
Tapi kan kaki Lutfa patah, apa secepat itu dia bisa sembuh?
"Bukannya kaki Lutfa patah ya?" aku penasaran.
"Iya, dia ke kampus pakai kursi roda. Bisa jadi dia mulai kuliah lagi kan?" ucap Rani.
"Yaahh..., syukurlah kalau dia mulai membaik dan bisa kuliah kembali," aku masih meneruskan makan.
"Bukan itu masalahnya. Dia kan pernah mencelakakan kamu saat kita berkemah kemaren, apa kamu tidak ada perasaan was-was sedikitpun?" tanya Rani serius.
"Iya sih, perasaan itu pasti ada. Semoga dia tidak berulah lagi," harapku. Aku menyudahi sarapanku, setelah itu minum.
"Yok Rani, kita berangkat kuliah. Kamu mau bareng nggak?" tanyaku.
"Oke, bentar. Minum dulu,"
"Mira, apa kamu bareng juga?" kuperhatikan Mira hanya diam saja sedari tadi sambil menikmati makannya.
"Iya, aku ikut juga," Mira meletakkan piring dan gelas kotornya ke dapur.
Tidak berapa lama, aku, Rani dan Mira berangkat ke kampus menaiki Bus. Selama perjalanan, aku mengingat Prita. Biasanya aku dan Prita naik Bus kalau mau ke kampus. Kita rela antri menunggu Bus dan berebutan mencari bangku kosong. Kedekatanku bersama Prita belumlah lama, tapi kenangan bersamanya membekas dalam benakku.
Semoga suatu hari nanti, kamu akan mengingatku Prita.
********
Sesampainya di kampus, aku langsung menuju ruang kuliah. Selama ini aku tidak begitu mengenal teman-teman angkatanku karena waktuku banyak habis bersama Bram dan Prita. Apalagi sudah banyak tau kalau Bram adalah pacarku, jadi tidak ada yang berani mendekati, apalagi menyapaku.
"Zanu, ada yang menunggumu di luar," lagi-lagi dosen memanggilku dan aku tau betul kalau itu adalah Bram. Walau waktu kuliah sebentar lagi selesai, rasanya tidak etis di tunggu sebelum kuliah bubar. Tapi entah kenapa, sang dosen malah mengizinkan? Apa karena power pamannya Bram, Pak Rektor?
"Iya Bu," jawabku singkat.
"Kamu saya izinkan pulang lebih dulu. Jam kuliah bentar lagi selesai," ujar Dosen.
"Baik Bu. Permisi, maaf saya pulang duluan ya Bu," aku merasa bersalah.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, silahkan," Ibu Dosen malah tersenyum.
Tak sabar rasanya aku ingin menemui Bram. Dengan tergesa-gesa aku keluar dan mendapati dia sedang menelepon seseorang.
Aku menunggu Bram selesai menelepon, walau hatiku terasa dongkol dengan sikapnya kali ini.
Bram melihatku dan dengan cepat dia mengakhiri percakapannya di ponsel.
"Maaf Zanu, aku mengganggu kuliahmu lagi. Tapi kita harus segera ke rumah sakit," Bram melihatku cemberut dan dia merasa bersalah.
"Ini yang kedua kalinya lho. Kan bisa tunggu lima menit lagi. Aku malu Kak sama Dosen dan teman-teman. Lama-lama tidak ada yang mau berteman denganku hanya karena Kakak di dekatku," aku mulai jengkel.
"Zanu, nanti kita bahas tentang ini. Lagipula semua Dosen sudah tau tentang Prita dan tau kalau kamu termasuk orang yang bisa menemaninya saat ini. Aku sudah dipercayakan Gubernur untuk mengurus Prita, aku harus bertanggung jawab dengan ucapanku sendiri. Dan termasuk tanggung jawab dari kampus. Aku minta tolong kamu mengerti dengan kondisiku dan tentang Prita saat ini," Bram menjelaskannya panjang lebar.
Seharusnya aku menyingkirkan dulu egoku dalam situasi seperti ini.
"Iya Kak, maafkan aku," aku menunduk dan malu. Aku harus fokus tentang Prita karena hanya akulah teman yang betul-betul Prita kenal. Dan situasi Prita saat ini sangat terancam, dari segi kesehatan dan nyawanya.
Ah, harusnya aku punya empati.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apakah Prita baik-baik saja?" tanyaku sambil mengikuti langkah Bram dari belakang.
"Prita koma kembali, tadi Atif menghubungiku," Bram membuka pintu mobilnya untukku.
"Hah! Koma lagi?! Ya Tuhan," hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan. Rasanya tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan, karena kemaren dokter jelas-jelas mengatakan Prita sudah ada respon dan masa kritisnya sudah lewat.
Bram menyalakan mobilnya. Aku masih dalam renungan. Jangan katakan Prita akan pergi, hiks..
Bertahanlah Prita, aku kangen lho sama kamu.
"Aku belum sempat menemui Gubernur, rencana siang ini. Terpaksa dibatalkan," Bram mengeluh.
"Nanti Kakak kan bisa hubungi Gubernur dan katakan situasi Prita saat ini. Aku rasa Pak Gubernur pasti mengerti," aku menghibur Bram. Kasihan melihat Bram yang sedang banyak tugasnya dalam waktu berdekatan.
"Iya Zanu. Itu yang sedari tadi aku pikirkan. Andai saja Pak Gubernur bisa datang kerumah sakit, kita bisa mengobrol sambil melihat keadaan Prita. Seharusnya Prita segera di bawa ke Amerika, tapi harus menunggu dia benar-benar siuman. Sekarang malah koma lagi,"
__ADS_1
"Mau gimana lagi Kak, semua juga demi kebaikan Prita dan nyawa Gubernur beserta keluarga Prita lainnya. Kasihan Prita," aku jadi sedih memikirkannya.
Bram diam dan masih fokus menyetir.
Kring!
Kring!
Ponsel Bram berbunyi. Bram menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan langsung mengangkat telepon.
"Apa kabar terbaru? Apa kamu sudah dapat info yang aku inginkan?" tanya Bram serius. Aku menyimak dan ingin tau.
"Bagus! Kamu tanya maunya apa, jika tidak bisa dengan cara halus, langsung saja cara kasar! Aku tidak mau berlama-lama. Kamu selesaikan di sana secepatnya, sisanya aku urus saat ke Amerika nanti!" mulai terlihat amarah Bram keluar.
"Jangan lupa kamu cari info Dokter yang bernama Wahyu Abilom di sana. Atur janji sebulan lagi untuk pasien bernama Prita," ternyata Bram sangat serius mengurus untuk kesembuhan Prita.
"Sudah! Beri aku berita baik! Aku tidak ingin ada kata gagal! Kamu kerahkan semua anggota dan urusan terakhir, aku yang turun tangan! Mengerti!" Bram mematikan ponselnya dengan emosi dan meledak.
Aku diam, tidak berani bertanya apalagi untuk bicara.
"Zanu, kenapa kamu hanya diam saja?" Bram menggagetkan aku. Dia sudah bisa mengontrol emosinya dengan bersuara rendah.
"Tidak apa-apa Kak, aku hanya ingin diam. Takut salah bicara atau bertanya. Lagian Kakak sedang marah-marah, aku jadi takut,"
"Maafkan aku Zanu. Permasalahanku sekarang sedang pelik dan di ujung tanduk. Tapi aku puas kalau bisa menyelesaikan kasus Prita, karena itu berbarengan dengan kasusku di sana. Selama ini aku diam. Masalah keluargaku hampir sama dengan masalah Prita. Dan kebetulan bisnis orangtua Prita masih ada hubungannya dengan bisnis orang tuaku. Musuh dalam selimut itu ada beberapa orang yang ingin menjatuhkan keluargaku dan Prita," Bram menjelaskan masalahnya dengan detail walau seratus persen belum aku pahami.
"Semoga masalah Kakak dan Prita bisa diselesaikan dengan baik dan aman kedepannya. Aku belum paham seutuhnya atas masalah apa yang sudah terjadi di keluarga Kakak dan Prita," hanya itu yang bisa aku jawab karena belum mengerti betul permasalahan mereka.
"Aamiin. Oiya, apa kamu sudah tau kalau Sacia sudah mulai kuliah?" aku kaget mendengar ucapan Bram.
"Sudah tau, tadi diberitau Rani saat sarapan. Kakak tau dari mana? tanyaku.
"Dia menghampiriku dan ingin bertemu denganmu Zanu," jawab Bram.
Deg! Kenapa Sacia menanyakan aku? Apa ada sesuatu? Aku tiba-tiba merasa takut, mengingat kejadian yang sudah-sudah.
__ADS_1
...****************...