
Di luar ruangan.
Aku dan Laura duduk sejajar.
"Laura, sepertinya kamu mulai menyukai Damar," ucapku langsung to the point.
"Eh.., hhmm.., nggak Non. Biasa saja," jawab Laura malu-malu.
"Lama-lama kamu bisa suka. Apalagi kalau nanti sering bertemu. Damar anak yang baik dan bertanggung jawab," ucapku lagi.
"Tidak tau Non. Sekarang saya hanya fokus Sekolah saja dulu," balas Laura.
"Okey, itu pemikiran yang bagus. Hanya saja, kamu harus bisa terbiasa dan mengiyakan perjodohan kamu ini. Aku yakin, banyak di luar sana yang menyukai Damar. Kesempatan tidak datang untuk ke dua kalinya. Kalau nanti kamu menikah, kamu masih bisa kuliah kok,"
Laura diam sejenak, seakan sedang berargumen dengan pikirannya sendiri.
"Iya Non, nanti saya pikir ulang. Terima kasih Non, sudah membuka pikiran saya tentang kuliah. Sebelumnya tidak pernah terfikirkan oleh saya, kalau sesudah menikah ternyata bisa sambil kuliah. He..he..he..," jawab Laura dengan raut muka yang antusias dan senang.
"Sama-sama. Semoga kamu sama Damar bisa cocok,"
"Aamiin,"
Tak berapa lama.
Terlihat Pak Jack berjalan menuju ke arah kita berdua sambil membawa kantong plastik berisikan nasi bungkus.
"Lho, kenapa ada di luar Non?" tanya Pak Jack sedikit heran.
"Ada polisi Pak, sedang membahas kasus Kak Resa. Kita di suruh tunggu di luar, sampai urusan selesai," jawabku.
"Oh.., ya udah, Bapak tunggu saja di luar,"
Hening sejenak.
"Pak, lauknya ada apa saja?" tanyaku membuka keheningan.
"Ini Non, ada ayam bakar, dendeng, ikan laut bakar dan belut goreng. Non mau yang mana, silahkan di pilih saja," jawab Pak Jack sambil menyodorkan kantong plastik yang dibawanya.
"Saya mau yang ikan bakar saja Pak. Nanti saja di buka saat kita semua ngumpul di dalam,"
"Baik Non,"
Pak Jack mengangguk dan menarik kembali kantong plastiknya.
Sreett..!
Pintu terbuka lebar. Keluarlah Bapak-bapak polisi dari dalam. Sepertinya urusan mereka sudah selesai.
"Pulang dulu Pak, mbk, permisi...," ujar salah satu polisi yang berjalan hendak melewati kita.
"Iya mari Pak, terima kasih," jawab Pak Jack sambil tersenyum.
"Sama-sama,"
Polisi paling terakhir tiba-tiba berhenti dihadapanku. Dia seperti mengingat akan sesuatu.
"Maaf Dek, sepertinya saya kenal sama kamu?" tanyanya dengan raut wajah yang mengamatiku.
Aku jadi ikut memperhatikannya juga. Memang benar, sepertinya aku pernah lihat polisi ini. Tapi aku ragu.
"Kamu Zanu kan? Yang dulu pacarnya almarhum Angga bukan?" tanyanya lagi.
Deg! Yup, aku ingat kalau dihadapanku adalah temannya Abang Angga, namanya Ipank.
__ADS_1
"Iya Bang," jawabku singkat sambil tersenyum.
"Nah, benar ternyata. Tadi Abang tidak lihat Zanu dan tidak perhatikan sama sekali. Baiklah, Abang pulang dulu ya,"
"Iya Bang,"
Akhirnya abang Ipank beranjak pergi menyusul teman-temannya.
"Yuk Pak, Laura, kita masuk ke dalam. Saya lapar, he..he..he..," ajakku.
"Yuk, mari Non,"
********
Kita sudah di dalam.
Kuperhatikan Bram sedang ngobrol bersama Damar. Sepertinya serius sekali.
Mereka berhenti ngobrol saat melihat aku, Pak Jack dan Laura yang sudah masuk.
"Maaf semuanya, makan malam kita jadi tertunda. Ayo, kita langsung saja makan. Pasti semuanya sudah pada lapar kan, saya juga," ajak Bram.
Damar beranjak dari tempat duduk yang berada di dekat Bram. Pak Jack, Laura dan Damar mengambil nasi bungkus masing-masing.
Aku langsung menghampiri Bram.
"Kak, aku suapin ya makannya," ujarku.
"Tidak usah Zanu, aku sudah bisa sendiri dan tubuhku mulai bisa duduk. Kamu makan didekatku saja ya," jawab Bram.
Aku mengangguk.
Satu menit kemudian, perawat masuk membawa makanan untuk makan malam Bram. Perawat langsung mengambil meja kecil yang digunakan untuk tempat Bram makan di atas tubuhnya.
Setelah semuanya beres, perawat keluar. Aku mengambil nasi bungkusku dan duduk di dekat Bram. Kita menikmati makan malam ini dengan tenang dan lapar.
Selama kita makan, tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya sekali-kali Bram melihatku saat dia menyuapi makannya ke dalam mulut.
*********
Makan malam sudah selesai. Setelah semuanya sudah membereskan bekas makanan masing-masing, kita langsung cuci tangan.
"Damar, apa jadi malam ini kamu ke kota P?" tanya Bram.
"Jadi Bos. Ada urusan penting besok pagi yang harus saya kerjakan," jawab Damar.
"Oo, ya sudah, jangan lupa beri kabar,"
"Iya Bos. Ini saya langsung pamit saja. Takut kemalaman di jalan. Saya gampang ngantuk soalnya, kebetulan saya nyetir sendiri,"
"Oke, kamu hati-hati nyetir mobilnya. Kalau terasa ngantuk, nginap saja di hotel dulu. Berangkatnya subuh saja, paling cuma satu setengah jam perjalanannya," saran Bram.
"Takut nggak keburu Bos, bisa jadi saya ketiduran, he.he.he..,"
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Salam buat kedua orang tuamu,"
"Siap Bos. Pasti Papa saya kaget bisa bertemu langsung dengan Bos," ujar Damar senang.
Bram hanya tersenyum. Damar mulai bersiap-siap berangkat. Damar menyalami Bram, aku dan Pak Jack.
Ke Laura, Damar hanya tersenyum sekilas. Terlihat raut wajah Laura sedikit kesal. Tapi dia hanya bisa menundukkan pandangannya.
Lalu Damar pergi.
__ADS_1
Pak Jack menghampiri Bram.
"Bos, saya pulang dulu. Besok pagi saya ke sini lagi sekalian jemput Laura. Titip anak saya Laura ya Bos," ujar Pak Jack.
"Baik Pak," jawab Bram singkat.
"Permisi Bos, Non,"
Aku dan Bram mengangguk. Pak Jack menghampiri anaknya Laura.
"Bapak pulang dulu ya nak, besok InsyaAllah Bapak jemput kamu,"
"Iya Pak, hati-hati di jalan," jawab Laura sambil menyalami tangan Pak Jack.
Lalu Pak Jack pergi.
Tinggallah kita bertiga, Bram, aku dan Laura.
********
Aku membereskan tempat tidur yang akan digunakan. Ada dua tempat tidur khusus disediakan untuk tamu atau keluarga.
Sebelum tidur, aku dan Bram ngobrol sebentar tentang jadwal besok.
"Kak, besok ke rumahnya Vincent dari mana? Langsung dari sini atau aku pulang dulu ke rumah?" tanyaku.
"Langsung saja dari sini, biar tidak bolak balik ke rumahmu," jawab Bram.
"Oke. Aku berharap banget Papa sama Mama memberi izin. Aku kangen kuliah lagi," ujarku.
"Maaf ya Zanu, jadi merepotkan kamu. Beberapa hari ini, kamu sibuk mengurus dan menemaniku saja. Jadi kuliah kamu off," ujar Bram dengan raut muka rasa bersalah.
"Tidak apa-apa Kak. Aku cuma rindu kuliah saja. Lagipula izin aku langsung Rektor yang urus, ha..ha..ha.., keren kan,"
"Siapa dulu dong cowoknya," ujar Bram tidak mau kalah.
"Lho? Apa hubungannya? Kan aku izin karena menemani Kakak," tanyaku heran.
"Ada hubungannya dong, he..he..he..," Bram mencubit cuping hidungku.
"Aww! Sakit tau! Jangan sombong deh, mentang-mentang Bos!" aku menggigit tangan Bram.
"Sakitttt...., Biarin! Kamu kan calon istrinya Bos!" jawab Bram sambil meringis kesakitan.
"Yeee! Maunya...," aku menghindari Bram.
"Yaa... Harus mau dong. Aku tantangin siapa saja yang mau mendekati kamu,"
"Nggak bisa gitulah. Udah deh, udah malam. Kita tidur ya. Laura sudah tidur duluan, nanti keganggu dengan obrolan kita," ajakku.
"Boleh minta kiss nggak? Di pipi aja," rengek Bram.
Aku menghampiri Bram dan mencium pipinya sekilas.
"Kok nggak berasa ya?" tanya Bram dengan expresi wajah yang lucu.
"Udah ah! Entah aneh-aneh, good night," jawabku sambil berjalan ke arah tempat tidur dekat Laura.
"Good night sayang...," canda Bram dengan suara sedikit keras.
"Ssstttt... Jangan berisik," balasku denga suara pelan.
Malam ini, Bram, aku dan Laura larut dengan mimpi masing-masing.
__ADS_1
...****************...