zuri berbaring di tempat tidur dan menutup matanya.
Aku ikut diam. Mungkinkah pertanyaanku kurang pas waktunya?
Aku berjalan menuju lemari pakaian. Kubiarkan dulu Zuri dengan perasaannya. Aku mulai memilah-milah pakaian mana saja yang akan kubawa ke kota P.
Setelah semuanya siap, pakaian dan barang lainnya aku masukkan ke dalam tas ransel. Lalu aku beranjak ke atas tempat tidur.
Kulihat Zuri tertidur. Akupun ikut tidur karena rasa kantuk dan lelah sudah menjadi satu.
Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Sebentar lagi masuk zuhur, Bram akan menjemputku.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk mandi lagi. Kulihat sekilas di atas tempat tidur tidak ada Zuri. Mungkin dia sedang di bawah.
Setelah selesai mandi, aku turun ke bawah. Kudapati Zuri sedang menonton televisi bersama Mama.
"Hai, anak Mama sudah bangun. Sudah siapkan barang-barang yang mau di bawa?" tanya Mama.
"Sudah Ma. Papa belum pulang ya Ma?" tanyaku sambil duduk di sofa samping Mama.
"Bentar lagi pulang. Papa mau melihat kamu di jemput Bram. Sepertinya Papa sudah mulai luluh ya..., cowok secakep itu sayang kan di lepas, hi..hi..hi..," jawab Mama becandain aku.
"Apaan sih Ma. Yang cakep juga banyak. Bram memang orangnya baik dan klik nya itu yang Zanu dapatin, he..he..,"
"Klik apaan?" tanya Mama.
"Ada deh. Mama pengen tau aja," jawabku.
"Itu Ma, klik perasaan Kakak sama Kak Bram. Vincent juga keren dan baik, tapi Kak Zanu nggak nemu klik gitu," ujar Zuri tiba-tiba.
"Ooo, itu namanya cinta. Kalau gitu Mama juga tau, kan Mama pernah muda juga,"
Aku diam dengan malu-malu. Yup! Aku mendapatkan cinta itu dari Bram dan rasa itu tidak bisa dipaksakan. Mengalir begitu saja tanpa perencanaan.
__ADS_1
"Assalammu'alaikum,"
Terdengar suara seseorang dari luar. Mama membukakan pintu dan ternyata itu Papa.
"Waa'alaikum salam," jawab Mama.
"Zanu sudah berangkat Ma?" tanya Papa.
"Ya belum Pa, kan masih jam dua belas. Papa sepertinya nggak sabaran banget," jawab Mama.
"Iyalah, anak gadis kita pergi sama laki-laki. Ini pertama kalinya Papa izinin anak gadis pergi sama laki-laki yang baru kita kenal,"
"Sudahlah Pa, masuk dulu. Kalau kenapa-kenapa, Mama yakin Bram akan bertanggung jawab. Orangnya juga terlihat baik dan bukan lelaki sembarangan,"
"Ya, semoga,"
Papa masuk kedalam diiringi Mama.
"Zanu, kok belum bersiap-siap?" tanya Papa.
"Sudah siap Pa. Lagi nunggu adzan zuhur," jawabku.
"Tapi belum makan kan? Makan dulu sana,"
"Eh iya Pa.., oke deh,"
Kok Papa tau ya aku belum makan? Papa jadi perhatian gini. Ada apa dengan Papa?
Aku menuju ke dapur mengambil nasi dan lauk pauk. Setelahnya aku makan di ruang makan.
Beberapa menit kemudian. Setelah selesai makan, aku mau naik tangga.
"Zanu, sini dulu," Papa memanggilku.
"Ya Pa,"
"Nanti jangan lama-lama ya dirumahnya Bram. Beri kabar kalau sudah sampai kost," ujar Papa.
"Baik Pa. Bram mengajak Zanu kerumahnya hanya untuk sekedar tau lokasinya saja Pa. Lagipula di rumah Bram pasti banyak orang,"
"Apapun itu, kamu tetap harus hati-hati dan jaga diri,"
"Baik Pa. Zanu ke atas dulu ya Pa, mau siap-siap sholat,"
"Oke,"
Sayup-sayup mulai terdengar adzan zuhur di mesjid. Aku bergegas ke lantai atas untuk berwudhu dan sholat.
...****************...
__ADS_1