
Klik !!
Pintu di kunci Prita.
Sepertinya ini sangat penting atau Pritanya yang berlebihan, entahlah..
Aku dan Prita duduk berhadapan di atas kasur. Prita menghela nafas sejenak.
"Zanu, orang tuaku sekarang ada di Amerika. Aku diungsikan ke sini karena jadi target utama musuh dalam persaingan bisnisnya Papaku. Dan aku di titipkan ke Paman. Karena Paman takut akan keselamatanku dan terlalu mencolok jika ada di tempat Paman, maka disarankan aku ngekost. Makanya, aku bilang tadi kalau Amerika itu kecil buatku, karena aku besarnya di sana. Keluargaku, rumahku, masa kecilku juga di sana," ujar Prita yang membuatku kaget dan terheran-heran.
OMG!! Berita apa lagi ini? Kenapa pada ngomongin Amerika sih.. Bram dari Amerika, Prita dari Amerika juga, entar siapa lagi? Hadeh... Emangnya tidak ada tempat lain?
Hei Zanu, keren dong kalau gitu, orang-orang di sekeliling kamu hidup di luar semua. Sedangkan kamu orang daerah, hihihi, ledek hatiku.
"Trus, kenapa Pamanmu malah nyuruh ngekost? Bukannya lebih aman berada di tempat keluarga sendiri?" tanyaku penasaran.
"Zanu, Pamanku itu orang penting di Provinsi ini. Jika tidak sengaja ada yang menyorot wajahku atau saat wawancara Paman dan bahkan ada yang berkunjung ke tempat Paman, maka bisa ketahuan keberadaanku," jawab Prita dengan mimik seriusnya.
"Ha! Memangnya Paman kamu siapa Zanu?" tanyaku makin penasaran.
"Pamanku seorang Gubernur Zanu. Gubernur di kota ini. Bisa kamu bayangkan bukan, jika aku berada di rumah dinas Paman atau di rumah pribadi Paman yang hampir setiap hari ada tamu dan di sorot kamera. Nggak mungkin aku sembunyi terus selama di sana," jawab Prita.
Apa lagi ini? Gubernur? Alamak! Kerenlah yaa Prita ini. Tapi, nyawanya bisa terancam jika gegabah. Hmmm.. Sulit juga ternyata menjadi seorang Prita.
"Iya sih.., Trus selama di sini apa kamu sudah merasa aman? Apa tidak terlihat hal yang mencurigakan?" tanyaku lagi dan lebih antusias.
"Selama ini masih aman Zanu. Aku juga jarang keluar. Lagipula, ada yang mengawasi aku dari jauh setiap aku keluar kost ini. Mereka orang pilihan Papa untuk bisa menjagaku. Yah..., bagaimanapun aku tetap harus waspada," jawab Prita nanar seakan menyatakan sebenarnya dia dalam keadaan takut, tapi dibikin biasa saja.
Ya Tuhan, ternyata Prita juga ada bodyguardnya. Aku merasa berada di jalur kehidupan mafia. Kisah antara Prita dan Bram menjadi sebelas dua belas dalam nalarku. Yaitu sama-sama orang penting, sama-sama punya bodyguard dan sama-sama tinggal di Amerika, wadaww!
"Mulai sekarang aku ikut mengawasi dan menjaga kamu juga Prita. Terima kasih kamu sudah mau berbagi cerita denganku. Aku kaget dengar cerita kamu ini," ujarku.
"Terima kasih perhatiannya Zanu. Saat ini baru kamu satu-satunya yang tau tentangku. Dan aku juga senang bisa berteman denganmu. Oiya, mengenai Atif, aku rasa dia cocok denganku," ujar Prita sambil tersenyum.
"Iyalah cocok kalau kamunya suka. Tapi kan tidak secepat ini, baru juga ngapel sekali," ledekku.
"Bukan itu maksudnya. Cocok karena aku butuh orang yang bisa menjagaku Zanu. Ya Atiflah orangnya. Pastilah Atif bodyguard yang amat terlatih, makanya Ketua memilih dia untuk jadi pengawal pribadi, ya kan?" tanya Prita.
__ADS_1
"Iya juga ya.., Pinter juga kamu milih cowok. Udah Atifnya cakep, nggak banyak tingkah dan terlatih pula. Tapi aku nggak paham terlatih itu dalam bidang apa," jawabku.
"Setauku kalau dikatakan terlatih itu, harus jago karate atau ilmu bela diri. Peka terhadap keadaan sekitar dan juga pandai mengatur strategi jika ada hal yang mencurigakan. Yah, mirip-mirip yang dilatih dalam kemiliteran," jelas Prita.
"Wuih! Mantaplah ya Atifnya kamu itu. Diam tapi mematikan, hahaha...,"
"Aku bisa cinta mati sama dialah kalau bisa jadian, hehehe..,"
"Jangan gitu ngomongnya. Cinta itu harus lihat logika juga. Semoga Atif orangnya baik dan aku do'akan semoga kamu bisa bersama Atif. Aku rasa, Atif memang baik karena bisa bikin Ketua jadi sangat percaya sama dia, benar kan?" tanyaku.
"Iya, makanya aku tetap milih Atif. Eh, ngomong-ngomong rambutannya gimana nih? Keburu malam, apa besok saja kita bagikan?"
"Iya ya, besok sajalah. Aku mulai ngantuk. Entar bantuin aku bawa karung rambutannya ke dapur ya," ujarku.
"Oke. Oiya Zanu, apa yang aku ceritain tadi, cukup kamu saja yang tau ya. Tolong jangan ceritakan sama yang lainnya. Jika aku celaka, betapa sedihnya kedua orang tuaku," ujar Prita dengan wajah sedih.
"Baik Prita. Percayalah, aku akan jaga rahasia kamu. Semoga masalah kamu ini cepat selesai ya," jawabku sambil memeluk Prita.
Aku dan Prita berpelukan. Selepasnya, kita keluar kamar dan mulai mengangkat karung rambutan ke dapur. Sedangkan jagung bakar, kita masukkan dalam kulkas dan ditutup rapat-rapat dengan tupperware.
"Prita, aku ke atas ya. Kita bobok lagi, besok pagi kuliah," ujarku.
"Good night too,"
Aku dan Prita menuju kamar masing-masing. Tak berapa lama, akhirnya aku tertidur.
********
Pagi datang lagi. Hari ini cuaca cukup cerah. Jadi udara terasa sejuk.
Seperti biasa aku dan Prita sama-sama berangkat kuliah dengan Bus. Dan kegiatan kita juga sama. Hari ini cukup satu mata kuliah saja yang kita ikuti. Jadi banyak waktu luang.
Aku dan Prita memutuskan untuk ke pasar mencari pakaian atau tas. Ini pertama kalinya aku dan Prita ke pasar besar.
Kita menaiki Bus dari kampus yang langsung menuju pasar besar. Selama perjalanan, aku bercerita tentang tempat tinggal dan keluargaku. Prita sangat antusias dengan ceritaku dan ingin sekali bisa berkunjung ke tempat aku tinggal.
Rencana aku akan mengajak Prita minggu depan, karena minggu besok aku ada janji sama Bram untuk menghadiri acara tunangan Vincent.
__ADS_1
Sekilas aku mengenang Vincent. Vincent yang dulu pernah singgah sebentar, sangat sebentar malah dalam hariku. Tapi sejak hadirnya Bram, semakin lama aku merasa Vincent semakin jauh dari relung hatiku.
Yang ada hanyalah rasa kasihan dengan Vincent.
"Yok Zanu, kita sudah sampai," ujar Prita menggagetkan lamunanku.
"Eh iya, yuk turun," jawabku.
Aku dan Prita turun. Suasana pasar sangat ramai. Aku dan Prita langsung berjalan menuju toko-toko besar yang berada di pinggir jalan. Ternyata di jalan banyak juga terlihat mahasiswa lainnya. Bahkan ada juga mahasiswa yang nongkrong di depan toko, hanya untuk sekedar ngobrol sambil duduk.
Pilihan aku dan Prita langsung masuk ke toko pakaian. Di dalam toko, aku langsung mencari baju yang berkerah. Di kampus kita, diharuskan mahasiswa memakai pakaian yang memiliki kerah.
Setelahnya aku mendapatkan baju yang sesuai seleraku dan aku langsung membayarnya. Aku melihat Prita yang masih memilih pakaian.
Tiba-tiba ada seorang pria mendekati Prita dan membisikkan sesuatu. Kulihat expresi Prita sangat kaget.
Prita langsung lari menghampiriku dan menarik tanganku. Aku terkejut bukan kepalang.
Ada apa?!
Prita membawaku dengan cepat ke ruang ganti dan menutupi mulutku. Dengan sangat cepat Prita mengunci pintu.
Terlihat jelas wajah ketakutan Prita. Aku mulai deg-degan. Sebenarnya ada apa?
Tiba-tiba pintu di ketuk beberapa kali. Dengan cepat Prita membuka kancing bajuku setengahnya. Aku sangat kaget!
Prita menyuruhku untuk membuka pintu dengan kode pintunya hanya di buka sedikit saja. Aku langsung mengerti arahan Prita.
Aku membuka pintu sedikit sambil menutupi dadaku. Aku merubah expresi wajahku dengan mimik kesal.
"Ada apa sih Pak! Nggak lihat orang lagi ganti baju?!" ujarku ketus.
Si pria tersebut melihatku dan beralih pandangan ke arah bawah. Dengan sangat cepat aku menutupi dadaku dengan tangan. Untungnya aku pakai singlet, jadi dadaku tidak full terlihat.
"Eh iya, maaf," ujarnya dan langsung bergegas dari pintuku.
Terdengar pria tadi mengetuk pintu disebelahku. Aku langsung menutup kembali pintu dan melihat Prita yang terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
...****************...