
Bram menggapai tanganku.
"Baiklah Zanu, jika itu sudah menjadi keputusan orang tuamu, aku tidak bisa memaksa. Orang tuamu berhak untuk menjaga dan memutuskan apa yang terbaik buatmu kedepan. Aku bisa apa? Yang bisa kulakukan saat ini hanya menunggumu sampai selesai kuliah dan bekerja," ujar Bram dengan raut wajah pasrah dan sedih.
"Sayang, maafkan aku. Aku tau pasti hal ini membuat sakit hatimu, tapi percayalah, aku akan tetap memilih dan hanya ingin bersamamu. Kesabaran kita berdua akan menghasilkan cerita yang indah dikemudian hari," aku menguatkan Bram.
Bram berusaha tersenyum dan membelai pipiku dengan lembut.
"Malam ini maukah kamu menemaniku? Besok aku keluar dari rumah sakit. Aku mau rawat jalan saja," pinta Bram.
"Hhmmm... Mau. Aku tadi sebenarnya sudah minta izin sama Mama dan diperbolehkan. Nanti urusan ke Papa bisa diselesaikan sama Mama," jawabku.
"Syukurlah..., aku senang mendengarnya," ujar Bram.
"Oiya, sekarang Kakak minum obat dulu ya,"
Aku beranjak menuju meja kecil.
Aku memberikan obat dan gelas berisi air ke Bram. Bram mengambil dan meminumnya.
Setelah minum obat, Bram meminta ponsel. Aku memberikannya dan kemudian Bram membuka pesan satu persatu. Kulihat Bram mengernyitkan dahi setelah membaca beberapa pesan, entah pesan apa yang sedang dibacanya.
"Kalau boleh tau, Kakak baca pesan apa?" tanyaku mulai kepo.
"Tidak ada," jawab Bram singkat.
Tapi kulihat expresi Bram kosong walau matanya terus memandang layar ponsel. Seakan tau dengan tatapanku, Bram berusaha mengalihkan pandangan dengan menggeser sedikit kepalanya ke samping.
Aku makin kepo dong!
Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Bram setelah melihat isi pesan diponselnya.
"Kak, pasti ada sesuatu kan dengan isi pesan itu? Bisakah Kakak memberitaukan aku? Aku tidak mau jadi penasaran," tanyaku.
"Tidak Zanu, untuk kali ini aku belum bisa memberitaumu. Suatu saat nanti kamu akan tau. Aku akan mengurusnya nanti di Amerika. Sekarang fokus dulu dengan kuliahku yang akan selesai. Saat ini penting bagiku untuk sehat lagi dan mengurus bisnisku yang terbengkalai selama aku sakit," jawab Bram tegas.
"Baiklah, tapi aku bisa menebaknya kalau itu adalah berita buruk bukan?" tanyaku lagi.
"Kamu memang cerdas Zanu, tapi selagi aku belum mengurusnya, aku belum bisa memastikan. Oiya, besok aku langsung ke kota P. Kalau kamu mau ikut bersamaku, aku akan jemput ke rumah," ujar Bram.
"Aku bisa pergi sendiri Kak. Aku kan pulang ke rumah dulu," jawabku.
"Besok pagi kamu pulang, sorenya kita berangkat. Nanti aku datang kerumah dan meminta izin langsung ke orang tuamu,"
"Ada apa sih? Kok pengen banget aku ikut Kakak?" tanyaku sedikit heran.
"Aku ingin membawamu kerumahku," jawab Bram.
Deg! Kerumah Bram? Memangnya ada apa di rumah Bram?
"Kapan-kapan kan bisa Kak?" aku berusaha menolak.
__ADS_1
"Aku ingin kamu tau di mana lokasi rumahku. Sekalian, aku ingin kamu mengurusku selama masih di kota P. Tidak setiap hari, tapi kapan saja kamu mau, bisa ke tempatku," ujar Bram sambil membelai rambutku.
Hah? Kenapa Bram bicara seperti itu ya? Apa ada sesuatu? Apa karena isi pesan tadi?
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Ikuti saja, kamu pasti juga ingin tau bukan rumahku berada di mana?" tanya Bram.
"Nggak juga. Biasa saja. Yang penting itu kan seorang pria harus hafal rumah sang pujaannya. Karena yang ngapel kan pria bukan wanitanya," jawabku sekenanya.
"Tapi aku kan sudah tau rumahmu yang mana,"
"Baik Kakakku.., aku ikut saja. Semoga Papa izinkan aku ikut Kakak, oke," ujarku.
"Nah gitu dong," jawab Bram senang.
Aku dan Bram melanjutkan pembicaraan mengenai skripsi yang sedang dikerjakan. Bram mengambil lokasi bahan skripsi di Jakarta. Jadi, Bram harus bolak balik Jakarta sekaligus mengurus bisnisnya di sana.
Sampai saat ini aku belum tau apa saja bisnis yang Bram jalankan. Kecuali bisnis roti dan ikan di pantai daerah sini. Aku juga tidak ingin bertanya ke Bram atau minta penjelasannya.
********
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Saatnya kita makan siang. Bram hanya diperbolehkan memakan makanan yang disediakan rumah sakit.
Aku dan Kak Resa pamit sebentar ke Bram untuk menemui Atif di luar. Sekalian aku mau menemui Prita. Untungnya Bram mengizinkan walau dia sendirian di dalam ruangan ICU.
Aku dan Kak Resa berjalan keluar rumah sakit melewati ruang IGD. Ternyata ruang IGD sedang ramai dengan orang-orang yang sedang panik dan terdengar juga suara orang teriak histeris. Seperti ada kejadian di sana. Aku tidak terlalu peduli, karena fokus mencari Atif.
"Ada apa ya Zanu? Ramai sekali," ujar Kak Resa sambil celingak celinguk melihat keramaian dari jauh.
"Tapi ini kok rame banget ya? Jadi seperti di pasar,"
"Iya," jawabku singkat.
"Ya sudah, kita cari Atif dulu. Nanti pas balik lagi ke sini, kita tanyain saja sama orang," ajak Kak Resa.
"Oke,"
Aku mengikuti Kak Resa sambil melihat keramaian. Kita tidak menemui Atif sekitar IGD. Lalu Kak Resa berinsiatif mencari ke parkiran yang berada tidak terlalu jauh dari ruang IGD.
Ternyata kita menemukan Atif di sana sedang berduaan dengan Prita duduk di kursi taman parkir. Mereka kaget dengan kehadiran kita berdua. Atif berdiri dan menghampiri Kak Resa.
"Maaf Non, ada yang bisa saya bantu?" ujar Atif ke Kak Resa.
Prita berjalan menghampiriku.
"Atif, tolong pesankan makan siang sama Pak Jack setelah itu kamu langsung ke ruang ICU," ujar Kak Resa.
"Baik Non. Permisi, saya langsung mencari Pak Jack," ujar Atif.
Kak Resa mengangguk, Atif langsung bergegas mencari Pak Jack ke arah tempat lain.
"Zanu, Kakak pergi sebentar ya. Kamu sama Prita langsung saja ke dalam, makan siangnya di ruang ICU. Nanti Kakak menyusul," ujar Kak Resa.
__ADS_1
"Baik Kak," jawabku singkat.
Kak Resa pergi beranjak menuju ke mobilnya. Aku sebenarnya penasaran, Kak Resa ini mau ke mana. Apakah dia aman sendirian? Ah sudahlah, sekarang aku mau makan siang dulu, lapar.
"Zanu, maaf, kamu lama menungguku?" ujar Prita.
"Nggak, nggak apa-apa. Aku mencarimu, mau mengajak makan siang bersama. Bagaimana nih kelanjutan hubungan kamu sama Atif? Sepertinya semakin hot aja," godaku ke Prita.
"Ah kamu, biasa saja. Kita kan baru jadian, jadi selagi ada waktu, kita usahakan bersama dan bercerita tentang diri masing-masing. Lagipula bentar lagi Atif ikut Bram ke Amerika," jawab Prita.
Iya.., itu juga yang selalu aku pikirkan. Bagaimana nanti rasanya aku ditinggalkan Bram pergi?
"Sudahlah Prita, lupakan itu dulu, yuk kita ke dalam. Kasian Ketua tinggal sendirian," ajakku ke Prita.
Prita mengiyakan, kita berdua langsung melangkahkan kaki dari parkiran mobil melewati jalan tadi yaitu ruang IGD.
Suasana masih riuh di IGD. Orang-orang berdatangan tanpa henti. Aku makin penasaran, jiwa kepoku makin bertambah.
Tanpa pikir panjang, aku menghampiri salah satu orang yang berada di sana. Prita kubiarkan sendirian.
"Pak, ada kejadian apa ya? Kok heboh bener?" tanyaku.
"Kecelakaan beruntun nak. Itu semua keluarga korban berdatangan. Banyak juga yang sudah meninggal," jawab Bapak tersebut.
"Innalillahi wainnalillahi roji'un.., di mana Pak lokasinya? Kejadiannya bagaimana Pak?" tanyaku lagi.
"Lokasinya dekat tugu simpang tiga arah kota P. Kejadiannya saya kurang tau. Tapi ada yang bilang, mobil rem mendadak karena ada motor yang melintas kencang. Jadi mobil yang di belakang ikut ngerem dan langsung menabrak yang lainnya," jawab si Bapak lagi.
"Terus yang pakai motor bagaimana nasibnya Pak?" tanyaku lagi.
"Kalau tidak salah menabrak tiang, itu lagi ditangani dokter,"
"Oke, terima kasih informasinya Pak,"
"Sama-sama nak,"
Aku kembali menghampiri Prita yang sedang menungguku sambil celingak celinguk melihat keramaian.
"Dari mana Zanu?" tanya Prita.
"Tuh, menanyakan kejadiannya sama Bapak itu," tunjukku ke arah Bapak tadi.
"Lihat, kasian sekali aku melihat perempuan itu. Dari tadi dia menangis histeris. Mungkin salah satu korban adalah keluarganya. Cantik lho perempuannya," ujar Prita sambil melihat satu arah ke teras IGD.
"Mana?" tanyaku.
"Itu, yang pakai baju biru, dari sini sudah kelihatan kok," jawab Prita sambil menunjukkan perempuan tersebut dari jauh.
Kuperhatikan dengan seksama yang di tunjuk Prita barusan.
OMG! Aku kenal perempuan itu! Kenapa dia menangis? Siapakah korbannya? Aku harus ke sana untuk mencari tau.
__ADS_1
...****************...