Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 60 : Ciuman Pertama


__ADS_3

Yup! Pria itu adalah orang yang mengetuk pintu ruang ganti pakaian, saat aku bersama Prita belanja di toko kemaren.


Pria yang membututi Prita.


Tapi kenapa dia ada di sini? Kan tidak ada hubungannya dengan Bram? Pria itu hanya mencari Prita.


"Zanu, kamu ingat bukan siapa pria ini?" tanya Bram sambil menggenggam tanganku kembali.


Aku mengangguk.


"Iya Kak, aku ingat. Tapi kenapa dia ada di sini?" tanyaku balik kearah Bram.


"Nanti kamu juga akan tau," jawab Bram singkat.


Bram langsung memberi kode ke Atif untuk mundur beberapa langkah untuk berjaga jarak dengan pria tersebut.


"Hei kamu! Masih ingat bukan, saat kamu ketuk pintu kamar ganti pakaian kemaren di salah satu toko di pasar?" tanya Bram dengan suara tegasnya.


"Ingat Bos," jawab pria itu singkat.


"Kamu lancang sekali melihat semua perempuan yang ada di kamar ganti itu! Dan kamu tau, salah satu dari mereka adalah calon istriku! Seenaknya kamu melihat calonku yang sedang ganti baju!!" bentak Bram.


Terlihat Bram mulai marah. Dan genggaman tangannya semakin erat. Aku hanya diam karena masih kaget dengan keadaan hari ini.


"Maaf Bos, saya tidak tau. Mohon maafkan saya Bos, tolong lepasin saya," jawab pria tersebut sambil memelas tak berdaya dan masih dengan wajah tertunduk.


"Tidak bisa! Tidak semudah itu kalau kamu berurusan denganku! Sekarang juga kamu harus minta maaf ke calonku yang ada di depanmu!" bentak Bram.


Pria itu kaget. Dia hendak mengangkat kepala untuk melihatku.


"Jangan angkat kepalamu! Jangan lagi kamu melihatnya, cukup satu kali dalam hidupmu!" bentak Bram lagi dengan wajah garang.


Aduh Kak, apa tidak terlalu lebay? Sampai segitunya? Aku semakin tidak mengerti, kenapa Bram terlihat begitu geram dan marah dengan pria ini? Bram terlihat seperti Bos mafia. Atau memang Bram benar-benar Bos mafia?


Pria itu mulai ketakutan, entah apa sebabnya.


"Mbk, maafkan saya waktu itu. Tolong maafkan saya, bantu saya mbk. Saya memohon mbk, ampuni saya. Tolong bilang sama Bos, lepaskan saya mbk," rengek pria tersebut dan diiringi dengan gelagat yang seakan takut akan sesuatu hal.


"Baik, saya sudah memaafkan anda," jawabku singkat.


"Kak, tolong maafkan dia. Aku sudah memaafkannya," bisikku ke telinga Bram.


Bram mendelik heran melihatku. Tapi kulihat Bram langsung tersenyum sinis ke arah pria tersebut.


"Aku tau kalau kamu pasti akan dimaafkan oleh calonku! Tapi tidak dari perempuan-perempuan di luar sana!" bentak Bram geram.


"Kak, jangan seperti itu. Kondisi Kakak masih lemah. Bisa nggak sih normal-normal saja ngomongnya? Aku tidak suka lihat expresi Kakak yang menyeramkan. Aku pulang sajalah," ujarku mulai jengkel dengan sikap Bram yang sedari tadi emosian.


"Atif! Bawa dia dari sini. Masukkan sementara ke posko dua, sampai perintahku dicabut!" ucap Bram masih dengan wajah garangnya.

__ADS_1


"Oke Bos," jawab Atif singkat.


Atif mengangkat pria tersebut.


"Bos, tolong jangan hukum saya. Biarkan saya hidup. Mbk, tolong bilang sama Bos, saya mohon," teriak pria tersebut sambil memelas.


Bram langsung menggapai dan memutar bahuku. Lalu Bram menarikku secepatnya dan memelukku sehingga wajahku seketika berada diatas dada Bram.


Deg! Aku terkejut, jengkel dan mulai salah tingkah. Reflek aku memukul-mukul dada Bram dan berusaha untuk melepaskan tubuhku dari dekapan Bram.


"Tutup gordennya!" perintah Bram entah ke siapa.


Breettt...! Breet...!


Terdengar suara gorden sudah ditutup.


"Bos.., Tolong Bos lepaskan saya. Mbk.. Mbk...,"


Sayup-sayup masih terdengar suara pria tadi, makin lama makin jauh dan akhirnya ruangan ini jadi hening.


Bram diam sejenak. Pelan-pelan Bram merenggangkan dekapannya dan lepas. Aku bergeser dari Bram dan ikut diam.


Bram mengamatiku dan terlihat wajahnya berubah jadi syahdu.


"Maaf Zanu, barusan orang tadi mau mengangkat wajahnya untuk melihatmu. Jadi aku tutup wajahmu dan juga gordennya," ujar Bram sambil membelai pipi kananku.


"Kalau kita bicara dulu, keburu dia lihat kamu lagi. Aku tidak mau, cukup sekali saja orang itu lihat saat di ruang ganti. Waktu itu kamu hanya memakai singlet saja bukan? Aku tidak terima. Aku sendiri saja belum pernah lihat, masa' orang lain sudah," lirik Bram ke arahku.


"Apaan sih. Jangan mulai lagi deh," ujarku sambil membalikkan badan, membelakangi Bram.


Aku tau Bram mulai menggodaku lagi. Tapi suasananya tidak baik karena diruangan ini hanya ada aku dan Bram. Bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Zanu, tidak boleh membelakangiku seperti itu. Kan udah minta maaf. Orang tadi saja kamu maafkan, masa' aku tidak," ujar Bram tegas.


Perlahan aku membalikkan lagi tubuhku menghadap Bram, tapi aku langsung tertunduk malu.


Lagi, Bram mengangkat daguku. Dia menatap mataku nanar dan dalam. Wajah Bram mulai mendekatiku.


"Sayang, maaf kalau aku terlalu berlebihan terhadapmu dari awal kita bertemu. Tapi ketahuilah, aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bisa lepas dari hal-hal yang mengganggumu. Aku memang begini orangnya. Sungguh, aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu. Dan aku tidak ingin gila memikirkan perasaan ini," ujar Bram lembut.


Tiba-tiba Bram mengecup bibirku dengan pelan dan lembut. Aku terpaku diam dan suasana tiba-tiba menjadi hening.


Kulihat tatapan mata Bram yang syahdu dan kurasakan ada getar cinta yang sangat besar di sana. Perlahan Bram melepaskan kecupannya dan menjauhi wajahnya dari wajahku.


"Maaf kan Aku, sudah lancang. Aku tidak bisa menghindari perasaanku sendiri. Aku selalu berharap dan berdo'a semoga kamu adalah jodohku. Please, menikahlah nanti denganku Zanu," ujar Bram sambil menunduk.


Dan aku masih terdiam. Seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


Aku di cium Bram? Ciuman pertamaku direnggut Bram? Seharusnya hanya suamiku saja yang boleh menyentuh bibirku ini.

__ADS_1


Haruskah aku menangis? Atau bahagia? Atau melupakan ini, seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Entahlah...


"Maafkan aku jika tindakanku barusan membuatmu marah atau sedih. Aku tau, pasti kamu tidak menerimanya. Yakinlah, suatu hari nanti aku akan menikahimu," ujar Bram sambil mengangkat wajahnya dan melihatku.


"Sudahlah Kak, lupakan saja yang barusan. Bolehkah aku bertanya, Kakak tau dari mana pria tadi mengedor kamar ganti saat ada aku di sana?" tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan Bram barusan.


"Zanu, tanpa kamu sadari selama ini, aku sudah menugaskan orang untuk memantaumu baik dari dekat maupun dari jauh. Jadi apapun yang kamu lakukan, aku jadi tau," jawab Bram.


"Jadi selama ini Kakak sudah memata-mataiku?" ujarku sekaligus kaget dengan perkataan Bram barusan.


"Bukan begitu Zanu. Sebenarnya dari awal adalah kesalahanku. Karena sudah membawamu ke dalam duniaku. Banyak di luar sana yang ingin menjatuhkan aku sekaligus bisnis keluarga di Amerika. Banyak cara yang ingin mereka lakukan. Jadi, karena sekarang kamu sudah jadi bagian hidupku, mereka cepat atau lambat akan tau tentangmu. Maka dari itu, aku harus menempatkan beberapa anggota untuk memantau dari jauh. Maafkan aku, kamu jadi terseret dalam hal ini," jawab Bram dengan wajah bersalahnya.


Aku diam lagi. Ya Tuhan, ada apa lagi ini. Kenapa bertubi-tubi informasi yang aku dapatkan semenjak aku dekat dengan Bram? Kenapa harus aku yang mengalami ini?


"Trus, orang tadi mau Kakak apakan?" tanyaku penasaran.


"Nanti dia akan aku serahkan ke Paman. Zanu, pria tadi adalah pembunuh bayaran dan sudah banyak melecehkan banyak perempuan. Biasanya dia melakukan aksi di kota-kota besar pulau Jawa. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia beraksi ke pulau Sumatera ini. Dan itu terjadi untuk pertama kalinya, dia beraksi saat kamu berada di toko. Aku tidak mau dia melihatmu lagi. Aku tidak tau apa yang dia cari di sini, pasti ada sesuatu. Dan aku pastikan dia akan di hukum mati," jawab Bram dengan nada yang mulai geram.


Ha! Pembunuh bayaran? Pelecehan? Berita apa lagi ini, sepertinya otakku mulai konslet. Pantasan Bram sangat-sangat marah dengan orang tadi.


Zanu! Get up! Ini dunia Bram dan hidup Bram. Jika kamu benar-benar mencintai Bram, kamu harus menjalani ini. Dan harus tau resiko yang kamu tanggung ke depannya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Dan ada beberapa pasang sepatu yang berbunyi, berjalan menuju ke arah aku dan Bram.


"Ehmm...! Maaf Bos mengganggu. Ada tiga orang Dokter yang ingin memeriksa kondisi Bos sekarang," ujar suara Atif yang kukenal.


"Iya silahkan. Tolong buka gordennya dulu," ujar Bram.


Aduh! Bagaimana ini?


Aku mulai panik, karena merasakan malu yang teramat sangat. Mereka akan melihatku yang sedang berduaan dengan Bram!! OMG!


Bram seakan tau dengan kegelisahanku. Bram langsung menggenggam tanganku.


"Sayang, tenang. Tidak akan terjadi apa-apa dan mereka tidak akan usil. Tidak akan berani bicara apapun tentangmu, percayalah," ujar Bram meyakinkanku.


Aku diam tapi terasa keringatku mulai menetes. Aku tidak bisa tenang kalau kondisinya seperti ini.


Breett...! Breeett...!


Terdengar suara gorden di buka oleh Atif. Dan jreng!!


Tidak ada lagi pembatas yang menghalangi. Aku melihat ada tiga dokter dan empat perawat. Serta ada Atif dan dua lagi bodyguard Bram. Betapa ramainya yang ingin memeriksa Bram.


Semua mata tertuju ke Bram dan aku. Atif maju ke depan dan berdiri di pinggir ranjang Bram. Kuperhatikan dokter tersebut satu persatu. Sepertinya aku mengenali salah satunya. Dan dia juga memperhatikanku dari tadi.


Ya Tuhan, ternyata dia!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2