Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 141 : Asisten Manager


__ADS_3

Bram memarkirkan mobilnya. Kita berdua turun dan langsung masuk ke dalam cafe. Kehadiran kita disambut oleh manager dan karyawan lainnya.


Terlihat cafe lengang dan tidak ada pengunjung di sana. Semua karyawan cafe dan manager dikumpulkan di suatu ruangan. Bram mengikut sertakan aku untuk meeting bersama.


"Baik, semuanya sudah hadir di sini. Saya langsung to the point saja karena hari sudah mulai sore. Langsung saja Pak Manager menjelaskan apa kendala atau hasil yang memuaskan dalam bulan ini. Silahkan," Bram mulai serius.


"Baik, terima kasih Bos. Untuk saat ini kendala tidak ada. Hanya saja kita kurang update dibagian biji kopi. Sebaiknya kita menggantinya dengan biji kopi yang lain dan menambah menu baru yang disesuaikan dengan selera anak muda di masa sekarang. Pemuda pemudi mulai mencari tempat tongkrongan dimana mereka lebih memilih coffee shop dibandingkan cafe. Kebetulan cafe kita bertemakan coffee tapi kurang menu dan rasa. Begitu Bos laporan dari saya," penjelasan Manager.


"Oke. Apakah diantara kalian ada yang tau dimana kita bisa mendapatkan biji kopi yang terbaik?" tanya Bram.


Semuanya diam dan ada yang masih berfikir keras untuk mendapatkan jawabannya. Mungkin karena kopi sebelumnya masih dianggap biasa saja dan didapatkan dari hasil daerah sendiri, jadi tidak begitu diperhatikan masalah cita rasanya. Karena mungkin sebagian banyak orang, rasa kopi itu sama.


"Mandailing, Aceh, Kintamani, Toraja dan Flores. Di sanalah kopi-kopi terbaik di Indonesia untuk saat ini. Cafe ini bisa memasok kopi dari sana, mungkin dari tempat yang terdekat dulu," aku berbisik ke arah Bram.


Bram kaget mendengar penjelasanku. Mungkin ia tidak menyangka aku bisa mengetahui tempat kopi-kopi terbaik yang ada di Indonesia.


"Baiklah, nanti saya akan hubungi pusat yang ada di Jakarta untuk menyetok kopi ke cafe ini. Pemesanannya langsung diurus dari pusat saja dan di sini hanya tinggal menerima pengiriman. Sekarang saya mau menunjuk satu karyawan untuk tugas terbaru yaitu mengecek bahan, mengecek kebersihan cafe dan ketertiban karyawan. Bisa dikatakan posisi ini adalah sebagai asisten Manager," ujar Bram sambil berjalan ke arah beberapa karyawan.


Bram menunjuk tiga orang secara acak dan memisahkan mereka di dekat pintu masuk. Semua yang ada diruangan merasa heran dengan ucapan dan tindakan Bram secara tiba-tiba. Ditambah lagi, Bram memilih hanya dengan cara acak tanpa melihat skill dan pengalaman mereka selama bekerja di cafe ini.


"Baik, sekarang tolong ambil kertas dan potong kecil-kecil. Masing-masing dari kalian, tuliskan nama siapa diantara tiga orang yang ada di depan untuk bisa dipercaya mengemban tugas tersebut," perintah Bram.


Salah satu dari karyawan dengan segera menyediakan kertas dan memotongnya sesuai instruksi Bram. Setelah mereka mendapatkan satu potongan kertas, selanjutnya mereka menuliskan siapa yang pantas untuk menjabat sebagai asisten Manager.


Tidak lama kemudian, semua kertas dikumpulkan dan perhitungan suara dimulai. Semua mata fokus dengan kertas yang dibuka dan dibacakan oleh Bram satu persatu.

__ADS_1


Setelah dikumpulkan hasilnya, akhirnya yang memenangkan posisi terbaru ini adalah Mbak Sarah. Terlihat Mbk Sarah kaget campur senang saat namanya dipanggil. Semua yang hadir bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepadanya.


"Baiklah, kita sudah mendapatkan asisten Manager baru. Semoga bisa mengemban tugasnya dengan baik, dibawah arahan dan masukan dari Manager langsung. Saya ingin semuanya bisa bekerja sama dengan baik dan solid," ujar Bram.


"Maaf Bos, jika saya boleh bertanya. Di saat Bos tidak ada, siapakah nanti yang akan memantau perkembangan cafe ini?" tanya sang Manager.


Bram tersenyum dan melihat ke arahku. Aku kaget dan mulai menerka kemana arah tatapan Bram tersebut.


Tidak!


"Baik, tolong semuanya dengar apa yang saya katakan. Yang berhak untuk memantau cafe ini adalah Nona Zanu. Jadi, Manager dan Asisten Manager harus mendengarkan apapun yang dikatakannya. Termasuk semua karyawan di sini tanpa terkecuali," Bram berbicara sambil melihat kearahku, seakan ingin menyampaikan, aku harus menyetujuinya.


Ya Tuhan, apalagi ini? Kenapa Bram seenaknya mengambil keputusan? Bagaimana mungkin aku bisa mengemban tugas dua sekaligus? Yaitu cafe dan pabrik milik Bram.


"Oke, meeting hari ini saya sudahi sampai di sini. Ingat! Semua kendali di cafe ini wewenangnya saya serahkan ke Non Zanu. Beliau juga berhak memecat kalian jika ada kesalahan yang dia dapati. Saya permisi dan semoga cafe ini berkembang pesat di saat saya tidak berada di sini lagi," Bram bicara tanpa menjawab ucapan Zanu. Ia tergesa-gesa menyelesaikan meeting tanpa menunggu respon dari siapapun.


Ada apa dengan Bram?


**********


Bram menarik tanganku keluar dari ruang meeting, sedangkan yang lainnya masih di dalam sambil berbisik-bisik.


Aku berusaha melepaskan tangan Bram, tapi tak kunjung lepas.


"Lepaskan! Sakit tau!" aku berteriak.

__ADS_1


Bram melepaskan tanganku dan diam menunggu responku selanjutnya. Manager tergesa-gesa keluar saat mendengar suara teriakanku.


"Bos, apa tidak minum dulu sebelum Bos pulang?" tanya Manager. Ia melihat ke arahku yang sedang menahan sakit di pergelangan tangan.


"Tidak! Saya harus segera pulang. Tolong ya Pak perhatikan lagi kinerja karyawan disini, saya tidak mau mendengar keluhan apapun,"


"Siap Bos. Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan," Manager menyalami tangan Bram.


"Permisi," Bram melangkah keluar dari cafe menuju parkiran mobil dengan santainya. Mau tidak mau aku mengikuti Bram dari belakang. Terlihat wajah Manager yang bengong, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Aku duduk di dalam mobil dengan mulut cemberut dan tidak mau melihat ke arah Bram. Sedangkan Bram diam tanpa bicara sedikitpun selama ia menyetir.


Hari sudah menunjukkan pukul enam sore, sebentar lagi magrib. Mobil Bram masuk ke dalam gerbang menuju ke rumahnya.


Yup! Inilah menit demi menit aku dan Bram akan berpisah. Tapi mengapa perpisahan ini harus diakhiri dengan pertengkaran. Apakah Bram sengaja atau ada alasan tertentu, mengapa aku ditunjuk ikut andil dalam mengatur cafenya? Sama seperti ia juga menunjukku menghandle pabrik roti.


Mobil berhenti tepat di halaman depan rumah. Dan lagi, Bram belum juga bersuara. Ia turun dari dalam mobil, berjalan sendirian menuju pintu utama rumahnya tanpa diriku.


Mengapa Bram bersikap seperti itu? Apakah dia marah kepadaku gara-gara berteriak di cafe tadi? Atau ia ingin mengatakan sesuatu?


Ah! Salah dia sendiri, mengapa seenaknya menunjukku sebagai ini itu, tapi tidak diskusi terlebih dahulu. Wajar dong aku marah dan menolaknya. Peduli amatlah kalau gitu! Aku di dalam mobil saja sampai dia mau menjemputku di sini.


Zanu, Bram sebentar lagi pergi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2