Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 42 : Hadiah Lagi


__ADS_3

Setelah puas bermain, Bram balik lagi menuju balai utama untuk menemui rombongannya tadi.


Sedangkan aku bersama Zuri berjalan ke pasar untuk membeli sarapan. Dan tebakanku benar, Zuri sangat kepo tentang Bram. Rasanya dari tadi Zuri tidak sabar ingin mengetahui siapa itu Bram, yang sedang mendekati kakaknya.


"Kak, Bram itu siapanya Kakak sih? Kok terlihat dekat?" tanya Zuri dengan penasaran tingkat tinggi.


"Dia itu senior Kakak. Nanti di rumah saja Kakak jelasinnya, sekarang kita beli sarapan dan langsung pulang," jawabku singkat.


Zuri manyun, rasa penasarannya masih tertunda. Zuri terpaksa menuruti perkataanku. Kita berdua akhirnya menemukan tempat sarapan langganan yang biasa aku beli sama Mama. Setelah selesai membayar, aku dan Zuri berjalan menuju ketempat bendi.


Setelahnya kita pulang dengan menaiki bendi menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, kulihat Papa dan Mama sedang menonton berita pagi di TV.


"Ma, Pa, kita sarapan yok," ujarku sambil menyerahkan bungkusan plastik yang berisi sarapan.


"Oke," ujar Papa dan Mama.


Kita berempat ngumpul di meja makan dan mulai membuka sarapan masing-masing. Tidak banyak obrolan di pagi ini. Setelah sarapan, aku membantu Mama membereskan meja makan dengan meletakkan piring dan gelas kotor ke dapur.


"Kak, kak, ceritain dong tentang seniornya," rengek Zuri.


Nah, ini anak benar-benar kepo. Masih saja dia ingat tentang tadi, pasti adikku rasa penasarannya tak terbendung lagi.


"Iya, bentar. Kita ngobrol di kamar saja," jawabku sambil membawa piring terakhir ke dapur.


Zuri langsung bergegas ke tangga menuju kamar atas. Setelah selesai beres-beres, aku langsung menyusul Zuri ke atas. Terlihat Zuri sudah bersiap-siap di atas tempat tidur untuk mendengarkan penjelasanku.


"Nah, sekarang mau tanya apa?" tanyaku sambil duduk di atas kasur.


"Cowok tadi siapanya Kakak?" Zuri tanya balik.


"Namanya Bram. Dia senior di kampus beda fakultas sama Kakak. Dia juga ketua BEM," jawabku.


"Wuih..! Mantap Kakak bisa dekat dengan ketua BEM," Zuri kaget.


"Bukan dekat lagi. Dia juga sudah nembak Kakak,"


"Beneran Kak? Trus Kakak terima tidak? Jangan bilang tidak ya, sama seperti Kakak nolak Vincent dulu," Zuri semakin semangat.


"Iya, sama. Cuma, dia orangnya mengerti dan tetap selalu ada buat Kakak. Kita komitmen untuk menjalaninya saja walau tanpa ikatan. Yah, intinya dia punya Kakaklah," jawabku.


"Trus? Kalau Kakak seperti ini terus, mau sampai kapan Kakak lepasin cowok yang mau dekat? Yang ini benar-benar fix keren banget Kak," Zuri semakin semangat lagi.


"Udah Zuri. Kamu nggak akan ngerti. Masalah cowok itu gampang. Sedangkan Kakak orangnya tidak mau ribet. Kalau kita pacaran, kita tu seperti menempatkan diri untuk mau di atur, harus membagi waktu dan pikiran. Kalau dia menyerah, itu urusan dia. Bearti bukan milik Kakak," jawabku mulai jengkel.


"Iya sih.. Sepertinya cowok yang ini cocok buat Kakak lho. Semoga benar nanti jodohnya adalah Kakakku," jawab Zuri mulai melow.


"Kakak harapnya begitu. Dia cowok yang baik dan sayang banget sama Kakak," aku mulai berharap.


"Lama banget ya Kak berjodohnya. Kakak baru saja masuk kuliah. Belum lagi kerja. Iya kalau langsung dapat, kalau tidak? Umur jalan terus dan belum pasti juga dia jodoh Kakak. Coba Papa Mama ngizinin kita nikah muda ya, ha..ha..ha...," Zuri mulai ngawur.


"Udah ah. Kakak mau bersih-bersih dulu di bawah," ujarku.


Aku ingin mengakhiri percakapan tentang Bram dengan Zuri. Karena dia belum paham jika di jelaskan terus menerus.


"Lho, tumben Kakak beres-beres? Ada yang mau datang?" tanya Zuri.


Aku diam dan bergegas turun ke bawah. Pasti Zuri penasaran lagi kenapa aku beres-beres. Terserah dah..

__ADS_1


Aku mulai menyapu dan mengepel di teras depan dan setelahnya langsung ke dalam rumah. Jendela, meja tamu dan semua pajangan yang ada, aku bersihkan semua agar tidak berdebu.


Setelah semuanya berkilau, aku duduk sebentar di kursi teras depan sambil minum air dingin. Aku ingat saat duduk bersama Abang di kursi ini. Perasaan itu baru aku rasakan kembali saat bersama Bram. Aku beruntung bisa bertemu dengan Bram.


Kuintip jam dinding di ruang tamu, ternyata sudah menunjukkan jam sebelas siang. Aku ingat pesan Bram tadi pagi kalau siang ini dia mau mampir ke rumah. Aku harus segera bersiap-siap.


Aku bergegas masuk dan langsung ke kamar atas untuk mandi dan berganti pakaian.


********


Setelah mandi dan berdandan tipis-tipis, aku turun ke bawah. Menyusun cemilan dan gelas yang akan di bawa nanti saat Bram datang nanti.


Kok rumah kedengarannya sepi ya?


Tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam dari teras depan. Perasaanku langsung jadi deg-degan, pasti itu Bram. Aku langsung bergegas ke depan dan membukakan pintu ruang tamu.


Dan benar, itu Bram. Dengan senyum manisnya dia menyapaku. Bram membawa sesuatu di dalam dua paper bag, satu ukuran kecil dan satu lagi berukuran lumayan besar.


"Zanu, ini buat di rumah. Dan yang ini buat kamu," ujar Bram sambil menyerahkan ke dua paper bag tersebut.


"Masuk dulu Kak, jangan di depan pintu. Ini apa saja isinya?" aku beranjak duduk di sofa ruang tamu.


"Yang kecil, kamu buka sendiri. Dan yang besar isinya makanan sama cemilan. Kamu suka coklat? Aku beli banyak coklat, itu ada di dalam paper bag yang besar," jawab Bram sambil mengikutiku dan duduk didekatku.


"Wah! Aku suka banget coklat. Terima kasih ya Kak," ujarku sumringah.


"Sama-sama. Sekarang kamu buka yang paper bag kecil," ujar Bram.


Aku mengambil paper bag kecil dan membukanya. Ternyata di dalamnya ada kotak kecil berwarna pink. Aku angkat kotak itu keluar dari paper bag. Kuperhatikan dengan seksama.


"Ayo di buka Zanu. Ini special aku pesan, untuk kenang-kenangan," ujar Bram antusias.


Aku pelan-pelan membuka kotak tersebut.


OMG! Ternyata itu sebuah kalung emas putih. Liontinnya ada sebuah inisial B dan Z. Ya pasti taulah ya itu nama siapa.


"Itu buat kamu. Aku pesan kemaren sama Vincent. Di daerah sini, cuma di toko dia yang punya kwalitas bagus dan ahlinya bikin perhiasan,"


Aku kaget! Jadi, semalam Vincent menemui Bram hanya karena kalung ini? Rasanya tidak sesimple itu. Pasti ada hal lain yang bersangkutan dengan Bram. Apakah bisnis?


"Beneran ini buat aku Kak? Kemaren Kakak sudah kasih aku cincin. Aku tidak bisa menerima barang-barang semahal ini Kak," ujarku dengan nada menolak.


Sebenarnya, aku memang tidak mau menerima barang-barang seperti ini. Hubungan aku sama Bram juga baru seumur jagung, tidak etis rasanya menerima sesuatu tanpa alasan.


"Sudahlah Zanu, kamu terima saja pemberianku. Aku senang kamu bisa mengenakan kalung dan cincin pemberianku. Jangan lihat harganya, tapi tolong lihat perasaan senangku, oke," ujar Bram tegas.


"Ya tapi....,"


Bram langsung mengambil kalung dari tanganku.


"Sini, aku pasangkan ke lehermu Zanu," ujar Bram.


"Tidak usah, aku bisa sendiri Kak. Sini," jawabku sambil mengambil kembali kalung di tangan Bram.


Bram tersenyum melihat tingkahku. Dia terus memperhatikanku. Terlihat dari tatapan matanya ada makna yang sulit untuk di ungkapkan.


Aku memasangkan kalung itu keleher. Dan taraaaa....! Kalung yang indah, kilauan permatanya mirip seperti yang ada di cincin pemberian Bram.

__ADS_1


"Kak, permata di cincin sama kalung ini samakah? Ini apa ya?" tanyaku to the point.


Aku tidak mau pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepalaku. Mumpung di sini ada Bram, sekalian saja aku tanyakan. Tanpa ku sadari aku juga termasuk orang yang kepo ya, ha..ha..ha...


"Itu berlian. Aku sudah bilang bukan, perhiasan ini special buat kamu," jawab Bram santai.


Wow!! Mimpi apa aku ya, di kasih berlian seindah ini. Tiba-tiba aku merasa seperti cewek matre yang ketiban banyak hadiah. Aku takut Bram berfikir demikian.


"Kak, ini pasti sangat mahal harganya. Aku tidak...,"


Belum juga selesai aku bicara, Bram mengangkat satu telunjuk ke bibirnya.


"Sstttt... Stop. Jangan kamu bicara seperti itu lagi. Sudah, kamu pakai atau di simpan saja. Itu untuk kamu. Oiya, aku ke sini cuma mampir sebentar, karena lagi di tunggu klien. Jadi tidak bisa lama-lama," ucap Bram.


"Hmmm.. Kapan lagi kita ketemu Kak?" tanyaku malu-malu.


"Ini baru saja ketemu. Kenapa? Kamu masih kangen ya? Minta nomor telepon kost Zanu, biar aku save di hp,"


Untung Bram menanyakan nomor telepon kost aku. Jadi pertanyaannya barusan tidak usah di jawab, bikin malu...


Aku menyebutkan nomor telepon kost dan Bram langsung save ke hp nya.


"Zanu, besok ini aku belikan handphone buatmu. Biar mudah kita untuk komunikasi," ujar Bram.


"Tidak usah Kak. Aku tidak mau dibelikan ini itu lagi. Nanti aku minta sama Papa buat beli handphone, tapi nanti di saat aku benar-benar butuh. Untuk sementara Kakak yang telepon ke kost aku atau langsung saja mampir. Butuh perjuangan dikitlah buat ketemu aku," jawabku tegas.


"Oke. Semoga semua perjuanganku tidak sia-sia kedepannya. Yuk, aku pamit dulu. Maaf sekali lagi, aku tidak bisa lama-lama. Sebenarnya aku masih kangen sama kamu," ujar Bram.


"Belum juga minum Kak. Belum ketemu Papa sama Mama juga, gimana sih,"


"Ya udah, panggil Mamanya, aku mau pamit pulang,"


Aku mengangguk dan bergegas ke kamar Papa Mama. Aku lihat kamar kosong. Di dapur, ruang tengah dan taman di belakang juga kosong.


Aku ke ruang atas, Papa sama Mama juga tidak ada.


Pada kemana sih? Apa Papa sama Mama keluar rumah ya? Yang ada cuma Zuri di kamarku lagi tidur.


Aku turun dan berjalan menuju teras depan, di garasi tidak ada mobil. Ya udah, bearti Papa sama Mama fix sedang berada di luar.


"Ada apa Zanu?" tanya Bram.


"Papa sama Mama lagi nggak ada Kak di rumah. Mungkin tadi aku lagi di atas, Papa keluar sama Mama. Mobilnya nggak ada di garasi," jawabku.


"Ya udahlah, aku langsung pamit saja. Tidak boleh lama-lama di rumahmu, nanti dilihat tetangga bisa negatif thinking," ujar Bram.


"Oke Kakak, hati-hati ya. Terima kasih pemberiannya, nanti aku pake di acara-acara tertentu saja,"


"Setiap kita bertemu, di pakai pemberianku itu,"


Aku mengangguk. Bram tiba-tiba melihat sambil membelai poni dan pipiku. Sepertinya ini sudah jadi kebiasaan Bram. Tapi tetap saja membuatku malu dan membuat perasaanku jadi tidak karuan.


"See u, bye," ujar Bram.


Bram melangkah keluar, berjalan menuju ke mobilnya. Ternyata di dalam mobil sudah ada drivernya Bram.


Bram melambaikan tangan dan aku membalasnya. Mobil Bram melaju dan berlalu dari pandanganku. Aku langsung masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan mulai memeriksa paper bag pemberian Bram tadi.

__ADS_1


Yuhuuu...! Saatnya ngemil coklat. Thank you Kak.


...****************...


__ADS_2