
Aku dan Bram sudah bersiap dengan memakai baju pelapis dan masker.
Salah satu karyawan yang bertugas menjaga pintu masuk, mempersilahkan aku dan Bram dengan membukakan pintu berukuran lumayan besar dari semua pintu yang ada di Perusahaan ini.
"Terima kasih Pak Bambang," ujar Bram dengan senyum ramahnya.
Pak Bambang mengangguk dan juga tersenyum. Aku dan Bram masuk ke dalam. Di dalam aku melihat banyak mesin-mesin berukuran besar sedang membuat suatu adonan dan alat pemilah adonan tersebut. Terdapat beberapa karyawan di sana dengan memakai seragam berwarna putih biru.
"Selamat datang, di pabrik roti Kembang. Roti-roti ini sudah beberapa kali aku berikan ke kamu kan? Masih ingat nggak?" ujar Bram penuh semangat.
Wah..!! Ternyata roti-roti pemberian Bram merupakan produksi sendiri. Pantas saja Bram selalu membawa roti dan tidak kehabisan stock.
"Tapi Kak, kenapa setiap roti yang aku makan, diplastiknya tidak ada label atau tulisan apapun?" tanyaku sedikit bingung.
"Itu khusus disisihkan untukku jika aku mau. Memang sengaja tanpa label, supaya tidak ada yang tau roti apa yang aku makan. Aku tidak mau ada yang tau tentangku. Dan baru kamu, aku memberitaukan semua ini," jawab Bram.
"Tapi kan, dengan Kakak memakan roti yang berlabel, orang jadi tau kesukaan Kakak. Dan tidak menutup kemungkinan, orang juga ikut membeli karena penasaran dengan apa yang Kakak makan. Itung-itung promosi berjalan. Contoh kecil saja di kampus kita, aku rasa hampir semuanya pasti penasaran apapun tentang Kakak. Konsumen tidak akan tau rasa roti ini, jika tidak ada promosi. Sedangkan Kakak merupakan figur yang kuat di kampus, jadi besar kemungkinan roti-roti ini akan laku keras," ujarku panjang kali lebar.
"Wow! Amazing idemu. Aku tidak pernah berfikir sampai ke situ. Baiklah, aku akan menuruti saranmu. Mulai besok aku akan pasang label di setiap roti yang aku makan. Dan roti-roti ini juga aku akan stock buat kamu di kost setiap minggu, oke!"
"Tidak usah. Daripada Kakak memberikan aku roti ini setiap minggu, lebih baik Kakak berikan ke anak-anak jalanan atau pengemis. Biar mereka juga ikut merasakan enaknya roti ini. Aku bisa minta ke Kakak jika aku mau atau beli langsung ke supermarket, gampang kan?" jawabku.
"Kamu memang baik, dan cerdas. Memang tidak salah aku memilihmu. Walau terkadang kamu terlihat lugu dan jutekan, tapi ada nilai lebih yang bisa di andalkan. Dan kamu juga sangat cantik menurutku apalagi saat tidur nyenyak, ha..ha..ha...," ujar Bram mulai menggodaku lagi.
"Apaan sih? Kenapa Kakak ketawa?" tanyaku penasaran.
"Nggak ada. Kamu terlihat lucu kalau sudah tidur nyenyak, apalagi sudah membuat pulau, ha..ha..ha...," Bram tertawa lagi.
Duh malunya, pasti maksud Bram aku ada iler jika tidurku sudah nyenyak.
Aku langsung cemberut dan diam saja.
"Kamu jangan cemberut. Nanti kamu makin cakep lho. Udahlah, tersenyum dong. Aku cuma becanda, bagaimanapun kamu tetap cantik menurutku," Bram mulai membujukku.
Aku tersenyum. Aku tau Bram hanya bercanda, tapi kan malu kalau ternyata Bram suka memperhatikanku diam-diam.
"Yok, kita ke bagian belakang tempat packing roti-roti," Bram mengajakku ke ruangan lain.
Aku mengangguk dan mengikuti Bram dari belakang.
Di ruangan ini terlihat lebih banyak karyawannya dibandingkan ruangan tadi. Karena ruang khusus packing membutuhkan banyak tenaga untuk mengecek kondisi roti. Yang nantinya akan dimasukkan ke dalam dus atau box.
"Kita memproduksi roti dengan tiga varian rasa. Yang biasa aku berikan ke kamu itu rasa original. Dua lagi rasa coklat dan keju. Kamu mau coba yang mana?" tanya Bram.
"Hmmm.., mau rasa keju," jawabku.
Bram berjalan menuju box yang akan di packing. Dia mengambil dua roti. Satunya diberikan kepadaku dan satunya lagi untuk Bram.
"Yuk, kita duduk di sana. Kamu coba yang rasa keju," ujar Bram.
Aku dan Bram berjalan ke sudut ruangan. Di sana sudah tersedia meja dan kursi. Aku dan Bram langsung duduk. Kubuka plastik roti dan kumakan.
Hmmm... enak sekali rasa roti ini.
"Enak kan rotinya? Nanti kita bawa tiga box dengan rasa yang berbeda, buat di kostmu. Terserah kamu mau di makan sendiri atau berbagi dengan teman-temannya," ujar Bram antusias.
"Jangan banyak-banyaklah Kak. Secukupnya saja," jawabku.
"Tidak apa-apa. Sekalian promosi kan? Kalau tidak di coba dulu, bagaimana konsumen tau rasa roti-roti ini? Nah, di kost kamu banyak temannya tuh, tolong promosikan,"
__ADS_1
Benar juga yang dikatakan Bram.
"Oiya Kak, kenapa hanya tiga varian rasa? Kan bisa ditambahkan rasa strawberry, nenas dan vanilla. Supaya banyak pilihan untuk di komsumsi konsumen,"
"Hhmm.., nanti aku akan diskusikan lagi dengan Pak Omar. Kamu sudah selesai makannya? Mau nambah lagi nggak?" tanya Bram.
"Udah Kak, segini saja," jawabku singkat.
"Ya udah, kita langsung balik saja ya. Hari sudah mulai sore, bentar lagi pabrik akan tutup jam lima. Aku ke gudang sebentar, kamu tunggu di sini,"
"Jangan lama-lama ya Kak, takut aku di tinggal sendirian,"
"Nggak lama kok. Tunggu sebentar ya..,"
Bram langsung bergegas berjalan ke arah pintu belakang gudang. Aku terus memperhatikan arah pintu yang di lewati Bram tadi. Ada beberapa karyawan pabrik yang sedang melakukan tugasnya di sana.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh dua orang karyawan cowok yang ada di sana. Mereka berjalan mendekatiku dengan gaya cengengesan.
Sepertinya mereka ingin menggangguku. Aduh! Kemana nih Bram? Cepat datang Bram, aku takut nih!
"Hallo neng, lagi nungguin siapa nih?" ujar satu cowok dengan gaya genitnya.
Aku diam saja. Aku mulai gelisah dan takut.
"Jawab dong neng. Di sini tempat orang bekerja, ngapain neng di sini sendirian? Lagi nungguin abang kerja ya neng?" ujar cowok satu lagi.
Mereka mulai menggodaku.
Yang satunya lagi beranjak hendak duduk di dekatku. Aku langsung menepis.
"Kalian jangan ganggu aku," ujarku memberanikan diri untuk bersuara walau sedikit terbata-bata.
Mereka tertawa dan mulai beranjak lebih dekat lagi ke arahku.
"Bram! Bram! Tolong..!" teriakku sambil berlari menuju pintu yang di lewati Bram tadi.
Tidak lama kemudian, kulihat Bram berlari sekencang mungkin ke arahku. Dia terlihat panik saat melihatku dalam ketakutan.
"Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Bram.
"Itu karyawan Kakak mau menggangguku," jawabku sambil menunjuk ke arah dalam ruangan tadi.
Bram langsung masuk ke dalam dan aku menyusulnya dari belakang.
"Eh kalian!! Kenapa kalian ganggu perempuan ini?! Apa kalian tidak bekerja?!" tanya Bram penuh emosi.
"Kita cuma tanya saja mas, ada keperluan apa dia ke mari. Ruangan ini kan khusus untuk karyawan," ujar salah satu cowok itu.
"Emang mas siapanya dia? Apa sudah minta izin masuk ke sini?" tanya cowok satu lagi dengan gaya belagunya.
"Saya tidak perlu izin siapapun untuk masuk ke sini! Karena semua isi pabrik ini punya saya! Dan perempuan ini calon istri saya! Siapa orang yang meloloskan kalian kerja di sini? Tidak ada etika dan sopan santun!" Bram terlihat berapi-api penuh amarah.
Baru kali ini aku lihat Bram semarah marahnya. Aku takut melihat Bram seperti itu.
Aku mendekati Bram dan menenangkannya.
"Sudah Kak, sudah," ucapku sambil memegang bahu Bram.
Tiba-tiba masuk Pak Omar, Pak Suryo dan karyawan lainnya. Mereka tergopoh-gopoh menghampiri Bram.
__ADS_1
"Ada apa Pak Bram? Ada yang menyampaikan ke saya, kalau di sini ada kegaduhan?" tanya Pak Omar.
"Tolong dua karyawan Bapak ini di off kan saja. Saya tidak ingin mereka ada di pabrik ini lagi," jawab Bram dengan emosinya yang sedikit berkurang.
"Maaf kan saya Pak, jika mereka mengganggu kegiatan Bapak di sini. Saya segera off kan mereka sekarang juga," ujar Pak Omar dengan tegas.
Bram langsung menghampiriku dan memegang pundakku dari belakang.
"Siapapun tidak boleh ada yang mendekati atau mengganggu Zanuku," ujar Bram.
Tiba-tiba dua karyawan tersebut terlihat shock, seakan tidak percaya dengan yang mereka alami.
Aku yakin, mereka sebenarnya tidak tau siapa Bram. Karena mereka hanya tau yang menghandle pabrik ini secara keseluruhan adalah Pak Omar.
Mereka bersujud ke arah Bram sambil menangis.
"Maaf Pak. Kami tidak tau kalau Mbak ini ikut Bapak. Kami juga tidak tau kalau Bapak pemilik pabrik ini. Maafkan saya Pak. Tolong jangan pecat saya, saya sedang mengumpulkan uang untuk berobat istri saya," ujar satu karyawan sambil memegang kaki Bram.
Bram hanya diam. Sepertinya Bram sedang mengendalikan emosinya.
"Pak, saya juga minta maaf Pak. Saya juga sedang butuh uang untuk istri saya melahirkan. Kami berdua salah Pak, mohon maafkan kami," ujar karyawan satu lagi sambil duduk tertunduk malu di hadapan Bram dan menangis.
Bram masih saja diam.
"Kak, tolong maafkan mereka. Mungkin mereka awalnya cuma becanda dan...,"
"Dan kamu membiarkan mereka seperti itu Zanu? Buat apa kamu membela mereka?! Itu tau mereka berdua sedang berjuang untuk istrinya yang juga seorang perempuan? Seharusnya mereka lebih tau dari pada kamu," jawab Bram sedikit marah.
Semua yang berada di ruangan terdiam membisu dengan pikiran masing-masing.
"Pak, silahkan berdiri. Saya sudah memaafkan Bapak berdua. Dan untuk keputusannya tetap diserahkan ke Pak Bram. Saya berharap untuk terakhir kalinya Bapak berprilaku seperti ini. Semoga Pak Bram bisa memaafkan Bapak dan bisa bekerja kembali," ujarku.
"Iya mbk, terima kasih Mbk. Perbuatan kami memang tak pantas untuk dimaafkan. Kami khilaf, maafkan kami berdua Mbk..," ujar mereka memelas sambil mendekatiku.
"Kalian jangan mendekat! Kalian saya maafkan. Ini karena permintaan calon saya. Tolong ya Pak Omar, hal-hal seperti ini harus diperhatikan, saya tidak mau karyawan saya ada yang tidak beretika. Karena itu berpengaruh dalam kemajuan Perusahaan ini," ujar Bram datar.
Bram sudah bisa mengendalikan emosinya.
"Baik Pak, kedepannya saya akan perhatikan lagi," jawab Pak Omar.
"Ya sudah Pak, lupakan saja kejadian hari ini. Saya sudah berkeliling dan mau pulang. Ada tiga box roti di ruang belakang, tolong bawa ke mobil saya. Saya sama Non Zanu pamit,"
"Baik Pak, terima kasih atas kunjungannya. Maaf Non Zanu atas kejadian yang tidak mengenakkan ini,"
"Iya Pak, tidak apa-apa. Terima kasih ya Pak sambutannya," jawabku sambil tersenyum.
Bram menggenggam tanganku dan membawaku keluar dari ruangan packing.
Kulihat Bram hanya diam saja. Tanpa expresi dan berjalan menatap lurus ke depan. Bram membuka baju pelapis dan masker, lalu meletakkan di atas meja dekat pintu masuk. Aku juga mengikuti apa yang Bram lakukan.
Bram membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk ke dalam dan kemudian Bram ikut masuk di bagian kemudi.
Bram menghidupkan mesin sambil menunggu karyawan yang membawa tiga box roti. Karyawan memasukkan box tersebut ke bagasi mobil.
"Terima kasih Pak," ucap Bram.
"Iya, sama-sama Pak Bram. Hati-hati mengemudi," ucap karyawan tersebut.
Bram mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya.
__ADS_1
...****************...