
Sudah lewat Isya.
Aku menonton berita di televisi sambil melihat kondisi Prita sekali-kali. Bram dan Atif belum juga datang.
Aku mulai gelisah dan merasakan takut di ruang ICU ini. Saat TV aku matikan, ruangan ini tiba-tiba senyap. Hanya terdengar suara alat-alat yang dipasangkan ke tubuh Prita.
Sreeet...!
Pintu terbuka, ternyata itu Bram dan Atif. Mereka membawa kantong plastik berisi makanan.
"Zanu, Maaf kamu kelamaan menunggu. Aku bawakan makanan untuk malam ini. Kita makan bareng ya," ujar Bram.
Bram dan Atif meletakkan kantong plastik tadi di atas meja. Atif langsung ketempat Prita dan duduk didekatnya. Sedangkan Bram menghampiriku.
"Kakak kok lama sekali? Ini udah lewat Isya lho, pada kemana sih?" tanyaku sedikit manyun.
"Tadi aku menemui Pakgub. Aku membicarakan tentang kedatangan dokter Wahyu dari Amerika. Jadi, dokter nya menginap di rumah Pakgub. Supaya nanti Pakgub dan dokter bisa diskusi langsung tentang kondisi Prita. Untuk keselamatan Pakgub dan keluarganya, kita tidak memberitahukan kalau Prita adalah keponakannya Pakgub ke dokter Wahyu," terang Bram.
"Oo, dokternya berapa hari di sini Kak?" tanyaku.
"Mungkin sekitar seminggu. Menunggu aku selesai sidang," Bram melihatku dengan mimik wajah yang sendu.
Aku kaget mendengar pernyataan Bram. Kenapa dia harus berkorban sepenuhnya hanya demi keselamatan Prita? Ada apa?
"Kenapa harus menunggu Kakak sidang? Kakak tidak ikut wisuda?" tanyaku.
"Iya Zanu, aku tidak bisa mengikuti wisuda. Setelah sidang, orangtuaku datang dan langsung berangkat lagi bersamaku. Ini di luar perencanaan, awalnya orangtuaku ingin menghadiri wisuda. Tapi karena kondisi Prita seperti ini, keberangkatannya ke Amerika harus di percepat. Ini yang sebenarnya aku ingin sampaikan kepadamu," Terlihat Bram makin gelisah.
"Hah?! Apa aku tidak salah dengar? Kenapa urusan Prita Kakak ikut-ikutan? Prita kan bisa didampingi dokter Wahyu? Ada Atif juga kan. Sebenarnya ada apa sih Kak? Tolong jangan main-main dengan perasaanku Kak," Aku tidak bisa memberi toleransi lagi ke Bram. Sudah terlalu sering aku menanyakan perihal ini, tapi selalu tidak ada jawaban dan tergantung begitu saja.
"Zanu, maafkan aku. Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku juga memiliki tanggung jawab yang besar, yang tidak bisa aku ingkari. Semua jawabannya nanti di saat aku sudah berada di Amerika," Bram tidak tahan lagi dengan perasaannya, kegelisahan itu berubah menjadi kesedihan.
"Baiklah Kak, jika itu maunya Kakak. Ini kali terakhir aku bertanya, seterusnya terserah Kakak. Yang pasti sekarang aku sudah paham betul, kalau Kakak itu hanya ingin mempermainkan perasaanku saja. Aku siap mundur, jika memang rasa itu sudah tidak ada lagi," Tak terasa air mataku mengalir. Aku sedih harus kehilangan Bram dan aku juga tidak bisa berbuat banyak untuk meminta penjelasan Bram.
__ADS_1
Sebenarnya aku lebih kasihan melihat Bram, karena pasti dia lebih tertekan dengan masalahnya sendiri. Tapi kan, jika dia mau menceritakannya kepadaku, minimal separo masalah bisa aku mengerti atau mencari jalan keluarnya.
"Zanu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku benar-benar mencintaimu. Aku bisa jelaskan setelah sidang selesai. Aku yakin pasti kamu kaget dan tidak mempercayai aku lagi. Jadi, jelang sidang, aku ingin selalu didekatmu Zanu," Bram menunduk.
"Ya sudahlah Kak, sekarang ayo kita makan. Aku sudah lapar," Aku mengubah arah pembicaraan. Aku ingin memenuhi keinginan Bram untuk menikmati waktu bersamaku sampai sidangnya selesai.
Bram menoleh ke arahku. Terlihat raut wajahnya yang hampir menangis.
Apakah sesedih itu yang dia pendam? Apakah aku dan Bram tidak akan pernah bertemu lagi?
Bram berdiri dan menghela nafas panjang, ia menjulurkan tangan ke arahku. Dan aku menggapai serta menggenggamnya.
Aku, Bram dan Atif makan malam bersama. Kita mengobrol seputar keberangkatan Atif yang ikut serta bersama Bram. Sebagian Bodyguard Bram yang terpilih akan diberangkatkan ke Amerika. Di sana mereka bergabung dengan bodyguard Bram yang lain, yang lebih profesional lagi.
Tak banyak yang aku tanyakan ke Bram. Karena menurutku itu bukan bagian urusanku tapi dunianya laki-laki.
********
Waktu sudah semakin larut. Selesai kita makan, aku dan Bram mengambil posisi tidur di tempat masing-masing. Posisi kasur Bram tepat berada di dekat kasurku. Sedangkan Atif tidur di sofa rumah sakit dan menggesernya dekat Prita. Atif tidak ingin berjauhan dengan Prita.
"Kenapa? Apa kamu merasa terganggu? Nanti aku akan menggesernya, tenang aja. Aku nggak apa-apain kamu kok. Malam ini aku ingin mengobrol denganmu dari jarak dekat," Bram melirikku dan langsung rebahan dikasurnya.
Aku masih duduk di kasur sambil melipat kaki.
"Ya iyalah, kita kan bukan muhrim. Memangnya mau bicara tentang apa lagi?" tanyaku.
"Kamu mau menanyakan tentang apa? Tanyakan saja tentangku atau tentang kita," Bram tersenyum.
Aku diam sejenak sambil memikirkan pertanyaan apa yang ingin aku lontarkan ke Bram.
"Adik Kakak siapa namanya?" tanyaku.
"Namanya Velicie Setrain Ox," jawab Bram.
__ADS_1
"Setrain Ox? Apa makna dari nama itu?" Aku merasa asing mendengar nama tersebut kecuali Ox. Karena Ox terselip juga di nama Bram.
"Se itu selamat. Sedangkan train adalah kereta api. Saat itu kakekku membuat wahana baru yang ada kereta apinya. Sewaktu Ibu hamil Veli, ia suka naik kereta tersebut. Sedangkan Ox, nama besar keluarga dari pihak Bapakku,"
"Wow! Keren juga ya, Kakeknya punya wahana. Pasti puas main di sana dan tentunya gratis," aku antusias sekali mendengar cerita Bram.
"Nggak juga. Malah kita jarang ke wahana tersebut walau gratis. Aku tidak suka keramaian, aku lebih suka ke tempat-tempat yang memiliki view yang indah dan sejuk. Kalau kamu bagaimana Zanu?" tanya Bram.
"Lho, kok sama? Aku juga suka keindahan. Terasa damai kalau kita sudah ada di tempat yang indah dan sejuk. Seperti Switzerland, pengen banget bisa jalan-jalan ke sana," aku membayangkannya. Sedikit banyak aku sudah mengetahui tempat itu. Tapi entah kapan bisa menginjakkan kaki di sana. Aku merasa itu hanya sekedar angan-angan.
"Kamu suka tempat itu ya? Kamu mau ke sana?" tanya Bram serius.
"Suka sekali. Tapi rasanya aku tidak akan bisa ke sana, biayanya pasti mahal,"
"Aku yakin suatu saat nanti kamu bisa ke sana," ujar Bram.
"Lho? Kok bisa? Kenapa Kakak bisa yakin?" Aku heran dengar pernyataan Bram.
"Ya bisa. Dengan kepintaran yang kamu miliki, aku yakin kamu bisa bahkan bisa keliling dunia, percayalah,"
"Aamiin," hanya ucapan itu yang bisa aku lontarkan. Walau sebenarnya otakku lagi mikir bagaimana caranya bisa untuk mewujudkan itu semua.
"Atau kalau kamu mau, nanti kalau kita berjodoh, kita honeymoon ke sana. Kalau boleh, aku yang akan mengajakmu keliling dunia," Bram senyum-senyum penuh arti, tapi terlihat dari balik senyum itu ada kesedihan yang mendalam.
"Hah! Apa aku nggak salah dengar Kak?" tanyaku.
"Ya tidak salah. Kan aku bilangnya, kalau kita berjodoh. Kalau tidak, ya tetap aku pengennya kamu," Bram menarik cuping hidungku.
"Aw! Sakit Kak," rengekku.
Aku terkejut mendengar ucapan Bram, bukan tentang honeymoon tapi tentang bicaranya mengenai jodoh.
Dulu, aku pernah mengatakan tentang jodoh itu, Bram selalu menyanggahnya. Tapi entah mengapa sekarang Bram mengikuti ucapanku?
__ADS_1
Aneh.
...****************...