
"Kenapa kamu kembalikan Zanu! Itu untukmu. Pantang buatku untuk dikembalikan," ujar Bram dengan marah.
Deg! Aku tidak menyangka Bram semarah itu. Bearti benar yang dikatakan Zuri.
"Ma..maaf Kak, aku hanya ingin mengembalikannya. Ini semuanya sangatlah mahal, aku juga tidak ingin menyimpannya sebagai kenangan. Mungkin sebaiknya berikan saja ke calon istri Kakak nanti," ujarku.
" Tidak! Aku tidak akan menerimanya! Itu untukmu Zanu, untukmu! Aku khusus membuatnya untukmu! Nama kita ada di sana, bagaimana mungkin aku akan berikan ke orang lain?" tolak Bram dengan marah.
Aku menyurutkan niat dan menarik tanganku kembali. Aku hanya bisa menunduk dan merasa serba salah.
"Hanya itu yang bisa aku berikan untukmu. Dan aku berharap perhiasan itu selalu kamu simpan atau di pakai di saat tertentu. Khusus cincin, aku ingin kamu memakainya sampai menikah. Pasti setelah kamu menikah dengan yang lain, ada cincin baru yang akan tersemat di jari manismu," ujar Bram lirih.
"Aku tidak mau membahas atau mendengar pernikahan dulu Kak. Tidak semudah itu untuk melupakan kisah yang sudah kita lewati,"
"Iya Zanu, tapi kamu harus tau. Apa yang aku bahas saat ini, akan sama nantinya dengan pembahasan yang akan aku beritau besok ke kamu,"
"Maksudnya?" aku sama sekali tidak mengerti maksud Bram. Jikapun ada terlintas hal yang sama, tapi bagiku itu mustahil.
"Besok," jawab Bram singkat. Ia menghidupkan mesin mobilnya kembali.
Sepanjang jalan, aku dan Bram tidak mengobrol. Aku mengambil insiatif untuk tidur, rasa kantukku mulai memaksaku untuk menutup mata.
*********
Mobil Bram memasuki garasi depan kost. Aku terbangun dan bergegas turun, rasanya aku sangat rindu dengan suasana kost ini.
"Zanu, aku langsung pulang ya. Mau mempersiapkan keperluan Mama dan Papaku sekalian ada hal lain yang ingin aku urus," ujar Bram.
"Oiya, nggak apa-apa Kak. Terima kasih sudah mengantarkan aku sampai kost,"
"Iya, goodbye," Bram langsung menghidupkan mesin mobilnya.
"Bye,"
Mobil Bram melaju keluar garasi dan pergi menuju ke rumahnya.
Aku masuk ke dalam kost melalui pintu samping. Karena masih pagi, kondisi kost kosong, semuanya kuliah. Tinggallah aku sendirian di kost ini. Aku membereskan kamarnya, sudah beberapa hari tidak dibereskan, ada debu dimana-mana.
Setelah beberes, aku langsung keluar kost menuju restoran yang terdekat. Aku membeli nasi bungkus dan sesudahnya singgah sebentar ke toko yang menyewakan novel dan komik. Aku menyewa beberapa novel di sana dan membawanya pulang.
__ADS_1
Saat aku menaiki tangga, telepon berdering. Aku berbelok ke ruang tengah dan mengangkatnya.
"Hallo, mau bicara dengan siapa?" tanyaku.
"Hallo, ini Zanu ya? Ini Kakak, bentar lagi ke kost kamu. Kamu bersiap-siap ya," ujar Bram di seberang.
"Mau ngapain? Bukannya mau ke sini malam ini? Aku belum makan Kak, baru saja pesan nasi bungkus,"
"Mau mengajak kamu ke rumah sakit, Prita sudah bisa membuka matanya dan bicara. Tapi, dia tidak bisa mengenal seorangpun dalam pikirannya. Kamu makan aja dulu," Bram membawa berita yang mengejutkan.
"Hah?! Beneran Kak Prita sudah bisa bicara? Alhamdulillah," aku mengucap syukur dan tidak terasa air mataku jatuh.
"Iya Zanu, sudah dulu ya, aku sedang menyetir menuju ke kost kamu,"
"Baik Kak, aku tunggu,"
Klik!
Bram mematikan telponnya, aku bergegas ke meja makan untuk memakan pesananku tadi.
Beberapa menit kemudian, makananku sudah habis.
Setelah bersiap-siap aku menunggu Bram di teras depan. Tak berapa lama, mobil Bram datang, ia memarkirkannya di luar pagar.
"Zanu, kamu sudah siap? Ayo ke rumah sakit," ajak Bram.
"Sudah, ayo Kak," aku mengikuti Bram dan masuk ke dalam mobilnya.
Bram memutar arah mobilnya langsung melaju ke rumah sakit.
"Kak, kalau Prita sudah bisa bicara, apa tetap harus berobat ke Amerika?" tanyaku memecah keheningan.
"Harus Zanu. Prita harus ke Amerika, karena kondisinya belum stabil dan ia butuh orang-orang terdekat untuk mengembalikan semua memory dikepalanya," jawab Bram sambil fokus menyetir.
"Bukannya kalau Prita berada di Amerika, bisa membahayakan dirinya? Kan dia ke sini untuk menghindari perseteruan keluarga dengan pesaing bisnis ayahnya?" tanyaku lagi.
"Iya Zanu, memang membahayakan nyawa Prita. Tapi kondisinya saat ini, lebih berbahaya lagi jika lengah. Justru aku ikut itu untuk...," tiba-tiba Bram berhenti bicara dan ia diam dengan expresi cemas di wajahnya.
"Ada apa Kak? Maksudnya Kakak ikut?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya Zanu, sekalian aku ikut karena permintaan orang tuaku untuk mengurus bisnis di sana,"
Aku melihat ada kebohongan di sana, Bram terlihat makin gelisah. Aku tau, ia pasti menyembunyikan sesuatu.
"Kak, aku rasa Kakak ke Amerika bukan sekedar mengurus bisnis saja kan? Ada hal lain yang ingin Kakak urus bukan? Bisakah Kakak tidak membohongiku? Harusnya Kakak tidak mengatakan apa-apa tadi, supaya aku tidak makin penasaran," ada banyak pertanyaan yang aku lontarkan ke Bram.
"Zanu, maafkan aku. Sekarang kita fokus dulu melihat kondisi Prita. Belum saatnya aku menjelaskan ini, aku hanya bisa katakan besok malam sebelum aku berangkat. Aku tidak ingin melihatmu menangis dan aku tidak ingin kamu melihat kesedihanku, itu saja," jawab Bram.
"Itu lagi, itu lagi! Aku bosan Kak! Aku bosan menunggu! Aku bosan main teka teki, menerka-nerka dan bertanya terus menerus," aku mulai memarahi Bram. Aku tidak terima dipermainkan seperti ini.
"Tenang Zanu, besok terakhir kita bertemu. Kamu tidak akan menunggu jawabanku lagi, kamu tidak melihatku dan tidak bertanya lagi. Aku hanya bisa mengatakan banyak maaf Zanu, yang telah membuatmu kecewa dan sakit hati," Bram tidak berani melihat ke arahku.
"Baiklah Kak, maafnya aku terima," hanya jawaban itu yang bisa kuungkapkan. Aku pasrah, benar-benar pasrah dengan kepergian Bram dan kehilangannya.
Aku dan Bram diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Bram masih fokus menyetir dan akhirnya mobil sudah memasuki area parkir rumah sakit.
Aku dan Bram turun dari mobil. Bram meraih tanganku dan mengajakku berjalan menuju ruang ICU, dimana Prita di rawat di sana.
Aku menikmati genggaman tangan Bram dengan hati yang syahdu dan aku yakin pasti selalu merindukan tangannya yang selalu menggenggam tanganku. Tangan yang selalu membelai rambut dan mengacak poniku.
Sesampainya di ruang ICU, aku melihat Bram sedang bicara dengan dokter Cahyo dan dokter Wahyu.
"Selamat datang kembali Pak Bram, non Zanu," ujar dokter Wahyu.
Aku mengangguk dan tersenyum. Begitu juga dengan Bram.
"Bagaimana dok perkembangannya?" tanya Bram.
"Nona Prita kondisinya belum stabil, tapi mulai terlihat perkembangan yang bagus. Kita sama-sama berdoa semoga tidak drop lagi. Non Prita bicara hanya sedikit saja dan ia masih belum fokus dengan apa yang ia bicarakan," terang dokter Cahyo.
"Apakah kita berdua boleh menjenguk Prita dok?" tanya Bram.
"Oh silahkan Pak Bram. Tapi diharapkan tidak berlama-lama di sana," jawab dokter Cahyo.
"Oke, terima kasih dok. Saya ke sana dulu, mari," Bram menarik tanganku.
"Silahkan Pak Bram," dokter Cahyo dan dokter Wahyu memberi jalan untukku dan Bram saat memasuki ruang ICU
...****************...
__ADS_1