
Hari ini pengumuman hasil ujian UMPTN.
Seminggu rasanya setahun menunggu. Pagi-pagi sekali aku bergegas ke pasar untuk membeli koran.
Sampai di rumah, aku perhatikan satu persatu nama-nama yang tertera di sana. Cukup menguras otak untuk melihat tulisan kecil-kecil di koran ini.
Zanu Plovie Evgas, lulus Fakultas Hukum, Jurusan Hukum Pidana.
"Alhamdulillah.., aku lulus juga," ucapku penuh rasa syukur.
"Papa, Mama, Zuri! Kakak lulus nih...," teriakku di ruang keluarga.
Sontak saja teriakanku membuat Papa, Mama dan Zuri menghampiri.
"Alhamdulillah nak, semoga berkah," ujar Mama sambil memelukku.
"Selamat ya nak, Papa bangga sama Zanu," ucap Papa sambil mengusap kepalaku.
"Aduh Kak, nggak nyangka lho bisa lulus. Selamat Kakakku sayang," ucap Zuri langsung memelukku.
"Oke, karena Zanu lulus, malam ini kita makan di luar," bilang Mama kemudian.
"Horeee... Thank you ya Mama,"
"Sama-sama,"
*******
Malampun tiba, kita bersiap-siap hendak keluar untuk makan malam bersama.
Kali ini kita ke rumah makan Padang yang ada menu bebek goreng. Kebetulan malam ini adalah malam minggu, jadi tidak heran suasana jadi ramai di sana.
Bukan hanya bawa keluarga mereka saja tapi ada banyak muda-mudi ikut singgah ke sini, sekedar untuk kencan atau merayakan sesuatu.
Kita mengambil tempat dekat pintu masuk, jadi mudah sekali melihat orang yang lalu lalang keluar dan masuk.
Daftar menu sudah di sodorkan pelayan. Setelah memilih menu yang akan di pesan, pelayan bergegas menuju dapur untuk menyelesaikan pesanan.
Papa dan Mama mengobrol tentang pulang kampung jelang lebaran nanti. Dan itu masih tahun depan, hi..hi..hi..
Tak kusangka tiba-tiba aku melihat Vincent sedang bersama cewek baru, lagi masuk ke dalam.
Deg!! Aku palingkan wajah, untuk menghindar dari penglihatan Vincent. Untungnya Vincent tidak melihatku.
Ganti lagi ceweknya Vincent, apa pacar baru? Atau selingkuhannya ya?
Aku sebenarnya tidak memperdulikan itu, karena Vincent tidak bisa membuat hatiku benar-benar luluh. Tidak sama seperti perasaanku terhadap Abang dan si cowok pena.
Yup! Si cowok pena! Perasaan itu hadir lagi. Padahal, aku tidak mengenal sosok itu, bahkan namanya saja aku belum tau.
Kenapa jadi dia? Sadar Zanu!!
"Zanu!!" ucap Mama dengan nada sedikit keras.
"Dari tadi dipanggil-panggil, kamu kenapa Zanu?"
"Eh, nggak kenapa-kenapa Ma," jawabku kaget.
"Itu makanannya sudah di meja. Cuci tangan kamu dulu sana,"
"Baik Ma,"
Aku bergegas menuju tempat cuci tangan. Tiba-tiba Vincent datang menghampiriku.
"Zanu, apa kabar? Sudah lama kita nggak ketemu," ujarnya sambil ikut mencuci tangan juga disebelahku.
"Eh, iya Vincent, Alhamdulillah aku baik. Kamu sama siapa ke sini?" tanyaku.
__ADS_1
"Aku lihat kamu lho dari tadi. Aku sama seseorang, nanti kapan-kapan aku main kerumahmu untuk menjelaskannya," ujar Vincent.
"Oo.. oke," jawabku singkat.
"Aku kangen kamu Zanu. Kemaren ini aku ke rumah, kamu lagi tidak ada. Aku tidak bisa bebas ke sana kemari seperti dulu lagi,"
"Sudahlah, kapan-kapan mampir kerumahku ya. Kamu bisa cerita apa saja. Tidak enak di lihat orang lama-lama kita ngobrol di sini," jawabku.
"Iya Zanu, aku ke sana dulu. Terima kasih ya," ujar Vincent.
"Siip..,"
Aku kembali ke tempat keluargaku dan mulai makan. Aku lihat Papa, Mama dan Zuri terlihat bahagia, sangat menikmati makan malam hari ini.
Setelah selesai makan, kita pulang. Dari kejauhan aku diam-diam melambaikan tangan ke Vincent. Dan dia membalasnya.
*******
Seminggu kemudian setelah pengumuman. Aku datang ke kampus. Untuk mengikuti ospek bersama mahasiswa baru, mengenal senior-seniorku dan suasana kampus.
Seperti biasa, aku pakai Angkot dari Pasar Kota menuju tempat kost-kostnya mahasiswa (nama wilayahnya Pasar Baru).
Setelah dari Pasar Baru, lanjut lagi naik Bus menuju kampus. Bus ada 2 jenis, Bus punya kampus gratis dan Bus umum bayar. Bebas mau naik yang mana saja.
Kali ini aku naik Bus kampus. Di dalam Bus hampir semuanya memakai baju putih celana hitam yang menandakan itu dresscode nya mahasiswa baru yang akan mengikuti ospek.
Untungnya aku dapat tempat duduk. Jadi tidak perlu berdesak-desakan dengan yang lain.
Bus berjalan menuju gerbang kampus. Sekitar tujuh menit dari gerbang, sampailah Bus di depan gedung Rektorat yang sangat luas.
Aku turun dari Bus. Kulihat banyak mahasiswa yang mengikuti ospek, semua jurusan bergabung disaat hari yang sama. Dan para senior ikut serta dalam balutan seragam hitam serta jas Almamater.
Baru saja melangkah menuju jalan masuk, tiba-tiba semua mahasiswa dikejutkan oleh salah satu senior berpakaian hitam di sana.
"Jongkok! Jongkok! Semua berjalan jongkok!!"
"Kenapa kalian diam! Saya suruh jongkok, ya jongkok! Di sini tidak ada yang manja-manja. Kalian harus bisa mengenal lebih dekat lagi dengan lingkungan kampus sekalian senior masing-masing!!" teriaknya kembali.
Aduh! Ospeknya udah di mulai.
Aku nurut ajalah dari pada berabe urusannya.
Semuanya terpaksa jalan jongkok menuju gedung Auditorium, yang mana jalannya menanjak seperti berpetualang ke bukit-bukit, hadehhh...!
Banyak juga yang menggerutu dan ada juga yang pasrah sambil tertatih-tatih menuju ke atas.
Ada sekitar satu kilo meter untuk bisa mencapai gedung Auditorium. Sesampai di sana, semua pada ngos-ngosan mengatur nafas.
"Ayo!! Bergerak! Teman-teman kalian sudah menunggu di sana!! Lambat banget! Jangan sampai kalian di hukum!" teriak salah satu senior cewek, yang garangnya minta ampun.
Ha!! Aku merasa berada di kemiliteran. Next apa lagi? Nggak lagi deh diginiin.
"Saya beri waktu 5 menit untuk kalian masuk kedalam barisan teman-teman kalian dengan rapi!!" teriak satu senior lagi.
Tanpa ba bi bu, semua berlari sekencang-kencangnya menuju barisan, termasuk aku.
"Bruk!!"
Aku tersandung sesuatu sehingga membuat aku jatuh tersungkur. Rasanya sakit sekali lututku. Aku hanya bisa meringis kesakitan.
"Isda, angkat dia! Bawa ke ruang pemulihan!" teriak senior yang berada di dekat barisan.
"Baik. Ayo Dek sini, kamu ikut kita," ujar senior bernama Isda.
Senior Isda dan temannya ikut membopongku keruangan yang tidak terlalu jauh dari barisan.
Di sana, aku duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku perhatikan sejenak, lututku berdarah.
__ADS_1
Selain aku, di ruangan tersebut sudah ada beberapa mahasiswa baru yang mengalami masalah yang berbeda-beda. Bahkan ada yang mengalami sesak nafas.
"Hei Zanu! Kamu ada di sini. Kenapa lututnya?" ujar seseorang dari belakang.
Ternyata itu kak Resa. Kita pernah berkenalan di warung dekat kampus Fakultas Ekonomi. Pada saat aku mendaftar UMPTN.
"Eh iya kak Resa. Aku jatuh tadi berlari menuju barisan," jawabku sambil meringis menahan sakit.
"Ya sudah, kakak obati dulu lututnya," ujar kak Resa sambil mengambil kotak P3K yang ada di atas meja.
"Oiya, selamat.., akhirnya kamu lulus dan sekarang menjadi junior saya," ujar Kak Resa.
"Iya Kak, mohon di bantu nanti apabila ada kesulitan,"
"Okey,"
Kak Resa mengambil kapas dan mengolesi alkohol untuk membersihkan lututku. Setelah lututku dibersihkan, kak Resa mengolesi obat merah dan memplesternya langsung.
Nyeri di lututku berkurang dan aku mulai merasa nyaman.
"Resa! Kamu diperlukan di luar untuk menyampaikan tentang kesehatan. Sementara tinggalkan dulu pekerjaan kamu di sini," ujar seseorang di belakang kak Resa.
Aku cuek saja, hanya memperhatikan lututku dan tidak menggubris sedikitpun siapa yang berbicara.
"Baik Ketua," jawab kak Resa.
Aku kaget! Ketua mana yang di maksud kak Resa?
Aku tak berani mendongakkan kepala ke atas, tatapanku masih fokus ke lutut.
"Zanu, kakak keluar dulu ya. Kalau di tanyain Ketua, kamu jawab singkat saja. Orangnya galak, hati-hati," ucap kak Resa yang berbisik ditelingaku.
Aku menggangguk dan diam saja. Entah kenapa perasaanku jadi tidak karuan. Aku merasakan gejolak itu lagi. Rasa yang sama saat dulu setiap bertemu Abang!
Kak Resa berlalu dari ruangan menuju keluar untuk melaksanakan tugasnya.
Ini pasti Ketua yang di maksud adalah cowok pena! Aduhhh... Ngapain juga dia ke sini.
Tiba-tiba Ketua tersebut menghampiriku. Perasaanku semakin takut dan gelisah.
"Hei! Namamu siapa? Fakultas apa?" tanya dia tegas dengan nada suara yang pernah aku dengar sebelumnya.
"Za, Zanu Kak, Fakultas Hukum" jawabku sambil tetep menundukkan kepala.
"Selama urusan kampus berlangsung, kamu harus memanggilku Ketua," jawabnya.
"Iya Kak, eh Ketua,"
"Dari tadi saya lihat kamu menundukkan kepala terus! Saat saya bicara kamu masih seperti itu. Itu tidak sopan! Kamu bisa lihat saya kan?!" ujarnya dengan nada keras.
Semua di ruangan pada kaget tapi tetap berdiam diri. Mereka takut bermasalah dengan Ketua, apalagi para senior yang sudah tau betul karakternya.
Aku mendongakkan kepala ke atas dan menatap matanya dalam-dalam. Terlihat matanya membalas tatapan mataku.
Dia sangat kaget melihatku! Sejenak suasana hening dan kemudian tiba-tiba dia kelimpungan seperti salah tingkah.
"Sudah, kamu istirahat saja di sini. Saya ada urusan di luar," ujarnya sedikit lembut dan dengan cepatnya dia berjalan keluar menuju pintu ruangan.
Semua di ruangan juga ikut kaget dan pasti bertanya-tanya. Kenapa Ketua mereka tiba-tiba melow saat melihatku? Apa Ketua mereka mengenalku?
Entahlah.. Entah kenapa setiap aku bertemu cowok pena, eh sang Ketua, suasananya menjadi aneh dan menggelikan, ha..ha..ha..
Aku tertunduk diam. Membiarkan semua orang di dalam ruangan berpikir apa saja tentang sang Ketua.
Pas hari pertama ospek, terpaksa aku tidak bisa mengikuti. Tinggal tiga hari lagi kedepannya, semoga lututku tidak sakit lagi.
Sejenak, aku istirahat di ruangan ini sambil menunggu ospek selesai.
__ADS_1
...****************...