
Aku membalikkan badan mencari pintu kamar mandi. Terlihat foto berbingkai ukuran besar di dinding dekat tempat tidur.
Foto Bram memakai black tuxedo, kacamata hitam dan pose memegang pistol laras panjang. Fotonya terlihat lebih dark lagi dengan background berwarna hitam.
Keren!!
Tapi, apa yang di pegang Bram itu pistol mainan? Kalau beneran, Bram dapat darimana ya?
Pikiranku semakin penuh dengan pertanyaan yang belum terungkap.
"Zanu, ini ranselnya,"
Aku kaget! Dan langsung membalikkan tubuhku. Terlihat Bram sedang membawa ranselku dan langsung diletakkan di atas tempat tidur.
"Kamu sedang memperhatikan apa?" tanya Bram ikut memperhatikan apa yang aku lihat.
"Foto itu," tunjukku.
"Ada apa dengan fotoku itu? Orangnya sekarang ada di dekat kamu,"
"Bukan itu maksudnya, di foto Kakak sedang memegang senjata. Itu asli apa palsu?" tanyaku.
"Asli. Pistol itu aku yang punya, kenapa?" tanya Bram dengan santainya.
Hah?!
"Sebenarnya Kakak siapa sih? Kenapa bisa memiliki senjata segala?" aku semakin penasaran.
"Panjang ceritanya. Tapi intinya senjata itu untuk melindungi diriku sendiri. Aku juga latihan dua kali seminggu bersama semua anggotaku. Beginilah kehidupanku Zanu, keras! Kamu tidak perlu tau apa itu. Sudah, sekarang kamu mandi. Aku ada tugas yang harus segera diselesaikan," ujar Bram serius.
"Baiklah,"
"Aku ada di ruang pustaka, jangan lama-lama mandinya ya," ujar Bram sambil mengambil laptop yang berada di atas meja kecil.
Bram langsung beranjak keluar dari kamar. Aku belum mau mandi. Aku masih kepo dengan kamar Bram yang indah ini.
Aku berjalan lagi menuju jendela yang berukuran besar tanpa sekat. Terlihat di luar jendela ada taman kecil dan kursi santai.
Pandanganku beralih ke lemari pakaian Bram. Lemari putih berukuran besar berukiran emas.
Haruskah aku membuka lemari Bram? Apa aku terlalu lancang tanpa meminta izin terlebih dahulu?
Ah! Aku intip sebentar saja, Bram nggak akan memarahiku.
Tuing!
Terdengar bunyi gesekan saat aku membuka lemari Bram. Itu samurai!! Ada beberapa samurai tergantung di dalam lemari. Semua samurai berwarna hitam dengan corak dan gagang gold.
Aku buka lemari sebelahnya. Ya Tuhan!! Isinya pistol laras panjang! Ada empat model tergeletak begitu saja.
Beranjak lagi, ternyata isinya set tuxedo hitam dengan berbagai model dan kemeja putih tersusun rapi. Sedangkan laci bagian tengah kudapati CD Bram berwarna hitam dan putih.
__ADS_1
Capek juga buka-buka lemari ini. Masih ada beberapa lagi lemari yang belum aku buka. Kusudahi saja.
Aku menutup semua lemari Bram dan berbalik arah menuju kamar mandi. Seterusnya aku melakukan aktifitas mandi.
*********
Beberapa menit kemudian.
Setelah ganti pakaian dan mengambil ransel, aku keluar kamar menuju ruang pustaka. Masih terlihat Bram mengetik sesuatu di laptopnya.
Aku menghampiri Bram, tapi Bram belum menyadari kehadiranku.
"Kak, aku sudah selesai mandi," ujarku pelan.
"Eh, sejak kapan kamu ada di sini? Maaf aku tidak tau," Bram masih mengetik.
"Baru saja Kak,"
"Kamu terlihat makin cantik dan fresh. Wangi pula," goda Bram.
"Ah Kakak bisa aja. Oiya, boleh tanya sesuatu Kak?"
"Apa yang mau ditanyakan?" tanya Bram langsung menghentikan ketikannya.
"Kenapa di kamar Kakak ada bunga berwarna pink? Sedangkan semua bunga di rumah ini berwarna merah. Beneran itu kamar Kakak? Kok warnanya nggak hitam sama merah ya? Soft gitu," tanyaku.
"Oh, itu. Tadinya memang warna putih, hitam dan merah. Tapi semenjak aku bertemu dan dekat denganmu, aku mengganti warna kamar serta perabotnya. Aku pikir, jika kita menikah nanti, kamar itulah yang kita tempati. Tapi...," Bram tersekat dan berhenti untuk melanjutkannya.
"Ah sudahlah, lupakan saja. Kamu kosentrasi saja untuk menyelesaikan kuliah. Sebulan lagi aku akan ke Amerika dan mungkin sementara waktu tidak akan bertemu denganmu dulu," jawab Bram sambil merapikan laptop dan meja kerjanya.
"Kenapa? Berapa lama Kak? Apa nanti Kakak akan menghubungiku?" tanyaku ingin tau.
Aku berusaha menutupi perasaanku saat ini.
Kamu tau Bram, setiap kalimat yang kamu lontarkan, aku merasakan kesedihan. Aku seperti akan kehilangan dirimu.
"Sudah Zanu! Aku tidak ingin membahas ini terus! Saat ini aku kosentrasi untuk menyelesaikan skripsi," jawab Bram dengan sedikit membentakku.
Aku terdiam dan takut. Aku yakin seyakin-yakinnya, Bram pasti menyembunyikan sesuatu.
Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dari kejauhan.
"Ayo kita keruang sholat," ajak Bram sambil menarik tanganku.
Aku melepaskan tanganku dari tangan Bram. Bram kaget!
"Ada apa Zanu? Aku minta maaf, karena tadi memarahimu. Aku minta kamu jangan cemberut gitu," bujuk Bram.
Aku masih diam melihat Bram. Dan Bram ikut diam seakan bingung mau mengatakan apa lagi. Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Adzan sudah berhenti.
"Kak, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk kita membahas apa yang akan terjadi. Tapi, bisakah Kakak janji akan menjelaskannya nanti? Biar aku tidak bertanya terus. Aku paling tidak suka menunda-menunda sebuah penjelasan," ucapku.
__ADS_1
"InsyaAllah, aku akan mengatakannya. Sekarang kita sholat dulu dan langsung makan malam. Aku tidak mau kamu kemalaman sampai di tempat kost," jawab Bram.
"Baiklah Kak,"
Bram menggenggam tangan dan membawaku ke ruang sholat yang lumayan luas. Ternyata di sana sudah ada karyawan-karyawan Bram yang ingin melaksanakan sholat.
Saat muncul, semua mata memandang ke arahku dan Bram. Aku jadi malu di perhatikan banyak orang, apalagi di saat Bram masih menggenggam tanganku. Reflek aku menarik tangan, semuanya tersenyum melihat aksiku.
"Zanu, di sini setiap magrib kita usahakan sholat berjamaah. Kamu bisa gabung di barisan perempuan sebelah sana dan aku di sana. Itu tempat wudhunya dan mukena ada dalam lemari paling bawah khusus untuk tamu. Aku langsung ke sana ya," jelas Bram.
Aku mengangguk dan langsung berjalan ke tempat wudhu.
"Hallo Non Zanu," sapa salah satu karyawan Bram yang sedang wudhu.
"Hallo," balasku sambil tersenyum.
Aku mulai wudhu. Sesudah wudhu aku berjalan lagi ke arah lemari yang di maksud Bram tadi. Yup! Ada beberapa mukena yang masih terlihat baru tersusun rapi di dalam lemari.
Aku langsung pakai mukena dan gabung di barisan perempuan. Semua karyawan Bram menyapaku dengan ramah. Hanya saja tidak ada yang berani mengajakku ngobrol.
Apa mereka di perintah oleh Bram?
Sholat dilaksanakan dengan lancar dan khusuk. Ayat-ayat dilantunkan terdengar sangat merdu. Sebagai imam sholat adalah Pak Tio.
Setelah sholat Bram menghampiriku, sedangkan semua karyawan Bram bergegas pergi.
"Kak, kenapa semua karyawan beranjak pergi? Kan bisa leha-leha bentar abis sholat. Apa yang mereka kejar?" tanyaku.
"Mereka masih ada tugas. Bentar lagi kita makan malam dan mereka akan mempersiapkan semuanya. Tenang saja, aku tidak akan mempekerjakan mereka seharian penuh. Hari ini kebetulan saja ada tamu istimewa yaitu kamu. Mereka juga antusias dengan kehadiran kamu saat ini," jawab Bram.
"Oh,"
"Sekarang kamu mau melihat apalagi sebelum kita makan malam?" tanya Bram.
"Tidak ada Kak, sepertinya semua sudah aku lihat," jawabku.
"Belum. Masih ada beberapa yang belum kamu lihat, salah satunya kebunku. Di kebun itu aku juga menanam rambutan. Tapi karena sudah malam, kapan-kapan kita lihat bersama, oke,"
Aku mengangguk. Tiba-tiba Bram menyentuh jemariku dan mengangkatnya. Bram menatap mataku penuh arti.
"Zanu, setelah kita sholat, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Bram.
Mataku berdelik heran. Apalagi ini? Aku mulai takut melihat tatapan Bram, takut ada maksud tertentu.
"Maukah kamu mencium tanganku Zanu? Seperti seorang istri yang mencium tangan suaminya setelah sholat. Aku ingin sekali merasakan itu walau hanya satu kali," minta Bram penuh harap.
Deg! Seperti suami istri? Apa-apaan ini! Tapi kenapa Bram bilang hanya satu kali? Apakah nanti aku tidak bisa menjadi istrinya? Hah!!
Apakah Bram akan menikah dengan perempuan lain??
...****************...
__ADS_1