
Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam.
Tanda-tanda datangnya Prita dan Atif belum kelihatan. Aku mulai gelisah.
Aduh, gimana ini ya. Aku harus bertanggung jawab, karena menyuruh Prita ke sini. Bagaimana aku menjelaskan semuanya?
"Za.. Zanu.. Kamu di mana?"
Terdengar suara rintihan yang memanggil namaku. Dan aku tau itu pasti Bram. Tanpa pikir panjang aku bergegas menghampiri tempat tidur Bram.
"Iya Kak, ini Zanu. Kakak sudah bangun...?" jawabku dengan lembut penuh bahagia.
"Hei.. Apa kabar Zanu?" jawab Bram masih dengan suara yang lemah.
Terpancar sorot bahagia di mata Bram saat melihatku. Dia tersenyum dan ingin mengangkat tangan untuk menyentuh pipiku. Aku mengangkat pelan tangan Bram, agar bisa sampai dia menyentuh pipiku. Aku mencium jemari Bram.
"Sudah berapa lama aku di sini?" tanya Bram.
"Baru sehari Kak.. Jangan banyak bicara dulu, Kakak belum pulih dan baru siuman," jawabku.
"Hei Bram, sudah bangun. Zanu seharian nemanin kamu lho," ujar Kak Resa tiba-tiba.
Bram hanya tersenyum. Aku menggenggam jemari Bram untuk menguatkannya.
Aku dan Bram hanya saling tatap menatap. Mungkin Bram ingin mengobrol banyak denganku, tapi karena kondisi Bram belum seratus persen stabil, tidak memungkinkan untuk bebas mengobrol.
"Kak Resa, tolong beri tau perawatnya, kalau Ketua sudah siuman. Supaya perawatnya bisa cek atau memberitaukan dokter," ujarku ke Kak Resa.
"Oke,"
Kak Resa keluar ruangan. Aku mengelus-ngelus tangan Bram, supaya merasakan ketenangan.
"Mana Atif?" tanya Bram.
"Atif lagi di luar Kak," jawabku.
Aku tidak ingin memberitau Bram tentang apa yang terjadi saat ini. Termasuk Atif yang sedang menjemput Prita lagi dalam kesulitan. Aku tidak mau Bram mendengar berita-berita yang akan memberatkan pikirannya. Biarlah untuk beberapa hari kedepan dia tenang dulu dan bisa pulih berlahan-lahan.
*********
Sreett...!
__ADS_1
Pintu terbuka dan ternyata itu perawat bersama Kak Resa. Perawat langsung menghampiri Bram dan memeriksanya. Kemudian perawat menuliskan sesuatu di buku laporannya.
"Non, saya sudah memeriksa Pak Bram dan hasilnya bagus. Nanti saya langsung hubungi Dokter untuk menjelaskan perkembangan Pak Bram. Kemungkinan Dokter besok pagi ke sini, karena data hari ini menunjukkan perkembangan yang baik. Semoga lekas sembuh ya Pak Bram. Baik, segitu dulu Non, saya permisi," ujar perawat.
"Terima kasih Sus," jawabku.
Suster mengangguk dan langsung menuju keluar ruangan.
Aku melihat jam dinding yang ada di ruangan ini. Sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, tapi Atif dan Prita belum juga ke sini.
Apa yang terjadi? Duh..., bagaimana ini?
"Ada apa sayang? Sepertinya kamu sedang gelisah?" tanya Bram.
Deg! Ternyata Bram memperhatikan gelagatku. Aduh, tolong....!
"Tidak ada. Biasa saja Kak. Sekarang Kakak istirahat dulu ya..., biar tenaganya makin kuat. Besok kita cerita-cerita, oke?" ujarku sambil tersenyum manis untuk menutupi kegelisahanku.
Bram mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Aku masih menggenggam tangan Bram dan bersender di kasur.
*********
Aku ingat ponsel Bram. Apa sebaiknya aku telepon Atif ya?
Kulihat Bram sudah nyenyak tidur. Inilah saatnya aku beraksi. Perlahan-lahan aku menarik tangan supaya lepas dari tangan Bram. Aku berjalan sangat pelan menuju tas ranselku dan mengambil ponsel.
Kak Resa juga sudah tidur di kasur yang sudah di sediakan. Pelan-pelan aku beranjak keluar ruangan dan membuka pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi.
Di luar ruangan aku bersender di dinding dan mulai mencari nama Atif di ponsel. Setelah kutemukan, aku langsung telepon.
"Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi, tit...," suara operator.
Aduh! Mana nggak aktif lagi! Kemana sih mereka? Apa sudah di hotel? Atau singgah cari makan malam dulu? Help me...
Tiga kali aku mengubungi nomor Atif, tapi tetap saja tidak aktif. Akhirnya aku menyerah. Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju ruang ICU.
"Non! Non Zanu!"
Ada yang memanggilku dan sepertinya itu Atif. Aku menoleh ke belakang dan melihat Atif gandengan bersama Prita.
Syukurlah...
__ADS_1
"Zanu. Maaf membuatmu menunggu," ujar Prita ngos-ngosan.
"Kok lama banget kalian? Aku khawatir lho, sudah dua jam lebih tidak ada kabar," ujarku dengan rasa sedikit kesal, senang dan takut.
"Bagaimana kalau kita duduk di sana dulu, aku capek, abis lari-lari," jawab Prita.
Aku dan Prita langsung menuju kursi tunggu yang di sediakan rumah sakit dekat ruang ICU. Kita lalu duduk, sedangkan Atif hanya berdiri saja.
Atif juga terlihat ngos-ngosan. Prita mengambil nafas panjang agar dia mudah untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Begini Zanu. Saat aku terjebak dalam mobil sama driver, tiba-tiba ada yang mengedor-ngedor pintu mobil sambil bawa golok. Ada sekitar empat orang. Aku cuma bisa berdoa, semoga ada yang bantuin," ujar Prita.
Aku kaget! Ternyata ceritanya se dramatis itu, jauh dari kecemasanku tadi. Pasti sangat berat hari ini buat Prita. Masih terlihat kecemasan di raut wajahnya. Kubiarkan Prita terdiam beberapa saat.
Reflek, Atif mengusap-usap bahu Prita supaya dia tenang dan mendapatkan rasa aman dari Atif.
"Untungnya bodyguardku menyusul dari belakang dan mengetahui hal itu. Jadi mereka bergerak untuk melawan keempat orang tersebut. Tapi karena ilmu bela diri mereka lebih jago, bodyguardku langsung mereka tawan. Mereka banyak mengalami luka-luka Zanu, aku kasihan...," ujar Prita nanar.
Terlihat air mata mulai menetes di pipi Prita. Dia tidak tahan lagi dengan keadaan yang barusan di alaminya. Sesekali Prita menyeka air matanya dengan tangan.
Dengan sigap, Atif memberikan sapu tangannya kepada Prita.
"Lalu aku dan driver terpaksa keluar dari mobil. Yang aku pikirkan waktu itu hanyalah pasrah tapi aku takut mati sia-sia. Alhamdulillah, saat aku keluar, Atif datang bersama teman-temannya. Terjadilah perkelahian antara Atif bersama empat orang itu. Dan Atif mengalahkan mereka semua," ujar Prita.
Deg! Ternyata benar yang dikatakan Bram, kalau Atif seseorang profesional dan special. Itulah mungkin alasan Bram mengapa Atif dijadikan bodyguard pribadinya. Yang selalu menemani Bram dimanapun berada.
"Trus bagaimana nasib bodyguardmu Prita? Apa mereka tidak apa-apa? Maksudnya, apa ada yang mengalami luka serius?" tanyaku.
"Untungnya tidak Zanu, mereka mengalami luka-luka. Tapi walau bagaimanapun mereka harus mendapatkan perawatan. Karena ada beberapa luka yang harus di jahit akibat luka sayatan dari golok," jawab Prita.
"Terus, kenapa aku lihat barusan, kamu sama Atif ngos-ngosan seperti abis berlari? Apa ada kejadian lagi abis dari sana?" tanyaku penasaran.
"Jadi, karena bodyguardku mengalami luka, kita berinsiatif untuk membawa mereka dulu ke rumah sakit. Sebagian bodyguard ikut ke sini. Sebagian lagi menggiring pelaku ke rumah sakit dengan berjalan kaki. Nah, aku sama Atif berlarian untuk mengurus semuanya. Atif sudah telepon polisi dan sekarang sedang pendataan di IGD antara pelaku dan korban. Begitu ceritanya Zanu, kenapa aku sama Atif ngos-ngosan," jawab Prita.
"Hhmmm.., ternyata kejadiannya rumit begini. Maafin aku Prita, karena menyuruh kamu ke sini, malah mempersulit dan mencelakai kamu. Aku menyesal lho..," ujarku sambil menggenggam tangan Prita.
"Tidak apa-apa Zanu. Justru kalau aku berada di kost, nyawaku bisa melayang. Karena tidak akan ada yang membantuku. Belum lagi jika mereka menawan anak-anak kost lainnya, lebih berbahaya lagi dan bikin gempar. Jarak antara Prn dengan kota P juga cukup jauh, Atif nggak akan bisa bantu dengan waktu yang cepat. Keputusan kamu sudah tepat Zanu,"
Aku diam sejenak dan memikirkan apa lagi yang harus aku tanyakan. Mumpung di sini ada Atif dan Prita.
...****************...
__ADS_1