
Aku masih menangis, duduk di depan teras. Ingin rasanya berteriak memanggil nama Bram, tapi itu percuma aku lakukan karena Bram tidak akan kembali lagi.
"Non, maafkan Bapak mengganggu. Tapi sebaiknya Non berhenti menangis, Bapak yakin Bos akan kembali lagi ke sini menemui Non Zanu. Sekarang sebaiknya Non pulang, keburu malam. Bos sudah siapkan driver untuk mengantarkan Non," Pak Tio berbicara kepadaku dengan suara pelan, seakan mengerti apa yang sedang aku rasakan.
Aku mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. Aku menyeka ingus dan air mata dengan sapu tangan. Tak elok rasanya aku menangis di sini, nanti banyak yang memperhatikanku. Aku berdiri dan masuk ke dalam ruang tengah untuk mengambil barang bawaanku, termasuk buah-buahan yang diberikan Bram siang tadi.
"Non, Bos berpesan, ia memperbolehkan Non berkunjung ke rumah ini dan juga menginap jika berkenan. Beliau juga ingin Non Zanu sekali-kali melihat kebun mini miliknya," Pak Tio menyampaikan amanat Bram untukku. Aku tidak menyangka, Bram bersekukuh agar aku mau melihat kebun mininya, yang waktu belum sempat aku lihat bersama Bram.
"Baik Pak Tio, terima kasih infonya. Untuk sementara saya tidak kesini dulu, karena akan mengingatkan saya akan kehadiran Kakak di rumah ini," jawabku.
"Iya Non, tidak apa-apa. Kapanpun Non main ke sini, kita semua dengan senang hati menyambutnya,"
"Baiklah Pak, saya pamit pulang. Terima kasih semuanya Pak," barang bawaanku sudah dijinjing, aku pergi keluar menuju pintu utama, diiringi Pak Tio dan dua karyawan di belakangku.
Terlihat sebuah mobil sudah berada di halaman depan, sedang menungguku. Aku berpamitan dan menyalami mereka satu persatu. Sejenak aku perhatikan rumah Bram yang begitu megah, terukir kisahku di rumah itu walau hanya dalam waktu yang sebentar.
Mereka melepaskanku dengan raut wajah sedih, entah apa yang mereka pikirkan dengan kepulanganku ini.
"Dadaa semuanya, terima kasih ya," itu kalimat terakhir yang aku lontarkan sebelum mobil melaju pergi ke tempat kost aku.
Diperjalanan pulang, tangisku pecah walau tidak menimbulkan suara. Aku teringat akan Bram.
**********
Sesampainya di kost, aku di sambut Bibi yang mengurus kost. Wajahku tidak aku perlihatkan, karena pasti mataku sedang bengkak akibat kebanyakan menangis. Untungnya teman-teman kost aku sedang tidur ditempat masing-masing.
"Terima kasih Bi, aku langsung ke atas ya," ujarku.
Bibi mengangguk, ia berjalan menuju pagar dan menguncinya, termasuk pintu utama di ruang tamu. Kali ini Bibi menginap di kost kita, karena Mami sedang sakit, jadi Bibi inilah yang menjaga kost ini untuk sementara.
Aku naik ke lantai atas, membuka pintu kamar dan masuk. Aku langsung rebahan di atas kasur dan menangis lagi sampai aku tertidur.
Malam semakin larut, aku bermimpi bertemu Bram. Dimimpi itu aku melihat Bram yang seakan bingung melihatku, tapi entah mengapa aku merasa ia sangat merindukanku. Tiba-tiba ada yang memukul Bram dari belakang dan ia berteriak memanggil namaku dengan berurai air mata.
__ADS_1
"Kakak!!" aku tersentak bangun dari tidurku. Terasa dadaku terengah-engah menahan rasa sakit melihat keadaan Bram di dalam mimpiku.
Pertanda apakah itu? Apa akan terjadi sesuatu pada Bram?
Aku menarik nafas dalam-dalam, baru kusadari belum sholat isya dan belum menukarkan pakaianku sedari tadi pagi. Aku bergegas bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku.
Setelah sholat dan berganti pakaian, aku tidur kembali. Aku berdoa semoga Bram baik-baik saja selama ia jauh dariku.
********
Krinngg..!
Alarm berdering nyaring di telingaku. Aku bangun dan mematikan alarm. Setelah sholat subuh, aku mandi dan bersiap-siap untuk kuliah hari ini.
Aku turun kebawah, menuju ke ruang makan untuk sarapan. Terlihat semua teman-teman kost sudah berkumpul di sana sambil sarapan.
"Hei Zanu, selamat pagi," sapa Kak Siska pertama kalinya. Semuanya menoleh ke arahku dan mereka memandangku seperti ada yang aneh.
"Zanu, sepertinya ada yang aneh diwajahmu. Kenapa matamu terlihat bengkak? Apa semalam kamu bergadang?" tanya Kak Rosi. Yang lainnya mengangguk, seakan ikut menyatakan pertanyaan yang sama dilontarkan Kak Rosi.
Aku kelabakan dan gugup. Bingung mau menjawab apa.
"Apakah semalam kamu menangis?" tebakan Kak Siska benar adanya. Tapi aku memilih untuk diam.
"Kamu pulang jam berapa semalam Zanu?" tanya Kak Kinan.
"Jam setengah sepuluh Kak," jawabku sambil mengambil piring.
"Baiklah, ayo kita sarapan. Nanti keburu telat sampai kampus," komando Kak Kinan.
Semua diam dan sibuk mengambil serta mengunyah sarapan masing-masing.
Beruntung mereka tidak menanyakan kepadaku lebih detail lagi.
__ADS_1
Setelah sarapan selesai, Kak Siska menawarkanku untuk ikut bersamanya. Aku menerima ajakannya, kebetulan hari ini perasaanku belum stabil.
Saat mobil Kak Siska melewati halte, teringat kembali kisahku saat pertama kalinya pergi bersama Prita menaiki Bus kampus. Kita berdua sudah beberapa kali menunggu Bus di halte tersebut. Bisa saja Prita dan aku memiliki mobil sendiri, tapi kita berdua lebih memilih untuk menikmati perjalanan dengan angkutan umum. Menurutku, itu kenangan terindahku bersama Prita.
Tiba-tiba ingatanku sirna disaat aku menyadari jika Prita adalah calon istrinya Bram. Aku tidak bisa membenci Prita, karena aku yakin ia tidak akan pernah mau dimiliki oleh Bram. Begitu juga sebaliknya.
"Zanu, kenapa kamu diam saja dari tadi? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan? Ceritakanlah jika itu bisa meringankan beban pikiranmu, biar hatimu plong," ternyata Kak Siska memperhatikanku sedari tadi.
"Tidak ada Kak, aku hanya memikirkan Prita. Sekarang dia tidak kuliah lagi, hanya dia teman dekatku di kampus. Aku tidak mengenal siapa-siapa dijurusanku," aku sedikit berbohong dan berusaha menyimpan semua yang telah aku alami. Biarlah mereka tau dengan sendirinya.
"Berjalannya waktu, kamu pasti memiliki banyak teman Zanu. Apalagi nanti, banyak tugas-tugas yang mengharuskan kalian untuk bekerja sama, percayalah," Kak Siska memberiku semangat dan meyakinkanku.
Mobil Kak Siska sudah memasuki kampus. Ia memarkirkan mobilnya di samping gedung Rektorat. Kebetulan tempat kuliahku dan Kak Siska tidak terlalu jauh, jadi kita berjalannya searah.
"Nanti pulang, kalau kamu mau ikut Kakak lagi," tawar Kak Siska.
"Tidak usah Kak, aku belum tau pasti kapan waktunya pulang. Nanti biar saja aku pulang menaiki Bus," aku menolak tawarannya.
"Baiklah kalau begitu, Kakak duluan ya,"
"Iya Kak, terima kasih sudah mengantarkan Zanu,"
"Sama-sama,"
Kak Siska berbelok ke arah kampusnya, sedangkan aku masih berjalan lurus menuju tempatku. Aku menoleh sebentar ke arah gedung Rektorat, teringat dulu Bram sering keluar masuk kesana.
Ah, sekarang hanya tinggal kenangan.
"Zanu! Zanu! Tunggu!" teriak seseorang yang memanggilku dari jauh.
Saat aku menoleh, aku terkejut melihat siapa yang memanggilku. Aku bingung, apakah melanjutkan langkahku atau berhenti menunggunya?
...****************...
__ADS_1