
Sore berganti malam.
Setelah makan malam dan sholat isya, aku langsung rebahan di atas kasur. Aku ingat novel yang di pinjam tadi sore. Segera aku ambil di atas meja kecil.
Kuperhatikan dengan seksama novel tersebut, judulnya yang simple dan lembarannya yang sangat tebal. Mungkin butuh tiga hari aku bisa selesai membacanya, itu juga kalau rutin baca beberapa jam dalam satu hari.
Kubuka dan kubaca bagian pertama.
"Kisah perjuangan seorang gadis yang masih perawan, rela menggadaikan keperawanannya dengan harga tinggi demi bisa keluar dari tempat tinggalnya yang sekarang. Dan untuk merubah nasibnya yang jauh lebih baik lagi"
Di awal cerita menurutku sangatlah menarik untuk di baca. Bahkan rasa penasaranku selalu muncul dari halaman ke halaman lainnya. Tapi rasa kantuk mulai menghampiriku, aku putuskan untuk menyudahi membaca novel tersebut.
Setelah aku meletakkan novel di atas meja kecil, aku langsung menarik selimut dan tidur.
********
Paginya, cuaca sedikit mendung dan terasa dingin. Untungnya tidak datang hujan. Aku dan Prita bergegas ke kampus demi menghindari jika terjadi hujan turun. Tak lupa pula kita membawa payung untuk berjaga-jaga.
Aku juga memakai jaket Bram. Supaya tubuhku tidak merasakan kedinginan. Rasanya sudah lama tidak memakai jaket Bram.
Sesampainya di kampus, aku dan Prita langsung mengikuti jam perkuliahan. Hari ini ada tiga mata kuliah yang harus kita ikuti.
Jelang kuliah berakhir, tiba-tiba hujan mulai mengguyur. Makin lama makin deras dan butuh waktu yang lama untuk berhenti. Karena mendung sudah terlihat sedari tadi pagi, yang biasanya menandakan hujan akan awet lama.
Setelah selesai kuliah, aku dan Prita berjalan menuju halte atas dengan memakai payung masing-masing.
Tidak banyak mahasiswa yang berada di halte atas karena mungkin hanya beberapa saja yang membawa payung seperti aku dan Prita.
Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depanku. Jendela mobil terbuka dan ternyata itu Sacia bersama kakaknya Gilang. Sacia melambaikan tangan.
"Zanu, Prita, yuk ikut kita. Mau pulang kan? Sekalian saja, kita mau ke kost," ujar Sacia setengah teriak karena derasnya hujan.
Aku dan Prita hanya saling pandang. Sacia masih saja melambaikan tangan supaya kita ikut.
"Yuk Zanu, kita ikut mereka saja. Kan tujuannya sama. Bus juga belum tentu cepat kesini dalam keadaan hujan lebat seperti ini," ujar Prita mengajakku.
Aku mengangguk. Ya mau bagaimana lagi, aku harus ikut dengan situasi seperti ini yang tidak memungkinkan.
Aku dan Prita akhirnya melangkah menuju mobil dan langsung masuk. Payung kita tutup dan tiriskan sebentar, supaya air hujan tidak terlalu banyak membasahi mobil.
Mobil akhirnya melaju. Selama dalam mobil tidak banyak yang kita bicarakan. Hanya membahas tentang kepindahan Sacia ke kost kita.
__ADS_1
Begitu juga dengan Gilang, dia lebih banyak diam dan sekali-sekali penimpali pembicaraan adiknya.
********
Mobil masuk ke dalam garasi depan kost. Kita semua keluar dari mobil. Aku memanggil Bibi lewat samping untuk membukakan pintu ruang tamu.
Setelahnya, Prita, Sacia dan Gilang masuk ke dalam. Untung teras depan Mami kost pakai kanopi, jadi tidak terkena hujan saat turun dari mobil.
Aku mau tidak mau ikut nimbrung sama mereka. Baru saja aku masuk ke ruang tamu, tiba-tiba datang mobil yang berhenti tepat di sebelah mobil Gilang. Aku mengintip di pintu, ternyata itu Bram!
Oiya, aku lupa, kalau Bram hari ini mau ke sini. Aku langsung berjalan keluar menemui Bram. Sambil menunggu Bram keluar dari mobilnya, aku duduk di kursi yang terletak di teras.
Bram keluar dari mobil dan langsung berdiri di hadapanku.
"Zanu, kamu naik mobilnya siapa tadi?" tanya Bram sedikit emosi.
"Lho, tau dari mana Kakak?" tanyaku heran.
"Jawab dulu pertanyaanku,"
"Itu mobilnya anak yang mau ngekost di sini. Aku sama Prita ditumpangi tadi saat menunggu Bus di halte atas. Kebetulan hujannya deras baget dan tujuan kita sama-sama mau ke sini," jawabku.
"Aku lihat tadi, mobilku tepat di belakang. Coba kamu menunggu beberapa menit, jadi bisa aku yang antar," Bram mulai kesal.
"Ya Dek.. Maafin aku," tiba-tiba Bram jadi sedikit melunak.
"Ya udah, kita ke dalam yuk. Di sini dingin. Sekalian Kakak kenalan sama orang yang ngantarin kita,"
Bram mengangguk. Aku berjalan duluan dan Bram mengikuti dari belakang.
Saat aku dan Bram masuk, semuanya terlihat kaget. Terutama antara Bram dan Gilang. Sepertinya mereka saling mengenal satu sama yang lainnya.
Tanpa arahan lebih dulu, Bram dan Gilang saling salaman. Mereka saling melihat dan menerka-nerka.
"Kamu Gilang kan? Waktu SMP kita pernah satu kelas di Amerika? Gilang Pramantio?" tanya Bram.
"Iya, saya Gilang. Kamu kok tau saya? Maaf saya lupa-lupa ingat," jawab Gilang.
"Aku Ibram. Ketua kelas waktu itu. Aku ingat karena ada bekas luka tanda X di pelipismu,"
"Oiya, aku ingat. Ibram sang ketua. Wah! Tidak menyangka kita bisa bertemu lagi ya? Kamu kuliah di sini?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Iya, aku kuliah ambil jurusan Teknik Sipil. Kalau kamu kuliah di mana?" tanya Bram balik.
"Aku di Kedokteran Universitas ini juga. Sama kita. Kenapa saat ospek kita tidak bertemu ya," jawab Gilang sambil tersenyum.
"Aku tidak ikut ospek, setelah sebulan kuliah jalan, baru aku masuk,"
Aku, Prita dan Sacia cuma bengong saja dari tadi. Antara melihat atau membiarkan mereka mengobrol.
"Kak, aku sama Prita ambil minuman dulu ya ke dalam. Silahkan lanjutkan obrolannya," ujarku memecah kekakuan.
Bram mengangguk. Tidak dengan Gilang yang seolah-olah tidak mau akan kedekatanku dengan Bram. Entah kenapa dia jadi seperti itu?
"Zanu, aku ikut ya. Sekalian bawa barang-barangku ke kamar atas," ujar Sacia.
Aku mengangguk. Aku, Prita dan Sacia berjalan menuju ke dapur. Sekali-sekali Sacia bolak balik antara ruang tamu dan kamar atas untuk meletakkan barang bawaannya.
Di dapur, aku dan Prita membuat minuman syrup dingin.
"Zanu, tumben Ketua ke sini?" tanya Prita.
"Ya nggak apa-apa, kemaren dia sudah bilang mau ke sini kok," jawabku sambil mengaduk syrup.
"Untung saja mereka masih saling mengingat. Si Gilang itu kalau di perhatikan keren juga ya? Mereka berdua pernah sekolah di Amerika, bukan orang biasa sepertinya," ujar Prita yang mulai kepo.
"Yah, baguslah kalau mereka saling ingat dan tidak ada yang sombong. Tau aja kamu Prita mana yang cowok ganteng," celetukku.
Prita senyum-senyum sambil menyusun gelas di baki.
"Aku lihat Gilang suka memperhatikan kamu lho. Apa dia naksir kamu ya Zanu?" tanya Prita.
"Ah! Itu kan perasaan kamu saja Prita. Aku sudah punya Bram, nggak maulah berfikir yang aneh-aneh," tangkisku dengan cepat.
"Iya sih. Oiya, baru saja aku PDKT sama Atif, eh udah nongol aja cowok ganteng, ha..ha..ha..," Prita mulai berulah.
"Fokus saja sama Atif. Entar kamu dekatin yang ini, Atif pergi. Iya kalau yang ini mau, kalau nggak, hilang deh dua-duanya, he..he..he...," ledekku.
"Ih kamu, bukannya mendukung teman. Lagian Atif belum tentu menerimaku. Aku masih bebas dong mau dekatin siapa. Kecuali kamu tuh Zanu, sudah ada yang punya dan sayang banget sama kamu. Sayang, kalau sampai kamu sia-siain,"
Aku diam dan hanya manut-manut mendengar ocehan Prita.
Yah, hadirnya Bram sudah membuatku nyaman. Hanya tinggal berjodoh atau tidak. Tapi aku sadari semakin lama Bram semakin posesif dan terlalu berlebihan dalam menjagaku.
__ADS_1
...****************...