Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 76 : Bram Kembali


__ADS_3

Aha! Aku teringat adiknya Gilang, Sacia.


"Atif, bagaimana adiknya Gilang? Masih di kost atau gimana?" tanyaku.


"Adiknya sudah diamankan polisi, saya sudah menghubungi Pamannya Bos. Jadi, semuanya sudah diamankan," jawab Atif.


Waduh! Tambah banyak PR Bram untuk menghadapi kasus-kasus ke depannya.


"Syukurlah..., saya takut terjadi sesuatu dengan anak-anak kost di sana. Mereka tidak tau apa-apa,"


"Iya Zanu, saat perjalanan ke sini, Sacia itu masih di kost. Untung dia nggak kepikiran melukai teman kost kita. Aku berharap cepat selesai dengan baik. Soalnya, masalahku saja belum clear juga, ha.ha.ha..," ujar Prita sambil tertawa.


"Ssttt..! Jangan berisik Prita, nanti pasien sini pada bangun," ujarku mengingatkan.


"Upsst! Sorry,"


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Mau di hotel apa nginap di sini?" tanyaku ke Prita.


"Di hotel saja Zanu, minta tolong antar Atif. Nanti minta tolong nambah pengawalan dari Ketua. Oiya, bagaimana keadaan Ketua sekarang?" tanya Prita.


"Atif sudah ceritakan semuanya kan?" tanyaku balik.


"Sudah Zanu. Yang aku tanya, keadaan terbaru Ketua bagaimana? Apa ada perkembangan?"


"Alhamdulillah, sudah siuman tadi. Sekarang lagi istirahat. Semoga besok pagi semakin baik. Do'akan saja," jawabku.


"Syukurlah..., Oiya, sudah malam. Aku mau ke hotel. Besok pagi aku ke sini lagi, sekalian menjenguk Ketua," ujar Prita.


"Oke. Atif, tolong antarkan Prita dan tugaskan beberapa anggota kamu di sana. Untuk masalah lanjutan di kepolisian, InsyaAllah besok bisa di urus Ketua. Semoga besok Ketua sudah mulai pulih dan bisa di ajak ngobrol banyak," ujarku.


Atif mengangguk. Prita dan Atif beranjak pergi ke hotel. Aku langsung masuk ke dalam ruangan ICU. Kulihat Bram dan Kak Resa tidur nyenyak sekali.


Aku menghampiri Bram. Kucium kening Bram dan ku bisikkan di telinganya, good night Kak.


Aku beranjak ke tempat tidur bersebelahan dengan Kak Resa. Dan mulai tidur.


*********


Subuh, aku dan Kak Resa sudah bangun. Kita berdua langsung sholat dan mengemasi bekas tempat tidur. Setelah itu kita gantian mandi untuk bersih-bersih.


Sreet...!


Perawat penjaga masuk ruangan.


"Selamat pagi Mbk.. Hari ini pemeriksaan rutin. Saya akan memeriksa kondisi Pak Bram," ujar perawat.

__ADS_1


"Silahkan Suster," jawabku.


Perawat berjalan menuju tempat tidur Bram dan mulai memeriksanya. Aku memperhatikan dari dekat. Terlihat Bram masih tertidur pulas, tidak tega rasanya untuk dibangunkan.


"Mbk, Pak Bramnya berangsur membaik. Semua terkendali dengan semestinya, hanya tinggal menunggu luka dan bekas jahitan ditubuhnya mengering. Kalau nanti Pak Bram sudah bangun dari tidurnya, tolong kabari saya. Biar langsung Dokter ke sini," ujar Suster.


"Baik Sus,"


"Saya permisi dulu,"


Aku mengangguk dan melihat perawat keluar sampai pintu. Aku menghampiri Bram dan perlahan aku menyentuh tangannya. Tiba-tiba tanpa kusadari selama ini, cincin yang ada di jemari manis Bram, sangat mirip dengan cincin yang aku pakai. Cincin pemberian Bram yang bertatahkan berlian ini, masih tersematkan di jemari manisku.


Mungkin Bram pesannya langsung couple, jadi mirip cincin pernikahan. Aduh, nggak kebayang sama aku, dengan umur masih segini sudah menikah? Apa tidak terlalu muda? Tapi Bram juga masih tergolong muda, kok malah ngebet pengen nikah?


Jemari Bram bergerak pelan. Kuperhatikan mata Bram mulai terbuka sedikit demi sedikit.


"Selamat pagi sayang," ucapku pelan.


Bram tidak menjawab, mungkin masih loading dari tidurnya. Perlahan kepala Bram melihat ke samping ke arahku dan dia tersenyum.


"Hai Zanu. Selamat pagi,"


"Pagi juga Kakak. Bagaimana kondisinya? Apa terasa membaik atau masih ada yang sakit?" tanyaku.


"Alhamdulillah.., terasa mendingan, tapi masih ada nyeri-nyeri sedikit di bagian dada ini," jawab Bram ringan dan lancar.


"Oke, tapi jangan lama-lama ya. Aku masih pengen ngobrol sama kamu," jawab Bram.


"Siap Bos. Bentar ya...,"


Bram tersenyum melihatku. Hatiku terasa bahagia sekali hari ini, karena melihat Bram sudah bisa bicara lancar dan nggak nge blank. Bisa dipastikan kondisinya aman.


Aku pergi keluar ruangan dan menyampaikan informasi tentang Bram ke perawat penjaga. Setelah itu aku balik lagi ke dalam menghampiri Bram.


"Lho, sudah bangun Bram? Syukurlah ya... Oiya Zanu, kamu mau sarapan apa? Biar aku sekalian belikan di luar," tanya Kak Resa menghampiriku.


"Lontong sama gorengan Kak. Sekalian kalau ada buah-buahan," jawabku.


"Oke, hari ini Kakak sekalian mau ke pasar. Lihat-lihat daerah sini. Katanya pantainya indah ya..," ujar Kaka Resa.


"Iya, kapan-kapan kita main ke pantai. Kakak mau ikut juga kan?" tanyaku ke Bram.


"Ya mau dong. Kemaren baru sekali," jawab Bram.


"Kakak cepat sembuhnya, biar cepat pula kita ke sana," balasku.

__ADS_1


"Siap Non!" canda Bram.


"Udah belum nih? Mesraan di depanku, durasinya bisa lama lho, ha.ha.ha," tanya Kak Resa.


"Udah Kak Resa, hati-hati ya.. Jangan lupa bawa orang, sesat kalau pergi sendirian" ujarku.


"Sipp.. Tu kan ada anggota Bram, minta tolong temanin bentar ke pasar," Kak Resa melirik ke arah Bram.


"Silahkan Resa, bebas-bebas aja. Kalau kurang banyak, entar di panggil lagi yang lain," balas Bram sambil tersenyum.


"Oke every body, aku pergi dulu, bye,"


Kak Resa beranjak dari ruangan dan langsung pergi ke pasar.


Setelah kepergian Kak Resa, aku melanjutkan ngobrol bersama Bram. Sepertinya hari ini, obrolan Bram mulai banyak dan terlihat Bram segar bugar.


"Zanu, tolong tarik selimut ini. Aku merasa gerah," ujar Bram.


Aku menarik selimut Bram dengan sangat hati-hati. Terlihat luka-luka di tubuh Bram. Ya Tuhan, miris sekali melihatnya, aku jadi tidak tega.


Belum lagi bekas luka tembakan, luka tusuk dan sayatan, walau masih berbalut perban. Kuperhatikan dengan seksama luka-luka tersebut.


"Ngapain lihat-lihat dadaku? Nanti bikin kamu tergoda lho.. Aku siap kok," ujar Bram sambil melirikku dan senyum-senyum.


Akhirnya, Bramku yang kemaren kembali lagi. Bram senang sekali menggodaku. Ada saja tingkahnya yang bikin aku kesal tapi suka, ha.ha.ha..


"Ngapain sih! Nggak ada tu tergoda, biasa aja! Jangan geer!" jawabku sambil menghindar sekitar satu meter dari tubuh Bram.


Aku takut Bram refleks akan memelukku, sedangkan luka ditubuhnya belumlah sembuh.


"Ngapain menghindar gitu? Takut ya? Sini...," ajak Bram sambil angkat kedua tangannya.


Ternyata Bram memperhatikan gelagatku.


"Nggak mau. Aku nggak mau dekat-dekat gitu, entar Kakak peluk kena dadanya. Lukanya belum sembuh lho Kak," jawabku.


"Siapa juga yang mau peluk? Geer itu namanya, ha.ha.ha..," Bram tertawa karena merasa menang membalasku tadi.


Aku juga mesem-mesem cemberut. Karena kejebak omongan sendiri. Tapi aku senang melihat Bram bisa tertawa dan menjahiliku.


Sreett....!


Pintu ruangan terbuka. Ternyata itu adalah dokter dan perawat yang akan memeriksa Bram. Mereka masuk dan menghampiri aku dan Bram.


Tapi, aku baru saja menyadari, dari tadi aku tidak melihat Atif. Dia kemana ya? Apa menjemput Prita ke hotel?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2