Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 56 : Ada Apa Prita?


__ADS_3

Selama perjalanan, Aku mengambil rambutan yang diberikan pedagangnya sebagai bonus. Walau tidak terlalu banyak, tapi cukup sebagai cemilan selama diperjalanan.


Sesekali aku menyuapi rambutan ke mulut Bram. Bram ternyata suka rambutan juga. Selama di Amerika, dia jarang sekali makan rambutan. Tergantung musiman karena banyak di export dari Asia, seperti Indonesia dan Malaysia. Rambutannya juga tidak sefresh di tempat ini, jadi rasanya kurang greget.


Jadi kalau Bram ke Indonesia, dia berusaha mencari keberadaan rambutan. Bahkan kalau lagi mau, dia menginstruksikan semua karyawannya untuk mencari sampai dapat. Hadehh...!


*******


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kita sampai juga di kost aku. Hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Aku bergegas turun dari mobil. Bram juga langsung turun menuju bagasi mobil untuk mengambil rambutan. Bram langsung mengangkat karung dan membawanya ke teras depan dekat pintu ruang tamu. Tak lupa Bram membawa jagung bakar yang sudah di pesan.


Aku memencet bel. Dan tak berapa lama, muncul bibi yang membukakan pintu. Aku dan Bram mengucapkan salam dan masuk.


"Bibi, Prita di mana?" tanyaku.


"Ada non, di kamarnya. Tunggu bentar, Bibi panggilin ya," jawab Bibi.


Aku mengangguk dan langsung duduk di sofa bersama Bram.


"Zanu, aku nggak bisa berlama-lama. Mau siap-siap buat diskusi masalah demo lusa," ujar Bram sambil meletakkan jagung bakar di atas meja.


"Iya Kak, tunggu Prita keluar dulu. Aku mau minta bantuan Prita buat bagiin rambutannya,"


"Oke, aku tunggu,"


"Oiya, memangnya ada demo apa ya Kak?" tanyaku.


"Besok kita membahas tentang kasus beberapa mahasiswi yang sudah dilecehkan oknum dosen-dosen. Ketua BEM BA minta bantuan kampus lain untuk ikut andil menyuarakan keadilan dan mengusut si pelaku. Karena para pelaku memiliki hubungan kekeluargaan dengan petinggi pemerintah dan petinggi kepolisian di Provinsi ini. Semua ketua BEM menunjuk aku untuk memimpin lagi dalam kasus tersebut," jawab Bram.


"Kalau demo-demo gitu Kakaknya aman nggak?" tanyaku lagi.


"InsyaAllah aman, kamu jangan khawatir. Kan ada Atif," jawab Bram dengan santainya.


"Walau ada atif, tetap Kakak waspada. Kan kita nggak tau kalau ada orang yang berniat jahat," aku mengingatkan Bram.


"Ya tentulah, dimanapun aku berada, aku selalu waspada. Do'a kan ya besok lancar urusanku dan teman-teman besok,"


"Iya Kak, jangan lupa beri kabar. Telepon saja ke kost dan titipkan pesan," jawabku.


Bram mengangguk. Prita terlihat keluar dari kamarnya.


"Hei Prita, abis bangun tidur ya?" tanyaku.


"Nggak, abis lipat pakaian. Baru nyampe ya?" tanya Prita.

__ADS_1


"Iya. Oiya, itu ada rambutan dibelikan Ketua. Bantu aku nanti ya bagi-bagiin sama teman-teman di sini," jawabku.


"Benar nih?? Duh, aku suka rambutan lho. Baiklah, nanti aku bantuin," jawab Prita antusias.


Bram berdiri dan mengambil karung yang ada di teras depan, lalu meletakkannya di dalam ruang tamu.


"Zanu, aku langsung pamit," ujar Bram.


"Nggak minum dulu Ketua?" tanya Prita.


"Tidak, terima kasih Prita," jawab Bram.


Aku salam tangan Bram. Dan mengantarkannya ke teras depan.


"Semoga besok lancar diskusinya Kak. Lusa setelah selesai demo, telepon aku," ujarku.


"Baik, aku pulang ya," jawab Bram sambil mengacak rambut depanku.


Aku mengangguk dan melihat Bram yang langsung bergegas menuju mobilnya.


Setelah masuk, Bram membuka kaca mobil.


"Zanu, jangan malam-malam tidurnya. Mimpiin aku, he..he..he," Bram menggodaku.


"Ogah, ngapain mimpi-mimpi segala. Langsung saja ketemu orangnya," jawabku.


"Entar kalau kita udah nikah, baru romantisan. Oiya, thank you ya Kak rambutannya,"


"Iya sayang. Dah, aku pergi dulu.. Bye,"


Aku mengangguk. Bram melajukan mobilnya dan keluar dari kost.


Aku masuk ke dalam, menemui Prita yang dari tadi duduk dan pegang karung rambutan. Hadeh...!! Sampai segitunya.


"Prita! Kenapa kamu pegang karung sih? Kalau mau ambil aja," ujarku.


"Eh, eh iya Zanu. Aku sampai ngiler lho, ha..ha..ha.., ini rambutan kesukaan aku, namanya rapiah. Pokoknya the bestlah jenis ini. Boleh minta banyakan nggak?" tanya Prita.


"Baginya harus sama rata dengan yang lain. Tapi kalau mau lebih, makan saja sekarang sebelum dibagiin. Entar, kalau masih kurang, datang aja ke kamarku kita makan bareng, oce," jawabku.


"Ide bagus! Ayo kita buka, aku udah nggak sabar nih,"


Aku dan Prita mulai membuka karung dan menariknya dekat sofa. Kita duduk dan mulai mengambil rambutan lalu memakannya.


"Kemana saja tadi, pasti senang ya bisa berduaan," goda Prita.

__ADS_1


"Aku tadi ke pantai lihat sunset. Kita makan jagung bakar dan es kepala muda. Trus sholat di mesjid, lalu pulang. Pas di by pass kita nemu penjual rambutan. Setelah itu pulang. Nih, kalau mau jagung bakarnya," jawabku sambil membuka kotak yang berisi jagung bakar.


"Kamu enak ya bisa kencan kapan saja. Apalagi Ketua orangnya nggak macam-macam. Lha aku? Jadian aja belum, ketemunya baru kemaren doang, ha.ha.ha..,"


"Prita, kalau menurut Ketua, jangan terlalu berharap sama Atif. Karena Atif orangnya lebih memikirkan pekerjaan ketimbang pacaran. Takutnya kamu nggak sanggup menjalani hubungan dengan Atif," ujarku hati-hati takut menyinggung perasaan Prita.


"Lho, emangnya Atif cerita sama Ketua ya?" tanya Prita penasaran.


"Nggak. Nggak ada cerita apa-apa. Ketua bilang beberapa bulan lagi Atif mau di ajak ke Amerika. Atif itu asisten sekaligus bodyguard pribadinya Ketua. Dan dia bekerja secara profesional, jadi tidak akan ada waktu untuk mikirin pacaran. Itu yang Ketua sampaikan ke aku," jawabku.


"Ke Amerika?!" tanya Prita sedikit teriak.


"Iya, kalau kamu jadian sama Atif, kalian LDR an. Entah kapan-kapan bisa ketemu lagi," jawabku.


Padahal sebenarnya aku juga sedih, karena Bram bakal jauh, hiks..


Prita tersenyum. Seakan dia seperti menyimpan sesuatu dan tidak peduli dengan Atif yang akan pergi jauh. Itu yang aku tangkap dalam fikiranku.


"Zanu, kalau ke Amerika itu sih kecil buatku. Aku orangnya suka penasaran dengan sesuatu yang belum aku miliki. Apalagi seorang Atif, kalau aku sudah suka, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkannya. Kecuali dia sudah menyerah atau menolak secara langsung, barulah aku mundur," ujar Prita dengan semangatnya.


"Lho, Amerika kan jauh Prita. Kenapa kamu malah bilang kecil, ada-ada aja. Apa kamu termasuk penganut quote, jauh di mata dekat di hati gitu?," tanyaku sambil makan rambutan.


"Udah ah, kamu lihat saja. Nanti aku akan buktikan sendiri, kalau Atif bakal suka padaku," Prita menepis pertanyaanku, seakan ada sesuatu yang disembunyikannya.


"Nggak! Aku mau jawabannya sekarang Prita. Aku tidak suka menjadi orang yang selalu di bikin penasaran. Kalau kamu tidak jelaskan, bagaimana nanti kedepannya aku bisa membantumu? Kecuali kamu bisa sendiri, ya sudah. Toh nanti balik lagi minta bantuanku, karena Atif ngikut Ketua, otomatis lebih update berita yang aku dapatkan," ujarku sedikit mengancam.


"Jadi kamu mengancamku Zanu?" tanya Prita.


"Nggak, kamu kan temanku. Jadi saat ini kamu butuh dukungan dan info dariku," jawabku.


Prita menghela nafas sejenak. Sepertinya dia akan menceritakan sesuatu padaku dan menyerah.


"Zanu, ini cukup kamu saja yang tau ya. Kalau sampai orang lain tau darimu, aku nggak mau anggap kamu teman lagi,"


"Lho, malah kamu yang balik ngancam, ha.ha.ha..," aku ngakak.


"Bukan gitu. Ini rahasia yang mesti aku jaga dan ini semua demi keselamatanku Zanu. Tapi sebaiknya kita bicara di kamarku saja, oke,"


"Aduh, kenapa harus di kamar Prita? Aku sudah tidak sabar menunggu jawaban kamu dari tadi. Kenapa sih jadi berbelit-belit gini?" tanyaku mulai sedikit kesal.


"Pokoknya kalau mau tau, kita ke kamarku sekarang. Baru aku jelaskan. Kalau kamu nggak mau, ya udah, cerita sampai di sini saja," jawab Prita tegas dan serius.


"Ya deh...., aku nurut nih,"


"Nah gitu donk, rambutannya tinggalin aja dulu di sini,"

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku masuk kekamarnya Prita. Di ikuti oleh Prita dari belakang. Dan Prita menutup pintu, lalu menguncinya.


...****************...


__ADS_2