
"Hallo Pak Bram, apa kabar?" Pak Omar menyalami Bram dan aku.
"Alhamdulillah baik Pak Omar. Saya sama Zanu mampir dulu ke ruang Pak Omar sambil menunggu Ibu Dela datang," jawab Bram.
"Oh, silahkan Pak Bram," Pak Omar duduk di sofa tamu, seakan mempersilahkan Bram untuk duduk di kursinya.
"Saya di sini saja Pak Omar. Langsung to the point, saya ingin bicara tentang Pak Boil," Bram duduk di di sofa samping Pak Omar. Sedangkan aku duduk di kursi lain.
"Oh, ada apa dengan Pak Boil Pak?" tanya Pak Omar sedikit kaget mendengar pembicaraan Bram.
"Saya ingin dia diangkat sebagai mandor bagian lapangan, wilayah selatan. Sedangkan mandor yang lama, anda pecat. Nanti di meeting, anda sendiri yang harus rekomendasikan Pak Boil, saya tidak ingin ada nama saya. Semua ini demi keamanan pabrik," perintah Bram.
"Ba..baik Pak. Tapi saya bingung, bagaimana caranya menyampaikan pemecatan ke mandor lama? Apa alasan yang harus saya utarakan?" tanya Pak Omar.
"Katakan jika kinerjanya tidak dibutuhkan lagi di pabrik ini karena dia tidak bisa dipercaya. Selebihnya keamanan Bapak dan Pak Boil sudah saya atur, jika mandor lama berulah. Urusannya nanti ke polisi langsung, dia orang berbahaya. Jika Bapak tidak sanggup bicara, katakan saja pemecatan langsung dari saya," penjelasan Bram.
Deg! Apa seserius itu? Ada apa dengan mandor di pabrik ini sampai Bram harus memecatnya? Nanti aku tanyakan ke Bram langsung, semoga dia mau membahasnya.
"Baik Pak, saya akan laksanakan tugas ini. Semoga pabrik ini tidak memiliki masalah selama Bapak tinggalkan. Ibarat kata sebuah kapal belum tentu sempurna berlayar jika ditinggalkan nahkoda,"
"Ah Pak Omar bisa saja. Saya tetap bekerja dan memantau semua perusahaan yang ada di Indonesia, walau dari jauh," jawab Bram.
__ADS_1
Tok! Tok!
"Permisi Bos, saya mau menyampaikan Ibu Dela sudah datang dan sekarang semua sudah berkumpul di ruang meeting," ujar Pak Suryo.
"Baik Pak, saya dan Pak Omar akan segera ke sana, terima kasih," jawab Bram tegas.
Lha? Aku tunggu di mana nih? Ogah, di ajak Bram meeting lagi.
"Zanu, kamu juga ikut kita meeting, ayok," ajak Bram sambil menarik tanganku.
Tuh! Benar kan, aku di paksa lagi ikut meeting, hadeh..!
"Kenapa sih, aku ikut meeting segala? Kan nggak ada sangkut pautnya urusan pabrik denganku?" aku sedikit kesal, ditambah lagi tanganku di tarik Bram sampai ke ruang meeting. Apa nggak malu?
"Silahkan semuanya duduk. Saya tidak perlu basa-basi, kita langsung to the point. Sebelum kita mulai, perkenalkan ini Zanu, dia yang mendampingi saya selama meeting. Mungkin yang hadir di sini banyak yang belum tau. Oke, meeting kita mulai," ujar Bram tegas dan langsung duduk. Sedangkan aku diarahkan duduk disampingnya. Berlahan tangan Bram lepas.
Hadeh! Apa sebucin itu Bram kepadaku? Tanpa peduli sedikitpun karyawannya memandang aneh dengan apa yang ia lakukan. Aku malu dan risih. Ngapainlah aku di ruang meeting ini?
"Pak Tara, untuk produksi bagaimana?" tanya Bram langsung.
"Semua berjalan lancar Bos. Dan Perusahaan kita mendapatkan keuntungan lima puluh persen setiap bulannya dari sebelum ada perubahan dulu yaitu promosi, varian rasa dan membuka cabang di setiap wilayah. Kalau tidak salah, ini sepenuhnya ide Non Zanu waktu itu," ujar Pak Tara sambil melihat kearahku sebentar.
__ADS_1
Wow! Keuntungannya banyak banget. Padahal ideku hanya iseng, asal bicara saja waktu itu. Aku tidak menyangka bisa merubah kondisi pabrik ini.
"Nah, ini salah satu alasan saya mengapa membawa Zanu untuk ikut meeting bersama kita. Terima kasih Pak Tara atas informasinya, pertahankan dan tetap jaga kwalitas rasa dan kondisi roti. Sekarang saya beralih ke Pak Dani, bagaimana urusan gaji karyawan dan bonus yang mereka peroleh? Apa sesuai yang diinstruksikan Pak Omar?" tanya Bram.
"Oke Bos. Untuk gaji dan bonus tetap dilaksanakan sesuai tugas yang diberikan ke saya. Semua tidak ada kendala, hanya mengenai penyediaan rumah layak huni masih proses ketok palu. Dan masalah biaya kita masih bicarakan dengan Ibu Dela selaku bendahara Perusahaan," jawab Pak Dani.
"Baik. Masalah biaya, hari ini kita langsung diskusikan dengan Ibu Dela. Untuk pembangunan rumah-rumah tersebut saya serahkan ke Pak Suryo. Kontraktor dan penyediaan barang langsung di handle Perusahaan dari Jakarta. Sedangkan untuk pengkreditan langsung pemotongan gaji melalui Ibu Pipin. Sekarang saya persilahkan Ibu Dela menyampaikan tentang keuangan pabrik ini," ujar Bram.
Duh, ribet amat urusan Bram. Apa nggak puyeng tuh, urus ini itu dan mesti tau kinerja masing-masing karyawannya. Baik juga ya Bram, menyediakan rumah layak huni tanpa bunga ke setiap karyawan yang ingin mengambil rumah. Keren emang Bram ku ini.
"Baik Bos. Tentang keuangan, sudah kita ketahui kalau pabrik roti ini sudah mencapai keuntungan lima puluh persen. Jadi keuntungan tersebut sudah dikumpulkan dan akan digunakan untuk biaya pembangunan rumah layak huni. Hanya saja kendalanya, semua sudah masuk deposito bank dan butuh waktu pencairan dalam skala jumlah yang miliyaran. Kesimpulannya, kita menunggu pihak bank, barulah kita bisa bergerak. Untuk alternatif lain, bisa saya pinjamkan dulu keuangan dari Perusahaan baja yang masih standby," penjelasan Ibu Dela yang super panjang.
"Tidak usah. Tunggu saja deposito itu cair. Saya tidak mau keuangan masing-masing Perusahaan saya dicampur aduk walau diistilahkan meminjam sementara. Kecuali jika ada hal yang sangat penting atau salah ada satu Perusahaan gulung tikar. Sekarang bagaimana Pak Omar, apa ada yang ingin Bapak sampaikan?" tanya Bram.
"Saya hanya mau menyampaikan, kita harus mendata setiap karyawan, siapa saja yang ingin mengambil rumah dan pengeluaran mereka sehari-hari kita cek juga. Jangan sampai mereka jadi terbebani di kemudian hari dan menunggak tagihan. Tugas pendataan saya langsung serahkan ke Ibu Pipin. Dan satu lagi, untuk mandor lapangan wilayah selatan di pecat," ujar Pak Omar.
Semua terkejut mendengar ucapan Pak Omar. Mungkin mereka heran, mengapa mandor itu di pecat.
"Oke, saya rasa sudah jelas semua. Sekarang giliran saya yang ingin menyampaikan sesuatu. Saya minta setiap minggu, ada yang mengantarkan roti ke tempat Zanu sesuai dimana dia berada. Zanu juga sudah saya tetapkan, memiliki peran penting di pabrik ini. Jadi jika ada sesuatu kendala dalam penjualan atau pabrik ini butuh gebrakan terbaru, silahkan hubungi Zanu. Walau bagaimanapun, dia pernah merubah sistem penjualan yang selama ini dijalani. Sehingga pabrik bisa mendapatkan keuntungan besar di luar dugaan kita bersama. Jika ada yang keberatan dengan keputusan saya, silahkan bicara," tegas Bram.
Hah?! Apa aku tidak salah dengar?! Sejak kapan Bram menginginkanku ikut andil di dalam pabrik ini?
__ADS_1
Aku melihat ke arah Bram dan mendelikkan mata seolah aku tidak mengerti apa maksud Bram. Semua yang hadir di ruangan hanya diam.