
"Aduh...! Copot jantungku," gerutu Bayu.
Aku tidak memperdulikan gerutu atau celoteh Bayu sedari tadi.
Kuhela nafas dalam-dalam dan menoleh keluar jendela mobil. Terlihat sosok itu berdiri di seberang jalan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aku turun dari mobil dan menyebrang.
"Zanu! Mau kemana lagi?" panggil Bayu.
Aku diam dan terus berjalan. Kulihat sosok itu heran serta bingung. Perempuan yang diboncengi tadi menghampirinya dan ikut melihatku dari kejauhan.
Aku berhenti tepat didepannya dan diam sejenak. Kuperhatikan dengan seksama dan benar adanya jika dia adalah Abang!
"Abang Angga?" tanyaku dengan bibir yang sedikit bergetar.
"Ma..maaf..? Siapa ya? Apa kita saling kenal?" tanyanya balik.
"Bang, ini aku Zanu. Apa ini benar-benar Abang Angga?" tanyaku lagi.
"Maaf Mbak, saya bukan Angga. Saya tidak kenal sama sekali sama Mbak," jawabnya dengan sedikit grogi, seperti menyimpan sesuatu.
"Mbak, ini pacar saya, Bang Redu. Sepertinya Mbak salah orang deh," perempuan disampingnya mulai pasang badan, seperti cemburu.
"Nggak mungkin saya salah Mbak, dia mirip sekali dengan Bang Angga. Kenapa Abang bisa hidup lagi?" tanyaku. Aku makin penasaran dan ingin sekali menemukan jawabannya.
"Mbak nggak denger ya apa yang dibilang Abang tadi? Apa Mbak ngefans sama pacar saya? Ngotot banget!" suara si perempuan mulai meninggi. Seakan tidak terima kalau pacarnya dikenali perempuan lain.
"Maaf, saya cuma mau memastikan. Apa ada sesuatu Bang?"
Seketika aku melihatnya cemas dan gugup. Aku yakin, ia pasti menyimpan sesuatu yang amat penting.
"Maaf Mbak, saya tidak bisa menjawab pertanyaannya. Yang pasti saya bukanlah Angga, nama saya Redu, permisi," ia langsung berbalik menuju ke dalam rumah.
"Tidak mungkin. Kenapa Abang lupa? Apa karena kecelakaan itu, Abang lupa ingatan?"
"Hei! Kamu nyinyir ya. Sudah dibilangin kalau dia bukan Angga!" perempuan itu mendorongku sampai terjatuh.
Redu berbalik, ia kaget melihat kelakuan pacarnya terhadapku.
"Lisa! Apa yang kamu lakukan?" teriaknya.
Ia menghampiri perempuan itu dan menariknya dari hadapanku.
Tiba-tiba muncul dua laki-laki berbadan besar menghampiriku. Mereka menarik tanganku untuk bisa berdiri.
"Nona tidak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Hei! Jangan sekali-sekali anda menyentuh Nona Zanu! Atau hidup anda bisa bermasalah," hardik satunya lagi.
Aku, Redu dan Lisa bengong. Aku melihat mereka berdua dan pastinya inilah bodyguard yang ditugaskan Bram untuk menjagaku selama ini.
__ADS_1
Redu dan Lisa terlihat ciut serta takut. Bagaimana tidak, bodyguard Bram berbadan tegap, perawakan bengis dan memakai masker. Siapapun yang melihat mereka, pasti akan balik kanan.
"Sekarang kalian minta maaf kepada Non Zanu, cepat!"
"Sudah, sudah.. Saya tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir, ini urusan saya," ujarku terhadap dua bodyguard Bram.
"Baik Non,"
Mereka berdua menunduk dan menjauhiku beberapa langkah.
"Maafkan pacar saya barusan Mbak. Maaf, saya juga tidak bisa menjawab apa-apa, permisi Mbak,"
Ia menarik tangan perempuan itu masuk ke dalam rumah.
Klik!
Pintu rumah besar itupun tertutup. Tinggallah aku sendiri yang masih bingung. Terlihat bodyguard Bram masih berada dibelakangku.
"Kalian cari tau dia siapa atau pertemukan aku dengan orang itu. Semoga dia bisa bicara dengan jujur dan pastikan perempuan itu tidak ada didekatnya nanti. Mengerti!" perintahku.
"Siap Non, nanti kita kabari lagi. Permisi Non,"
Keduanya berlari pergi menjauh, entah kemana dan dengan apa mereka pergi, aku tidak perhatikan.
Lalu, dengan sedikit gontai, aku berbalik arah dan berjalan menuju ke mobil. Terlihat Bayu terpaku dan diam.
"Maaf tadi Bang. Sekarang kita pulang," ujarku sambil menghidupkan mesin mobil.
"Kenapa Bang?" tanyaku heran.
"Ti..ti..tidak apa-apa. Aa..aayo.., kita jalan," terlihat raut wajah Bayu yang sedang ketakutan. Aku hanya bisa tertawa di dalam hati melihat expresinya.
"Oke. Aku boleh ngebut lagi Bang?"
"Si..si..silahkan," Bayu berusaha tersenyum, tapi kecut.
Dengan percaya diri, aku mulai menyetir. Bayu berpegangan erat ke kursi, wajah cemasnya kali ini menjadi double. Aku menahan tawa melihat tingkahnya.
Walau dalam keadaan ngebut, aku tetap fokus. Mobil aku arahkan menuju ke pantai. Terlihat banyak orang yang hilir mudik di sana, laju mobil langsung kuperlambat.
Dari kejauhan, aku melihat ada orang menjual rambutan. Seketika aku mengingat Bram. Sekelebat aku memutar memory kebelakang tentang kenangan bersamanya yaitu rambutan.
"Zanu! Kenapa kamu jadi bengong," panggil Bayu.
"Eh iya Bang. Aku turun dulu mau beli rambutan di sana," jawabku sambil menunjuk ke arah penjualnya.
"Jangan lama-lama. Habis ini kita pulang,"
"Siap,"
Aku berjalan ke arah pedagang rambutan. Tidak tanggung-tanggung aku membelinya sekarung. Setelah membayar, pedagangnya membatuku membawakan karung itu ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Bayu kaget melihatku membeli rambutan sampai sekarung.
Hhmm.., belum tau dia, kalau aku adalah penggemar rambutan sejati. Malah aku punya kebunnya sendiri.
Entah mengapa aku jadi teringat kebun rambutan yang diberikan Bram untukku. Apakah kebun itu sudah berbuah atau belum, aku tidak mengetahuinya sampai sekarang.
Suatu hari nanti aku akan ke sana, melihat dan memetik langsung rambutannya.
"Terima kasih Pak," ucapku ke pedagangnya.
"Sama-sama Mbak,"
Aku masuk ke dalam mobil dan menoleh ke arah Bayu.
"Bang, kita langsung pulang saja ya. Abang mau rambutan?" tawarku.
"Kamu nggak salah tuh Zanu, banyak amat rambutan yang dibeli? Apa nggak sakit perutmu nanti?" tanya Bayu keheranan.
"Abang mau nggak?" aku balik nanya.
"Ya.., kalau di kasi, maulah,"
"Oke, nanti sampai rumah, aku pisahin buat Abang. Mari kita pulang,"
"Eits! Tunggu dulu. Itu tadi siapa sih?" tanya Bayu. Ternyata ia masih penasaran dengan kejadian tadi.
"Yang mana nih Bang?"
"Yang mana ajalah. Mereka itu siapa? Ada masalah apa kamu sama mereka? Dua orang yang badannya besar-besar itu siapa lagi? Seram gitu,"
"Panjang Bang kalau diceritakan. Dua orang yang seram itu, bodyguard aku,"
"Hah!! Bodyguard!? Sejak kapan kamu punya bodyguard?" Bayu kaget setengah mati mendengar penjelasanku.
"Abang masih ingat nggak sama pacarku? Yang waktu itu marah sama Abang dan tunangan Abang? Nah, itu bosnya. Paham kan maksud aku?" aku meliriknya.
"Itu? Apa pacar kamu itu mafia? Bos apa dia?" tanya Bayu.
"Udah ah Bang. Kok Abang jadi kepo gitu? Entar aku bilangin ke bodyguard aku lho,"
"Eh.. Eh.. Janganlah. Ya udah sekarang kita pulang. Pulang pokoknya..," Bayu ketakutan. Ternyata ini yang membuat Bayu takut sedari tadi, melihat bodyguardnya Bram.
"Oke! Tapi aku ngebut lagi ya," ujarku sambil menghidupkan mesin mobil.
"Terserah kamulah Zanu. Aku ngikut aja. Di larang aku bisa koit, dibiarin ngebut bisa koit juga. Dahlah pusing aku," jawab Bayu pasrah.
"Ha..ha..ha.., jangan gitulah Bang! Pasrah amat," aku ngakak mendengar ucapan Bayu.
Mobil berjalan pelan. Tidak tega rasanya, aku membuat Bayu ketakutan lagi. Kali ini, aku menyetir pelan dan hati-hati sampai kerumah.
...****************...
__ADS_1