
Mobil sudah sampai di rumah sakit. Bram memarkirkan mobilnya dan setelah itu kita berjalan ke ruang ICU.
Dari jauh terlihat Atif bergegas menghampiri Bram.
"Bos, Non," sapa Atif.
"Bagaimana kondisi Prita sekarang?" tanya Bram.
"Masih koma Bos," jawab Atif lirih.
Ada kecemasan dan ketakutan yang Atif rasakan, telihat jelas diwajahnya yang lesu dan bahasa tubuhnya yang gelisah. Kantung mata Atif terlihat sedikit bengkak, mungkin dari kemaren Atif begadang menunggu Prita siuman.
"Seharusnya kamu beritau saya dari kemaren," ucap Bram.
"Maaf Bos, saya panik dan takut mengganggu keadaan Bos di rumah sakit. Saya juga sibuk menemani Prita Bos, jadi pikiran saya tidak kemana-mana dan lupa segalanya," jawab Atif cemas.
"Ya sudah, lain kali jangan seperti ini lagi. Kita masuk ke dalam, ada yang mau saya tanyakan ke kamu," ujar Bram.
"Baik Bos, mari," ajak Atif.
Aku, Bram dan Atif berjalan masuk ke dalam. Kebetulan di depan pintu ruang ICU tersedia bangku panjang, disediakan untuk keluarga atau tamu yang ingin menunggu pasien.
"Atif, coba kamu ceritakan awal mulanya terjadi?" tanya Bram sambil duduk.
Aku dan Atif ikut duduk.
"Begini Bos, di tengah perjalanan saat melewati persimpangan, ada mobil truk yang menabrak mobil kita dari samping. Kebetulan yang kena adalah Prita. Untung pakai sabuk mengaman Bos, jadi Prita tidak terpental keluar," penjelasan Atif.
"Trus apa bilang dokter?" tanya Bram.
"Kena kepala Bos, kemungkinan Prita akan hilang ingatan," jawan Atif dengan tertunduk menahan kesedihan.
Deg! Separah itu! Ya Tuhan Prita, aku mohon kamu kuat dan lekas sembuh. Bertahan ya Prita. Aku berdoa dalam hati.
Bram diam sejenak.
"Terus bagaimana truk yang menabrak? Apa sudah diamankan polisi?" tanya Bram lagi.
"Truknya melarikan diri Bos tapi saya ingat nomor platnya," jawab Atif.
"Oke. Saya dan Zanu menunggu Prita di sini. Sekarang kamu coba cek nomot plat truk tersebut ke Polda. Saya akan hubungi Wakapolda," ujar Bram.
"Baik Bos,"
"Setelah kamu dapat siapa nama pemilik truk tersebut, kamu langsung selidiki. Bisa jadi ada motif pembunuhan berencana. Karena Prita sudah diincar sejak lama,"
"Siap Bos,"
"Sudah, kamu pergi sekarang,"
__ADS_1
Atif bergegas pergi. Tinggallah aku dan Bram.
"Zanu, kamu tunggu di sini. Aku mau menemui Dokter yang menangani Prita," ujar Bram.
"Oke Kak, jangan lama-lama ya. Aku takut sendirian di sini,"
"Cuma sebentar. Tunggu ya,"
"Baik,"
Bram pergi berjalan ke ruang sebelah. Mungkin di sana ruang dokter dan perawatnya.
Sepertinya cerita Prita makin rumit. Baru saja aku keluar dari rumah sakit menemani Bram, sekarang baru masuk kuliah aku menemani Prita.
Jika benar Prita akan hilang ingatannya, bagaimana nasibnya ke depan? Apa Prita berhenti kuliah? Atau di bawa keluarganya ke Amerika?
Aku ikut bingung memikirkannya. Kasian Prita, semoga ada jalan keluarnya.
********
Hampir satu jam aku menunggu Bram di sini, sosok yang kutunggu belum juga muncul. Rasa kantuk mulai menyergapku dan tanpa kusadari aku tidur di kursi.
Aku tidak bisa menahan posisi kepalaku untuk berdiri tegak. Tubuhku mulai roboh ke samping. Dengan sigap Bram menahan tubuhku.
"Ngantuk sayang? Maaf aku kelamaan," ujar Bram.
"Apa keterangan Dokter Kak?" tanyaku langsung to the point.
Aku masih menahan kantuk.
"Yang dikatakan Atif itu benar, jika Prita siuman dan bisa melewati koma, dia akan kehilangan ingatannya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa sembuh. Kemungkinan ingatan Prita bisa kembali lagi, tergantung support keluarga untuk membawa kenangan lamanya. Agar Prita bisa mengingat kembali tentang kehidupan yang sudah dia lewati," penjelasan Bram.
"Ya Tuhan, kasihan sekali Prita. Kalau begitu Prita nggak bisa kuliah lagi Kak?" tanyaku.
"Iya. Prita terpaksa menunda kuliahnya. Dan untuk bisa mengembalikan ingatannya, Prita harus di bawa ke Amerika. Tadi aku sudah hubungi Pakgub," jawab Bram.
"Apa tanggapannya?" tanyaku penasaran.
Perlahan rasa kantukku mulai hilang.
"Pakgub mau diskusi dulu dengan orang tua Prita. Apakah akan di bawa ke Amerika atau tetap di sini. Situasinya sangat berbahaya, besok aku akan diskusi dengan Pakgub di rumah dinasnya,"
"Semoga ada jalan keluarnya ya Kak. Apa Kakak tidak bisa bantu Prita?" tanyaku lagi.
"InsyaAllah bisa. Aku juga sudah menyelidiki siapa saja di balik ini. Sudah beberapa info yang kudapatkan dari Amerika. Karena Prita belum sempat cerita secara keseluruhan, aku akan tanyakan langsung ke Pakgub,"
"Kalau urusan begituan aku tidak paham Kak. Persaingan ini itu dalam bisnis, dalam hidupku baru kali ini mendengarnya. Bahkan sampai mempertaruhkan nyawa sekeluarga. Bukan hanya di film saja, tapi dunia nyata ternyata juga ada," ujarku.
"Itu baru tentang Prita, kamu belum tau bukan tentang aku? Tapi sebaiknya kamu jangan tau, cukup saja kamu kosentrasi kuliah selama di sini. Gapai cita-citamu dulu," nasehat Bram.
__ADS_1
"Iya Kak..," jawabku singkat.
"Kamu nggak ngantuk lagi ya? Tidur di sini, biar aku yang jagain sambil menunggu Atif balik ke sini," ujar Bram sambil menepuk pahanya, sebagai tempat alas kepalaku.
"Sebenarnya aku ngantuk dan lapar Kak. Kita belum makan siang,"
"Oiya, bagaimana kalau kita ke kantin terdekat rumah sakit ini?" tanya Bram.
"Nggak apa-apa. Yok Kak kita makan, aku lapar," rengekku.
"Ayok, sini aku pegangin kamu. Entar jatuh," tawar Bram.
"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri," tolakku.
"Ya sudah,"
Aku dan Bram berjalan keluar dari ruang ICU. Kita berjalan ke arah belakang rumah sakit dan sempat tanyakan ke perawat mengenai lokasi kantin.
Ternyata memang kantin terletak di belakang rumah sakit ini. Akhirnya kita sampai di kantin. Suasana kantin tidak begitu ramai, karena waktu sudah jelang sore.
Aku dan Bram mengambil posisi paling sudut. Ada banyak menu yang bisa kita pilih. Kita berdua memesan nasi goreng dan minuman es jeruk.
Tidak berapa lama pesanan kita datang. Tak sabar rasanya aku menahan lapar, dengan lahap aku langsung makan. Bram tersenyum melihat tingkahku.
"Pelan-pelan sayang makannya, nanti keselek," ujar Bram.
"Lapar banget Kak, keroncongan dari tadi,"
"Ya sudah, nikmati saja makannya. Maaf ya, kita jadi telat makan,"
"Tidak apa-apa Kak, situasi saat ini memang tidak memungkinkan. Jadi aku maklum,"
Aku dan Bram mulai menikmati makan. Sedang asik makan, tiba-tiba kita dikagetkan dengan kehadiran seorang dokter.
"Pak Bram, maaf saya mengganggu makannya," ujar dokter tersebut dengan sopan.
"Iya Dok, tidak apa-apa. Tau dari mana saya ada di sini Dok?" tanya Bram sedikit heran.
"Tadi saya sempat tanya perawat dan orang-orang yang lewat arah sini. Maaf Pak Bram, saya mau menyampaikan pesan Dokter Cahyo, kalau pasien yang bernama Prita sudah melewati koma dan sudah siuman. Saya ditugaskan untuk membawa Pak Bram untuk melihat kondisi pasien sekarang juga,"
"Hah?! Alhamdulillah.., baik Dok saya akan segera ke sana,"
"Saya duluan ya Pak,"
"Silahkan,"
Aku kaget dan ucap syukur mendengar penjelasan dokter barusan. Ternyata benar, keajaiban itu pasti ada. Aku tidak sabar ingin melihat Prita.
...****************...
__ADS_1