Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 87 : Penjualan Baja


__ADS_3

Damar !!!


Ujarku dan Laura serentak.


Damar kaget dan agak terperanjat mendengar teriakan aku dan Laura.


"Eh... Kok?" Damar bingung dan gantian melihat ke arahku dan Laura.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Laura balik.


"Lha, harusnya kamu jawab duluan. Kamu kenal juga sama Kak Zanu?" tanya Damar balik.


Seakan tidak percaya dengan kehadiranku atau mungkin merasa tidak enak akan situasi saat ini. Pastilah Damar merasa bersalah. Di satu sisi dia sedang mendekati adikku. Dan di sisi yang lain, dia sudah dijodohkan dengan Laura.


"Iya, aku kenal. Kamu kenal juga?" tanya Laura.


"Hei..! Kok balik nanya. Oiya, aku lagi buru-buru ingin menemui Bos di dalam," ujar Damar hendak melangkahkan kaki menghampiri pintu.


Segera aku melarang Damar.


"Damar, stop! Saat ini Bos tidak boleh di ganggu. Bos lagi mandi. Nanti kalau sudah selesai, biar Kakak yang akan sampaikan maksud kamu ke sini. Bentar lagi selesai kok," ujarku tegas.


"Baik Kak," jawab Damar nurut.


Sejenak kita bertiga terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Kalian sudah lama saling mengenal?" tanyaku tiba-tiba sambil melihat ke arah Laura dan Damar.


"Baru-baru ini Kak..," jawab Damar.


"Laura sudah bilang kok, kalau kalian sudah dijodohkan," ujarku lagi.


"Tapi aku nggak mau Kak.. Orang tua kita yang ngebet banget ngejodohin. Nggak tau dia nih, setuju apa nggak," ujar Damar dengan nada sedikit kesal.


"Yeee! Siapa bilang aku setuju? Aku masih pengen sekolah, kuliah dan kerja. Lagipula, kamu bukan tipe cowok yang aku harapkan," ujar Laura tidak mau kalah.


"Huh!! Siapa juga yang mau cewek seperti kamu? Judesnya kebangetan! Mana jutek lagi!" Damar semakin tak senang.


"Alaaahhh...! Kamu nggak lihat style kamu begitu? Urakan, seperti nggak keurus. Mana ada cewek yang suka sama kamu? Ngimpi!" Laura semakin menjadi-jadi.


"Yeee! Banyak tuh cewek-cewek yang naksir sama aku! Kamu aja yang kuper. Ini kan style anak muda zaman sekarang! Kalau dikotaku, style seperti kamu itu malah nggak bakal dilirik cowok,"


"Sudah! Sudah! Bisa nggak sih kalian diam! Kalau kalian ada masalah, tolong jangan ribut di depan saya! Apalagi ini rumah sakit. Berisik!" ujarku dengan nada sedikit marah.


Mereka kaget dan tiba-tiba terdiam mendengar ucapanku.


"Eh maaf Kak..," Damar merasa bersalah.


"Iya Non, maafin kita," Laura juga ikut merasa bersalah.


Aku hanya diam saja. Aku tidak terlalu marah-marah amat sih. Cuma, kalau mereka dibiarin, lama-lama mereka bisa adu jotos. Dan pasti bakal lama durasinya.

__ADS_1


Sreeett...!


Pintu ruangan terbuka dan terlihat Pak Jack. Pak Jack berjalan menghampiri kita.


"Lho, ada nak Damar? Mau ketemu siapa?" tanya Pak Jack.


"Mau ketemu Bos Pak," jawab Damar langsung sopan dan mencium tangan si Bapak.


"Ooo.. Kirain mau ketemu Laura. Laura malam ini nginap buat nemanin Non Zanu. Kamu kalau ada waktu, di sini saja malam ini, sekalian temani Bos ngobrol," ujar Pak Jack.


Damar cuma nyengir. Laura malah cemberut. Sepertinya mereka berdua benar-benar tidak ingin dijodohkan.


Tapi siapa tau, lama-lama mereka bisa saling jatuh cinta kan? Sama seperti kisahku dengan Bram.


Deg!


Aku langsung ingat Bram.


"Pak Jack, saya ke dalam dulu ya," ujarku.


"Oh, silahkan Non. Bos sudah selesai mandi dan berpakaian," jawab Pack Jack dengan sopan.


Laura da Damar melongo melihatku yang tiba-tiba berdiri dan beranjak pergi, tanpa menoleh ke arah mereka berdua.


********


Bram terlihat segar, makin keren and cakep bener...! Duh! Auranya itu lho, memang cocoklah ya dia seperti bos-bos muda di film. Nah, memang nyatanya dia seorang bos sih. Tapi belum tau pasti, apa Bram termasuk bos mafia jugakah?


"Hai Zanu, gimana penampilanku? Coba kamu dekat sini, aku sudah wangi kan?" tanya Bram dengan senyuman khasnya dia.


"Yeah.. Wangi banget and fresh," pujiku.


"Nah.., sesuai permintaanku tadi tolong kupasin buah itu ya," pinta Bram sambil menunjukkan buah jeruk yang ada di dalam kantong.


"Oke,"


Aku beranjak menuju meja kecil untuk mengambil buah jeruk. Tak lupa juga mengambil plastik kecil dan tissue.


Perlahan aku mengupas jeruk dan menyuapi Bram satu persatu ke mulutnya.


"Kak, ada Damar di luar. Dia bilang mau menemui Kakak," ujarku memulai obrolan.


"Ada keperluan apa ya?" tanya Bram.


"Nggak tau, sepertinya penting," jawabku sekenanya.


"Tunggu selesai aku makan jeruk, tolong nanti panggilkan. Aku mau menikmati moment ini dulu bersama kamu," ujar Bram dengan senyum manisnya.


"Oiya, apa Kakak sudah tau, kalau Damar itu ternyata sudah dijodohkan sama Laura?" tanyaku


"Hah! Beneran? Nggak tau tuh.. Kamu tau darimana?" tanya Bram balik.

__ADS_1


"Laura yang bilang sendiri tadi. Damar itu anaknya sahabat Pak Jack. Laura pengen melanjutkan kuliah setelah tamat SMA nanti. Dia tidak mau menikah cepat, apalagi dijodohkan. Damar juga, sepertinya tidak mau dengan Laura," jawabku.


Aku kok merasa ingin Damar tidak bersama Laura ya? Apa karena aku merasa Damar cocok sama adikku Zuri? Ataukah lebih baik Damar bersama Laura saja? Supaya adikku tidak memikirkan pacaran dulu.


Tapi Zuri bisa sedih kalau tau orang yang mendekatinya saat ini sudah dijodohkan. Entahlah, tiba-tiba pikiranku jadi mumet dah..


"Ada apa Zanu? Kenapa kamu tiba-tiba diam? Biarkan saja mereka dijodohkan. Mana tau mereka benar-benar berjodoh kan.. Nanti aku akan tanyakan Pak Jack perihal tentang ini, supaya jangan memaksakan anaknya menikah di usia masih muda," ujarnya Bram.


"Iya sih. Tapi...," aku jadi tersekat.


Rasanya tidak etis mengganggu perjodohan antara Damar dan Laura. Apalagi, Damar masih pendekatan dengan adikku.


"Tapi kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu Zanu?" desak Bram.


"Begini Kak. Damar itu sedang mendekati Zuri. Kalau Zuri tau, mungkin dia akan sedih. Itu yang aku takutkan," jawabku sambil menyuapi lagi jeruk yang sudah aku kupas ke mulut Bram.


"Oh... Ternyata itu masalahnya. Sayang, menurutku lebih baik Zuri fokus Sekolah saja. Aku yakin orang tua kalian tidak memberi izin untuk pacaran kan? Jangan sampai kisah Zuri sama dengan kisah kita saat ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu, maka mau tidak mau harus maju dan bersabar untuk menunggu,"


"Iya Kak. Biarlah Zuri tau sendiri tentang Damar. Aku juga tidak mau Zuri mengalami hal yang sama. Iya jika dia bisa dewasa menghadapi suatu masalah, tapi kalau tidak, kan bisa menyakiti dirinya sendiri," ujarku.


"Yup! Sekarang, kamu lupakan saja tentang ini. Biarlah waktu yang menjawab kedepannya. Oiya, tolong panggilkan Damar ke sini ya...," pinta Bram.


Aku mengangguk dan langsung meletakkan sampah bekas jeruk ke dalam plastik. Setelahnya aku langsung keluar.


********


Tidak berapa lama, aku dan Damar masuk ke dalam ruangan. Terlihat Damar yang sumringah bisa bertemu dengan Bram. Ada apa gerangan?


"Hallo Bos, apa kabar?" ujar Damar basa-basi.


"Alhamdulillah sehat. Ada berita apa nih?" tanya Bram langsung to the point.


"Ini Bos, saya kan sudah menemukan pelakunya. Dan pelaku sudah di proses polisi. Tinggal mengajukan perkara saja kedepannya. Saya mau pamit malam ini ke kota P. Dan saya minta sedikit bantuan Bos," jawab Damar dengan hati-hati.


"Bantuan apa?" tanya Bram.


"Saya mendapatkan info, kalau perusahaan Sayap Angkasa ternyata punya Bos sendiri. Nah, kebetulan perusahaan orang tua saya ada kerjasama sama perusahaan Bos. Bulan lalu, pembelian pasokan baja harganya beda dengan bulan ini. Kita sudah konfirmasi dengan manajemennya, tapi tidak ada tanggapan. Yang saya mau tanyakan, apa benar harga baja sudah naik ya Bos?" tanya Damar dengan serius.


"Naik berapa persen? Apa nama perusahaan orang tuamu?" tanya Bram lagi.


"Perusahaan Bangkula Persada Bos. Naiknya dua puluh lima persen. Lima tahun terakhir biasanya hanya naik sepuluh persen saja. Tapi kali ini terlalu meningkat. Perusahaan kita tidak bisa menekan harga yang tinggi, itu akan membuat pelanggan pindah kerjasama ke perusahaan lain Bos. Pastinya mereka akan mencari harga yang lebih murah dengan kwalitas barang yang sama," jawab Damar panjang lebar.


Aku hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.


"Oke, sebentar,"


Bram langsung mengambil ponselnya yang berada tepat di samping bantal. Dengan tenangnya Bram menekan tombol ponsel dan mencari nomor yang di tuju.


"Hallo. Coba kamu cek Perusahaan Bangkula Persada, untuk penjualan baja saat ini naik berapa persen?" tanya Bram tegas.


Bram diam sejenak sambil menyimak suara di balik ponsel.

__ADS_1


Aku dan Damar hanya memperhatikan Bram dari tempat masing-masing.


...****************...


__ADS_2