Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 138 : Semua Karyawan Meeting


__ADS_3

Aku dan Bram selesai makan. Setelah bersantai sebentar, Bram membayar pesanan kita berdua ke kasir. Sekembalinya ia menggenggam tanganku dan menuju keluar kantin.


"Kita mau kemana Kak?" tanyaku.


"Ke ruang sidang, sebentar lagi persiapan akan di mulai. Nanti kamu tungggu di luar ruangan," jawab Bram sambil berjalan dan masih memegang tanganku.


Dari kejauhan, terlihat Ricard sedang berkumpul dengan teman-teman prianya. Dia memperhatikanku terus sampai Bram membawaku ke lokasi ruang sidang. Tak terduga, ternyata Bram melihat Ricard sepanjang jalan dengan wajah yang penuh amarah. Seakan ingin mengatakan jangan ada yang mendekatiku atau menggangguku.


Sesampainya di ruang tunggu, kita berdua duduk di kursi yang sudah disediakan. Terlihat beberapa teman Bram sudah berkumpul di sana, sambil menunggu giliran di panggil untuk mengikuti sidang. Tidak ada yang bicara banyak di sana, karena semua sibuk mempersiapkan diri dan berdoa.


Mungkin hanya Bram sendiri yang terlihat berbeda. Ia begitu santai, tenang dan biasa saja. Namun, hanya terlihat sedikit cemberut, mungkin karena ia memergoki Ricard memperhatikanku tadi.


"Sayang, kamu masih marah ya? Bentar lagi mau sidang, bisakah ditunda dulu marahnya? Aku minta maaf ya, kalau sudah bikin Kakak marah?" aku merasa serba salah menghadapi situasi saat ini.


"Aku tidak peduli dengan sidang ini Zanu. Semua materi dan isi-isinya sudah kuasai, hanya tinggal menunggu untuk di panggil," jawab Bram datar.


"Terus, sekarang apa masalah lagi? Kenapa Kakak kelihat cemberut gitu?"


"Aku memikirkanmu, jika nanti kutinggalkan, Ricard pasti ingin mendekat Zanu. Berjalannya waktu, mungkin kamu akan melupakanku jika ada lelaki lain yang hadir dikehidupanmu," yang tadinya terlihat cemberut, sekarang Bram tiba-tiba berubah jadi melow.


"Kakak, tidak semudah itu aku melupakan Kakak. Mungkin butuh waktu yang sangat lama. Lebih baik aku fokus kuliah dan berkarir," aku berusaha menyakinkan Bram.


"Mudah bagimu untuk bicara seperti itu Zanu. Aku belum bisa mengontrol rasa cemburuku setiap melihat laki-laki lain yang ingin mendekatimu,"


"Terus maunya Kakak sekarang bagaimana? Tidak mungkin kan melarang semua laki-laki untuk menjauhiku? Aku juga ber hak punya teman laki-laki Kak. Contohnya Ricard itu, dia kan satu jurusan sama aku, bagaimana mungkin harus menghindarinya? Sedangkan kita kuliah di waktu dan tempat yang sama," aku mulai meradang dengan sikap Bram kali ini, membatasiku tapi dia sendiri akan pergi.


Atau Bram belum siap meninggalkanku? Sehingga membuat rasa takut kehilanganku semakin membuat Bram gamang. Yup! Malam ini Bram akan pergi dan tidak tau pasti kapan akan kembali.


"Maafkan aku Zanu. Aku terlalu posesif terhadapmu,"


"Ibram Aaron Smith Ox," terdengar salah satu dosen memanggil Bram dari ruangan.


Aku dan Bram kaget. Bram mulai bersiap-siap mengambil ransel dan laporan yang ia bawa.


"Sayang, aku masuk ke dalam dulu. Do'akan ya," Bram mengecup keningku dan langsung berjalan masuk ke ruangan untuk mengikuti sidang.

__ADS_1


Aku tersenyum dan memperhatikannya sambil berd'oa di dalam hati.


Aku menunggu sambil berjalan kecil melihat keadaan di sekeliling gedung.


*********


Tak terasa waktu berlalu sudah dua jam. Aku sudah cape' berkeliling. Saat kembali ke ruang tunggu tadi, kebetulan Bram baru keluar dari ruang sidang.


Terlihat senyumnya yang sumringah saat melihatku. Dan kupastikan, Bram pasti melewati test nya dengan baik.


"Bagaimana Kak hasilnya? Lancar?" tanyaku.


"Alhamdulillah lancar, aku bisa menjawab dan menerangkan semuanya. Kan sudah aku bilang, semua sudah ada di luar kepalaku dan sidang ini bukanlah hal yang penting bagiku. Hasilnya beberapa hari lagi diberitau," jawab Bram.


"Kalau kita yang bikin skripsi dan menguasai semua isinya, pasti lancar," ujarku.


"Yah.., begitulah. Aku berharap, kamu nanti juga sepertiku, belajar dan belajar. Biar nanti bisa mendapatkan nilai dan IPK yang memuaskan,"


"Aamiin,"


Aku mengiyakan ajakan Bram. Ia membereskan kertas-kertas yang di bawanya beserta isi ransel. Setelah semuanya beres, aku dan Bram keluar dari gedung tempat sidang.


Kita melewati jalan tadi dan ternyata Ricard masih berada di sana, tapi bersama seorang perempuan. Saat ia melihatku, aku menundukkan pandangan. Tidak ingin terulang kembali yang membuat Bram cemburu dan marah.


Setelah sampai parkir dan masuk ke dalam mobil, Bram menghidupkan mesin, melaju menuju ke pabrik roti.


"Kenapa Ricard masih berada di sana ya? Kamu tadi lihat kan Zanu?" tiba-tiba Bram bertanya tentang Ricard. Ternyata masih ada dalam pikiran Bram.


"Nggak lihat," aku terpaksa berbohong.


Bram mengambil handphone dan menelepon seseorang.


Klik!


"Hallo, tolong kamu selidiki pria bernama Ricard Gerd, anak jurusan hukum pidana. Besok infokan kepadaku, segera," ujar Bram tegas.

__ADS_1


Klik!


Bram mematikan ponselnya dan kembali fokus menyetir.


Kenapa Bram malah memperpanjang urusan dengan Ricard? Tidak mungkin hanya sekedar cemburu saja, hingga sampai dia sedetail itu ingin mengetahui semuanya.


"Ada apa sih Kak? Mengapa mencari tau tentang Ricard? Dia kan temanku, mengapa jadi seperti target yang harus Kakak selidiki," ada perasaan kesal kurasakan di hati.


"Mungkin selama ini kamu menganggap aku cemburu Zanu. Yup, aku akui cemburu. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu yaitu keamananmu. Apa kamu lupa dengan kejadian Gilang dulu? Semua di kampus tau kalau kamu itu pacarku dan aku yakini tidak ada seorangpun yang berani mendekatimu. Jika ada yang ingin mendekat, itu bearti dia ada maksud tertentu. Percayalah padaku," Bram meyakiniku jika tindakannya itu benar.


"Terus, nanti di saat Kakak pergi, tidak ada seorangpun yang mau berteman denganku? Atau mungkin mereka mulai mendekatiku?"


"Silahkan, kamu atau mereka yang akan mendekati. Tapi, kamu akan dipantau terus dengan orangku," jawab Bram.


Aku diam. Apakah aku harus tenang karena ada penjagaan dari jauh atau aku harus marah karena hidupku merasa di buntuti?


*********


Mobil Bram masuk melewati gerbang pabrik roti. Saat turun, kita di sambut lagi sama Pak Suryo, selaku salah satu karyawan di pabrik roti tersebut. Pak Suryo termasuk karyawan penting dan cukup berpengaruh di perusahaan Bram.


"Selamat datang kembali Bos. Non Zanu, senang saya bisa bertemu kembali," sambutan Pak Suryo dengan sumringah.


"Terima kasih, saya juga senang bisa ke sini lagi dan di sambut oleh Pak Suryo," jawabku dengan senyuman.


"Bagaimana Pak, semuanya sudah berkumpul di ruang meeting?" tanya Bram langsung to the point.


"Sudah Bos, hanya tinggal Ibu Dela. Beliau sedang dalam perjalanan ke sini," jawab Pak Suryo.


"Oke, saya langsung ke ruangan Pak Omar dan infokan jika Ibu Dela sudah sampai. Jangan lupa pesankan nanti buah-buahan untuk Zanu dan untuk kita di ruang meeting. Permisi Pak Suryo,"


"Siap! Silahkan Bos, Non Zanu," Pak Suryo mempersilahkan kita berdua masuk.


Hmmm, sempat-sempatnya Bram memesan buah-buahan. Jarang terjadi saat meeting ada menu buah, ada-ada saja.


Aku mengikuti Bram dari belakang menuju ke ruang Pak Omar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2