Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 69 : Rumah Sakit


__ADS_3

Ternyata itu Gilang!!


"Diam kamu!! Tidak usah bicara, tidak ada gunanya!" ujar Bram kepada Gilang dengan bengis dan amarah yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Aku termangu dan hanya diam. Tidak tau harus berbuat apa, bicara apa lagi.


"Atif, bawa dia dari sini!! Ke tempat yang semestinya," ujar Bram kemudian sambil menarik kembali pistolnya.


Bram memberikan pistol ke Atif. Lalu tiba-tiba Bram menarikku.


"Apa kamu bilang tadi?! Tidak usah menemui kamu lagi?! Itu yang kamu inginkan?!" teriak Bram kepadaku.


Aku kaget! Bram tidak pernah marah kepadaku seperti ini.


"Pergi saja Zanu! Percuma kamu bersama dia, kamu akan selalu di kejar-kejar masalah! Percayalah denganku!!" ujar Gilang dengan suara yang keras.


"Kamu dengar itu Zanu! Apa yang dia katakan? Pergilah, jika itu membuatmu senang! Aku tidak akan pernah menyalahkanmu! Pergilah Zanu!" teriak Bram ke hadapanku.


Aku masih diam sambil melihat Bram. Kuperhatikan baik-baik manik matanya, ada harapan dan cinta yang besar di sana. Dan mata coklat itu mulai berkaca-kaca walau aku lihat mulutnya penuh amarah.


Aku kaget! Saat mataku tertuju melihat tubuh Bram penuh luka. Dan bekas luka tembak kemaren terlihat mengeluarkan darah. Belum lagi lebam di mana-mana.


Bram mulai meringis menahan sakit. Tapi dia berusaha berdiri kokoh di hadapanku.


Aku menghampiri Bram dan memeluknya. Entah karena apa aku mencium bibir Bram dengan sangat lembut.


Deg! Kenapa aku bisa jadi senekat ini? Aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri. Ada dorongan di batinku bahwa aku benar-benar mencintai Bram!


"Tidak! Aku tidak akan pergi," bisikku di telinga Bram.


Bram langsung memelukku dengan erat.


"I love you, Zanu," bisik Bram dengan lirih.


Tiba-tiba Bram terdiam dan lunglai. Aku hampir jatuh karena menopang tubuh Bram yang ambruk.


Ada apa dengan Bram? Apa dia pingsan? Apa dia... Nggak! Nggak mungkin! Bramku lelaki kuat dan hebat! Aku tidak mau kehilangan Bram...


"Kak, kak, bangun! Bangun!" teriakku sambil menggoyangkan tubuh Bram.


Bram masih diam tidak bergeming. Aku semakin panik! Aku memeluk Bram.


"Atifffff...! Tolong bawa Bramku ke rumah sakit! Cepat!" teriakku tanpa peduli lagi dengan keadaan sekitar.


Atif memberi kode ke bodyguard lain untuk menggantikan posisinya dan memberikan pistol Bram.


Atif terlihat panik walau expresinya datar. Lalu Atif menelepon ambulan dan sekaligus polisi.

__ADS_1


Setelahnya Atif menghampiriku.


"Saya sudah menelepon ambulan Non, kita tunggu saja beberapa menit lagi," ujar Atif.


"Cepat Atif! Bawa Ketua keluar dari sini! Cepat!" jawabku uring-uringan.


"Tenang Non Zanu, saya akan membawa Bos dari sini," ujar Atif.


Atif langsung memberi kode ke bodyguard lain untuk membantunya mengangkat tubuh Bram ke luar gedung.


"Zanu! Palingan Bram kamu itu sudah mati! Aku sudah melukainya berkali-kali! Untuk apa kamu tangisi dia lagi! Jangan bodoh Zanu! Banyak laki-laki lain yang bisa kamu dapatkan! Ha..ha..ha..ha..," teriak Gilang.


Aku tidak tahan lagi mendengar omongan Gilang. Aku beranjak dari tempatku dan bergegas menghampirinya.


Plak! Plak!


Aku menampar Gilang dua kali! OMG! Zanu, kamu berani sekali!


"Kamu diam!!" teriakku di depan wajah Gilang.


Gilang sangat kaget! Mungkin dia tidak percaya dengan apa yang aku lakukan barusan. Dan seketika Gilang terdiam.


"Jaga dia! Jika dia bergerak sedikit saja, kamu tembak saja kepalanya!" ujarku ke bodyguard Bram yang sedang memegang pistol.


"Siap Non," jawab bodyguard Bram.


Aku menjadi kejam! Aku lakukan ini untuk Bram!


Ambulan berhenti tepat di depan gedung. Driver ambulan dan perawat bergegas membuka pintu belakang mobil. Bram diletakkan di atas brankar bed. Dengan sigap perawat memeriksa nadi dan nafas Bram. Kemudian dipasangi infus dan oksigen.


"Atif, kamu tunggu di sini. Urus semuanya dengan kepolisian. Biar saya yang ikut Ketua ke rumah sakit. Nanti kalau urusanmu sudah selesai, bisa menyusul" ujarku ke Atif.


"Baik Non," jawab Atif singkat.


Aku masuk ke dalam ambulan dan duduk di samping Bram. Aku tidak peduli lagi dengan high hell, yang entah di mana aku letakkan. Dan aku juga tidak peduli dengan pestanya Vincent. Bahkan aku tidak peduli jika Mamaku sampai menunggu kedatanganku pulang.


Hari ini aku hanya pedulikan Bram. Hanya Bram.


Ambulan melaju ke arah rumah sakit. Sepanjang perjalanan, aku mengamati wajah dan tubuh Bram. Wajah yang selalu melihatku dengan senyuman dan cinta, plus yang selalu ingin menggodaku.


Tubuh yang penuh luka lebam dan sayatan plus luka tembak yang belumlah kering. Tubuh kokoh yang selama ini melindungiku dengan caranya sendiri.


Aku tak kuasa melihat penderitaan dan beban Bram yang mungkin lebih berat dari ini dia pikul sendiri. Yang mungkin ada lebih besar dari ini, yang belum aku ketahui.


Aku mengelus pipi Bram. Aku makin sayang dan berharap dia cepat pulih.


"Kak, ini Zanu. Bangunlah Kak. Aku tau, Kakak pasti bisa melewati ini. Zanu ada di sini Kak," ujarku pelan sambil menggenggam jemari Bram.

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasakan jemari Bram sedikit bergerak.


Deg! Bram ternyata masih hidup!


Di susul dengan pergerakan mata dan bibir Bram. Senangnya hatiku bisa melihat Bram bergerak lagi.


"Zanu, Zanu...," rintihan suara Bram memanggil namaku.


"Sayang, ini aku," jawabku sambil membelai kening Bram.


Dengan perlahan Bram membuka matanya dan melihatku. Aku melihat sorot mata Bram yang sedang menahan rasa sakit. Bram belum fokus melihatku, mungkin karena efek baru sadar dari siuman.


Mulut Bram ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku menutupi mulut Bram dengan jari telunjuk.


"Jangan sayang. Jangan bicara dulu. Kita sedang menuju rumah sakit. Tahan ya..," ucapku lirih.


Tidak berapa lama kemudian, ambulan sudah sampai di rumah sakit. Perawat dan dokter datang menghampiri ambulan. Mereka menurunkan brankar bed dari atas ambulan, lalu mendorongnya masuk ke ruang IGD.


Aku mengikutinya sampai ke dalam ruang IGD. Bram langsung di tangani dengan cepat.


"Maaf Mbk, saya dokter utusan khusus Pak Bram. Pak Bram harus segera di cek. Tapi menurut saya yang pernah menangani kasus seperti ini, kemungkinan besar Pak Bram mengalami luka dalam. Jadi, langsung di rontgen dan jika memang ada yang harus ditangani bagian organ dalam, Pak Bram saat ini juga harus di operasi. Tapi untuk mengambil tindakan tersebut, kita harus meminta persetujuan orang tua Pak Bram atau keluarga terdekatnya," ujar salah satu dokter yang menghampiriku.


Aku bingung. Bagaimana caranya aku menghubungi keluarga Bram? Bahkan aku juga tidak tau ke nomor mana yang harus aku hubungi. Satu-satunya keluarga Bram yang berada di sini adalah Pamannya.


Paman Bram sedang menghadiri acara pertunangan Vincent. Apa aku harus balik ke hotel itu lagi? Apakah waktunya cukup untuk aku bolak balik ke sana ke mari?


Tiba-tiba aku ingat Atif! Ya hanya Atiflah yang bisa menangani ini.


"Tunggu sebentar Dok, saya segera hubungi keluarga Pak Bram," jawabku.


"Baik mbk, kami tunggu sambil menunggu hasil rontgen keluar, permisi," ujar dokter.


Aku mengangguk. Aku melihat perawat sedang sibuk membersihkan luka-luka di tubuh Bram. Tiba-tiba aku ingat ponsel Bram.


Apakah Bram membawa ponsel ya?


Aku melihat celana panjang yang Bram kenakan. Tanpa ba bi bu, aku memeriksa satu persatu kantong celana Bram.


Maaf sayang, aku lancang menyentuhmu.


Aha! Ternyata aku menemukan ponsel Bram di kantong celana sebelah kiri. Senangnya hatiku.


Dengan sedikit gemetar, aku mengingat lagi bagaimana cara menggunakan ponsel Bram. Aku buka dan mencari nomor Atif.


Aku pencet terus ke bawah, terlalu banyak nama-nama kenalan Bram.


Taraaa...! Akhirnya timbul nama Atif. Aku langsung memencet nomor tersebut.

__ADS_1


Berulang kali aku menghubungi nomor Atif. Tapi belum juga di angkat. Perasaanku semakin gelisah dan takut.


...****************...


__ADS_2