
Matahari mulai bersinar.
Aku bangun dan terdengar suara kesibukan di lantai bawah. Papa dan Mama bersiap-siap mau ke kantor, sedangkan Zuri mau ke Sekolah.
Aku bergegas turun dan mendapati semuanya hendak pergi.
"Pagi nak, Papa mau berangkat kerja," ujar Papa yang sedang memasang sepatu. Papaku seperti biasa ke kantor memakai motor karena jarak kantor ke rumah hanya beberapa kilo saja.
Sedangkan Mama, pergi ke kantor bersama Zuri karena searah.
"Papa pakai mobil Zanu saja. Sekalian Papa panasin mesinnya, Zanu belum bisa," jawabku.
"Pulang kerja nanti, Papa panasin mesinnya. Papa lebih suka ke kantor memakai motor. Lagian itu kan mobil kamu nak, Papa pengen kamu yang pertama kali yang mengendarainya," Papa sudah selesai memasang sepatunya dan berjalan menuju ke motor.
Aku memeluk Papa dan menyalaminya.
"Zanu bentar lagi kuliah ke kota P ya Pa, sama Bram,"
"Iya nak, hati-hati. Beri kabar kalau sudah sampai di sana. Papa berangkat kerja dulu ya,"
"Baik Pa,"
Mama dan Zuri sudah bersiap-siap. Mobil sudah di hidupkan Mama.
"Mama, Zuri, Papa berangkat dulu, da..dah..," ujar Papaku.
"Oke Pa, hati-hati," jawab Mama.
Papa melajukan motornya keluar rumah dan pergi sampai menghilang dari pandangan.
"Ma, Zanu letakin kuncinya di mana?" tanyaku.
"Biasa, di pot bunga dekat kursi itu. Mama sama Zuri pergi dulu ya nak, hati-hati selama di sana. Jangan lupa beri kabar," Mama mencium pipi dan memelukku.
"Baik Ma,"
Zuri menyalamiku. Mama dan Zuri masuk ke dalam mobil. Setelah itu mobil melaju keluar rumah.
Sekarang tinggallah aku sendirian di rumah. Aku menutup pintu rumah dan naik ke lantai atas menuju ke kamar. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke kota P bersama Bram.
**********
Terdengar deru suara mobil dari luar.
Aku tau kalau itu Bram. Aku sudah bersiap-siap menuju ke ruang tamu.
"Assalammu'alaikum," ujar Bram dari luar.
"Waa'alaikum salam," jawabku sambil membukakan pintu.
Terlihat Bram sangat fresh dan keren dengan style kaos putih kombinasi jeans berwarna biru.
__ADS_1
"Kamu sudah siap? Kita langsung berangkat ya?" tanya Bram.
"Iya, langsung saja. Tapi aku belum sempat sarapan Kak,"
"Sama, nanti kita cari tempat untuk sarapan, ayo," ajak Bram.
Aku mengambil ransel dari sofa tamu, setelah keluar, langsung mengunci pintu dan meletakkannya di bawah pot bunga.
Aku dan Bram menaiki mobil dan berangkat pergi menuju ke kota P.
"Zanu, nanti malam kamu ke rumahku ya, aku yang jemput ke kost," ujar Bram.
"Ngapain?"
"Sore ini orang tuaku datang. Malamnya aku ingin memperkenalkan kamu dengan mereka," Bram masih konsentrasi menyetir.
"Lho? Bukannya orang tua Kakak tidak menyetujui hubungan kita. Aku rasa salah besar jika Kakak mempertemukan aku dengan mereka. Buat apa? Supaya aku sakit hati? Atau bersedih?" terasa dadaku mulai bergemuruh.
"Bukan begitu Zanu. Secara keseluruhan, orang tuaku bukannya tidak menyukaimu tapi ada hal yang tidak bisa mereka hindari. Jadi, sebelum mereka berangkat, mereka ingin melihatmu terlebih dahulu. Nanti kamu juga akan paham dengan maksudku," terang Bram.
Aku diam dan mulai tidak mengerti maksud dari pembicaraan Bram.
"Kamu mau kan sayang?" tanya Bram.
"Baiklah Kak," aku terpaksa mengikuti kemauan Bram.
Mobil mulai menepi, masuk ke halaman parkir sebuah warung makan khusus sarapan. Pagi itu sudah banyak pengunjung dalam warung tersebut. Saat aku dan Bram turun, seperti biasa, banyak yang melihat kita berdua.
Dari kejauhan terlihat pegunungan yang masih tertutup awan. Aku dan Bram langsung memesan makanan untuk sarapan.
Terlihat beberapa pengunjung berbisik-bisik saat melihat kita berdua. Bram menghadapinya dengan santai.
"Kak, nanti selama di Amerika, Kakak mau menghubungiku?" tanyaku.
"InsyaAllah Zanu. Jika aku tidak menghubungimu, itu bearti aku sibuk atau ada hal lain yang tidak bisa kita untuk berkomunikasi," jawab Bram.
Deg! Maksud Bram apa ya?
"Maksud Kakak?" tanyaku heran.
"Semua demi keamanan aku dan kamu," jawab Bram sambil menunduk, ia tidak berani melihatku.
Sepertinya Bram menyimpan sesuatu dan memiliki alasan yang sangat pelik.
"Permisi Bang, ini pesanannya," ucap pelayan warung. Ia meletakkan pesananku dan Bram di atas meja.
"Oke, terima kasih," jawab Bram singkat.
Setelah meletakkan semua pesanan, pelayan tadi berbalik pergi.
"Ayo, kita langsung makan," ajak Bram.
__ADS_1
Aku mengikutinya dan langsung mengambil makananku. Selama kita makan tidak banyak yang kita bicarakan, hanya seputaran tentang kampus.
Setelah selesai makan, Bram membayar tagihan makanan di meja kasir. Kemudian kita berdua keluar dari warung tersebut dan menuju ke parkir mobil.
*********
Di dalam mobil.
"Zanu, semalam aku sudah mendapatkan info. Orang yang menyerang kamu kemaren sore adalah suruhan Lutfa. Dan Lutfa sudah di proses polisi tadi malam. Jadi kemungkinan kamu aman kedepannya. Hanya satu yang aku takutkan akan dirimu Zanu," ujar Bram.
"Hah?! Jadi semalam Kakak mengurus itu? Kasian sekali nasib Lutfa, dengan keadaan dia tak berdaya, harus mendekam di penjara. Itu bagaimana ceritanya sih Kak? Aku tidak menyangka lho," aku sangat kaget dengan pernyataan Bram.
Mengapa Lutfa bisa senekat itu? Lagian kalau memang ingin balas dendam untuk Kakaknya, nggak akan tercapai. Bram saja mau pergi dariku, padahal dia benar-benar mencintaiku. Apalagi dengan orang yang tidak pernah dia anggap.
"Zanu, apa kamu tidak ingin bertanya apa yang aku takutkan darimu?" ternyata Bram fokus dengan maksudnya, bukan tentang Lutfa.
"Eh iya Kak, maaf,"
"Aku takut jika nanti kamu menikah dengan yang lain," ujar Bram.
"Terus, maunya Kakak aku bagaimana? Mau aku perawan tua? Aku harus menjalani hidupku Kak, walau itu sakit, sedih akan kehilangan Kakak. Aku harus membuka hati dengan yang lain, walau mungkin cintaku tidak sebesar ke Kakak, setidaknya aku sudah mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri," jawabku panjang lebar.
"Semoga kamu mendapatkan gantiku yang lebih baik lagi," ucap Bram lirih.
Aku diam kembali. Andai saja Bram tau maksud hatiku. Andai saja Bram tau bagaimana perasaanku yang sesungguhnya.
"Zanu. Jika nanti Gilang sudah keluar dari penjara, kamu harus berhati-hati," tiba-tiba Bram membahas tentang Gilang.
"Hah?! Apa dia mau keluar? Bukannya baru kemaren ini masuk penjara?" tanyaku sedikit panik.
"Iya, dia keluar empat tahun lagi. Tapi kemungkinan besar dia akan mencariku. Jika dia tau, kalau kamu tidak bersamaku lagi, maka dia tidak akan mengganggumu. Tapi bisa jadi, dia masih terobsesi untuk mendekatimu lagi. Pesanku, kamu hindari dia,"
"Iya Kak,"
"Jangan lupa, adiknya masih berkeliaran. Kamu jalani saja hari-hari dengan santai dan kosentrasi akan kuliahmu. Urusan di luar itu, biar aku yang urus. Oiya, maaf, aku tidak sempat membawamu ke kebunmu. Nanti Pak Jack yang akan menunjukkan di mana letak lokasi kebunmu itu. Sekaligus ia akan memberikan sertifikat tanah, kepemilikan atas nama dirimu sendiri," penjelasan Bram.
"Hah?! Aku sudah memiliki sertifikat? Perasaan aku belum berikan KTP, atau aku yang lupa?" aku heran mengapa secepat itu urusannya kelar
"Semua sudah di atur dan di urus Zanu. Tidak perlu kamu tanyakan bagaimana cara mengurusnya,"
Tiba-tiba aku teringat satu set berlian pemberian Bram. Aku ingin mengembalikannya, seperti aku menyuruh Zuri mengembalikan pemberian Damar.
Apakah Bram marah? Tersinggung? Atau iya menerimanya kembali?
"Ada apa sayang? Kenapa kamu diam terus?" Bram memperhatikanku.
"Kak, set berliannya aku kembalikan ya," ucapku lirih dan takut.
"Apa?"
Bram menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Terlihat sorot mata Bram yang menyeramkan.
__ADS_1
...****************...