
Aku dan Bram sudah sampai di kantin.
Semua yang berada di kantin mengalihkan pandangan kepadaku dan Bram. Mereka seperti terkejut dan heran. Kenapa ya..?
Aku mencari-cari keberadaan Prita di sana. Ternyata Prita sedang duduk di ujung kantin dekat pohon yang rindang. Aku memberi kode Bram untuk mengikutiku dari belakang.
Bram dengan patuhnya mengikutiku, seakan dia tidak peduli dengan tatapan semua orang.
Prita menoleh ke arahku dan dia kaget dengan kehadiran Bram.
"Eh ada Ketua, mari silahkan duduk," ucap Prita kelabakan seakan tidak percaya Bram mau ke sini.
"Sudah lama menunggu ya Prita?" ujarku.
"Nggak juga, belum lima belas menit yang lalu. Untung aku sampai sini tepat waktu, kantin lagi penuh hari ini," jawab Prita.
Aku dan Bram duduk berdampingan. Prita memberikan buku menu kantin kepadaku. Aku mengambilnya dan melihat-lihat. Bram ikut juga melihat kearah buku menu yang aku pegang.
Terasa hatiku bergetar karena mendekatnya wajah Bram secara tiba-tiba ke arahku. Dengan cepat aku langsung menggeser buku tersebut ke arah Bram. Aku malu dilihat Prita dan yang lainnya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Bram sambil membolak-balikkan buku menu.
"Aku mau nasi goreng saja Ketua. Minumannya es jeruk," jawabku sekenanya.
"Hhmm.. Oke, aku juga sama dengan yang kamu pesan," ujar Bram.
Lalu Bram melambaikan tangan kearah karyawan kantin. Karyawan tersebut menghampiri meja kami bertiga.
"Prita, kamu pesan apa?" tanyaku.
"Aku pesan nasi ayam geprek dan teh es," jawab Prita.
Bram menyampaikan pesanan ke karyawan kantin termasuk pesanan Prita. Setelah selesai di catat, karyawan tersebut beranjak pergi.
Tiba-tiba aku merasa kebelet pipis. Aku pengen ke toilet, tapi rasanya nggak enak ninggalin Bram bersama Prita.
Apa aku minta temanin Prita aja ya?
"Prita, aku mau pipis, temanin ke toilet dong?" ujarku.
Belum juga Prita menjawabku, Bram menyeletuk.
"Biar aku saja yang temani kamu. Ayok, tidak baik di tahan-tahan," ujar Bram sambil berdiri.
__ADS_1
"Biar Prita saja, kan sama-sama cewek," jawabku merasa tidak enak.
Apa kata orang Bram ikut menemani aku ke toilet? Bram ke kantin saja orang pada heran, apalagi dia ke toilet bersamaku? Haduh...!
"Sudah, jangan ngebantah. Ayok keburu pipis nanti," jawab Bram sambil menarik tanganku.
Aduh, malunya aku. Bram menarik tanganku di depan banyak orang tanpa peduli sedikitpun. Seolah mereka yang ada di kantin hanya sebagai penonton buat Bram.
Terpaksa aku ikuti tarikan Bram, aku lihat expresi Prita yang kaget. Prita langsung melambaikan tangannya sebagai kode untuk aku ikuti saja perkataan Bram.
Aku dan Bram berjalan menuju ke arah toilet.
"Aku tunggu di sini,"
Bram berdiri dekat dinding yang mengarah ke pintu toilet. Tanpa banyak tanya aku langsung masuk.
Saat di dalam toilet, aku mendengar pembicaraan dua orang cewek. Aku langsung menyimak karena terdengar dari mereka menyebutkan kata Ketua.
"Eh Riri, Ketua lagi ngapain ya di depan toilet?" tanya satu perempuan ke temannya bernama Riri.
"Nggak tau. Bisa jadi lagi nungguin temannya. Tadi aku lihat dia ke kantin sama cewek dari jauh. Tumben Ketua ke kantin, ada yang bilang dia tidak pernah ke kantin. Mungkin karena cewek itu yang bikin Ketua jadi ngikut," jawab si Riri.
"Beruntung banget ya itu cewek. Perasaan Ketua belum pernah suka sama cewek lain sejak awal kuliah kecuali yang ngaku-ngaku itu, siapa sih namanya?"
"Padahal aku juga suka lho sama Ketua, tapi susah untuk dapatinnya, ha..ha..ha... Melihat Ketua dari jauh saja udah bikin aku senang, apalagi dari dekat,"
"Iya sih, sepertinya hampir semua cewek di kampus kita ini suka sama Ketua. Aku dengar Ketua juga tajir, cewek mana coba yang tidak suka? Udah ah, kita udahan yuk, aku lagi ditungguin Anton nih," ujar Riri.
"Tapi selagi belum janur kuning, Ketua masih bebas mau sama siapa,"
"Kamu jangan terlalu jauh mengharap, pasti Ketua bakal milih-milih buat pendampingnya nanti. Ayo! Nanti aku telat lho," suara Riri mulai terdengar sedikit kesal dengan temannya.
Sayup-sayup suara mereka tidak terdengar lagi. Aku sudah bersihkan bekas pipis dan keluar dari pintu toilet. Aku bergegas cuci tangan dan melihat sejenak ke cermin.
"Beruntung ya cewek itu" kalimat yang kuingat dari percakapan mereka berdua tadi. Cewek itu adalah aku!
Ya Tuhan, mimpi apa ya aku bisa dekat dengan Bram? Sedangkan di luar sana sudah banyak yang ingin menarik simpati Bram?
Aku justru bertemu Bram dari waktu yang tidak terduga, tanpa harus mendekatinya terlebih dahulu.
Seandainya aku tidak lulus di Universitas ini, mungkin aku tidak akan bertemu Bram lagi? Tapi entahlah, bisa jadi tetap bertemu karena Bram bisa menyuruh bodyguardnya untuk mencari tau tentangku.
Aku keluar dan kudapati Bram masih saja berdiri menungguku. Dia tersenyum dan tidak sedikitpun aku melihat expresi kesal karena lama menunggu.
__ADS_1
"Sudah Zanu? Yuk kita kekantin, aku lapar," ujar Bram langsung mendekatiku.
Aku mengangguk dan tersenyum. Bram tidak pernah ke kantin, tapi hanya bersamaku dia mau melakukannya. Pantaslah tadi semua yang ada di kantin kaget melihat Bram.
Aku dan Bram berjalan berdampingan menuju kantin.
"Kak, kenapa kakak mau menemaniku ke toilet? Kan bisa saja aku sama Prita?" tanyaku penasaran.
"Aku mau saja, selagi aku ada waktu, aku akan temani kamu. Aku juga tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, takutnya masih ada orang yang ingin iseng seperti yang sudah-sudah," jawab Bram.
"Trus kenapa Kakak mau ikut aku ke kantin?"
"Iya tidak apa-apa. Aku juga mau, kan sudah aku bilang, maunya dekat kamu. Nggak ada yang salah kan? Sekalian aku juga mau lihatin ke semua yang ada di kampus, kalau kamu milikku. Jadi biar tidak ada lagi yang berani dekati kamu apalagi mencelakai kamu," jawab Bram serius.
Aku jadi kaku sejenak. Apakah seserius itu Bram? Bagaimana dia bisa sehebat itu menyayangiku? Sedangkan aku masih saja cuek terhadap Bram.
"Zanu, ingat. Nanti pulang aku antar ya dan kita langsung ke suatu tempat,"
"Baik Kak. Oiya, apa kabar Atif? Prita minta tanyain ke aku tentang Atif. Atif belum juga menghubungi Prita,"
"Nanti aku suruh Atif menemui Prita sore ini. Yuk cepat ke sana, kasihan Prita menunggu kita lama," ujar Bram sambil membelai rambut belakangku.
Aku mengangguk. Aku dan Bram bergegas menuju ke kantin dan langsung mendekati meja kami bertiga. Kulihat Prita manut-manut menunggu. Ternyata pesanan kita sudah ada di meja.
"Aduh, maaf Prita nunggu lama. Sudah dari tadi ya pesanannya datang?" tanyaku ke Prita.
"Tidak apa-apa, baru saja kok. Yuk kita langsung makan," jawab Prita.
Aku dan Bram mengangguk dan langsung duduk. Aku, Bram dan Prita mulai makan dengan pesanan masing-masing.
"Prita, nanti sore Atif saya suruh ke kost kamu. Pulang dari sini kalian saya antar dan Zanu keluar bersama saya," ujar Bram.
Kulihat Prita sangat kaget dengan ucapan Bram. Prita menoleh kearahku untuk mencari-cari jawaban. Aku cuma tersenyum sambil menggoda Prita.
"Iya Prita, nanti siap-siap ya untuk menyambut Atif, hi..hi..hi..," ujarku.
"Ah Zanu, jangan digodain dong, aku malu nih," jawab Prita malu-malu.
Aku senang melihat Prita, akhirnya keinginannya bertemu Atif bisa terlaksanakan.
Kulihat Bram expresinya datar dan biasa saja. Yup! Bram akan berubah melow jika hanya bersamaku.
...****************...
__ADS_1