Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 134 : Berita Di Televisi


__ADS_3

"Lho? Bukannya itu Lutfa?" ujar Rani, ia kaget melihat isi berita yang memuat tentang kejahatan yang dilakukan Lutfa, temannya satu jurusan yaitu teknik sipil.


"Kamu tau? Dia siapa?" tanya Kak Kinan, ia beranjak membesarkan volume televisi.


"Dia teman satu jurusanku Kak, adiknya Sari. Itu yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya Ketua kita," penjelasan Rani.


"Oh! Dia! Kita semua tau itu si Sari, heboh benar ceritanya. Tapi semenjak Ketua ketemu Zanu, beritanya jadi hening. Apalagi Sari mengalami kecelakaan kemaren, sudah hilang berita tentangnya. Tapi kenapa adiknya jadi tersangka ya?" ujar Kak Siska.


"Sstt! Kita simak dulu apa isi beritanya," Kak Kinan duduk di depan televisi dengan sangat serius.


Aku hanya diam memperhatikan berita tersebut, karena target Lutfa adalah aku sendiri.


Cepat sekali Bram mengurusnya. Tapi kenapa tidak disebutkan ya kalau aku korban dari rencana pembunuhan Lutfa? Apa untuk menghindari sesuatu atau untuk menjaga nama baik kampus? Entahlah.


"Kenapa tidak ada penjelasan secara rinci ya? Siapa korbannya?" celetuk Kak Rosi.


"Mungkin untuk menjaga privasi si korban atau sengaja ditutupi untuk sesuatu hal," jawab Kak Kinan.


"Apa alasan dia untuk membunuh seseorang? Ada-ada saja si Lutfa, padahal kondisinya sudah seperti itu. Bukannya mikir sembuh, aneh memang beradik kakak itu," ujar Rani.


"Nambah lagi tugas Ketua. Udah ah, mau magrib, saatnya kita bubar," ajak Kak Siska.


"Entar dulu, lagi seru nih beritanya," celetuk Kak Kinan.


"Oiya, ngomong-ngomong Kak Kinan sama Kak Rosi tidak menyusun skripsi ya tahun ini?" Kak Siska duduk kembali di dekat Kak Kinan.


Aku sedari tadi hanya memperhatikan pembicaraan mereka. Baru kusadari kalau Kak Kinan dan Kak Rosi satu angkatan dengan Bram, seharusnya mereka juga ikut sidang besok, jika sudah mengajukan skripsi.


"Kakak tahun depan saja, biar lama ngumpul sama kalian di sini, ha..ha..," ujar Kak Rosi sambil tertawa.


"Kalau Kakak belum bisa kosentrasi, takutnya blunder dan tidak di terima skripsinya," jawab Kak Kinan.


"Ketua kita besok sidang," Kak Siska melirikku.


"Hemm! Kalau Ketua jangan ditanyalah. Ketua menguasai semuanya, selain pintar, dia juga mengenal semua dosen di kampus kita. Ya wajar, cepat mengajukan skripsi, cepat pula sidang," ujar Kak Rosi.


"Lihat Kak, Lutfa akan di penjara lima tahun," Rani menunjuk televisi dengan expresi kaget.


"Hah?! Lama amat!" Kak Siska kaget.

__ADS_1


"Paling juga nanti dia banding, lihat kondisinya seperti itu, masih memakai kursi roda. Pasti orang tuanya mengusahakan untuk keringanan hukumannya,"


"Beritanya juga bakal berhenti sampai di sini, pasti Rektor kita tidak ingin berita ini di up terus, demi reputasi kampus. Udah dulu ya, Kakak ke kamar," ujar Kak Rosi sambil berlalu menuju ke kamarnya.


"Kak, aku juga mau ke kamar, mau bersiap-siap. Jangan lupa nanti tolong bukain pintu ya Kak," ujarku ke Kak Siska.


"Oke Zanu, have fun ya,"


Aku tersenyum dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke lantai atas. Sedangkan yang lainnya masih serius menonton berita tentang Lutfa.


Apakah nanti namaku akan terseret ya dengan berita itu? Aku tidak mau jika nanti ikut sebagai saksi atau diwawancara dan masuk dalam berita di televisi. Pasti orang tuaku kaget mendengar anaknya dinyatakan sebagai korban pembunuhan atau sebagai saksi. Nanti aku tanyakan ke Bram, bagaimana kelanjutan kasus tersebut.


********


Setelah sholat magrib, aku bersiap-siap berdandan dan mengganti bajuku yang modelnya feminim. Setelah siap, aku turun ke bawah dan duduk di ruang tamu. Tidak terlihat lagi teman-teman kost, mungkin mereka masih berada di kamar masing-masing. Hanya ada Bibi di dapur yang sedang merapikan meja makan dan menyusun catering untuk makan malam penghuni kost.


Seketika, terdengar deru mobil masuk ke halaman parkir kost. Aku membuka pintu ruang tamu dan melihat Bram sedang turun dari mobilnya.


Ia tersenyum melihatku.


"Kamu cantik sekali Zanu, lebih terlihat feminim," puji Bram.


"Pake dong berlian yang aku berikan," ujar Bram.


Aku sudah menyiapkan set berlian itu di dalam tas. Aku ambil dan dibantu Bram untuk memasangkannya.


"Nah, makin cantik dan bersinar. Sudah siap sayang? Ayo kita pergi," ajak Bram, ia ingin menggandeng tanganku untuk keluar.


"Sebentar Kak, aku pamit dulu sama Bibi, biar sekalian Bibi kunci pintunya," aku melangkah ke dapur menemui Bibi.


Setelah pamit, Bibi menyusulku dari belakang dan langsung mengunci pintu.


"Hati-hati ya Non," ujar Bibi sebelum menutup pintu.


"Saya bawa Zanu dulu ya Bi," ujar Bram.


"Iya," jawab Bibi singkat. Lalu pintu di tutup dan dikunci.


Aku dan Bram menaiki mobil dan langsung pergi menuju ke rumah Bram.

__ADS_1


*********


"Kak, orang tua Kakak kapan sampai?" tanyaku.


"Tadi sore, sekitar jam empat," jawab Bram sambil kosentrasi menyetir.


"Hhmm, nanti bagaimana ya Kak? Aku masih takut dan grogi. Bingung nanti mau bilang apa, jawab apa," aku mulai gelisah memikirkannya.


"Jangan khawatir sayang, kan ada aku. Nanti apa yang ditanya, itu saja yang kamu jawab,"


"Iya, tapi...," aku ragu dan berusaha tenang.


"Sudahlah, percayalah kepadaku. Itu hanya perasaan kamu saja, karena baru pertama kalinya bertemu dengan orang tuaku. Jadi wajarlah kamu grogi, nanti juga lama-lama kamu terbiasa," Bram meyakinkanku dengan mengelus tanganku.


Aku diam sejenak. Dan tiba-tiba terlintas tentang berita Lutfa tadi, ini kesempatanku untuk bertanya ke Bram.


"Kak, tadi Lutfa masuk berita di televisi. Apakah nanti namaku akan terseret dalam tindakan kejahatannya?" tanyaku mulai fokus.


"Oiya? Cepat sekali beritanya tersiar. Tidak Zanu, aku yang membuat laporannya, jadi semua jadi tanggung jawabku. Tidak akan ada namamu dalam kasus tersebut," ternyata Bram sudah mengatur semuanya.


"Kenapa bisa seperti itu Kak? Bukannya target pembunuhan itu adalah aku?" aku masih penasaran.


"Iya. Tapi laporannya aku tujukan ke bodyguardnya Lutfa yang menyerangku kemaren. Dan mereka mengakui kalau semua itu atas perintah Lutfa dengan targetnya adalah kamu. Jadi otomatis, Lutfa juga ikut terseret dalam kasus ini. Aku juga meminta bantuan Paman untuk tidak ada sedikitpun sangkut pautnya namamu dalam kasus tersebut," penjelasan Bram.


Aku baru ingat, Pamannya Bram adalah Kapolri. Jadi gampang urusannya di atur seperti itu. Tapi kenapa Bram mau melakukan itu semua?


"Kenapa tidak dimasukkan namaku Kak?"


"Zanu, besok aku berangkat. Aku tidak mau meninggalkan masalah untukmu, aku ingin kamu menjalani waktu dengan tenang dan aman. Jika namamu masuk di dalam kasus tersebut, kamu tidak akan tenang menjalani waktu selama kuliah. Belum lagi nanti kamu menjalani sidang ini itu dan hal lainnya. Aku ingin kamu mengenangku dengan hal-hal yang baik dan tidak memiliki masalah. Karena selama aku hadir, kamu sudah mendapatkan masalah," jawab Bram panjang lebar.


"Terima kasih Kak sudah membantuku selama ini,"


"Iya Zanu. Harusnya aku yang berterima kasih, karena hadirmu dalam hidupku bisa merubah cara pandangku tentang suatu hubungan,"


Lalu aku dan Bram terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Gerbang pagar rumah Bram sudah mulai terlihat, mobil belok kiri dan berhenti sejenak untuk melapor ke penjaga yang berada di pintu gerbang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2