
Minuman dan cemilan sudah siap.
Aku dan Prita membawa baki masing-masing yang berisi minuman dan cemilan serta gelas.
Di ruang tamu, kita meletakkan bawaan di atas meja dan menyusunnya. Terlihat Bram dan Gilang masih bicara serius dan sekali-kali di selingi tawa.
"Masa' kamu tidak tau siapa ketua BEM kita?" tanya Bram ke Gilang.
"Memang aku tidak tau. Awal kuliah aku tidak ikut ospek dan kuliahku terlalu sibuk untuk di jalani, belum lagi pekerjaan di luar itu. Yah, wajarlah aku tidak tau Bram," jawab Gilang.
"Ya sudah, nanti kamu juga bakal tau,"
Tiba-tiba Sacia nongol dan kaget dengan pernyataan kakaknya Gilang.
"Lho, Abang beneran tidak tau ketua BEM kita siapa?" tanya Sacia.
Gilang menggeleng dan heran dengan sikap adiknya.
"Bang, ketua BEM kita ada tepat di depan Abang sendiri. Aduh! Bikin malu aja Abang ih..," Sacia senyum-senyum sambil ngasih kode lewat mulutnya.
Gilang kaget! Dan seakan tidak percaya plus nggak enak hati. Gilang senyum melihat Bram.
"Aduh..., maaf Bram, aku sama sekali tidak tau lho," ujar Gilang merasa bersalah.
Bram tersenyum.
"Tidak apa-apa Gilang, itu sudah biasa. Nanti kalau ada urusan apa, kamu bisa hubungi aku," jawab Bram.
Kita yang ada di sana semua ikut tersenyum.
"Oiya, mari di minum sirupnya. Keburu cair dan jadi hambar," ujarku mempersilahkan Bram, Gilang dan Sacia.
Bram dan Gilang mulai mengambil minuman yang sudah di sediakan di atas meja.
"Zanu, bagaimana novel yang aku recomanded kemaren? Jadi kamu pinjam?" tanya Gilang tiba-tiba.
Deg! Kenapa ni orang malah tanya tentang novel? Aduh...! Bram pasti kaget, kenapa Gilang malah tau tentang novel yang ingin aku pinjam. Alamak!
Kulihat raut wajah Bram yang mulai berubah. Terlihat kalau Bram pasti menginginkan jawabannya dengan segera.
"Eh, eh jadi. Karena penasaran sama ceritanya," jawabku sedikit terbata-bata.
"Sudah sampai bab berapa?" tanya Gilang lagi.
Kacau! Kenapa dia nanya lagi? Hadeh! Pasti Bram bakal selidiki ini sampai tuntas.
__ADS_1
"Baru bab tiga," jawabku singkat.
Gilang mengangguk-angguk. Tiba-tiba Bram berdiri.
"Oiya, maaf aku harus cepat balik. Ada keperluan mendadak," ujar Bram dengan expresi sedikit kesal.
Aku dan semua di ruang itu kaget dengan sikap dan ucapan Bram. Aku tau, pasti Bram cemburu dan tidak menerima Gilang kalau tau tentang aku.
Ya Tuhan, kenapa malah jadi gini ceritanya?
"Kenapa cepat sekali baliknya Kak?" tanyaku cepat.
"Tidak apa-apa, besok kan bisa ke sini lagi," jawab Bram.
Kulihat mimik wajahnya tidak mengatakan hal demikian.
"Oke semuanya. Saya balik dulu," ujar Bram dan langsung melangkahkan kaki keluar ruangan.
Aku tak mau tinggal diam, langsung mengikuti langkah Bram dari belakang.
"Kak, ada apa? Apa aku ada yang salah?" tanyaku setelah kita berada di dekat mobilnya Bram.
Bram menoleh dan senyum menyeringai, seakan suasana hatinya mengatakan sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan bohongi aku Kak, aku tau. Kakak tidak suka saat Gilang bertanya tentang novel ke aku kan? Seolah-olah dia sudah mengenalku," ujarku mulai sedikit emosi.
Bram diam tanpa expresi. Tapi terlihat jelas jika di sorot mata Bram mengatakan kalau dia butuh penjelasan.
"Aku ketemu dia pertama kali saat tidak sengaja dia menabrakku di depan toilet. Sorenya ketemu lagi di tempat penyewaan novel, sebelum aku menelepon Kakak kemaren. Dia memang sempat menanyakan namaku, tapi tidak aku gubris. Trus yang ketiga kalinya tadi saat pulang kuliah, adiknya yang meminta aku dan Prita untuk ikut karena sekalian ke kost. Itu ceritanya Kak," penjelasanku panjang kali lebar.
"Oiya, perihal novel, dia merekomendasikan novel yang saat itu tak sengaja jatuh dari tanganku. Karena dia bilang cerita novelnya menarik, aku penasaran dan langsung meminjam novel tersebut,"
Bram masih diam, hanya saja kali ini expresinya mulai sendu.
"Kakak kenapa diam saja dari tadi? Aku sudah panjang menjelaskannya. Kalau sekiranya Kakak cemburu atau tidak suka dengan si Gilang itu, itu sama saja Kakak tidak mempercayaiku selama ini!!" aku sedikit teriak karena hatiku mulai terasa kesal.
Aku membalikkan tubuhku hendak masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba Bram memelukku dari belakang.
"Maaf, aku terlalu cemburu. Aku tidak tau dengan perasaanku sendiri yang terlalu mengekangmu. Aku hanya takut kamu berpaling dariku," ujar Bram dengan suara yang mulai lembut.
Aku membalikkan tubuhku ke arah Bram dan Bram reflek melepaskan pelukannya.
"Iya Kak, aku tau. Tapi kan Kakak tidak bisa bersikap seperti ini, harusnya tanya dulu. Bukannya main pergi saja atau menelan mentah-mentah apa yang Kakak lihat dan Kakak dengar," jawabku tegas.
"Trus sekarang apa yang bisa menebus ke salahanku?" tanya Bram dengan perasaan bersalahnya.
__ADS_1
Aku diam beberapa menit.
"Hmmm..., sore ini bawa aku ke pinggir laut, aku mau lihat sunset dan makan jagung bakar di pantai," jawabku sambil tersenyum.
Aku tidak mau masalah ini berlarut. Dan Bram juga sudah mengakui kesalahannya. Semoga ada perubahan dari sikap Bram untuk lebih dewasa lagi dan lebih bijak lagi menghadapi masalah.
Bram mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah kalau cuma itu maumu. Tapi itu bearti kamu sudah memaafkan aku kan?" tanya Bram lagi.
"Yah..., aku sudah maafkan. Tapi tolong kali ini jangan selalu Kakak minta maaf dengan perihal sepele. Biasakan tanya dulu masalahnya apa, jangan seenaknya ambil tindakan. Ingat ya, aku tidak mau melihat amarah Kakak yang tidak jelas masalahnya apa," jawabku.
"Baik. Ini gimana? Apa mau berangkatnya sekarang, mumpung masih Ashar,"
"Kita pamit dululah sama mereka yang ada di dalam. Masa' aku main nyelonong aja perginya? Entar dikirain aku di culik, ha..ha..ha...," aku tertawa.
Bram juga ikut tertawa.
"Ayoklah kalau gitu," ajak Bram.
Aku dan Bram masuk ke dalam lagi. Terlihat mereka sedang mengobrol. Dan ternyata di sana sudah ada Kakak Siska dan Rani.
Mereka semua kaget dengan masuknya lagi aku bersama Bram. Siska dan Rani lebih kaget lagi, mungkin yang datang adalah Ketua idola mereka sendiri, hi..hi..hi..
"Kak Siska, aku sama Ketua izin keluar sebentar. Mau ke pantai lihat sunset," ujarku ke arah Kak Siska.
Kak Siska bengong dan terlihat bingung.
"Siska, Zanu saya bawa sebentar. Nanti pulang saya antar lagi ke sini," ujar Bram.
"Eh, eh iya Ketua, silahkan. Boleh.. Boleh kok," jawab Kak Siska kelabakan.
"Oke Kak, nanti pulangnya kita tidak terlalu malam kok. Tolong nanti bukain pintu," ucapku.
Kak Siska mengangguk. Kulihat Gilang sedikit gelisah, dia sekali-kali melihat ke arahku. Dan ternyata! Bram juga sekali-kali melihat tingkah Gilang yang melihatku.
Ini gimana konsepnya?!
"Semuanya, kita pergi dulu ya," ujarku sambil keluar menuju pintu.
Bram mengikutiku dari belakang, tanpa bicara lagi. Terlihat Bram mulai tidak menyukai si Gilang.
Ada-ada saja mereka berdua ini. Baru saja ketemu, eh malah jadi ngaco.
...****************...
__ADS_1