Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 30 : Foto Itu


__ADS_3

Tin..Tin.., Tin..Tin...!


Bunyi klason mobil Bram yang di bawa Pak Jack berhenti di halaman rumah.


Pintu depan terbuka, keluarlah Ibu paruh baya dan seorang anak gadis bergegas menyambut kedatangan aku dan Pak Jack.


"Selamat datang Non Zanu. Perkenalkan saya istrinya Pak Jack dan ini anak gadis kita namanya Laura," ujar istri Pak Jack dengan senyum ramahnya.


Aku tersenyum senang dan menyalami satu persatu. Anak gadis Pak Jack terlihat manis dan sopan. Dilihat dari perawakannya, mungkin masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


"Laura, ajak Non Zanu ke kamar buat istirahat. Nanti Ibu bawakan minuman ke kamar" ujar Istri Pak Jack.


Laura mengangguk dan tersenyum.


"Jangan repot-repot Bu. Minumnya bisa saya ambil sendiri kok,"


"Tidak apa-apa Non. Mari Non ikuti Lauranya,"


"Terima kasih Bu, mari Pak Jack," ucapku sambil mengambil ranselku dan ransel Bram.


"Silahkan Non..," ucap Pak Jack dan istrinya hampir barengan.


Aku mengikuti Laura dari belakang. Laura membukakan salah satu kamar di sana. Dan dia mempersilahkan aku masuk duluan.


"Silahkan Non, ini kamarnya. Maaf kamarnya terlihat sederhana, semoga Non suka," ujar Laura ramah.


"Ooo.., tidak apa-apa Laura. Ini sudah bagus kok, terima kasih ya,"


"Kalau ada keperluan apa, bisa panggil saya atau Ibu ya Non. Permisi...,"


Aku mengangguk. Laura langsung keluar kamar. Lalu aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Aku duduk sejenak di tempat tidur lalu rebahan. Aku sedang berfikir, bagaimana bisa hari-hariku jadi runyam? Seharusnya aku bisa mengikuti perkemahan ini dengan lancar.


Apakah ada kaitannya dengan Bram? Ya! Setelah adanya Bram, aku merasa selalu ada masalah. Apa ada hubungannya dengan Sari? Bisa jadi. Karena pas ospek terakhir, Bram memarahinya.


Entahlah. Aku jadi rindu Papa, Mama dan Zuri. Andai saja saat ini aku bisa pulang kerumah, hiks..!


Benarlah.., hatiku sebenarnya sedang sedih. Ingin rasanya bercerita biar hatiku bisa plong. Tapi harus cerita ke siapa? Bram? Dia sibuk. Prita? Dia orang yang baru kukenal.


Andai saja ada Abang! Mungkin masalahku bisa berkurang sedikit.


Karena lelah berfikir, aku ketiduran di kamar ini.


*******


Tok! Tok! Tok!


Aku tersentak dari tidur. Kulihat jam di pergelangan tanganku, ternyata sudah pukul lima sore.


Aduh! Aku belum sholat, mandi dan makan siang!


"Siapa?" tanyaku.

__ADS_1


"Laura Non. Mungkin Non mau mandi atau mau makan dulu?" tanya Laura balik.


"Ya bentar Laura, aku akan keluar. Aku langsung mandi saja," jawabku.


"Baik Non,"


Aku bergegas membuka ransel. Ternyata handuk Bram tertinggal di tenda dan mungkin ikut hangus. Untung jaket Bram masih ada di dalam ranselku.


Aku melihat ransel Bram. Aku ingin membukanya, mana tau ada handuk, tapi aku ragu.


Aku tepis keraguan itu. Tanpa pikir panjang, aku beranikan untuk membuka ransel Bram. Saatku buka, terdapat beberapa baju kaos, celana pendek dan handuk.


Alhamdulillah, aku bisa mandi nih.. Pinjam dulu handuknya Bram, pikirku.


Saat aku menarik handuk, tiba-tiba dompet Bram terjatuh. Bisa dibilang itu bukan dompet utama Bram, tapi mungkin dompet cadangan yang berbentuk persegi panjang.


Aku memungut dompet tersebut. Dan rasa penasaranku tiba-tiba timbul tanpa harus punya alasan, weleh..weleh..


Aku membuka dompet Bram. Deg-degan dong! Takut isinya sesuatu yang wow. Dan ternyata memang wow!!


Banyak kertas-kertas dan ada beberapa foto di sana. Aku fokus ke fotonya saja. Aku perhatikan satu persatu. Aku kaget! Ternyata ada foto Sari sedang pose di samping Bram! Foto satu lagi, Bram, Sari dan seorang cewek yang mirip Sari.


Apa itu adiknya Sari ya? Aku lupa namanya siapa, yang pasti aku pernah mendengar tentang dia saat ngobrol sama anak-anak kost. Mungkin ini orangnya.


Tiba-tiba timbul perasaan marah dan cemburu dalam hatiku. Aku marah karena merasa dibohongi Bram.


Dia bilang hanya berteman saja, tapi ini buktinya apa?! Awas ya Bram!


Aku mengambil dua foto tersebut dan memasukkannya dalam ranselku. Kututup kembali dompet serta ransel Bram.


Aku membuka pintu kamar dan keluar. Tidak lupa aku bawa handuk dan baju ganti. Aku celingak celinguk mencari orang yang punya rumah.


"Eh Non Zanu sudah bangun. Sekarang mau mandi ya?" ucap suara Ibunya Laura dari belakangku.


Aku kaget dan berbalik badan ke arah suara. Senyum dong akunya walau dikagetin.


"Iya Bu. Tapi peralatan mandinya tertinggal di dekat tenda yang tadi terbakar," jawabku.


"Oiya.., peralatan mandi Non, tadi sempat di antar Bapak ke sini. Tuh ada di depan kamar mandi. Silahkan Non mandi dulu, setelah itu makan. Non belum makan siang kan?" tanya si Ibu.


"Tidak usah makan dulu Bu, nanti saja sekalian makan malam. Saya juga belum sholat Ashar, sudah mau sore. Saya mandi dulu ya Bu,"


"Iyaa..ya, silahkan Non,"


Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan mengambil peralatan mandiku. Aku mau mengejar sholat Ashar, takutnya waktu Magrib akan masuk.


********


Setelah mandi dan sholat Ashar, aku menutup jendela kamar, menutup gorden dan menghidupkan lampu. Aku sudah persiapkan jaket Bram untuk aku pakai malam ini. Tak lupa aku selipkan dua foto tersebut ke dalam kantong samping jaket.


Azan magrib mulai berkumandang. Tanpa pikir panjang, aku langsung wudhu dan sholat. Setelah itu aku sempatkan dandan tipis-tipis. Biar face aku kelihatan fresh, jangan sampai terlihat burik di malam minggu ini.


Yup! Ini malam minggu. Malam terakhir berkemah, besok semua pulang kerumah masing-masing. Nanti, aku minta tolong Bram untuk membiarkan aku bergabung dengan teman-temanku di tenda nomor sepuluh. Aku mau berbaur juga dengan yang lain.

__ADS_1


Aku juga kangen ngobrol sama Prita. Nanti kalau Bram minta ditemani, aku sebaiknya menolak.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi Non, Ketua sudah datang. Di tunggu di ruang tamu," ujar Laura di balik pintu kamarku.


"Oke Laura, saya segera ke sana, terima kasih ya," jawabku.


"Baik Non,"


Aku mengambil jaket Bram dan melihat ke cermin sebentar. Lalu aku berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.


Kulihat Bram duduk santai dengan setelan celana jeans biru dan baju kaos putih dengan bordiran huruf Z berwarna biru. Apakah Z itu aku ya? Dia makin terlihat keren dan cakep bener, haduh...


Deg! Ada perasaan grogi saat aku berdiri di depan Bram. Bram mengangkat wajah dan melihatku yang sudah berdiri didepannya.


"Hai Zanu, senang bisa bertemu kamu lagi. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Bram sambil melirikku dari atas sampai bawah.


"Sudah mendingan. Katanya medis bakal datang ke sini buat periksa kakiku. Sudah sampai ketiduran menunggu, belum juga datang. Mana?" tanyaku balik.


"Maaf Zanu, medisnya ada keperluan mendadak tadi siang, semoga besok pagi dia bisa ke sini buat periksa kakimu ya.. Kamu tidak marah kan?" jawab Bram seraya membujukku.


Aku diam dengan mulut manyun. Aku mau duduk. Tapi Bram mencegahnya.


"Kita langsung keluar. Malam ini di perkemahan ada acara api unggun. Kamu selama di sana, harus didekatku terus, oke,"


"Aku tidak mau! Aku mau gabung sama teman-temanku. Kakak kan bisa lihat aku dari jauh, tidak harus dekat-dekat terus. Aku malu tau! Lagi pula, aku bukan siapa-siapanya Kakak," ucapku ketus dan sedikit memarahi Bram.


Bukan tanpa alasan aku bicara seperti itu. Dikarenakan aku ingat foto-foto tadi yang kutemukan di dompet Bram. Rasa kecewa dan marah sedang menyatu di hatiku saat ini. Plus cemburu.


"Zanu, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba marah? Apa lagi dapat? Sudahlah.. Ini semua buat keamanan kamu sendiri. Dan malam ini juga aku ada kejutan, jadi tolong jangan rusak malam ini, oke," tegas Bram.


"Sudah. Sekarang kita berangkat. Aku tidak bisa lama-lama di sini, karena harus mendampingi senior dan panitia untuk memberi arahan ke mahasiswa baru. Pemuka adat dan pemuda di sini juga ikut hadir,"


Bram berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu luar. Aku diam saja dan mengikuti Bram dari belakang.


Tuh kan, lagi-lagi harus dekat dia!


Di teras depan sudah ada Bapak Jack, istrinya dan Laura. Kali ini Pak Jack mengantarkan kita ke lokasi perkemahan.


"Permisi ya Ibu, Laura. Saya bawa Zanu dulu ke sana. Nanti malam saya dan Zanu numpang tidur di sini, boleh ya..?" tanya Bram dengan sopan.


"Duh Ketua, ya bolehlah.. Kita senang bisa menjamu Ketua di sini. Oiya, Non Zanu belum makan, takutnya nanti lupa, Non bisa sakit," jawab si Ibu.


"Nanti di sana kita makan malam Bu, jadi Ibu tidak perlu repot-repot siapkan. Oke kita berangkat dulu ya,"


Si Ibu dan Laura mengangguk dan tersenyum. Bram membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk ke dalam.


Bram dan Pak Jack juga sudah ada di dalam mobil.


Mobil melaju menuju perkemahan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2