Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 118 : Rias


__ADS_3

Di ruang tengah.


Pak Tio menghampiri Bram.


"Bos, tukang rias Non Zanu dan penata stylenya sudah datang. Mereka ada di ruang tamu," ujar Pak Tio.


"Oke, terima kasih infonya. Saya akan menemui mereka," Bram menggenggam tanganku menuju ruang tamu.


Terlihat di sana ada empat orang yang sedang duduk. Dua diantaranya membawa beberapa peralatan. Mereka berdiri saat melihat kedatanganku dan Bram.


"Silahkan duduk kembali," ujar Bram.


Mereka duduk dan terlihat takut serta canggung saat melihat Bram.


Seseram itukah Bram? Atau karena ia mempunyai daya tarik tertentu?


"Bos, saya utusan dari permintaan Pak Tio. Dan ini saya membawa asisten tiga sekaligus," terlihat yang bicara lebih mencolok penampilannya dari ketiga lainnya.


"Nama kamu siapa?" tanya Bram langsung to the point.


"Tara Bos," jawabnya singkat sambil menundukkan kepala.


"Oke, lakukan tugasmu setelah magrib. Jadikan ia terlihat cantik malam ini. Jangan buat saya kecewa,"


"Siap Bos. Pak Tio tidak salah mengutus kami ke sini, karena sudah banyak klien yang puas dengan kinerja kami,"


"Tidak usah banyak promosi di depan saya. Lakukan dan nanti saya sendiri yang menilai," ujar Bram tegas.


Mereka diam dan seakan tidak berdaya mendengar ucapan Bram.


"Sebentar lagi adzan magrib, bagi yang mau sholat bisa ikut berjamaah. Nanti Pak Tio yang mengantarkan kalian ke mushola dan juga ruangan yang akan digunakan untuk merias,"


Bram berdiri, tanpa menunggu penjelasan mereka. Bram menggenggam tanganku kembali dan membawaku melewati ruang lain. Tembus ke mushola mini yang ada di rumah tersebut.


Aku pastikan, si tukang rias sama asistennya pasti bengong melihat sikap Bram, ha.ha.ha..


Di mushola sudah ada beberapa karyawan Bram. Seperti biasa, tidak ada yang berani menegurku dan melihatku.


"Kita sholat dulu Zanu, aku ke sana," ujar Bram.


Aku mengangguk dan langsung menuju ke tempat wudhu bagian perempuan. Adzan magrib sudah dikumandangkan, terlihat penata rias dan tiga asistennya masuk ke tempat wudhu. Mereka berpapasan denganku, aku balas dengan senyuman.


Mereka hanya diam dan menunduk, seakan takut dengan sikap mereka terhadapku.


Apakah Pak Tio yang memberitahukan mereka? Atau mereka takut dengan Bram?


Setelah adzan magrib selesai, semua yang ikut sholat berjamaah sudah berkumpul di dalam mushola.


Pak Tio sebagai imamnya dan sholat magribpun di mulai.


*********

__ADS_1


Setelah sholat selesai, semuanya bubar. Semua karyawan Bram pergi melakukan tugasnya masing-masing. Bram menghampiriku dan membawaku ke lantai atas, ke sebuah kamar yang cukup luas.


"Kamu tunggu di sini ya sayang, nanti tukang riasnya segera ke sini. Aku mau ke kamar untuk ganti pakaian dengan toxedo. Rasanya sudah tidak sabar melihat kamu memakai gaun itu," ujar Bram sambil membelai pipiku.


"Kak, apakah kehadiranku selama ini selalu membuatmu bahagia?" entah kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti itu ke Bram.


Bram diam sejenak dan melihatku.


"Kamu tau Zanu, dari awal kita bertemu, aku merasa seperti ada magnet yang ingin selalu dekat denganmu. Keseharianku hanyalah memikirkanmu, bahkan tanpa kamu menerimaku sekalipun, aku tetap ingin melihatmu dan mendekatimu. Kamu bisa menilai sendiri, kebahagiaanku seperti apa,"


"Terima kasih Kak atas semuanya. Tapi aku merasa, kisah kita ini akan berakhir. Betul bukan?" aku tidak bisa membendung perasaanku lagi.


Bram tertunduk dan langsung berdiri. Ia tidak berani menatapku.


"Sudah Zanu, sekarang kita bersiap-siap ke pesta. Aku mau ke kamar dulu, nanti kutunggu di lantai bawah," ujar Bram sambil berjalan keluar kamar.


Bram, kenapa kamu harus menghindar terus setiap kutanyakan tentang ini?


"Hallo Non Zanu, bolehkah kami masuk," ucap penata rias bersama tiga asistennya.


"Eh iya, silahkan masuk," aku segera menghilangkan rasa sedihku.


"Maaf Non, saya Tara. Ini asisten saya, Sancan, Sisil dan Adel," penata rias bernama Tara memperkenalkan asistennya.


Kulihat yang bernama Sancan dan Adel seperti perempuan jadi-jadian. Mereka gantian menyalamiku.


"Iihhh, cantik kali Non Zanu ini. Belum didandanin aja udah cantik lho..," Sancan memujiku dengan gaya gemulainya sambil melihatku dari atas sampai bawah.


"Iya ya Sancan, pantes Bos milihnya ini. Euh, euke jadi iri ihh," Adel tidak kalah gemesnya dan gemulai.


Aku senyum-senyum saja melihat tingkah mereka. Sepertinya suasana kamar ini jadi hidup dengan kehadiran mereka, rasa sedihku hilang seketika.


"Maaf Non, wajahnya izin saya pegang ya. Kita mulai dandanin,"


Aku mengangguk.


Tara mulai melakukan tugasnya di bantu Sisil untuk memberikan peralatan makeup saat dibutuhkan. Sedangkan Sancan dan Adel membenahi dan mengatur gaunku serta pernak perniknya yang akan kugunakan setelah makeup.


Aku pasrah saja apa yang mereka lakukan dengan wajahku. Karena aku yakin Bram tidak sembarangan memilih penata rias untukku.


"Gaunnya cantik banget! Tapi kok seperti gaun pengantin ya?" celetuk Sancan mengajak ngobrol Adel.


"Huss! Kamu jangan kepo ih, mungkin Bos suka Non pakai warna putih, biar kinclong!"


Aku mendengar percakapan mereka dan memang benar, gaun itu seperti gaun pengantin.


"Eh, hati-hati tu pernak perniknya. Kalian harus hati-hati, nanti ada yang rusak, kita bisa di cut tinggal nama," ujar Sisil ikut nimbrung percakapan mereka.


"Ha..ha..ha.., bisa aja Sisil ini. Jangan takutin kita dong, kita jaga baik-baik lho," celetuk Sancan.


"Yeee, dibilangin! Kamu nggak lihat bodyguardnya seabrek-abrek? Nggak lihat itu tempat latihan tembaknya? Uh, jangan sibuk nyari brondong aja di sini," ujar Sisil mulai kesal.

__ADS_1


"Udah-udah, jangan berisik. Nanti kosentrasiku buyar, habislah kita," ujar Tara.


Aku senyum lihat tingkah mereka semua. Kenapa mereka jadi penakut gitu, apa seseram itu Bram di mata mereka?


Tapi nggak heran juga sih, kalau Bram itu memang orangnya dingin, datar dan tegas. Mungkin hanya bersamaku kepribadian Bram jadi berbeda dan aku juga tidak merasakan apa itu ketakutan selama di dekat Bram.


Aku hanya takut kehilangan Bram.


********


Setengah jam berlalu, akhirnya makeupku selesai dan gaun sudah terpasang. Gaunku di pasang oleh Tara dan Sisil tanpa penglihatan Sancan dan Adel.


Jreng!


Aku berdiri di depan cermin. Wow! Terlihat pantulan di cermin, penampilanku jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Faceku juga ikut berubah, makeupnya yang natural, terlihat anggun dan syahdu.


Cantik! Ya, aku akui penglihatanku, aku jadi cantik dan sedikit dewasa dari umurku. Seperti wanita yang sudah matang dan siap untuk menikah.


Menikah? Deg! Terasa tenggorokanku tersekat. Yup! Aku seperti seorang pengantin.


"Fantastis!! Cantik sekaliiiii Non! Beuh! Bos pasti pangling dan bisa pingsan!" teriak Sancan saat ia melihatku.


"Yuhuu..., siapa dulu yang ngedandanin?" ujar Sisil.


"Wew! Emang dasarnya Non ini cantik, nggak makeup juga udah cantik," jawab Adel mendukung Sancan.


"Sudah! Kalian ini dari tadi ribut terus! Sekarang beresin nih semua yang berantakan di kamar, harus cepat," perintah Tara ke ketiga asistennya.


"Bagaimana Non? Apa puas dengan hasil yang kami berikan?" tanya Tara kepadaku.


"Saya puas sekali Mbak. Terima kasih ya semuanya sudah bantu saya malam ini, saya jadi percaya diri dan senang bisa berubah jadi seperti ini," jawabku.


"Syukurlah.., Non juga sudah menyelamatkan kami," celetuk Sancan.


"Lho? Memangnya kenapa?" tanyaku.


"Lha, Pak Tio bilang, kita harus bisa merubah Non jadi cantik seperti bidadari dan tidak boleh telat dari waktu yang ditentukan. Kalau tidak, kita bisa habis Non," jawab Adel.


"Untungnya yang kita dandanin udah cantik dari sono, jadi nggak perlu ragu dan penuh perjuangan untuk merubah Non, adaw! Tadinya kita mikir yang di dandanin seperti apa gitu," ujar Sancan.


"Habis kenapa ya Mbak?" tanyaku ke Tara.


"Karir kita jadi habis Non. Gitu maksudnye.., Taulah siapa Bos Bram, pengaruhnya itu bisa bikin kita ngumpet, daripada dapat masalah, yee kan," jawab Sancan lagi.


"Sudah Sancan, kamu ember banget. Sekarang Non udah siap dan di tunggu sama Bos di bawah, jangan kelamaan di atas, nanti telat," ujar Tara.


Aku berjalan keluar dari kamar menuju tangga.


"Hati-hati Non, selamat bersenang-senang dan bahagia ya Non," teriak Sisil.


"Oke," jawabku.

__ADS_1


Dengan hati-hati aku melangkah ke bawah. Gaun putih ini menjadi saksi di malam ini.


...****************...


__ADS_2