
Aku bersiap-siap dalam kamar malam ini. Besok subuh aku akan berangkat ke kota P. Karena senin paginya aku ada jadwal kuliah pertama.
Aku kangen anak kost, mereka kangen nggak ya samaku?
"Zanu, ini uang belanjanya nak untuk satu minggu ke depan," ujar Mama yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku.
Aku menghampiri Mama dan mengambil uang tersebut.
"Terima kasih ya Mama, InsyaAllah Zanu pulang lagi kerumah hari sabtu," jawabku.
"Sama-sama. Besok kalau sudah sampai kost, jangan lupa beri kabar ya nak. Jaga diri baik-baik selama di sana," nasehat Mama.
"Iya Ma,"
Aku memeluk Mama sebentar dan beranjak lagi ke barang-barang yang akan aku bawa besok. Hampir saja aku lupa memasukkan jaket Bram ke dalam ransel.
"Ya sudah, kalau sudah beres, langsung istirahat. Besok subuh Papa yang antar ke terminal,"
Aku menggangguk. Mama langsung keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Tak lama Zuri masuk ke kamar dan duduk di kursi kecil.
"Kak, cepat sekali perginya. Tinggal Zuri sendirian di rumah," ujar Zuri.
"Ya mau gimana lagi Dek, Kakak sekarang sudah kuliah. Waktu luang hanya hari minggu. Itupun Kakak harus bolak-balik ke sini. Nanti Zuri kuliahnya di kampus Kakak saja, biar kita kostnya bareng," ujarku sambil mengemas buku.
"Tapi kan masih lama Zuri kuliahnya Kak. Kalau Papa Mama kerja, Zuri nggak ada teman di rumah," keluh Zuri.
"Sabar Dek,"
Zuri cuma diam dan mulai begeser ke tempat tidur. Aku sudah selesai membereskan semua keperluan yang akan aku bawa besok. Pintu kamar aku tutup dan kunci. Aku ikut beranjak ke atas kasur dan rebahan di samping Zuri.
"Kak, bagaimana kabar Kak Bram?" tanya Zuri.
"Baik. Kenapa nanyain dia Dek?" tanyaku balik.
"Nanya aja Kak. Asik juga ya Kak bisa punya pacar. Sayangnya aku belum boleh pacaran sama Papa," jawab Zuri.
"Yah, asik nggak asik sih. Cuma Kakak beruntung saja bisa bertemu Bram. Nggak tau ya, kenapa Kakak sampai bisa ketemu dan jadian sama dia. Seperti mengalir begitu saja. Hanya Kakak takut..,"
"Takut kenapa Kak? Kan dianya baik dan suka banget sama Kakak," tanya Zuri.
"Iya sih, tapi kan setiap orang bisa berubah Dek. Nanti Kakak selesai kuliah dan kerja, ada banyak waktu yang harus di jalani. Tidak menutup kemungkinan dia bisa berubah atau pergi dari kehidupan Kakak. Kakak takut kehilangan dia," jawabku nelangsa.
"Yaaahh, Zuri belum mengerti tentang itu. Semoga Kakak bisa terus sama Kak Bram,"
"Semoga. Udah ah, kita bobo' yuk, besok subuh Kakak sudah harus bersiap-siap berangkat,"
__ADS_1
Zuri mengangguk. Aku dan Zuri menarik selimut. Kita tidur dan larut dalam mimpi masing-masing.
********
Subuh, aku bangun.
Dan bersiap-siap. Aku sempatkan sarapan dan minum susu. Setelah siap, aku pamit sama Mama. Sedangkan Zuri masih tidur.
Papa dan aku berangkat ke terminal. Sudah ada beberapa Bus yang stay di sana menunggu penumpang. Tak butuh waktu yang lama, aku masuk ke dalam Bus yang sudah hampir penuh penumpangnya.
Aku pamit dan salam Papa. Papa memelukku sejenak.
"Hati-hati selama diperjalanan ya nak. Jangan lupa beri kita kabar. Jangan lupa juga selalu berdo'a," ujar Papa.
"Oke Papa, Zanu berangkat dulu ya," jawabku.
Papa mengangguk. Aku bergegas masuk Bus karena Bus akan segera berangkat. Aku melambaikan tangan ke arah Papa dan Papa membalasnya.
Akhirnya Bus yang ku tumpangi melaju ke tempat tujuannya. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu, aku bawa tidur selama perjalanan. Karena aku masih merasakan kantuk.
********
Akhirnya...
Aku sampai juga di kost kesayangan. Aku masuk dan mendapatkan Bibi sedang bersih-bersih di halaman depan.
"Waa'alaikum salam, eh neng Zanu. Ayuk masuk. Teman-teman pada kuliah, tinggal neng Prita di kamarnya," jawab Bibi.
"Oke Bibi, terima kasih infonya. Saya masuk ke dalam dulu ya..,"
"Mari silahkan neng..,"
Aku langsung beranjak masuk ke dalam lewat pintu samping. Masih terasa elok kulihat tumbuhan dan bunga-bunga sedang bermekaran serta pohonnya yang semakin rindang di dekat kolam renang.
Kapan-kapan berendam ah..
Aku langsung menuju ke kamarku. Dan aku rebahan sejenak untuk melepaskan penat selama dalam perjalanan ke sini. Aku teringat Bram, pasti sekarang dia lagi di kampus.
Kira-kira nanti aku bisa ketemu Bram nggak ya di kampus?
"Hei Zanu! Duh, apa kabarnya? Aku kangen lho...," ujar Prita yang langsung menerobos masuk dan duduk di kursi dekat tempat tidurku.
Aku kaget! Ternyata pintu kamarku lupa di tutup. Aku senang melihat Prita yang datang menghampiriku.
"Hai juga Prita, aku juga kangen lho. Bagaimana acara perkemahannya kemaren? Lancarkah?" tanyaku penasaran dan langsung duduk dekat Prita.
__ADS_1
"Seru sih. Tapi nggak ada kamu Zanu, kurang greget. Oiya, Kak Resa cerita kalau kamu bersama Bram di Prn? Asyik dong bisa dekat pujaan hati...," ujar Prita senyum-senyum.
Lho? Tau dari mana Kak Resa ya? Kenapa semua informasi tentang Bram, Kak Resa selalu tau, dia siapanya Bram? Aneh...
"Nggak juga, Bram dua kali mampir kerumahku dan kita makan di luar. Cuma gitu aja Prita," jawabku.
"Ya asyiknya di situ Zanu, ketemu jarang biar kangennya nambah. Oiya, kamu lihat Atif nggak?" tanya Prita malu-malu.
Tuh kan, feelingku benar. Kalau Prita ujung-ujungnya pasti nanyain Atif, ha..ha..ha... Sepertinya temanku ini sedang jatuh cinta.
"Ada. Aku ketemu Atif, tapi nggak ngobrol. Kamu kangen ya? Emangnya kemaren dia tidak ngubungin kamu? Bukannya sudah di kasih nomor telepon kost kita?" tanyaku heran.
"Itu dia Zanu. Sampai sekarang aku nungguin kabar dari dia tapi tidak kunjung tiba. Atau mungkin dia tau ya aku sedang di luar ngikutin perkemahan fakultas kemaren?" Prita balik tanya.
"Ya mungkin. Tapi tau dari mana dianya, apa dari Bram. Ya sudahlah, besok ini kalau Bram mampir ke kost, aku minta di bawa sekalian Atifnya. Biar kamu juga ikut ngobrol sama Atif di sini," jawabku.
"Beneran nih Zanu? Dih, kamu baik banget.., Terima kasih ya Zanu, aku senang mendengarnya," ujar Prita antusias.
"Oke, selagi aku bisa pasti aku bantu. Oiya, hari ini kita kuliah jam berapa? Aku belum punya jadwal," tanyaku.
"Hari ini kita tidak kuliah Zanu. Cuma di suruh ngumpul di kampus jam sembilan ini. Paling di kasih materi saja sama dosen. Besok baru kita mulai kuliah, jadwalnya aku ada. Nanti kamu salin saja punyaku,"
Aku mengangguk. Aku mulai bergeser dan mencari handuk baru di dalam lemari.
"Ya sudah, kita bersiap-siap ke kampus. Aku mau cuci muka dulu dan tukar pakaian," ujarku.
"Oke, aku tunggu di bawah ya,"
Prita langsung keluar kamarku dan turun ke lantai bawah. Sedangkan aku masuk ke kamar mandi buat cuci muka.
Aku masih penasaran, Kak Resa itu siapa ya? Hubungan apa dia sama Bram? Nanti aku tanya Bram langsung ah.. Atau tanya Kak Resa aja langsung nanti di kampus. Kalau ketemu.
Aku bergegas cuci muka dan lap wajahku memakai handuk. Aku langsung ganti pakaian baru, kali ini style aku santai saja. Kaos oblong, celana jeans dan sepatu kets. Tak lupa tas ransel untuk memuat binder dan sedikit cemilan plus botol minum.
Mataku tiba-tiba terpaku dengan jaketnya Bram. Jaket ini sudah menjadi jaket kesayanganku. Kemana-mana aku bawa, norak emang...
Tapi ke kampus kali ini, jaket Bram aku tinggal dulu. Jaketnya aku gantung di hanger dan di simpan dalam lemari. Setelah siap semua, aku keluar, mengunci pintu dan turun ke lantai bawah.
Terlihat Prita sudah menungguku di pintu samping.
"Ayo kita go..!" ujar Pita.
Aku mengikuti Prita dan kita keluar dari kost menuju halte Bus. Sepanjang jalan kita becanda mulu, terutama membahas antara Atif dan Bram.
Atif, cepatlah temui Prita temanku ini. Dia bisa stres menunggu, ahai....!
__ADS_1
Dan aku juga bisa stres mendengar ceritanya, ha..ha..ha...
...****************...