
Wusss...!
Angin pagi berhembus masuk, terasa sejuk dikulit.
"Zanu.., bangun. Sholat subuh yuk..,"
Bram berbisik lembut ditelingaku.
Berlahan kubuka mata dengan pelan dan melihat wajah Bram tepat berada didepanku.
Aku kaget bukan kepalang.
Sejak kapan dia ada di sini? Jangan-jangan dia memperhatikanku dari tadi. Duh malunya..
"Bisa tidak sih kalau masuk itu kasih suara atau kode, kaget tau!" ujarku kesal.
"Ssttt...,"
Bram menempelkan telunjuknya kebibirku. Dia mengamati wajahku.
"Kamu sangat cantik! Tidurpun terlihat cantik. Aku dari tadi memandangmu tidur. Maafkan aku lancang," ujar Bram langsung menundukkan pandangannya dari wajahku.
Aku terkesiap dan diam. Bram ikut diam. Sejenak suasana hening.
"Yok Zanu, kita sholat. Kamu bisa berjalan tidak? Coba kamu berdiri sekarang," ucap Bram tiba-tiba.
Aku mengangguk. Aku coba berdiri pelan-pelan. Terasa kakiku terasa ringan dan sakitnya berkurang. Tapi jalanku masih terseok.
Bram memperhatikanku melangkah. Langkah yang ke enam, tiba-tiba aku jatuh. Untungnya Bram sigap menggapai tubuhku.
"Zanu, biar aku tuntun sampai keluar. Kita wudhu bareng di depan tenda," ujar Bram.
"Tidak usah Kak, aku bisa sendiri kok. Malu dilihat yang lain," tolakku.
"Tidak apa-apa, jangan pedulikan orang lain Zanu. Mereka semua tau kalau kamu lagi sakit begini. Apa perlu aku umumkan, kalau kamu milikku? Sudah, jangan membantah. Nanti selesai wudhu baru kamu jalan sendiri ke dalam tenda, oke,"
jawab Bram tegas.
Aku terpaksa mengikuti perintahnya. Bram memapahku pelan-pelan sampai keluar tenda. Dan membawaku ke tempat gentong air yang sudah tersedia di depan tenda Bram.
Aku berwudhu. Bram terus memperhatikanku. Kulihat di sekeliling sudah mulai banyak yang keluar tenda. Ada beberapa pasang mata memperhatikanku dan Bram dari jauh. Mereka tidak akan berani mendekat.
Selesai wudhu, aku langsung masuk ke dalam tenda. Giliran Bram yang wudhu. Aku mulai sholat.
Pelan-pelan aku melakukan gerakan sholat. Terasa kakiku berangsur pulih. Walau belum terlalu kuat, tapi masih bisa untuk berdiri dan duduk.
Setelah sholat, aku menyingkir ke samping karena giliran Bram yang mau sholat.
Aku memperhatikan Bram sholat. Dia benar-benar sosok lelaki yang mempesona. Bukan karena fisiknya saja tapi kebaikan dan kepeduliannya itu merupakan anugrah yang dia miliki. Tidak heran banyak yang suka dan segan sama Bram.
Bram selesai sholat. Kulihat dia duduk memutar mengarah ke aku dan dia tersenyum.
"Zanu, suatu saat nanti, kita sholat bareng. Kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi ingat pesanku, jaga dirimu. Jika kita tidak bisa saling memiliki, aku akan selalu mendo'akanmu yang terbaik dan semoga kamu mendapatkan pasangan yang baik pula. Aku akan selalu ada Zanu, walau dari jauh," ucap Bram lirih.
"Sudah, sekarang kamu bersiap-siap untuk mandi. Tapi bukan di sungai. Aku ambil mobilku dulu dan kamu tunggu di depan tenda,"
__ADS_1
"Lho? Aku mau di bawa ke mana Kak?" tanyaku heran.
"Ada tempat untuk mandi yang aman di rumah penduduk. Setelah mandi, medis akan memeriksa lukamu. Sudah, kamu tunggu saja di sini. Itu ambil handukku dan siapkan baju ganti,"
Bram langsung keluar tanpa menunggu jawabanku.
Aku meranjak membereskan sajadah yang sudah digunakan Bram. Aku mengambil handuk Bram, sepertinya masih baru. Kuperhatikan ada lagi bordiran nama Bram dihanduknya.
"Ibram AS.Ox"
Kulihat ransel Bram juga ada namanya.
Bisa jadi semua barang ada nama Bram? Siapakah Bram?
Sampai sekarang sosok Bram masih misteri buatku.
Semua yang kuperlukan sudah siap, aku menunggu Bram depan tenda. Terlihat mobil Bram masuk ke lapangan dan berhenti di depan tenda.
Bram turun dan berjalan kearahku.
"Yok Zanu, jalannya pelan-pelan saja,"
Aku berjalan dengan sedikit pincang tapi pijakan kakiku mulai kuat. Bram membukakan pintu mobilnya untukku. Setelah aku masuk mobil dan menutup pintu, Bram langsung berjalan ke samping tempat setir.
Mobil dihidupkan dan melaju pelan ke arah luar lapangan. Tidak terlalu jauh, mobil Bram berhenti di rumah penduduk yang cukup besar dan bagus.
"Kak, aku tidak ada peralatan mandi. Mandi pakai apa ya, beli dulu di warung?" tanyaku.
"Peralatan mandimu sudah disiapkan. Nanti kamu ambil di depan pintu kamar mandi, ada ember kecil warna biru. Kamu cepat mandinya ya, karena pagi ini aku mau memberi arahan untuk mahasiswa baru," ujar Bram.
Aku dan Bram turun dari mobil. Kita berdua berjalan menuju pintu rumah penduduk tersebut. Yang punya rumah membukakan pintu dan tersenyum.
"Silahkan masuk Bos, eh Ketua," ujarnya dengan sedikit kelabakan.
"Iya, terima kasih. Assalammu'alaikum.." ucap Bram.
"Waa'alaikum salam," jawab yang punya rumah.
Bram masuk duluan dan aku mengikutinya dari belakang.
Kenapa Bram main masuk-masuk saja ya? Dan kenapa Bapak tadi kepleset panggil Bos? Apakah Bapak ini orang yang sama waktu semalam?
Udahlah Zanu! Pikirkan dulu kakimu. Orang sudah capek-capek ngurus, malah banyak pengen tau. Udah mandi sana, bau tau!! Suara hatiku sedang marah, hi..hi..hi...
Aku di arahkan Bram menuju kamar mandi. Memang benar di depan pintu masuk sudah ada ember kecil berwarna biru. Isinya lengkap bahkan untuk luluranpun ada, weleh..weleh..
Bram meninggalkanku. Tanpa banyak basa basi, aku langsung masuk dan mandi. Terasa segar air mengguyur tubuhku.
Mungkin karena kemaren sore aku berada di hutan, kulitku terasa lepek dan lengket. Jadi terasa belum mandi sebulan.
Setelah selesai mandi, aku keluar pelan-pelan karena takut terpeleset. Aku bawa dong peralatan mandinya, rugi di tinggal begitu saja. Soalnya semua masih baru, yakinlah ini disediakan khusus buatku.
Samar-samar dari balik ruangan aku mendengar seseorang sedang marah.
Siapa tuh yang marah?
__ADS_1
Jiwa kekepoanku mulai aktif, aku mengintip melalui dinding pembatas ruangan.
"Ingat! Jangan sampai ketahuan. Waktu kalian selidiki hanya sampai perkemahan ini berakhir!"
Itu ternyata suara Bram. Dan yang dia marahi itu adalah yang punya rumah ini! OMG!
"Jangan lupa atur jadwalku dengan investor kelapa. Nanti kita langsung cek ke lokasi. Pastikan perjalananku selama di sana aman. Dan hubungi Dela untuk segera mengirimkan laporan hasil kita selama satu bulan ini. Aku akan ke Jakarta setelah kegiatan di sini berakhir, jadi semua urusan Zanuku diselesaikan!"
"Ba..Baik Bos! Siap...,"
Deg! Urusan kekepoanku ini sepertinya semakin berat dan runyam. Urusan apa sih yang di maksud Bram? Apa dia akan mencari si pelaku yang mengambil pakaianku kemaren? Terus kalau misalnya ketemu, apa akan di bawa ke jalur hukum?
Lha, kalau sampai urusan seperti itu, aku jadi saksi dong sekaligus korban? Aduuuhhh....! Ogah ah jadi saksi-saksi segala. Kuliah belum mulai juga, malah dihadapi hal seperti ini.
Aku tidak bisa diam nih.. Nanti aku coba tanyakan Bram. Tapi caranya bagaimana?
Sudahlah Zanu! Kamu ingat tidak Bram bilang apa tadi. Harus segera mandinya karena Bram ada urusan pagi ini. Hadeh....!
Oiya, hampir lupa.
Aku langsung berjalan ke ruang tamu. Bram dan Bapak yang punya rumah kaget.
"Ayok Kak, aku sudah siap mandi. Tadi Kakak bilang harus cepat mandinya kan?" ujarku cuek, padahal aku lagi takut kalau ketahuan nguping.
"Eh iya, ayo. Pak, terima kasih kamar mandinya," ucap Bram melunak.
"Ini buatku kan? Aku bawa ya peralatan mandinya,"
"Bawa saja, memang itu buat kamu,"
Aku dan Bram keluar dari rumah itu. Setelah pamitan sama si Bapaknya, Bram dan aku menuju mobil. Mesin dihidupkan, mobil melaju kembali ke tenda.
********
Aku dan Bram sudah sampai tenda. Selama perjalanan menuju ke sini, kita berdua hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sebenarnya aku kasihan melihat Bram. Pasti banyak tugas yang harus dia selesaikan. Apakah aku harus diam atau bertanya ya? Nanti kalau aku bertanya, dia marah? Terus dia menjauh?
Aku menepis pikiranku barusan.
"Zanu, kamu istirahat dulu di tenda. Nanti ada orang medis yang memeriksa kakimu. Untuk sarapan, aku pesankan satu ke senior. Biar nanti dia yang antar ke sini. Aku gabung dulu sama senior-senior lainnya," ujar Bram.
"Baik Kak, terima kasih ya,"
"Sama-sama,"
Bram langsung beranjak meninggalkan mobilnya dan pergi berjalan ke arah tempat senior berkumpul.
Sudah mulai terlihat teman-teman berkumpul di luar tenda.
Kira-kira kegiatan apa lagi ya untuk hari ini?
Aku ingin sekali bertemu Prita. Biar ada teman ngobrolku di sini. Dimana sih Prita? Belum muncul-muncul juga.
Terpaksa aku berdiam diri di tenda ini.
__ADS_1
...****************...