
Sampai di rumah.
"Tunggu bentar Bang, aku ambil plastik dulu buat rambutannya," ujarku.
"Iya Zanu, karungnya biar Abang angkat ke teras," jawab Bayu sambil membuka bagasi mobilku. Terlihat ia langsung membawa karung.
Setelah mendapatkan plastik, aku keluar. Kubuka karung dan mengambil rambutan. Setelah isi dalam plastik penuh, kusodorkan ke Bayu.
"Waduh! Kebanyakan ini Zanu, paling Abang sendiri yang makan,"
"Memangnya Abang nggak punya teman? Atau tetangga? Kan bisa dibagikan. Lagipula rambutan ini juga sudah banyak, kalau kurang bisa aku beli lagi,"
"Teman ada sih, cuma ya mereka kurang suka rambutan. Paling mantan Abang itu, dia suka. Opsst!" Bayu kaget dengan pernyataannya sendiri.
"Nah lho? Abang masih ingat mantannya. Balik aja Bang kalau masih cinta. Kalau sudah diambil orang, entar nyesal lho..,"
"Gimana ya.. Balik itu mudah, tapi apa dia masih mau menerima. Lagipula dia sudah selingkuh Zanu, pasti Abang bukanlah lelaki yang diharapkan," jawab Bayu. Terlihat raut wajahnya yang sendu, seakan sedang mengingat kembali kenangan bersama mantannya.
"Sudahlah Bang. Cari saja perempuan yang lain, masih banyak kok diluar sana, yang bisa menghargai dan setia sama Abang. Entar kalau memang jodohnya mantan Abang itu pasti balik lagi," aku berusaha menghiburnya.
"Coba ya Abang punya pacarnya seperti Zanu. Udahlah cantik, baik dan setia pula. Andaikan...," Bayu menghentikan kalimatnya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh Bang. Ingat, aku sudah ada yang punya," gurauku.
"Eh iya.., Nggak bakalan ada yang bisa merebut hati kamu Zanu kalau saingannya pacar kamu itu. Siapa sih namanya? Cowok kamu itu punya segalanya, ditambah lagi dia melindungi kamu sedemikian rupa. Abang cuma becanda aja tadi, jangan masukin ke hati," jawab Bayu sambil celingak-celinguk ke sana kemari, seakan takut akan sesuatu.
"Nyari apa Bang?" celetukku.
"Eh.. Eh, nggak ada. Eh tapi, bodyguard kamu lagi nggak ada kan? Abang takut nanti kena dor, karena bicara seperti tadi," Bayu masih terlihat takut.
"Ha..ha..ha.., takut amat Bang. Oiya, kira-kira berapa pertemuan lagi privatku selesai Bang? Aku sudah tidak sabar lagi untuk membawa mobil itu jalan ke kampus,"
"Paling dua pertemuan lagilah. Kamu sudah mulai mahir, hanya saja dalam posisi ngebut. Yang tersulit dalam menyetir itu adalah menyetir dengan pelan. Itu yang harus kamu pelajari Zanu kedepannya. Sudah dulu ya Zanu, Abang pulang dulu. Nanti ada jadwal ngajar orang nyetir. Terima kasih rambutannya," jawab Bayu. Ia berdiri sambil mengambil plastik berisikan rambutan.
Aku mengantarkannya ke depan pagar. Bayu menghampiri mobilnya dan sesaat kemudian mobilnya melaju pergi.
Aku menghampiri mobil dan menghidupkan mesin. Dengan pelan, mobil kuarahkan ke dalam garasi. Berulang kali aku berusaha memasukkan mobil, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya mobil diparkirkan saja depan pagar dan garasi rumah aku tutup kembali.
Aku menyeret karung rambutan ke dalam rumah.
"Zuri! Kesini dong," aku memanggilnya dari bawah tangga.
"Iya..!"
Tidak lama kemudian, Zuri turun tergopoh-gopoh menuruni tangga.
"Ada apa sih Kak? Kok teriak gitu?" Zuri sedikit panik melihatku.
"Opst! Sorry. Kakak bawa rambutan sekarung nih,"
__ADS_1
"Ya elah, Zuri kirain ada apa Kak. Bikin panik aja si Kakak. Sini rambutannya," Zuri membuka karung dan mengambil beberapa rambutan.
Aku dan Zuri duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dan makan rambutan.
"Bagaimana nyetirnya Kak? Sudah bisa?" tanya Zuri.
"Bisanya cuma ngebut, he..he..he.. Oiya, Papa sama Mama kemana? Sepi rumah," tanyaku.
"Pergi kondangan. Untung Kakak pulang, Zuri sendirian saja di rumah. Kapan Kakak berangkat ke kota P?"
"Besok subuh. Kakak mau menikmati hari bersama keluarga dulu. Rasanya capek juga kuliah terus-terusan," jawabku sambil mengunyah.
Kring..! Kring..!
Terdengar suara telepon rumah berdering. Dengan sigap aku mengambil gagang telepon.
"Hallo?" tanyaku.
"Hallo, Nona Zanunya ada Mbak?" tanya seseorang diseberang telepon.
"Saya sendiri. Ini siapa?" tanyaku balik.
"Non, saya sudah menemukan data-data pria tadi. Namanya memang Redu, ia baru datang ke sini. Dia seorang dokter, sedangkan perempuan itu adalah tunangannya. Misinya apa ke sini, saya belum mendapatkan info lagi,"
"Oh.. ternyata saya salah orang. Tapi kok dia mirip seseorang ya. Terus apalagi info yang kamu dapatkan?" aku makin penasaran.
"Saya dan teman-teman sudah menemuinya dan dia mau bertemu dengan Nona siang ini juga,"
"Tidak Non. Sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu sendirian. Mungkin ada rahasia. Oiya, lokasi pertemuan di cafe ombak layang, pukul dua siang Non,"
"Baik. Terima kasih infonya,"
"Siap Non,"
Klik!
Telepon dimatikan. Aku duduk kembali di sofa ruang tengah sambil memikirkan info yang baru saja aku terima.
"Siapa sih Kak?" tanya Zuri.
"Teman Kakak. Nanti siang mau ketemuan," jawabku.
"Mau naik apa Kakak ke sana? Boleh ikut tidak? Kalau Papa Mama belum pulang, Zuri sendirian lagi,"
"Kakak perginya pakai bendi. Kamu tinggal di rumah saja, ada hal penting yang ingin Kakak selesaikan," jawabku.
"Oke," jawab Zuri sedikit manyun.
Setelah mengobrol, aku pergi ke kamar atas untuk bersiap-siap pergi. Kusempatkan sholat zuhur terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah itu aku pergi menaiki bendi menuju cafe yang sudah ditetapkan Redu. Selama perjalanan, aku mengingat kembali wajah Redu yang sama persis seperti Abang Angga. Hanya berbeda di warna kulitnya saja, Redu berkulit putih sedangkan Angga sawo matang.
Sesampainya di tujuan, aku membayar ongkos. Lalu kulangkahkan kaki ke dalam cafe sambil melihat ke sekeliling. Tatapanku terpaku pada suatu tempat yang sedikit tertutup. Disanalah aku melihat Redu sedang menunggu.
Entah mengapa tiba-tiba perasaanku bergetar, apa karena grogi atau perasaan itu datang kembali?
Yup! Aku terkesiap melihat sosok itu bukanlah seperti Redu, melainkan seperti Abang yang pernah kurindukan. Dan seketika itu juga aku melupakan Bram!
Hei Zanu! Sadar dong! Itu bukan Angga. Kamu sudah memiliki Bram.
Aku menghampiri Redu. Ia tersenyum sambil mempersilahkan aku duduk. Seakan dia telah mengenalku.
"Hallo Zanu. Terima kasih sudah mau datang ke sini. Oiya, kamu mau pesan apa?" tanyanya ramah. Tidak seperti di awal aku bicara dengannya tadi pagi.
"Teh es saja," jawabku singkat.
"Baik. Kalau makanannya? Kamu sudah makan siang?" tanyanya lagi.
"Aku pesan nasi soto,"
"Oke. Bentar ya,"
Redu memanggil pelayan cafe dan memesan menu yang aku sebutkan. Ia juga memesan menu yang sama denganku.
Melihat caranya barusan, aku mulai tidak canggung dan rilex. Jika dilihat dengan seksama, caranya berbeda dengan Abang walau mereka memiliki wajah yang sama.
"Maaf Zanu, apa kamu datang sendirian?"
Aku mengangguk.
"Oiya, sebelumnya saya minta maaf mengenai kelakuan saya dan tunangan saya tadi sama kamu. Sebelumnya saya sudah tau kamu siapa. Tapi saya tidak ingin terburu-buru untuk menyampaikan sesuatu. Mungkin kamu merasa heran mengapa saya ada disini dengan memiliki wajah yang sama dengan seseorang di masalalu kamu,"
Aku diam sambil menyimak kalimat demi kalimat yang dilontarkannya.
Mengapa dia sudah mengenalku? Padahal ini kali pertama aku bertemu dengannya.
"Saya mengenal kamu lewat Angga. Angga pernah cerita tentang kamu Zanu dan dia telah jatuh cinta saat pertama kali bertemu denganmu. Walau dia tidak pernah memperlihatkan fotomu, tapi ciri-ciri yang dia sebutkan sama persis dengan dirimu sekarang. Dan dia juga pernah mengeluh karena tidak bisa memilikimu. Sekarang dia telah pergi untuk selamanya," ujar Redu sambil sedikit menunduk. Suaranya sedikit bergetar, seakan sedang menahan tangis. Raut wajahnya terlihat murung dan sedih.
"Kamu siapa?" tanyaku to the point.
"Saya Redu, saudara kembarnya Angga,"
Deg! Aku kaget mendengar ucapannya. Pantas saja dia tau tentang aku dan Angga. Dan yang pasti wajah mereka berdua memanglah kembar.
"Apa tujuanmu ke sini? Apa kamu ada tugas atau sekedar jalan-jalan saja?" tanyaku lagi.
"Yup! Ada sesuatu yang ingin saya selidiki di sini. Tapi saya ingin kamu merahasiakan ini, karena jika terbongkar, semua akan hilang. Apa kamu bisa di percaya Zanu?"
"Bisa. Apa yang terjadi? Informasi apa yang ingin kamu cari?"
__ADS_1
Belum juga Redu menjawab, tiba-tiba pelayan datang membawakan makanan dan minuman yang sudah dipesan.
...****************...