
"Zanu!"
Ada yang memanggilku dari luar tenda. Aku keluar. Ternyata yang datang Kak Resa sama Prita.
"Selamat Pagi Kak, Prita," sapaku dengan senyuman.
"Wah! Sudah bisa jalan nih. Untung cepat ditangani lukanya ya," ujar Kak Resa.
"Iya Kak, Alhamdulilah sakitnya mulai berkurang,"
"Ini Zanu sarapan buat kamu. Kita sudah sarapan,"
Kak Resa memberikan aku kantong plastik yang berisi nasi bungkus plus jeruk.
"Terima kasih Kak. Kita masuk yuk ngobrol-ngobrol sebentar," ajakku.
Prita dan Kak Resa menggangguk lalu mengikutiku masuk dalam tenda. Pintu tenda aku buka lebar-lebar, supaya masuk cahaya matahari dan udara segar.
Aku langsung buka nasi bungkus dan mulai makan.
"Zanu, bagaimana semalam? Aman kan kamu di sini? Ketua tidur di mana?" tanya Prita.
"Ketua tidur di luar tenda Prita, aku sendirian tidur di sini," jawabku.
"Zanu, kemungkinan akan di usut siapa yang mengambil pakaianmu. Tapi ini masih rahasia, kita-kita saja yang tau," ucap Kak Resa serius.
Aku kaget. Kaget bukan karena infonya, tapi kaget kenapa Kak Resa tau ya? Apa Kak Resa bagian dari anggotanya Bram? Rasanya tidak mungkin, karena Kak Resa perempuan.
Atau jangan-jangan Kak Resa ditugaskan untuk memata-matai mahasiswa di sini?
"Apa seserius ini Kak? Bisa jadi kan hanya orang iseng," jawabku.
"Benar Zanu. Tapi di sini bukan isengnya yang kita bahas, tapi orang tersebut pasti ada maksud tertentu. Ingin permalukan kamu. Ketua tidak terima, Eh.." ujar Kak Resa sedikit kelabakan.
Tau dari mana Kak Resa kalau Bram tidak terima? Bisa jadi dugaanku benar kalau Kak Resa bagian dari anggota Bram.
Kulihat Kak Resa mulai sedikit gelisah.
"Tapi sebenarnya kesalahan Zanu sendiri Kak, karena tidak hati-hati. Seharusnya tidak mencari pakaian tersebut dan menjauh dari sungai. Mungkin karena panik, Zanu lupa," ucapku cepat untuk menutupi kegelisahan Kak Resa.
"Tapi Zanu, justru kalau orang yang berniat jahat gagal melakukan aksinya, dia akan mengulangi lagi. Bisa lebih bahaya lagi kan? Makanya diselidiki Ketua dulu apa motifnya," tangkis Kak Resa.
"Ketua terlalu berlebihan menurut Zanu Kak. Masih banyak lagi yang harus diselesaikan dari masalah ini," jawabku.
"Zanu. Bukan masalah terlalu perhatiannya ke kamu, tapi juga untuk menjaga nama baik dia sebagai Ketua BEM. Karena ini termasuk bagian tanggung jawabnya. Dulu, Ketua BEM yang lama, pernah kejadian mahasiswa hilang dan kesurupan. Ketua kita tidak mau hal itu terulang kembali. Tau sendirikan dia bagaimana? Apalagi Zanu sendiri yang mengalami,"
Aku diam dan berpikir, benar juga sih apa yang dikatakan Kak Resa. Bukan semata-mata hanya tentangku tapi reputasi dia sebagai Ketua.
"Zanu, kamu cukup diam saja, biar Ketua yang urus. Kita-kita juga khawatir kalau memang ada orang jahil di sini. Padahal kita baru datang kan," ujar Prita.
Aku mengangguk.
"Oiya, hari ini kegiatan apa lagi Kak?" tanyaku.
"Kita hiking menyelusuri sungai. Untuk antipasi, setiap senior dibekali peluit. Dengan kejadian kemaren, kita harus lebih ketat lagi mengawasi semua mahasiswa yang ikut perkemahan di sini. Tugas Ketua semakin berat. Bisa saja sih Ketua merubah shcedule kegiatannya, tapi kita belum ada cadangan pengganti," penjelasan Kak Resa.
"Zanu boleh ikut tidak ya Kak? Sepertinya kaki Zanu sudah mulai sembuh dan bisa jalan," tanyaku sambil terus mengunyah nasi.
"Pasti tidak akan diizinkan Ketua Zanu, percaya deh," celetuk Prita.
Kak Resa mengangguk.
Akhirnya aku selesai juga makan. Lega rasanya bisa sarapan, karena semalam aku hanya makan roti.
Kak Resa dan Prita izin buat bersiap-siap untuk mengikuti hiking hari ini. Aku mengiyakan dan mereka langsung keluar tenda.
Tinggallah aku sendirian di dalam tenda ini.
Aku bingung, kalau semuanya ikut hiking, aku tinggal sama siapa? Hiks... Nasib...
********
__ADS_1
Terdengar sayup-sayup suara Bram di luar yang sedang memberikan instruksi dan arahan untuk hiking ke semua mahasiswa dan senior.
Aku mendengarkannya sampai selesai. Kemungkinan Bram juga ikut hiking. Aku berharap semoga ada yang tinggal beberapa orang di perkemahan ini. Jadi aku tidak akan sendirian.
"Zanu, kamu lagi ngapain di dalam?"
Tiba-tiba terdengar suara Bram memanggilku dari luar pintu tenda.
"Lagi bersantai Ketua," jawabku.
"Aku masuk ya,"
Bram langsung masuk tenda dan tetap dia membuka lebar-lebar pintu tendanya. Supaya orang lain tidak berfikir macam-macam antara aku dan Bram.
Aku senang melihat caranya, karena sampai sejauh ini dia masih menghargai dan menjagaku.
"Zanu, aku mau hiking. Jadi kamu harus tinggal di sini sambil menunggu medis datang. Nanti ada beberapa senior juga yang tinggal untuk berjaga-jaga di perkemahan ini. Tidak apa-apa kan kamu aku tinggal?" ujar Bram.
"Aku boleh ikut Kak? Kakiku sudah sembuh kok, sudah bisa jalan lho..," jawabku dengan wajah memelas.
"Zanu.., walau kakimu sudah merasa sembuh, itu bukan bearti bisa jalan. Karena untuk pemulihan butuh waktu. Lagian ini kan hiking, jadi harus berjalan jauh, apalagi medannya susah. Sudahlah.., kamu lebih baik di sini saja, oke,"
Aku cuma mengangguk tapi dengan expresi manyun.
"Do'akan, semua berjalan dengan baik. Habis dari hiking, aku janji langsung ke sini," ujar Bram sambil mengedipkan matanya.
"Mulai lagi. Udahlah! Pergi sana, nanti telat..,"
"Siap!" canda Bram sambil mengayunkan tangannya ke atas kepala.
Malah Bram becanda balik. Aku yang tadinya manyun, malah jadi tertawa melihat tingkah Bram. Diapun ikut tertawa.
"Bye Zanu,"
Bram keluar tenda. Dia berjalan menuju rombongan yang sudah bersiap-siap. Dan perlahan Bram pergi sampai hilang dari pandanganku.
Waktupun berlalu.
*******
Kricik.. Kricik.. Kricik..
Sayup-sayup aku mendengar suara yang bergemerisik. Dan tiba-tiba aku mencium sesuatu yang berbau gosong. Ditambah lagi aku merasakan mulai sesak ditenggorokan.
Aku langsung membuka mata dan betapa kagetnya aku, asap ada dimana-mana. Terlihat api besar sedang melalap tenda.
Aku terkesima seperkian detik, seakan ada yang ingin kupikirkan.
Tidak pakai lama, aku tersentak dan baru menyadarinya.
Ku sempatkan menarik ranselku dan ransel Bram satu lagi. Aku teriak minta tolong. Aku berusaha berlari keluar walau tidak terlalu kencang karena kondisi kakiku yang belum bisa di ajak berlari.
"Tolong! Tolong! Tolong! Kebakaran!" teriakku histeris.
Akhirnya aku bisa keluar dengan selamat, padahal kobaran api sudah melalap tenda hampir habis.
Nafasku terengah-engah. Aku shock dan tiba-tiba air mataku menetes. Yup! Aku menangis.
Untungnya senior yang berjaga-jaga langsung menghampiri sambil membawa air untuk menyiram tenda yang masih terbakar.
Mungkin butuh waktu yang cukup lama senior mengambil air dikarenakan akses menuju sungai sedikit sulit.
Akhirnya api padam. Semua bengong menyaksikan tenda yang sudah gosong dan tidak berbentuk lagi.
Untungnya dari kejauhan aku melihat Bram berlari sekencang mungkin. Dia langsung menghampiri dan memelukku.
"Kamu tidak apa-apa Zanu? Apa ada yang luka? Ada yang terbakar Zanu?" tanya Bram dengan nada cemas.
Bram terlihat panik, dia melihat seluruh sisi tubuhku, takutnya ada yang terbakar. Lalu dia memelukku kembali. Bram tidak peduli dengan kehadiran beberapa senior di sini.
"Tenang Zanu, aku ada di sini,"
__ADS_1
Bisik Bram lembut ditelingaku. Aku masih menangis tapi hatiku langsung merasa tenang saat hadirnya Bram didekatku.
"Tio, tolong semua mahasiswa diarahkan ke tempat lain. Jangan biarkan ada yang mendekati tenda ini. Kamu dan anggota lain berikan kegiatan ringan untuk sementara waktu dan setelahnya suruh mereka istirahat di tenda masing-masing. Aku akan menghubungi pihak berwajib untuk mengusut insiden ini," ujar Bram ke senior yang berada dekat tenda.
"Oke Ketua," jawab senior.
Senior bernama Tio langsung berlari ke lapangan arah sisi lain. Untungnya, di sana mahasiswa baru saja datang dari hiking. Jadi, kemungkinan tidak ada yang tau kejadian sebenarnya.
Kulihat Bram menelepon seseorang.
"Pak Jack, tolong bawakan mobil ke tendaku dan bawa Zanuku dari sini," ujar Bram.
"Siap Bos!"
Terdengar suara seseorang di handphone tersebut. Bram langsung mematikan handphonenya.
"Zanu, sebentar lagi kamu akan di jemput oleh Pak Jack, yang tadi pagi rumahnya kita datangi buat kamu mandi. Sementara waktu kamu berdiam di sana sampai besok. Karena besok perkemahan ini akan berakhir. Di rumah itu ada istri dan anaknya Pak Jack, jadi kamu jangan khawatir," ujar Bram menyakinkanku.
Aku hanya mengangguk pelan. Tanpa kusadari Bram masih saja memelukku. Dalam situasi seperti ini apakah aku senang karena di peluk Bram atau sedih karena takut jika terjadi sesuatu lagi.
"Aku akan mengurus semua ini, tidak bisa dibiarkan lagi. Nanti di rumah Pak Jack, aku akan menempatkan anggotaku. Jadi kamu jangan takut,"
"Kak, maaf, aku jadi merepotkan," ujarku masih dalam keadaan shock.
"Sudahlah.., sekarang kamu harus tenang. Jangan bersedih lagi. Tidak ada yang memberatkan atau merepotkanku Zanu. Aku tidak akan biarkan seorangpun menyakitimu. Sekarang boleh aku melihatmu tersenyum?" pinta Bram.
Aku berusaha tersenyum, supaya Bram juga ikut tenang. Kasian aku melihat Bram menghadapi situasi seperti ini.
"Nah gitu dong, kalau lihat yang beginian, aku kan jadi semangat. Bateraiku langsung penuh, apalagi melihat cewek cantik sepertimu," lirik Bram.
Dia mulai lagi menggodaku. Refleks aku mencubit pinggangnya. Bukannya merasa sakit, justru Bram tertawa.
Aneh!! Apa saking sukanya sama aku, dia tidak merasakan sakit? Malah tertawa.
Tidak seperti itu konsepnya Zanu! Bram itu berusaha menenangkan kamu! Sakit sedikit kan tidak masalah. Itu bukan dinamakan suka lagi tapi Cinta.
Zanu! Mau berapa lama lagi di peluk Bram? Lepasin dong, kalian bukan muhrim, dosa tau!
Refleks aku berusaha berjarak dari pelukannya Bram.
"Kak, lepasin! Malu dilihat orang. Aku tidak mau orang berfikir aku cewek apaan," ucapku tegas ke Bram.
"Iya Zanu, maaf,"
Bram langsung melepaskan tangannya, tapi tetap mendekatiku.
Tak berapa lama terlihat mobil Bram datang. Mobil berhenti dan keluarlah Pak Jack yang di maksud Bram tadi. Dia tergopoh-gopoh menghampiri Bram.
"Siang Ketua. Sudah siap semua, tinggal mengantarkan non Zanu ke tempat saya," ujar Pak Jack.
"Oke Pak. Tolong jangan lupa hubungi jalur 357. Ini darurat! Aku ingin tau siapa dalang di balik semua ini sebelum penyelidikan polisi dimulai," ucap Bram serius.
"Siap Ketua,"
Tuh kan, aku kok merasa seperti berada dalam film mafia. Rada-rada gimana gitu ya..? Jangan katakan kalau Bram adalah Bos Mafia!?
"Zanu, kamu ikut Pak Jack ya. Nanti malam InsyaAllah aku akan menjemputmu di sana," ujar Bram.
"Mau ngapain malam-malam? Kalau ke tempat yang aneh-aneh, aku ogah! Mending aku pulang!" tanyaku sedikit curiga.
"Kamu percaya aku kan Zanu? Aku tidak bisa beritau karena itu surprise, oke," jawab Bram.
Aku cuma manut-manut.
"Mari Non Zanu, ikut saya," tawar Pak Jack dengan sopan.
Aku berjalan mengikuti Pak Jack menuju mobil Bram.
"Bye Zanu," ucap Bram.
Aku dan Pak Jack pergi dari sana. Bram masih saja berdiri sambil melihat mobil hilang dari pandangannya.
__ADS_1
...****************...