
"Hah! Kenapa naiknya jadi dua puluh lima persen? Siapa managernya? Cepat kamu selidiki dan minta data yang sudah dikirimkan. Langsung urus kembalian dana dan off kan siapa yang berada di balik semua ini. Saya beri waktu satu jam dari sekarang dan langsung hubungi saya balik. Urus semua perusahaan yang sudah order dari perusahaan kita dalam satu bulan ini. Bikin malu saja!" ujar Bram sedikit marah.
Klik!
Bram selesai menelepon dan langsung meletakkan kembali ponselnya di dekat bantal.
"Damar, naiknya memang hanya sepuluh persen. Ada yang curang dan sedang di selidiki siapa pelakunya. Kenaikan harga disebabkan oleh adanya kenaikan bahan import yang kita gunakan dan serentak juga kenaikan bea cukai. Untung kamu cepat melaporkannya ke saya, karena perusahaan lain belum meminta lagi. Mungkin mereka sudah tau tentang kenaikan ini dan sedang berfikir ulang untuk pesan kembali. Tapi itu bisa di urus, karena semua perusahaan di Indonesia yang berhubungan dengan baja, bekerjasama dengan perusahaan Sayap Angkasa. Jadi rasanya tidak mungkin jika perusahaan lain pesan ke luar negeri, pasti memakan biaya lebih besar lagi," ujar Bram.
"Oh.., Oke Bos. Syukurlah bisa langsung di urus. Karena saat ini baja mulai banyak yang pesan. Ada pelebaran jalan dan perluasan wilayah di setiap kota dan kabupaten. Dan saya dengar kedepannya akan di bangun bandara baru yang besarnya dua kali lipat dari bandara saat ini. Bandaranya internasional, ada yang beri bocoran ke perusahaan kita," penjelasan Damar.
"Oo yaa?! Bisa panen besar perusahaanmu Damar," reaksi Bram.
"Ya begitulah Bos. Makanya di saat saya tau kalau Bos yang punya Sayap Angkasa, saya langsung ke sini. Suatu kebanggaan tersendiri bisa bertemu dengan yang punya, he..he..he..," ujar Damar senang.
"Oke. Kamu harus menunggu satu jam lagi, untuk mendapatkan info selanjutnya,"
"Siap Bos. Saya menunggu di luar saja bersama Laura dan Pak Jack,"
"Silahkan..," jawab Bram singkat.
Damar hendak beranjak keluar, tapi ternyata dia berhenti tiba-tiba dihadapanku.
"Kak, maafin kita tadi ya..," ucap Damar kepadaku dengan wajah sedikit memelas.
"Iya, tidak apa-apa," jawabku singkat.
"Boleh Kak saya titip salam buat Zuri?" ujar Damar kembali.
"InsyaAllah nanti saya sampaikan," jawabku.
"Terima kasih Kak, saya permisi dulu,"
Aku mengangguk dan tersenyum. Damar berjalan menuju pintu dan keluar.
Tinggallah aku dan Bram di ruangan ini. Aku berjalan menghampiri Bram.
__ADS_1
"Kak, dalam waktu bersamaan, banyak yang harus di urus. Apa memang keseharian Kakak seperti inikah?" tanyaku.
"Iya. Beginilah.. Semuanya sudah diserahkan kepadaku saat aku berumur tujuh belas tahun. Ini baru di Indonesia, belum lagi di Amerika. Sedangkan Asia dan Eropa ada adik perempuanku yang masih di bawah pengawasan ortu," jawabnya sambil mengamatiku.
"Terus, kenapa Kakak memilih untuk berada dan kuliah di sini?" tanyaku lagi.
"Ada sesuatu yang sudah terjadi. Biasa, persaingan bisnis dan nyawa aku serta adik perempuan sedang dalam pengincaran. Kebetulan, pamanku seorang Rektor di sini. Jadi info apapun yang mencari data-dataku sebagai mahasiswa bisa di handle paman. Bukan hanya paman saja, banyak pengawal yang sudah ditugaskan di tempat-tempat tertentu," ujar Bram serius.
"Terus kenapa setelah wisuda nanti Kakak mau ke Amerika?"
"Sudah saatnya aku kembali dan mengatur semuanya di sana. Tapi sebelum itu, aku sudah memerintahkan semua untuk menyelesaikan ancaman di sana. Jadi, saat aku sudah di Amerika, tidak ada teror lagi ke keluargaku. Orang tuaku sudah tua dan inilah saatnya aku turun tangan. Aku tidak ingin bersembunyi lagi,"
Aku hanya diam dan tidak tau lagi harus bertanya tentang apa. Kupikir Bram hanyalah seorang Bos perusahaan besar dan semoga tidak merangkap sebagai ketua gangster.
"Zanu, aku tau, kalau semua ini selalu menjadi tanda tanya dibenakmu. Lambat laun, kamu akan tau apa saja pekerjaanku dan apa saja yang aku kerjakan. Aku akan berulang-ulang minta maaf kepadamu, keamanan dirimu bisa terusik jika selalu bersamaku. Mungkin lebih baik, aku secepatnya ke Amerika, supaya musuh-musuhku tidak tau tentang dirimu," ucap Bram panjang lebar.
Aku masih diam. Dan terasa hatiku mulai sedih.
"Tapi aku janji, aku akan kembali lagi kepadamu. Jikapun aku menghilang, aku minta kamu tetap menungguku. Walau dalam waktu yang lama," ujar Bram dengan raut wajah yang seakan memohon kepadaku.
Aku tertunduk dan masih saja diam. Tangan Bram tiba-tiba mengelus rambutku dari belakang. Dan entah kenapa, tangan Bram langsung menarik bahuku, mendekapku di bahunya.
Deg! Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Bram. Tapi aku belum tau itu tentang apa.
"Kak, adzan magrib sedang berkumandang. Kita sholat dulu yuk.. Aku mau wudhu," ujarku sambil mengangkat tubuhku dari bahu Bram.
"Oke. Sekalian tolong panggilkan Pak Jack, Laura dan Damar. Biar mereka bisa sholat dalam ruangan ini. Tidak baik juga kita berdua berlama-lama dalam sini,"
Aku mengangguk dan langsung berjalan keluar. Tak berapa lama, Pak Jack, Laura dan Damar masuk ke dalam.
Aku masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Diikuti Laura, setelahnya Damar. Sedangkan Pak Jack sedang membantu Bram untuk wudhu dan mengatur tempat tidurnya ke arah kiblat. Lalu kemudian gantian Pak Jack yang berwudhu.
Kita sholat magrib berjamaah yang Imamin oleh Pak Jack.
********
__ADS_1
Setelah selesai sholat. Pak Jack izin membeli nasi bungkus untuk kita makan berempat. Sedangkan Bram masih memakan makanan yang sudah disiapkan pihak rumah sakit.
Setelah kepergian Pak Jack, tinggallah aku, Bram, Laura dan Damar. Tidak banyak yang kita bicarakan. Hanya sekedar bertanya tentang sekolah Laura, bisnis Damar dan kuliahku saja.
Tidak berapa lama kemudian, ponsel Bram berbunyi. Bram menyambutnya.
Lagi-lagi, aku, Laura dan Damar hanya bisa menyimak saja. Tapi sekali-kali aku melihat Laura dan Damar sedang bercanda berdua.
Sepertinya mereka cocok dan bisa saling jatuh cinta. Sekilas aku ingat akan adikku, Zuri.
"Iya. Hmm.. Jadi dia pelakunya? Semua sudah kamu urus bukan? Pastikan kembali semua normal seperti sedia kala. Aku tidak mau mendengar tentang ini lagi. Terima kasih," ujar Bram.
Telepon mati dan ponsel kembali diletakkan Bram didekat bantalnya.
"Damar. Semua sudah aman. Kelebihan uang sudah ditransfer melalui managermu. Kedepannya, jika ada hal yang tidak beres, kamu bisa hubungi Direktur saya. Nanti saya berikan nomornya,"
"Baik Bos. Terima kasih," jawab Damar.
"Sama-sama,"
Sreeett....!
Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Masuklah beberapa polisi dengan berpakaian lengkap dan ada yang hanya memakai baju kaos saja.
"Selamat Malam Pak Bram," ujar salah satu polisi yang berdiri paling depan.
"Malam," jawab Bram singkat.
"Maaf mengganggu waktunya Pak. Saya dari Polres dan teman-teman ingin meminta keterangan mengenai kasus saudara anda yang bernama Resa. Sesuai janji kita, malam ini kita ke sini untuk melaksanakan tugas," ujar pak polisi.
"Baik. Kehadirannya saya terima. Terima kasih, sudah menyempatkan waktu untuk ke sini. Saya minta maaf karena tidak bisa membuat laporan langsung ke Polres dengan keadaan saya seperti ini,"
"Tidak apa-apa Pak. Kita bisa maklumi," jawab pak polisi.
Bram memberi kode kepadaku untuk keluar bersama Laura. Sedangkan Damar di suruh untuk tinggal, karena Damar sudah termasuk sebagai saksi. Jadi butuh keterangan pasti melalui Damar saat memberitau keberadaan pria yang ingin memperkosa Kak Resa.
__ADS_1
Aku dan Laura keluar ruangan.
...****************...