Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 39 : Date Pertamaku


__ADS_3

Sorenya Papa, Mama dan Zuri pulang.


Jam tujuh malam setelah sholat magrib, aku mengamati wajah di depan cermin. Jerawatku sudah hilang dan kulitku terlihat cerah. Kulihat mataku berbinar-binar, karena efek bahagia.


Bahagia akan segera didatangi Bram.


Aduh...! Inikah dinamakan hati yang sedang berbunga-bunga?


Eh tapi, kalau seandainya Bram batal ke sini bagaimana? Jangan sampelah..


Aku memakai baju santai dan bedak tipis-tipis plus lipgloss dibibirku, supaya terlihat sedikit shiny. Lebih baik aku tunggu di ruang keluarga saja sambil nonton TV.


Baru saja kakiku melangkah turun tangga, terlihat Mama naik menghampiriku.


"Zanu. Ada tamu lho di depan. Dia nyariin Zanu. Siapa sih itu nak? Kok cakep banget cowoknya, seperti bukan orang kita," tanya Mama sambil senyum-senyum.


"Itu senior Zanu Ma, kemaren telepon kalau malam ini mau ke rumah kita," jawabku.


"Ya sudah, temui orangnya. Mama ke dapur dulu sambil siapin minuman dan cemilan. Nanti Zanu yang antar ya,"


"Baik Ma,"


Hatiku mulai bergetar saat turun dari tangga hingga sampai melihat Bram di ruang tamu. Bram terlihat lebih keren dari sebelum-sebelumnya. Aku jadi malu-malu atau karena rindu?


"Hai Zanu. Apa kabar?" ucap Bram.


"Alhamdulillah baik Kak. Nyari rumahku lancar nggak?" jawabku sambil berusaha menepis grogi di depan Bram.


"Langsung lancar dong, semua pada tau rumah kamu,"


"Kakak mau minum apa? Dingin apa panas?" ujarku langsung to the point.


"Jangan repot-repot. Malam ini aku mau ajak kamu keluar cari makanan enak, jika diizinkan orang tuamu. Kalau tidak bisa, nggak apa-apa kita ngobrol di sini saja," ujar Bram.


"Kakak izin langsung sama Mama ya. Aku panggilkan Mama dulu ke dalam,"


Bram mengangguk. Aku bergegas menemui Mama di dapur yang sedang membuat teh panas.


"Ma, dia mau ajak Zanu keluar sekarang. Apa boleh ya Ma?" tanyaku ke Mama.


"Memangnya mau ke mana nak? Apa nggak minum dulu?" tanya Mama balik.


"Mau cari makanan. Dia mau izin langsung sama Mama, lagi nungguin Mama," jawabku.


Mama mengangguk. Aku dan Mama berjalan ke ruang tamu. Terlihat Bram sedikit grogi saat salam tangan Mama.


"Salam kenal Tante, saya Bram. Temannya Zanu," ucap Bram sambil tersenyum.


"Salam kenal juga nak Bram," jawab Mama.


"Begini Tante, saya mau ajak Zanu cari makan di luar. Saya mau izin, apakah boleh saya bawa Zanunya Tante?" tanya Bram.


"Hhmmm... Boleh, tapi Tante cuma beri waktunya satu setengah jam. Zanunya Tante titip dan tolong di jaga ya..," jawab Mama.


Aduh Mamaku sayang, kenapa aku pakai dititip-titip segala, emangnya Bram tempat penitipan?


"Baik Tante, InsyaAllah Zanu aman sama saya Tante," jawab Bram sambil melirik ke arahku.


Huh! Sempat-sempatnya dia menggodaku. Iya sih aman kalau bersama dia, tapi yang tidak aman itu perasaanku yang ketar-ketir kalau dia bersikap romantis atau bicara yang aduhai. Owalah...!

__ADS_1


"Permisi dulu ya Tante,"


"Hati-hati ya nak Bram,"


Bram mengangguk dengan senyum sumringah. Bahagianya dia bisa dapat izin Mamaku.


Eh tapi, tumben Mama beri izin keluar sama cowok jadi satu setengah jam? Biasanya cuma satu jam. Pilih-pilih pula ya Mamaku, tau bener cowok cakep ngapelin anaknya, ha..ha..ha..


"Aku ganti baju nggak nih?" tanyaku sama Bram.


"Tidak usah, kita cuma bersantai saja. Mari tante," ujar Bram dengan kesantunannya.


"Mama, Zanu pergi dulu ya..,"


"Oke nak, hati-hati ya,"


"Baik Ma,"


Aku dan Bram keluar dari ruang tamu dan langsung menuju mobilnya Bram. Mama melambaikan tangan dan langsung masuk rumah.


"Zanu, kita mau kemana nih?" tanya Bram.


"Bagaimana kalau kita ke ayam kentaki 5, baru buka lho," jawabku.


"Oke, kita langsung ke sana,"


********


Mobil Bram melaju menuju tempat yang kusebutkan. Jarak tempuh hanya lima belas menit dari rumahku. Terlihat di sana banyak orang yang sedang ngantri. Selain malam ini malam mingguan, tempat makannya juga baru di buka. Jadi, banyak orang yang penasaran dengan rasa dan tempatnya.


Saat aku turun dari mobil bersama Bram, banyak mata melihat dan berbisik-bisik. Aku tau kenapa mereka demikian. Karena adanya Bram.


Aku dan Bram masuk dan mengambil duduk arah sudut dekat pintu luar. Terlihat orang banyak yang antri untuk memesan. Aku turut antri sebentar dan Bram yang membayarnya.


Aku duduk kembali bersama Bram sambil menunggu pesanan siap.


"Zanu, bagaimana seminggu ini kegiatanmu?" tanya Bram memulai pembicaraan.


"Baik Kak. Cuma aku bolos tidak ikut perkemahan fakultas, malas. Aku kangen keluarga, makanya aku pulang," jawabku.


"Wah, udah mulai bandel nih juniorku satu ini. Seharusnya kamu ikut, biar bisa lebih dekat lagi sama teman dan seniornya. Kalau ada mata kuliah yang sulit, mereka bisa bantu,"


"Kalau aku ikut perkemahan, kita tidak akan ada di sini saat ini,"


"Hhmmm.. makin jago sekarang kamu ngeles. Selama aku tinggal, kamu kangen nggak?" tanya Bram lagi.


"Nggak, biasa aja. Kenapa emangnya?" aku tanya balik.


Huh! Aku terpaksa bohong, seolah-olah tidak menginginkan rasa kangen itu. Padahal? Alamak..! aku kangen banget sama Bram. Tapi yah, jual mahal dikitlah...


"Aku kirain kamu kangen, makanya dibela-belain ke rumahmu," ada perasaan kecewa dari raut mukanya.


"Udah ah, palingan Kakak yang kangen sama aku, makanya ke sini kan," jawabku ngasal.


"Kalau aku kangen, aku pasti bilang. Aku tidak suka pura-pura atau berbelit-belit," Bram bersekukuh dengan sikapnya.


"Iya deh, aku kangen!"


"Nah gitu donk, aku kan jadi semangat buat gangguin kamu, ha..ha..ha..,"

__ADS_1


"Apaan sih ganggu-ganggu? Oiya, bagaimana kabar fansnya Kakak?" tanyaku.


"Fans yang mana ya?" tanya Bram balik.


"Itu..... tuh! Yang Kakak tolongin dia sama adiknya pas kecelakaan minggu kemaren. Itu kan fans Kakak yang terextrim," jawabku dengan nada sedikit kesal.


Aku kalau ingat cewek itu, timbul perasaan geram.


"Oo..itu, dia ada gangguan di paru-paru, jadi butuh perawatan extra. Wajahnya juga harus di operasi berulang step by step. Sedangkan adiknya sudah dipasangkan pen, jadi tinggal pemulihan. Kasian mereka, kemungkinan butuh waktu lama untuk masuk kuliah lagi," ujar Bram ikut prihatin.


"Kakak tau dari mana sampai sedetail itu?" aku penasaran.


"Aku kemaren kerumah sakit untuk memastikan kelanjutan pengobatannya. Jadi pihak rumah sakit dan dokter yang menangani memberikan data-data sama aku untuk laporan izin ke pihak kampus. Karena bagaimanapun mereka tanggung jawabku. Mereka kecelakaan di saat pulang dari perkemahan. Walau sebenarnya sudah bukan wewenangku lagi," bahas Bram.


"Oh.. Jadi, Kakak habis dari Jakarta langsung ke sana? Aku kenapa tidak di kabari Kak? Malah mereka duluan yang Kakak temui," ujarku sambil cemberut.


"Hei...! Kamu cemburu ya?" tanya Bram.


"Auk ah gelap. Aku ke sana dulu ambil pesanan," jawabku langsung menuju tempat pengambilan makanan yang sudah di pesan tadi.


Tak berapa lama, aku balik ke meja. Ternyata di sana aku melihat Bram sedang bicara dengan seseorang pria. Aku tetap berjalan dan langsung duduk di hadapannya Bram.


Ternyata itu Atif. Dia ikut Bram lagi ya? Bisa jadi Atif adalah body guard Bram yang khusus alias merangkap sebagai asisten.


Aku ingat Prita, apakah Atif sudah menghubungi Prita ya?


Mereka berhenti bicara saat melihatku. Atif langsung bergegas keluar.


"Atif kenapa cepat-cepat keluar? Tidak di ajak gabungkah? Atau beliin dia makanan gitu..?" tanyaku ke Bram.


"Zanu, jangan kamu urus Atif. Urusan dia sudah ada yang mengatur. Dia itu profesional dengan tugasnya. Kamu masih marah sama aku?" tanya Bram.


"Udah ah, lupain aja yang tadi. Sekarang kita makan, nanti keburu dingin," jawabku sambil menyodorkan piring berisi ayam kentaki ke arah Bram.


"Nggak. Aku tidak mau makan, sebelum kamu jawab pertanyaanku. Aku tidak tenang jika kamu lagi marah," ujar Bram sambil menatapku dalam-dalam.


Wow! Sampai segitunya Bram terhadapku.


Begitu pentingkah aku di mata Bram?


"Baiklah. Aku sebenarnya marah karena Kakak tidak beri kabar. Dan yang duluan dikunjungi, cewek itu," jawabku sambil tertunduk malu.


Yah, sebenarnya aku cemburu.


"Zanu, itu dinamakan cemburu. Aku minta maaf jika tidak sempat memberi kabar. Mengunjungi mereka salah satu tugasku. Masih banyak lagi tugas yang harus diselesaikan sehingga lupa memberi tau kamu. Maafin aku ya?"


Aku mengangguk.


"Ya sudah, sekarang kita makan. Nanti ayamnya ngambek," Bram tersenyum.


Aku dan Bram mulai makan. Pelayan juga sudah mengantarkan minuman yang sudah di pesan.


Tidak sampai lima belas menit, tiba-tiba ada masuk seorang pria berpakaian hitam plus penutup kepala menghampiri Bram.


Saat dia melihatku, dia sangat kaget! Dan aku juga ikut kaget, karena pria tersebut seperti orang yang pernah ku kenal.


Walau aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku sangat mengenal suaranya saat dia memanggil Bram.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2