
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Aku dan Bram sudah menghabiskan makanan dan minuman. Puding dan buah juga sudah kita cicipi.
Bram berdiri dan mengajakku berjalan ke arah taman yang pondasinya seperti altar. Kiri kanan terdapat air mancur dan bunga-bunga berwarna pink.
"Zanu, aku mau menunjukkan sesuatu ke kamu. Sekarang tutup mata, awas ngintip, oke," perintah Bram.
"Ada apa sih, kita mau lihat apa di sini? Kok lampunya di matiin? Gelap..," ucapku.
"Sudah, tutup saja matanya. Dihitungan ke tiga, silahkan di buka,"
Aku mengangguk dan perlahan menutup mata. Bram memegang bahuku dari samping.
"Oke siap.., satu.., dua.., tiga..!"
Aku membuka mataku dan melihat sesuatu yang terang di atas langit.
Duar! Duar! Duar!
Kembang api! Wow! Langit menjadi terang seketika.
"Indah bukan? Kamu suka Zanu?" tanya Bram.
"Suka sekali....! Duh, kok kepikiran Kakak ngasih surprise kembang api?" tanyaku seakan tidak percaya.
Biasanya aku melihat kembang api hanya di malam tahun baru, itupun dari kejauhan.
"Bentar lagi ada special buat kamu Zanu, tunggu saja,"
Aku melihat kembali kembang api yang membahana bergantian warna dan bentuk.
Tiba-tiba ada kembang api yang bertuliskan I Love U di langit, diiringi dengan kembang api berwarna pink.
"Itu Zanu maksudku tadi. Terima kasih Zanu, malam ini sudah menemaniku," ucap Bram sambil membelai rambutku.
"Terima kasih juga Kak surprisenya, aku nggak nyangka lho bisa melihat kembang api dari dekat begini, serasa mimpi," jawabku.
"Zanu, malam ini kita sudahi dulu. Aku mau mengantarkan kamu ke kost. Jangan lupa menghubungi orang tuamu untuk memberi kabar, nanti pakai ponselku saja," ujar Bram.
"Baik Kak, sekali lagi terima kasih untuk malam ini,"
"Iya Zanu, sama-sama. Yok kita jalan, jangan lupa bawa ranselmu,"
"Oke,"
Aku dan Bram berjalan meninggalkan taman. Kita melewati ruang sholat, ruang tengah dan ruang tamu. Di teras depan sudah terlihat mobil Bram parkir.
"Malam ini biar aku yang antar kamu, tanpa pengawalan,"
"Amankah?" tanyaku.
"InsyaAllah aman,"
Bram membukakan pintu mobil untukku, aku masuk dan duduk.
"Bos! Ada yang ketinggalan," ujar Pak Tio berjalan tergopoh-gopoh.
Bram menoleh.
__ADS_1
"Apa ada Pak Tio?" tanya Bram.
"Itu Bos, karung berisi rambutan," jawab Pak Tio sambil tersenyum.
"Oh iya, lupa saya Pak. Sekarang di mana karung itu? Bawa ke sini dan masukkan ke dalam bagasi mobil saya," perintah Bram.
"Itu Bos, sedang di bawa Ucup," Pak Tio menunjuk ke dalam ruangan.
Bram menutup pintu mobilku dan beranjak masuk ke dalam mobil.
"Aduh Kak, jadi merepotkan, he..he..," ucapku.
"Nggak apa-apa, kan aku yang bawa tadi. Kita tunggu saja,"
Tidak berapa lama, datanglah Pak Tio bersama karyawan yang bernama Ucup. Mereka membawa karung dan langsung memasukkannya dalam bagasi mobil Bram.
"Sudah Bos, hati-hati selama di jalan," pesan Pak Tio.
"Iya Pak, terima kasih. Saya pergi dulu, jika ada sesuatu saya usahakan hubungi. Mari Pak," jawab Bram.
"Iya Bos, selamat jalan Non Zanu. Kapan-kapan ke sini lagi ya," Pak Tio tersenyum kepadaku.
"Iya Pak, InsyaAllah nanti saya main ke sini lagi," jawabku.
Bram menghidupkan mesin mobilnya dan mobil melaju keluar pagar dan gerbang.
********
Selama dalam perjalanan, tidak banyak yang kita bicarakan. Sebenarnya aku mulai merasakan kantuk, di lihat dari seringnya aku menguap.
"Kamu sepertinya ngantuk," ucap Bram.
"Kalau kamu masih merasa kantuk dan berat untuk kuliah besok pagi, kamu bisa tunda lusanya. Jangan dipaksakan," pesan Bram.
"Aku harus kuliah Kak, sudah beberapa hari aku off. Nanti ketinggalan mata kuliah. Ada kuis dadakan, bisa dapat nol nilaiku," jawabku.
"Maafin aku ya, gara-gara aku sakit, kamu tidak masuk kuliah. Besok aku jemput dan antar pulang,"
"Nggak usah Kak, merepotkan saja. Besok pasti Kakak banyak kegiatan yang sudah ketinggalan. Aku tidak mau mengganggu, lagi pula jarak kampus ke kost aku kan dekat," tolakku halus.
"Tidak apa-apa. Besok aku jemput langsung ke ruangan tempat kamu kuliah," Bram bersikeras.
"Aduh, jangan sampai keruangan. Kita janjian saja di luar. Malu aku Kak, di lihat terus sama anak-anak kampus,"
"Lihat saja besok,"
Aku diam, percuma berdebat sama Bram.
Mobil melaju menuju kost. Kangen rasanya bisa melihat kembali kost aku ini. Pasti aku banyak ketinggalan cerita. Tidak sabar rasanya, ingin mendengar gosip-gosip dari anak-anak penghuni kost.
Tin! Tin!
Bram mengklakson mobilnya saat berada di depan pagar kost. Terlihat Bibi kost tergopoh-gopoh keluar dan membukakan pintu pagar.
Setelah pagar terbuka, Bram memasukkan mobilnya dan berhenti di teras depan.
Aku dan Bram keluar. Karung beriisi rambutan langsung Bram keluarkan dari bagasi mobil.
"Selamat malam Non," ujar Bibi.
__ADS_1
"Malam juga Bi, apa kabar?" tanyaku sambil menyalami bibi.
"Baik Non. Malam ini Non nginap di sini atau balik lagi?" tanya Bibi.
"Nginap Bi. Besok aku mau kuliah. Oiya, saya bawa rambutan Bi sekarung. Nanti kita bawa kebelakang bareng,"
"Baik Non, Bibi masuk dulu bukakan pintu ruang tamu ya,"
"Iya Bi, saya tunggu,"
Bibi masuk ke dalam lewat pintu samping. Aku dan Bram menunggu pintu di buka.
"Zanu, aku nggak bisa lama-lama. Oiya, ini ponselku. Cepat kamu hubungi keluargamu, ini sudah mau jam sembilan malam. Nanti takutnya orang tuamu khawatir," ujar Bram memberikan ponsel ketanganku.
Aku langsung mengambil ponsel dari tangan Bram. Aku menekan tombol nomor telepon rumah di Prn. Tidak berapa lama, terdengar ada yang mengangkat dari seberang.
"Hallo Ma, Zanu sudah sampai kost diantar Bram," ujarku.
"Oke, baik Ma. Salam buat Papa dan Zuri,"
Klik!
Aku mengakhiri percakapan dan mematikan ponsel.
"Ini Kak ponselnya, terima kasih. Tadi yang angkat Mama dan sudah aku kabari, salam buat Kakak pesan Mama," ujarku.
"Iya, salamnya di terima," jawab Bram.
Kreet..!
Pintu ruang tamu terbuka dan Bibi mempersilahkan kita masuk. Bram mengangkat karung rambutan ke dalam ruang tamu.
"Bi, saya pamit dulu. Zanu nya sudah saya antar," ujar Bram ke Bibi.
"Iya, terima kasih. Hati-hati di jalan,"
Bram mengangguk.
"Aku pulang dulu Zanu. Besok jangan lupa," pesan Bram.
"Siap. Hati-hati ya Kak,"
Bram beranjak keluar dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Tak lupa Bram melambaikan tangannya kepadaku.
"Bye Kak,"
Mobil Bram keluar pagar dan melaju hingga menghilang dari pandanganku.
Aku masuk ke dalam dan Bibi mengunci pintu.
"Bi, Prita sudah tidur ya?" tanyaku.
"Prita belum pulang Non. Ini hari kedua, belum balik ke sini," jawab Bibi.
"Hah! Beneran Bi? Kemaren dia pamit ke saya mau ke sini," ujarku kaget menerima berita Prita.
"Benar Non,"
Ya Tuhan! Apa yang sudah terjadi? Kenapa Prita tidak memberi kabar terlebih dahulu? Bukannya dia ke sini diantar Atif?
__ADS_1
...****************...