Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 146 : Keponakan Mami Adalah..


__ADS_3

Aku sudah berada di dalam Bus. Kali ini aku tidak mendapatkan bangku karena membludaknya mahasiswa yang masuk ke dalam Bus. Dengan terpaksa aku berdiri berdesakan dengan yang lain.


"Zanu, duduk di sini saja," aku mendengar seseorang memanggilku. Saat aku menoleh ke sumber suara ternyata itu Ibas, teman akrabnya Bram. Ia berdiri dan memberikan bangku kosongnya kepadaku.


Awalnya aku ragu, tapi terlihat banyaknya orang berdesakan di dalam bus, aku mencari aman dan menerima tawaran dari Ibas.


"Terima kasih Kak," ucapku.


Ia mengangguk dan berdiri di samping kursiku. Bus melaju kencang menuju ke pasar baru. Semua di dalam Bus merasa cemas dan protes.


"Pak, hati-hati bawa bus nya. Kita bisa celaka kalau bapak bawa bus seperti ini!" Ibas berteriak diantara hiruk pikuknya suara protes mahasiswa yang berada di dalam Bus.


Sang sopir hanya diam, ia tidak merespon perkataan Ibas dan protes mahasiswa. Bus tetap melaju dengan cepat.


Untungnya aksi itu cepat berhenti, karena tujuan kita sudah sampai. Semua mahasiswa menggerutu dan ada yang memukul bus.


Aku turun dan kebetulan Ibas ikut turun tepat berada dibelakangku.


"Terima kasih Kak bangkunya," ucapku.


"Iya sama-sama. Kamu tinggal di mana Zanu?" tanya Ibas kepadaku. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.


"Di sana Kak, tidak jauh kok dari sini," aku menunjukkan arah tempat kost yang dari kejauhan sudah terlihat.


"Oh.. Oke, Kakak ke sana dulu ya. Bye Zanu," Ibas melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Zena. Terlihat Ibas menaiki sebuah mobil mewah yang sedari tadi sudah menunggunya di dekat halte.


Aku melangkah berjalan menuju kost. Dari pintu samping terdengar ada beberapa orang yang sedang mengobrol. Aku masuk ke dalam dan melihat ruang tengah sudah ada teman-teman yang baru pulang kuliah.


"Hei Zanu. Sini dulu, ada yang mau kita sampaikan," ajak Kak Siska.


Aku menerima ajakan mereka dan ikut bergabung. Mereka sudah bergantian pakaian santai dan sekarang sedang menonton berita.


"Ada apa Kak? Oiya bagaimana kabar Mami? Rencananya hari ini Zanu mau menjenguk Mami ke rumah sakit," ujarku.


"Operasi Mami lancar. Nanti bareng Kakak saja ke sana. Nanti dulu kita membahas itu, tadi ada telepon buat kamu," ujar Kak Siska.


"Telepon dari siapa Kak?" aku berharap itu dari Bram.


"Telepon dari Ketua. Ia mengatakan jika ia sudah sampai dengan selamat. Memangnya Ketua lagi di mana Zanu?"

__ADS_1


"Oh! Ketua kerumah pamannya di Jakarta," aku terpaksa berbohong. Senang rasanya hatiku mendengar kabar dari Bram. Tapi sayang aku tidak bisa bicara langsung dengannya.


"Oo, mungkin sekalian jalan-jalan ya Zena. Kan abis sidang, orang pada santai dan butuh refresing,"


"Iya Kak. Kak, Zanu ke atas dulu ya, mau ganti pakaian," aku sebenarnya ingin rebahan sambil mengingat Bram. Betapa rindunya aku akan kehadiranya.


"Oke Zanu, nanti jam tiga kita menjenguk Mami ya,"


Aku mengangguk dan mangsung menuju ke lantai dua dengan menaiki tangga. Teman yang lainnya masih sibuk menonton berita.


********


Tanpa kusadari saat rebahan tadi mengingat Bram, aku tertidur. Untungnya aku segera bangun saat pukul setengah tiga. Jadi, masih ada waktu untuk bersiap-siap pergi bersama Kak Siska.


Setelah mengganti pakaian dan dandan seadanya, aku turun ke bawah menuju ke kamar Kak Siska.


Tok!


Tok!


"Kak, ini Zanu. Apa jadi kita pergi?" tanyaku melalui pintu kamar yang belum terbuka.


Aku menunggu Kak Siska di ruang tengah. Entah mengapa aku menoleh ke arah ruang tamu. Teringat saat pertama kali Bram datang mengantarkanku dan menjemputku. Teringat juga saat ia membawakan sekarung rambutan. Dan kenang-kenangan lain yang masih terbersit diingatanku.


"Hei Zanu! Kenapa kamu termenung? Apa yang kamu pikirkan? Dari tadi lho Kakak panggil," Kak Siska mengangetkanku. Aku tidak sadar sudah berapa lama aku merenung mengingat Bram.


"Eh..eh, iya Kak. Maaf. Oiya, apa kita langsung berangkat?"


"Ayo," ajak Kak Siska. Kita berdua pergi memakai mobil Kak Siska menuju ke rumah sakit.


Sebelum sampai, kita singgah dulu ke toko buah untuk diberikan ke Mami. Kita memesan dua kilo jeruk dan sekilo mangga. Setelah itu pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana kita langsung pergi ke kamarnya Mami yang sedang menjalani pemulihan setelah operasi besar kemaren.


"Hai Mami," sapaku barengan Kak Siska.


"Hallo juga Siska dan Zanu. Duh, surprise lho Mami dijenguk Zanu. Perasaan sudah lama sekali tidak bertemu kamu, kemana saja sayang?" tanya Mami. Terlihat ia sumringah menyambut kami berdua. Melihat kondisinya yang ceria, besar kemungkinan ia cepat sembuh.


"Ada banyak tugas Mami dan pulang kampung, he.he..," aku tidak mau membahasnya lebih terperinci jika sebenarnya waktuku banyak dihabiskan bersama Bram. Jadi tidak heran aku jarang berada di tempat kost.


"Yang penting buat Mami, kalian semua sehat. Jangan seperti Mami ini, sudah sekarat baru berobat,"

__ADS_1


"Ah Mami, ini cuma bawaan umur saja. Mami sehat-sehat saja kok, awet muda pula," puji Kak Siska.


"Ah kamu Siska, bisa aja," Mami menanggapinya dengan tersipu malu-malu.


"Oiya, siapa yang jagain Mami? Kok tidak orang di sini?" tanyaku.


"Ada, tadi baru datang keponakan Mami dari kampus. Barusan ia keluar beli makanan, katanya ia masih lapar," jawab Mami.


"Oiya lupa, ini mami oleh-oleh dari kita. Cuma ini saja Mi," Kak Siska memberikan kantong plastik berisi buah-buahan kehadapan Mami.


"Aduh, tidak usah repot-repot bawa buah tangan segala. Kalian ambil sana di dalam kulkas maunya apa, ada buah-buahan juga," Mami menyambut kantong plastik yang diberikan Kak Siska, lalu ia mengambil jeruk dan mangga. Ia menyusunnya didalam keranjang yang berada di atas lemari kecil.


Kak Siska dan aku mengintip isi kulkas yang ditunjukkan Mami barusan. Terdapat ada banyak makanan didalamnya, sampai aku bingung mau mengambil apa yang terlebih dahulu.


Aku mengambil puding dan Kak Siska mengambil dua buah jeruk. Kita berdua duduk di sofa dan mulai menikmati makanan yang sudah ada ditangan.


"Itu puding premium, teman Mami yang memberikannya kemaren," penjelasan Mami.


"Enak ya Zanu? Kakak mau juga ah,"


"Enak banget lho Kak, pantaslah dikatakan Mami, ini puding premium," Kak Siska membuka kembali kulkas dan mengambil puding. Sama persis yang diambil Zanu. Kak Siska langsung menikmatinya.


"Mami! Ini enak banget lho, sumpah! Apa bisa kita pesan? Teman Mami itu menerima pesanan nggak?" Kak Siska antusias sekali, ia tidak menyangka puding yang ia nikmati begitu lezat.


"Boleh, kalian mau pesan berapa, nanti Mami hubungi beliau. Sekalian teman-teman kalian ada yang mau pesan nggak? Biar dia sekalian bikinnya dalam jumlah yang banyak,"


"Oke Mami, nanti kita coba tanyakan,"


Kreet..!


Ada seorang yang membuka pintu. Ia masuk dan menghampiri Mami.


"Bibi, aku sudah bawa nasi bungkus dan roti," sosok pemuda itu belum menyadari kehadiran kami berdua.


"Mereka siapa Bi? Tamu Bibi ya?" Pemuda itu hanya melihat kita sekilas. Aku dan Kak Siska masih sibuk menghabiskan puding.


"Kamu kenalan saja. Mereka penghuni kost Bibi, sama-sama kuliah ditempat kamu kuliah. Makanya sekali-kali main ke tempat kost Bibi, jangan kelayapan mulu," jawab Mami.


Pemuda itu melihat ke arahku dan aku tanpa sengaja juga melihat ke arahnya. Aku dan dia sama-sama kaget dan tidak menyangka dia adalah keponakannya Mami.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2