
Mami melepaskan pelukannya dan menyeka air mata.
"Zanu, Bram tidak akan salah pilih. Karena Mami tau bagaimana Bram, dia tidak sembarangan dalam memutuskan sesuatu. Apalagi memutuskan untuk bersama kamu, mencintai kamu dan menginginkanmu. Kami sebagai orang tua, meminta maaf kepadamu Zanu, jika nanti Bram tidak berhasil. Semoga kamu mengerti situasinya dan bisa melupakan Bram," ujar Mami.
"Iya Mi, Zanu sudah di ingatkan Kak Bram sebelum ini. Apapun yang terjadi, Zanu yakin dia akan kembali," entah mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku.
"Benarkah kamu yakin Zanu? Masalahnya tidak semudah itu, tapi Mami berharap Bram bisa menyelesaikannya. Sekarang ayo kita ke dalam, Bram dan Papi pasti sedang menunggu," ajak Mami sambil menggandeng tanganku.
Aku mengangguk dan mengikuti Mami masuk menuju ke ruang tengah. Bram melihatku dengan perasaan bahagia, mungkin ia tidak menyangka Mami mau menggandeng tanganku.
"Kita sudah bicara dari hati ke hati, ternyata kamu memang tidak salah pilih Bram," ujar Mami sumringah.
Bram tersenyum mendengar pujian Maminya.
"Mi, Pi, aku mau bawa Zanu jalan ke taman belakang sebentar. Tidak apa-apa kan, kita tinggal sebentar?" tanya Bram.
"Silahkan nak," jawab Papi dan Mami hampir bersamaan.
Bram menarik tanganku ke taman belakang. Terlihat ia begitu bahagia dan sekali-kali membelai rambutku.
"Zanu, malam ini terasa indah ya? Walau sebenarnya besok hari terakhir kita bertemu, tapi aku merasa bahagia bisa bersamamu hari ini dan bertemu dengan kedua orang tuaku," ujar Bram sambil menatap keatas. Kebetulan sekali malam ini banyak bintang bertaburan di atas langit.
Aku hanya diam dan ikut pula melihat ke atas langit. Entah mengapa, tiba-tiba Bram membalikkan tubuhku kehadapannya. Ia menyentuh bibirku dengan sangat lembut, seakan ia mengisyaratkan ingin selalu seperti ini dan berada didekatku.
Aku ikut larut dalam sentuhan bibir Bram, tapi entah mengapa hatiku terasa sedih dan tanpa kusadari aku menangis. Bram mendekap tubuhku semakin erat dan terasa helaan nafasnya mulai menggebu-gebu di wajahku, seakan ia tidak ingin lepaskan.
Seketika, Bram melepaskan sentuhannya dan ia menunduk di hadapanku. Mungkin ia merasakan tetesan air mataku yang mengalir mengenai bibir. Jemarinya menyeka air mataku tanpa melihat.
"Aku tidak ingin melihatmu menangis Zanu. Berhentilah menangis, aku ingin melihatmu tersenyum dan bahagia. Maafkan aku," ucap Bram. Ia masih belum melihat ke arahku.
Aku menahan rasa sedih dan sebisa mungkin menahan tangisku demi mengabulkan permintaan Bram. Aku tau, dihatinya yang terdalam, ia juga merasakan kesedihan itu.
__ADS_1
"Sudah Kak, aku tidak menangis lagi, lihatlah aku," aku mengangkat dagu Bram ke atas.
Berlahan Bram mengangkat wajahnya, terlihat raut wajah sedih, tapi ia berusaha tersenyum kepadaku.
"Bisakah kamu tidak akan menangisi kepergianku?" tanya Bram.
"InsyaAllah Kak,"
"Nanti, jika kebun rambutanmu sudah berbuah, aku akan datang membelinya. Sebagai tanda kalau aku sudah kembali, oke,"
"Iya Kak,"
"Zanu, besok pagi aku akan menjemputmu. Sidang di mulai jam sepuluh, kita sarapan di kantin saja. Setelah dari sidang, temani aku ke cafe dan ke pabrik ya,"
"Banyak sekali kegiatan Kakak? Bukannya mau berangkat, istirahat dululah," aku kasihan melihat Bram yang tiada henti mengerjakan semua tanggung jawabnya.
"Aku sudah terbiasa seperti itu dan bepergian ke sana kemari juga hal biasa. Aku bisa istirahat di pesawat berjam-jam dan urusan barang bawaan sudah ada yang menghandle. Sebelum berangkat, aku ingin semuanya selesai dan urusan kekuasaan sementara, harus di pegang oleh orang-orang kepercayaanku. Termasuk pengurusan di dalam rumah ini," keterangan Bram.
"Zanu, satu hal yang tidak bisa kuselesaikan adalah kamu,"
"Kalau tidak ada yang membukakan pintu, kamu aku bawa lagi ke sini. Menginap saja di rumah ini, kita bisa sarapan bersama kedua orang tuaku,"
"Tidak usah Kak, tidak enak sama teman-teman kost. Mereka sudah tau kalau aku hanya keluar sebentar bersama Kakak," aku menolak ajakan Bram.
"Oke, baiklah. Yuk kita ke dalam, pamit sama Papi Mami dulu," ajak Bram dengan menggandeng tanganku.
Aku dan Bram melangkah masuk ke dalam, langsung menuju ke ruang tengah. Terlihat orang tua Bram sedang bercengkrama sambil menonton drama di televisi.
"Pi, Mami, Zanu mau pamit pulang," ujar Bram.
"Oiya? Cepat sekali nak pulangnya?" tanya Mami. Ia berdiri dan menghampiriku.
__ADS_1
"Maaf Mami, Zanu tidak bisa berlama-lama, karena sudah ada jam pengaturan di kost. Nggak enak nanti teman-teman pada nunggu," jawabku.
"Oke Zanu, sebenarnya Papi sama Mami berharap bisa berlama-lama ngobrol dan berkumpul denganmu. Tapi apa mau di kata, waktunya tidak memungkinkan. Besok, sebelum kita berangkat, kamu ke sini dulu ya,"
"Baik Mami. Zanu pulang dulu Mi, Papi," aku menyalami kedua orang tua Bram, kali ini mereka menyambutnya dengan senang. Mami memelukku dengan erat dan sejenak melihat wajahku.
Aku dan Bram keluar di antar orang tuanya sampai pintu depan yang berukuran segede gaban. Mobil Bram sudah terparkir di halaman depan, telihat Pak Jack turun dari kemudi.
"Lho, Pak Jack ada di sini ya Kak?" tanyaku.
"Iya. Sengaja di panggil ke sini, karena besok dia mau aku ajak meeting dengan yang lainnya," jawab Bram.
Pak Jack tersenyum kepadaku saat kita berpapasan. Di atas teras orang tua Bram melambaikan tangan.
Aku dan Bram sudah di dalam mobil hendak pergi ke arah tujuan yaitu kost aku. Setelah melambaikan tangan ke arah orang tua Bram, mobil akhirnya melaju keluar gerbang.
*********
Suasana dalam perjalanan terasa hening, hanya alunan musik yang terdengar dari tape mobil. Sesekali Bram menoleh ke arahku sambil menyetir.
Beberapa menit kemudian, mobil Bram sudah sampai di tempat kost. Sebelum aku turun, Bram sempat memelukku sebentar. Ia mencium kening dan mengacak poniku.
Aku turun dan melambaikan tangan ke arah Bram. Pintu depan di buka oleh Kak Siska, untungnya dia belum tidur. Kak Siska mengintip dari balik pintu, seakan ingin tau bagaimana aku dan Bram berpisah.
Bram menghidupkan mesin mobilnya, ia membalas lambaian tanganku. Mobil itu langsung pergi meninggalkanku yang terdiam di dekat pagar. Setelah mobilnya hilang dari pandangan, aku langsung masuk ke dalam dan menutup pintu pagar.
"Zanu, bagaimana kencannya?" tanya Kak Siska yang antusias sekali ingin tau.
"Yah, begitulah Kak. Sama seperti orang lainnya yang sedang jatuh cinta," jawabku dengan sumringah.
"Cieee, pasti berbunga-bunga setiap harinya," goda Kak Siska.
__ADS_1
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Andai saja Kak Siska tau, jika besok hari terakhir aku bertemu dengan Bram. Entah sampai kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, hanya Tuhan yang tau.
...****************...