
Itu Lutfa!!
Mau ngapain dia ke kota ini? Apa dia mau menemuiku? Atau ada hal lain?
Untungnya semua kaca mobil agak gelap, jadi orang luar tidak bisa melihat kita secara jelas. Seketika, dua pria bertubuh besar itu menghampiri Papa, entah apa yang mereka bicarakan.
Terlihat di trotoar tergeletak kursi roda Lutfa. Mungkin ia mau menyebrang atau hendak belajar jalan. Entahlah.
Papa masuk ke dalam mobil dan menghela nafas sebentar. Dipastikan kita bertiga pasti penasaran apa yang terjadi dan apa yang sudah mereka katakan saat Papa di luar.
"Ada apa sih Pa?" tanya Mama mendahulukan pertanyaan kita. Aku dan Zuri menyimak dan menantikan penjelasan Papa.
"Perempuan itu terjatuh dari kursi roda, Papa tidak sengaja menabraknya. Tapi untungnya ia tidak kenapa-kenapa dan malah menegur Papa," jawab Papa yang masih mengatur ritme nafasnya agar segera stabil.
"Lho? Seharusnya itu salahnya, kenapa berani sekali berada di pinggir jalan dalam keadaan seperti itu. Memangnya tidak ada yang menjaga?" suara Mama mulai meninggi, ia tidak terima Papa di tegur, padahal sudah jelas-jelas siapa di sini yang salah.
"Dua pria tadi penjaganya Ma, mereka meminta maaf ke Papa. Mereka tidak tau kalau majikannya pergi sendirian menelusuri trotoar. Untung Papa rem mendadak, hampir saja kena,"
"Lha, kalau nggak kena, kenapa dia malah menegur sama Papa?" Mama masih tidak menerima kejadian tadi.
"Mungkin karena kaget lihat mobil Papa, ia jatuh. Sudahlah Ma, sebaiknya kita lupakan saja. Sekarang kita pulang, nanti keburu mobil Zanu datang, kita nggak ada di rumah," Papa menghidupkan mesin mobil.
"Tuh Zanu, nanti kalau udah bisa bawa mobil mesti hati-hati. Kadang salahnya bukan dari kitanya, tapi orang lain yang terburu-buru dan tidak mau mengalah. Contohnya barusan yang kita alami," celoteh Mama panjang lebar.
Aku iyakan saja, karena nasehat Mama memang benar adanya. Mobil melaju ke arah rumah kita.
********
Sesampainya di rumah, ternyata prediksi Papa benar. Di depan rumah sudah ada mobilku yang dibawa oleh truk pengangkut dari showroom. Papa segera mematikan mesin mobil dan langsung turun. Kita bertiga mengikuti Papa ikut keluar dari mobil.
"Aduh, maaf Pak, kita telat pulang. Tadi ada insiden sedikit. Bapak sudah lama menunggu?" Papa merasa bersalah karena ditungguin orang lain.
"Ah tidak Pak, kita juga baru sampai. Mobilnya sudah kita turunkan Pak, silahkan Bapak cek kembali. Takutnya nanti ada komplain di akhir, pihak kita tidak ada tanggung jawab untuk itu," ujar petugas showroom.
"Oke Pak, saya tes dulu," Papa langsung melihat sedetail mungkin body mobilku, untuk memastikan tidak ada lecet saya pengangkutan. Setelah itu Papa periksa mesin, bagasi, di bangku belakang dan bagian depan. Terakhir Papa menghidupkan mesin mobilku dan membawanya mengelilingi komplek perumahan.
"Bagaimana Pak? Apa sudah sesuai pesanan? Semua serba baru dan body mulus," tanya petugas.
"Yup! Sudah saya periksa dan semuanya dalam kondisi baik," jawab Papa dengan tegas.
"Baiklah Pak, silahkan tanda tangan di sini, sebagai bukti serah terima barang. Kendaraan sudah sampai ke konsumen kita dengan kondisi baik dan baru," petugas memberikan beberapa helai kertas dan pulpen ke Papa.
__ADS_1
Papa menandatangani semua berkas yang diberikan. Setelah itu Papa serahkan kembali ke petugas. Lalu petugas pamit menuju ketempatnya kembali yaitu showroom mobil.
"Zanu, ayo masuk ke dalam mobil barumu. Papa, Mama mau melihatnya," ujar Mama antusias.
Aku senyum-senyum sambil membuka pintu mobil, lalu aku duduk di belakang kemudi.
"Bagaimana nak? Kamu merasa nyaman duduk di sana?" tanya Papa.
"Nyaman Pa, tapi sayang Zanu belum bisa nyetir mobil," aku keluar dan menghampiri Papa dan Mama.
"Terima kasih banyak ya Pa, Ma. Ini hadiah termahal yang pernah Zanu terima dari Papa dan Mama, semoga bermanfaat dan bisa menjaganya dengan baik," aku memeluk Papa dan Mama bergantian.
Setelah berpelukan, Mama mencari-cari keberadaan Zuri.
"Mana Zuri Pa? Perasaan tadi dia udah turun sama kita," terlihat raut wajah khawatir Mama.
"Mungkin dia ngikut petugas tadi Ma ke showroom," canda Papaku.
"Ngapain dia ke sana?" Mama menanggapi canda Papa dengan serius. Aku hanya tersenyum melihat ucapan Papa walau sebenarnya aku ikut khawatir karena hilangnya Zuri.
"Tuh Zuri," Papa menunjukkan telunjuknya ke arah dalam mobil. Terlihat Zuri sedang memegang setir sambil memainkannya.
"Zuri! Aduh, untung ketemu kamu. Sini!" perintah Mama.
"Apaan sih Ma? Kok ribut amat?" ucap Zuri tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Bilang-bilang kalau mau kemana, jangan malah sembunyi di dalam mobil," Mama marah.
"Lho? Perasaan tadi Zuri lewat depan Mama dan masuk ke mobilnya Kakak, masa' Mama nggak lihat?" Zuri masih belum merasa bersalah.
"Sudah, sudah, jangan ribut Ma. Malu sama tetangga, anak kita baru beli mobil," bisik Papa. Mama langsung manyun dan bergegas membuka pintu rumah.
"Yok Zuri, Zanu kita ke dalam. Nanti Papa masukin mobilnya ke garasi," ajak Papa.
Aku dan Zuri mengikuti Papa dari belakang. Sesampainya di dalam, Papa ingin menyampaikan sesuatu kepadaku perihal privat mobil.
"Besok pagi mulai privatnya, Papa sudah daftarkan dan bayar separo dulu. Yang ngajarin Zanu, akan ke rumah kita sambil membawa mobilnya," penjelasan Papa.
"Kenapa nggak pakai mobil Zanu Pa?" tanyaku.
"Mobil khusus privat sudah di stel untuk pemula. Ada rem tambahan yang digunakan pengajar jika ada kesalahan saat pemula membawa mobil. Nanti kalau sudah bisa, pakai mobil sendiri atau mobil itu lagi sampai mahir," penjelasan Papa.
__ADS_1
"Oo gitu ya. Baiklah Pa, besok pagi Zanu bersiap-siap. Zanu ke kamar dulh ya Pa," ujarku.
Papa mengangguk. Aku berjalan menaiki tangga menuju kamar atas. Terlihat Zuri sudah ada di sana sambil melakukan sesuatu. Ia kaget melihat kedatanganku.
"Hei, kenapa kamu terkejut Zuri? Kamu lagi ngapain?" aku mendekati Zuri dan mendapatinya sedang menyembunyikan tangan di dalam baju kaos yang ia kenakan.
"Eh, nggak ada apa-apa Kak," Zuri berdiri hendak keluar kamar.
"Ya udah kalau gitu, tapi janji ya jangan curhat," aku sedikit mengancam Zuri.
Zuri mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Ia langsung duduk di atas tempat tidur dan menarikku supaya ikut duduk.
"Gini Kak, aku dapat hadiah dari Damar," Zuri menunjukkan tangannya, tersematkan satu gelang dan cincin.
"Hah? Bukannya kalian udah jauhan? Kapan ketemunya?" tanyaku penasaran, walau sebenarnya aku sudah menduga di awal kalau Damar menyukai adikku.
"Kemaren ini hari kamis, ia datang ke rumah dan langsung ngasih ini. Nggak tau juga maksudnya apa, ia cuma bilang kalau mau tunangan," jawab Zuri dengan nada sedikit sedih.
"Hah? Kok bisa?" aku makin kaget, ternyata dugaan tadi salah. Kalau Damar mau tunangan, kenapa ia malah memberikan adikku hadiah? Aneh.
"Ya itu dia Kak, aneh juga sih. Harusnya hadiah ini buat tunangannya kan?"
Aku menarik tangan Zuri, kuperhatikan kilauan permata yang terpatri di cincin dan gelang. Kilauannya sama persis dengan pemberian Bram, yaitu berlian.
"Ini berlian lho. Baik sekali Damar mau memberikanmu berlian, padahal kalian belum jadian," aku makin kaget.
"Oiya? Beneran Kak ini berlian?!" Zuri antusias mendengar ucapanku, ia perhatikan lagi perhisaan itu lekat-lekat.
Aku mengangguk.
"Sebaiknya kamu simpan dan lupakan Damar itu. Kalau kamu mau berbaik hati, kembalikan pemberiannya, seharusnya itu diberikan untuk tunangannya,"
"Tapi Kak, aku sudah menolaknya, ia memaksa dan langsung memakaikannya ke tangan dan jariku," terlihat Zuri bingung.
"Nanti jika bertemu kembali, kamu kembalikan saja. Kalau ketauan Papa sama Mama, pasti heboh rumah kita ini. Kita berdua sudah diajarkan untuk tidak menerima pemberian dari siapapun tanpa alasan yang jelas," ujarku merasa sok bijak.
"Baik Kak. Baru aja aku pake, eh malah di buka," gerutu Zuri.
"Dengarin apa omongan Kakak Zuri, kamu nggak mau kan Papa sama Mama marah-marah?"
Zuri terdiam. Sekali lagi ia memperhatikan perhiasan tersebut, seakan ingin selalu memakainya.
__ADS_1
...****************...