Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 115 : Ricard


__ADS_3

Bram memesan makanan untuk kita berdua. Sambil menunggu, aku dan Bram mengobrol seputaran kampus.


Tiba-tiba aku melihat Lutfa masuk ke dalam kantin menggunakan kursi roda, bersama dua orang pria.


Sepertinya ia mau menghampiriku? Ada apa ini? Apa ia akan melakukan sesuatu terhadapku?


"Kak, ada Lutfa! Dia mau ke sini," aku panik sambil menyenggol tangan Bram berulang-ulang.


"Nggak apa-apa, tenang saja sayang. Kenapa kamu panik gitu?" Bram menenangkanku.


Kulihat Bram mengangkat telunjuknya ke kanan, entah apa maksudnya.


Lutfa hampir mendekat, tiba-tiba datang beberapa orang berseragam hitam masuk ke dalam kantin. Semua yang ada di kantin pada bingung dan ada beberapa yang tergesa-gesa keluar.


Ada dua orang berpakaian hitam dan berbadan besar, berdiri samping kiri dan kanan Bram. Dipastikan kalau itu bodyguardnya Bram.


Bram terlihat santai, sedangkan aku gelisah.


"Maaf Ketua, saya mengganggu waktunya. Apakah yang bersama Ketua ini namanya Zanu?" tanya Lutfa sambil tersenyum.


"Iya, dia Zanu. Bagaimana keadaanmu sekarang Lutfa?" tanya Bram.


"Alhamdulillah saya mulai pulih Ketua,"


"Kakakmu bagaimana?" tanya Bram kembali.


"Kakak masih menjalani beberapa operasi lagi dan sekarang belum bisa bangun," terlihat raut wajah sedih Lutfa saat menceritakan kakaknya Sari.


"Ikuti saja kata dokter, semoga ada perkembangan untuk kesembuhan Sari,"


Lutfa mengangguk. Lalu ia mengalihkan pandangan kepadaku. Aku cuma diam, menunggu responnya terhadapku.


"Zanu, aku Lutfa adiknya Sari, temannya Ketua. Mungkin kamu sudah tau melalui Ketua. Sebelumnya aku ke sini mau meminta maaf, waktu itu pernah mencelakai kamu. Kakakku juga menyampaikan permintaan maafnya. Semoga kamu mau memaafkan kami berdua," ucap Lutfa dengan suara lirih. Terlihat ada rasa penyesalan di balik tatapan matanya.


Deg! Duh, aku kok jadi deg-degan gini ya.


"I..iya Lutfa, tidak apa-apa. Aku sudah maafin kamu dan kakakmu. Semoga kakakmu lekas sembuh ya Lutfa," jawabku sambil tersenyum.


"Aamiin.. Terima kasih ya Zanu. Aku pergi dulu ya, orang tuaku sedang menunggu di luar," ujar Lutfa, ia menjulurkan tangannya ke hadapanku, aku menyambut salam itu.


"Ketua, terima kasih sudah bantu kita berdua waktu itu ke rumah sakit. Mungkin kalau tidak secepatnya di bantu, Kakak sudah nggak ada lagi," Lutfa terlihat sedih lagi.


"Nggak apa-apa Lutfa, itu memang sudah tugasku. Apalagi kita satu kampus dan saling kenal," jawab Bram.


"Oke Ketua, Zanu, aku permisi dulu," Lutfa memutar kursi rodanya dan di bantu oleh dua orang yang ikut dengannya.


"Hati-hati Lutfa," ujarku.


"Iya,"


Bram mengangkat telunjuknya ke kiri. Semua bodyguard Bram pergi menjauh keluar kantin, termasuk dua orang yang bertubuh besar di dekat Bram tadi.


"Jadi Zanu, Lutfa ke sini hanya ingin meminta maaf ke kamu. Apa tadi kubilang, jangan khawatir," ujar Bram.

__ADS_1


"Lho? Malah Kakak yang bawa bodyguardnya ke sini. Lihat tuh, semua pada heran,"


"Ya nggak apa-apa, buat jaga-jaga," jawab Bram.


"Itu tandanya Kakak ikut khawatir juga. Hadeh...! Sama saja kita ini, ha.ha..ha..,"


"Itu..itu..," Bram tidak bisa berkata-kata.


"Udah deh, itu tandanya Kakak sayang aku kan? Takut kenapa-kenapa kan?" aku menggoda Bram.


Bram tersenyum melihat tingkahku, reflek ia mengacak poniku.


"Iya deh, kamu menang,"


Pelayan kantin datang membawa pesanan kita berdua. Dengan hati yang senang, aku dan Bram mulai menyantap pesanan sampai habis.


*********


Setelah selesai makan dan membayar, aku dan Bram keluar dari kantin.


"Oke Zanu, kita pisah di sini. Aku mau minta tanda tangan dan diskusi dengan dosen pembimbing tentang sidangku nanti. Nanti aku yang temui kamu di tempat ini lagi, oke," ujar Bram.


"Oke Kakak, aku keruanganku ya. Kalau belum selesai, Kakak tunggu saja aku keluar. Jangan masuk minta izin ke Dosen seperti kemaren, aku nggak mau lagi,"


"Siap,"


Aku dan Bram berpisah. Aku menuju ruang kuliah, untungnya belum telat. Dosen juga belum datang mengajar.


Siapa sih cowok itu? Sepertinya anak baru, cakep juga.


Cowok itu tersenyum kepadaku dan aku membalas senyumnya.


"Maaf, bangku ini ada orangnya?" tanyaku.


"Tidak ada, kosong. Silahkan kalau kamu mau duduk," jawabnya.


Aku duduk dan memperhatikan keadaan sekitar. Rasanya sedikit asing tanpa Prita. Biasanya, aku duduk dekat Prita sambil mengobrol.


Sekarang dan seterusnya, Prita tidak bisa kuliah lagi di sini, hiks..


Semenjak semuanya tau aku pacarnya Bram, tidak ada yang berani mendekatiku walau hanya sekedar ngobrol atau ingin berteman. Kecuali anak-anak di tempat aku kost.


"Maaf, kalau boleh tau namamu siapa? Aku baru masuk kuliah hari ini," tanya cowok di sebelahku.


Aku kaget! Karena dia bertanya tiba-tiba.


"Eh iya, aku Zanu," aku memperkenalkan diri.


"Aku Ricard,"


Lalu kita terdiam, tidak tau lagi mau menanyakan apa.


"Ssst..! Card, kamu jangan berani dekati cewek itu, bahaya!"

__ADS_1


Aku mendengar bisikan di sebelah Ricard, berusaha tidak menoleh, takut nanti ketauan mendengar percakapan mereka berdua.


"Memangnya kenapa? Kan cuma kenalan, ada yang salah?" tanya Ricard keheranan.


"Dia itu pacarnya Ketua, tidak ada yang berani dekatin,"


"Ketua mana? Itu dia mau memperkenalkan diri, udah deh, jangan lebay," ujar Ricard mulai jengkel.


"Kalau kamu nggak percaya. Terserah, aku cuma mau ngingatin,"


Ricard diam saja tanpa merespon balik teman di sampingnya.


Dosen masuk dan langsung memberikan materi kuliah. Ricard tidak banyak bicara, tapi ada beberapa yang ia tanyakan kepadaku. Dengan sopan aku menjawabnya.


Terlihat teman sebelahnya masih sibuk menghentikan Ricard yang mengajakku bicara.


Ya Tuhan, kenapa harus begitu sih, memangnya aku selebriti? Mentang dekat dengan Bram, aku jadi tidak memiliki teman.


********


Dua jam kuliah sudah berlalu, Dosen menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Aku dan teman-teman satu ruangan pergi keluar. Ricard ternyata mengikutiku dari belakang.


Dengan santainya aku berjalan ke tempat janjian tadi dengan Bram. Kuperhatikan sekeliling, belum terlihat Bram menghampiri.


"Zanu, apa kamu menunggu seseorang?" tanya Ricard tiba-tiba.


"Eh Ricard, iya. Kita janjian di sini," Aku kaget.


"Kalau seandainya yang menjemputmu tidak datang, bolehkah aku mengajakmu ke kantin?" tanya Ricard.


Berani juga nih cowok! Apa dia tidak tau Bram? Celaka! Jika Bram melihatnya di sini sedang mendekatiku.


"Maaf Ricard, sebaiknya jangan tanyakan itu. Aku tidak bisa ikut kamu, lagipula kita baru saja kenal," aku menolaknya dengan halus.


"Kenapa Zanu? Apa kita tidak boleh berteman? Apakah ada yang melarang?" tanya Ricard.


"Bukan begitu Ricard, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku tidak mau ada keributan,"


Aku mulai was-was, takutnya Bram murka. Sedangkan Ricard ini belum tau bagaimana Bram.


"Zanu, kita satu jurusan, harus tau satu sama lainnya. Aku baru saja mengikuti kuliah dan ingin berteman denganmu, apa itu salah?" tanya Ricard.


Hadeh! Cowok ini kok ngotot amat ya, lama-lama bisa menyebalkan.


"Iya, tapi saatnya belum tepat," jawabku sekenanya.


"Tepatnya kapan Zanu?" tanya Ricard lagi berjalan beberapa langkah mendekatiku.


"Hei! Kamu! Menjauh dari Zanu!"


Aku dan Ricard kaget! Ternyata itu Bram!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2