Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 151 : Ke Dermaga


__ADS_3

Pak Jack menunggu jawabanku.


"Pak, maaf sebelumnya. Saya bukan bermaksud menolak tugas dari Kakak, tapi sudah ada beberapa tugas lain yang sudah dititipkan ke saya di kota P. Dan saya juga tidak mengerti mengapa Kakak memilih saya?" aku sebenarnya bingung mau menjawab apa.


"Non, apa Non sadar jika semua perusahaan yang dikelola oleh Bos khusus pulau Sumatera diserahkan ke Non? Walau bukan sebagai pemilik, tapi apapun keputusan Non, sudah mutlak menjadi persetujuan dari Bos kita. Perusahaan Bos yang lain yang ada di Indonesia sudah ada yang menangani dan itu langsung laporannya ke Amerika. Sedangkan perusahaan yang ada di pulau Sumatera, dipantau langsung oleh Bos. Bahkan, jika Nona melakukan kesalahan sekalipun dalam mengambil sebuah keputusan, Bos tidak akan mempermasalahkannya," penjelasan Pak Jack semakin membuatku pusing.


"Jadi, Pak Jack tau bagaimana kabar Kakak sekarang? Mengapa Kakak tidak memberi kabar lagi kepadaku?" tanyaku langsung to the point, karena pertanyaan inilah yang sebenarnya ingin kuketahui.


"Saya tidak tau Non. Semua perintah Bos bersumber dari Pak Tio melalui email dan fax. Setelah Pak Tio menerimanya, beliau akan mengirimkan informasi tersebut ke setiap perusahaan yang ada di pulau Sumatera,"


"Bearti informasi tersebut langsung dari Kakak?" tanyaku lagi.


"Tidak ada yang tau Non. Tanda tangan yang tertera disetiap informasi bukan nama Bos, tapi seorang Direktur perusahaan OX yang ada di Amerika. Bisa jadi itu bukan dari Bos, tapi dari salah satu karyawan ayahnya yang masih berperan sebagai pemimpin utama dari semua perusahaan yang ada di dunia yaitu Mr. OX,"


Aku terdiam dan makin tidak mengerti, mengapa kabarnya Bram hilang begitu saja, seperti ditelan bumi. Dan mengapa harus aku yang mengurus perusahaannya di sini?


"Apakah perusahaan yang ada di Sumatera ini termasuk bagian dari perusahaan OX itu sendiri?" tanyaku lagi.


"Tidak Non. Perusahaan tersebut terpisah dan mutlak milik Bos sendiri. Maka dari itu mengapa Bos menyerahkan kepemimpinannya kepada Non. Saya rasa Bos tidak mungkin asal-asalan dalam mengambil sebuah keputusan, pasti ada hal yang bisa dipercaya dari Non untuk mengelola semua perusahaannya,"


"Jadi, saya sekarang adalah pemimpin perusahaan yang dikelola oleh Bram?" tanyaku.


"Kurang lebih seperti itu Non. Saya dapat bocoran dari Pak Tio. Mungkin beberapa hari kedepan, Pak Tio akan memberitahukan Non secara langsung,"


Aku kembali diam. Pikiran yang ada diotakku mulai berputar-putar. Bagaimana aku akan fokus kuliah jika harus menangani perusahaan Bram yang jumlahnya lebih dari satu? Apa yang harus aku jelaskan ke Papa Mama tentang ini?

__ADS_1


"Baik Non, saya rasa informasinya sudah cukup. Sekarang saya meminta Non untuk bicara di depan semua nelayan sebagai pengesahan pengganti Bos. Dan sekaligus mempelajari data-data keuangan yang sudah masuk. Kita juga menunggu keputusan berapa persen bantuan untuk keluarga nelayan dan berapa persen untuk mesjid,"


Belum selesai aku mencerna informasi Pak Jack tadi, malah ditambah lagi tugas yang harus segera aku kerjakan saat ini juga. Mengapa semuanya jadi mendadak begini? Apa maksud Bram dari semua ini?


"Non, apa bisa sekarang kita menemui para nelayan? Mereka sudah berkumpul di dermaga. Non bisa menolak jika belum siap," ujar Pak Jack yang membuyarkan lamunanku.


"Eh, bagaimana ya Pak Jack. Saya bingung dan apa yang harus saya lakukan?" tanyaku seakan ingin mengatakan jika semua ini bukanlah bidangku. Aku hanya bisa beragument atau memberi penjelasan yang berhubungan dengan hukum yang sesuai dengan semua isi mata kuliahku.


"Saya bisa menunggu Non untuk mendengar keputusan sekarang,"


Ayo Zanu! Cepat berpikir! Semuanya sedang menunggumu, apa yang kamu cemaskan? Kan cukup bicara saja di depan mereka. Kamu juga bisa hanya mengatakan iya atau tidak. Tidak ada yang sulit Zanu! Bram memilihmu karena dia mempercayaimu sepenuhnya!


"Baiklah Pak Jack, saya akan menghadapinya. Saya akan bicara didepan semua nelayan hari ini. Tapi sebelum itu, minta data keuangan yang sudah masuk dalam bulan dan minggu ini. Termasuk bulan yang lalu," terbersit olehku mengenai data keuangan. Karena menurutku, pasti nelayan sedang menunggu bantuan untuk keluarga mereka saat ini. Mereka sudah berusaha keras menangkap ikan di tengah lautan yang luas.


"Ini Non, semuanya lengkap," Pak Jack menyerahkan map itu kepadaku.


Aku mengambilnya dan melihat isi data secara acak sambil otakku cepat berpikir untuk mencari solusi. Setelah menemukan angka-angka dan perhitungan yang matang termasuk keuntungan yang harus disisihkan beberapa persen. Keuntungan tersebut akan disimpan dan digunakan jika ada hal yang mendadak atau peristiwa penting untuk menutupinya.


Aku menjelaskan langsung ke Pak Jack, jika sisa keuntungan dua puluh persen digunakan untuk bonus para nelayan, jika diuangkan mereka mendapatkan lima juta perkepala keluarga. Tapi keuntungan ini bisa berubah-ubah setiap bulannya karena mengikuti pemasukan setiap bulan. Dan tentunya berdasarkan tangkapan ikan oleh nelayan.


Sedangkan untuk mesjid, aku belum bisa mengambil keputusan hari ini dikarenakan harus melihat pembangunannya terlebih dahulu. Pak Jack menerima keputusanku dan menurutnya itu sudah yang terbaik dimana ia tidak pernah berpikir sampai ke arah sana.


Selain mengenai bonus dan pembangunan mesjid, aku juga menjabarkan bantuan keuangan yang akan digunakan untuk para muda mudi, anak-anak dan para janda yang ada di wilayah ini.


"Keren Non! Pantas Bos memilih Non untuk memimpin perusahaannya. Baiklah Non, apakah sudah siap kita ke dermaga?" tanya Pak Jack.

__ADS_1


"Sebentar Pak Jack, saya mau menemui adik saya dulu,"


"Silahkan Non,"


Aku berjalan menuju ke pinggir pantai menghampiri Zuri yang sedang memilah-milah kerang hasil pencariannya sedari tadi. Zuri menoleh kearahku dengan tersenyum senang, seakan mau memamerkan kerang-kerangnya tersebut.


"Bagaimana Kak? Kerangku jadi banyak kan? Oiya, apa kita mau pulang? Mereka itu siapa sih, kok sepertinya Kakak penting banget buat mereka?" banyak pertanyaan yang dilontarkan Zuri.


"Mereka karyawan Bram dan menginginkan Kakak hadir di dermaga untuk menemui semua nelayan yang ada di sini. Jadi, Kakak minta kamu pulang lebih dulu. Bilang sama Papa Mama, kalau Kakak sedang membahas perusahaan Bram bersama karyawannya di dermaga. Untuk keselamatan Kakak, jangan khawatir. Lebih lengkapnya nanti Kakak jelaskan saat sudah di rumah, oke,"


"Hah?! Perusahaan? Sejak kapan Kakak mengurus perusahaannya Kak Bram?" Zuri kaget mendengar pernyataanku. Wajar, karena aku belum pernah membicarakan tentang hal ini dengan keluargaku. Jangankan mereka, aku saja masih tidak percaya dengan posisiku saat ini.


"Sudahlah, panjang ceritanya. Ayo bawa kerang-kerangnya. Kamu bisa pulang sendiri kan?" tanyaku.


"Ya bisa dong! Aku bukan anak kecil lagi, rumah kita juga dekat kok," Zuri memasukkan kerang-kerangnya ke dalam kantong plastik.


"Hati-hati ya Kak, kalau ada apa-apa teriak saja sekeras mungkin. Zuri pulang dulu ya,"


"Iya, kamu juga Zuri, hati-hati di jalan,"


Andaikan adikku tau, jika aku memiliki beberapa bodyguard yang selalu menjagaku dari jauh yang sudah dipersiapkan Bram khusus untukku sedari awal aku dan Bram jadian.


Zuri melangkahkan kaki keluar dari pantai dan aku melangkahkan kaki kearah Pak Jack yang sedang menunggu. Aku, Pak Jack dan para bodyguard berjalan menuju ke dermaga yang tidak terlalu jauh dari tempatku dan Zuri bermain tadi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2