Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 90 : Orang Tua


__ADS_3

Subuh.


Aku, Bram dan Laura sholat subuh, tapi tidak berjamaah.


Setelah sholat aku dan Laura mandi bergantian. Lanjut kemudian Bram mandi di bantu Pak Jack. Seperti sebelumnya, aku dan Laura menunggu di luar.


Beberapa waktu kemudian, Pak Jack keluar dan memanggilku.


"Non, Bos mau Non masuk. Bos sudah selesai mandi," ujar Pak Jack.


"Baik Pak. Terima kasih," jawabku.


Aku, Pak Jack dan Laura masuk beriringan ke dalam. Terlihat Bram duduk di sofa. Aku kaget, apakah Bram sudah bisa berdiri?


"Hei.., Kakak sudah bisa berdiri ya?" tanyaku antusias, seakan tidak percaya.


"Sudah bisa dong. Jalan juga udah bisa kok, kan aku sudah bilang kemaren, kalau aku kuat," jawab Bram sambil memamerkan giginya.


"Beneran?!! Nggak bohong kan?" tanyaku lagi.


"Iya benar! Bentar, lihat aku berdiri dan jalan ya," jawab Bram sambil berdiri pelan-pelan.


Aku, Pak Jack dan Laura memperhatikan Bram secara seksama dan dengan perasaan harap-harap cemas. Pak Jack bergerak mendekati Bram sambil menjaga. Jika kemungkinan jatuh, Bram bisa langsung di angkat.


Bram mulai mengangkat kakinya satu persatu. Yup! memang terlihat Bram kuat saat menginjakkan kakinya di lantai, walau agak tertatih, tapi terlihat perkembangan fisik Bram meningkat.


Bram berjalan menghampiriku, semakin melangkah, semakin kaki Bram kuat. Terlihat ritme langkah kakinya semakin dekat.


Bram menggapaiku, aku menerima uluran tangannya. Alhamdulillah, Bramku benar-benar sudah pulih. Ternyata Bram bisa membuktikan perkataannya kemaren, jika hari ini dia bakal bisa kuat dan berjalan.


"Bagaimana? Benar bukan apa yang kukatakan? Aku tidak selemah yang kamu pikirkan. Aku juga kuat kok gendongin kamu," ujar Bram bercanda.


"Udah ah, malu lho.. Aku nggak minta di gendong. Lihat Kakak bisa jalan saja, aku sudah senang," jawabku.


"Aku cuma becanda, kenapa kamu jadi serius gitu? Siapa juga yang mau gendong kamu, bisa ambruk aku, ha..ha..ha..,"


"Maksudnya aku gendut nih?" tanyaku cemberut.


Bram cuma senyum-senyum melihatku.


"Oke, kita alihkan dulu pembicaraan hari ini. Aku menunggu keputusan dokter, apakah diizinkan rawat jalan atau tidak. Jika diizinkan, kita langsung saja ke tempat Vincent. Tapi jika tidak, aku terpaksa di sini lagi. Tapi cukup Pak Jack saja yang jagain aku. Sedangkan kamu bisa pulang dan langsung saja ke kota P sendirian," ujar Bram mulai serius.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk. Karena mengenai izin Bram hanya bisa ditentukan oleh dokter. Kita semua tidak memiliki wewenang apapun, bahkan Bram sekalipun.


Seandainya Bram tidak bisa melayat, nanti aku yang akan sempatkan ke rumah Vincent.


Bram mulai melatih langkah kakinya secara pelan-pelan. Aku, Pak Jack dan Laura menonton berita di televisi. Sekali-kali aku memperhatikan Bram.


Saat semuanya asik sendiri, tiba-tiba terdengar kabar di televisi tentang penangkapan seorang pria yang berhubungan dengan kasus Kak Resa. Dia sudah dijadikan tersangka kasus percobaan pemerkosaan terhadap Kak Resa.


Saat sesi wawancara, tertera nama Bambang. Aku perhatikan dengan seksama wajahnya. Sepertinya aku kenal dengan orang ini.


Yup! Dia adalah Bambang, temanku semasa SMA. Lebih tepatnya sahabat dekat atau gank nya Vincent.


OMG!! Dia ngapain di wawancara? Apa dia tersangkanya?


Bentar! Bentar! Aku mendengar kembali isi berita. Aku beranjak dari tempat duduk, melihat lebih dekat lagi.


Ternyata salah! Sebagai tersangka adalah kakak kandungnya Bambang!!


Owalah...! Bisa heboh kampung dia. Kasian Bambang. Di tambah lagi sahabatnya Vincent baru saja meninggal. Apakah hari ini dia bisa menghadiri pemakaman temannya ya? Auk ah..


"Ada apa Zanu? Sampai lihat beritanya sedekat itu?" tanya Bram menghentikan langkah kakinya.


"Itu Kak, tersangkanya ternyata Kakak Bambang. Bambang itu sahabat dekatnya Vincent. Nggak nyangka, adeknya baik lho..," jawabku.


"Belum muncul, paling bentar lagi. Ayo, sini Kakak lihat beritanya," jawabku dengan antusias mengajak Bram ikut nonton.


Bram duduk di sofa dan aku balik lagi duduk di sofa dekat Bram.


Semua fokus melihat dan mendengar isi berita di televisi. Dan benar, wajah pelaku diperlihatkan langsung. Tapi tersangka lebih banyak menunduk, mungkin karena menahan malu.


*********


Sreett...!


Terdengar suara pintu terbuka. Kita yang lagi fokus, serentak berpaling ke arah pintu.


Ternyata dokter beserta rekan-rekan dan perawatnya masuk. Bram berdiri dan berjalan sedikit demi sedikit mau menghampiri dokter.


"Tidak usah Pak Bram. Silahkan duduk saja," ujar dokter yang berdiri paling depan.


Bram berputar arah menuju sofa dan duduk kembali.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak Bram dan semua yang ada di sini. Sesuai permintaan Pak Bram, hari ini saya melakukan pemeriksaan ulang mengenai kondisi fisik Bapak. Seperti yang kita lihat, Pak Bram sudah bisa berdiri dan berjalan. Walau belum maksimal, tapi sudah menunjukkan kesembuhan," ujar dokter.


"Pagi juga Dok. Terima kasih atas kehadirannya. Alhamdulillah saya merasa kondisi saat ini kuat," jawab Bram.


"Oke Pak Bram. Saya dan rekan-rekan langsung saja memeriksa kondisi Bapak. Silahkan Bapak berbaring dulu, supaya pemeriksaannya bisa maksimal,"


Bram langsung berdiri dan berjalan pelan-pelan menuju tempat tidur. Perawat-perawat membantu Bram naik ke atas.


Mulailah dokter dan perawat melakukan tugasnya. Ada juga yang sibuk mencatat hasil pemeriksaan. Dan ada juga yang mengamati saja. Mungkin dokter yang baru magang.


**********


Tiga puluh menit kemudian, pemeriksaan kondisi Bram sudah selesai. Aku, Pak Jack dan Laura sedari tadi hanya bisa mengamati dari jauh, di iringi sekali-kali sambil menonton berita di televisi.


"Baik Pak Bram, tugas kami sudah selesai. Kondisi Bapak bagus dan sehat, hanya tinggal menunggu bekas lukanya mengering. Bagian dada bekas tembakan, untuk sementara Bapak tidak diperbolehkan melakukan gerakan yang extrim atau kegiatan yang berat-berat, termasuk olah raga. Bapak hanya berlatih berjalan saja setiap hari, supaya otot-otot berfungsi secara keseluruhan," terang dokter dengan serius.


"Oke Dok, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih juga buat rekan-rekan semua," jawab Bram sambil membungkukkan kepala sedikit di hadapan mereka, sebagai tanda ucapan terima kasih.


"Kita izin Pak Bram. Bapak boleh rawat jalan dan diizinkan pulang. Nanti pihak rumah sakit akan menyiapkan dokter khusus selama pemulihan Bapak di rumah. Permisi Pak, semoga lekas sembuh ya,"


"Aamiin, sama-sama Dok. Silahkan..," jawab Bram singkat.


Akhirnya para dokter dan perawat keluar dari ruangan. Kembali lagi tinggal kita berempat.


"Bagaimana Bos? Diizinkan pulang ya?" tanya Pak Jack untuk memastikannya.


"Iya Pak Jack. Tolong nanti Bapak ajak yang lainnya untuk membereskan semua barang-barang saya di ruangan ini. Kita segera mungkin keluar dari sini, karena saya dan Zanu, akan melayat ke rumah teman," perintah Bram.


"Baik Bos. Saya panggilkan dulu teman-teman di luar, sekalian saya memanaskan mobil dulu untuk perjalanan nanti, permisi Bos," ujar Pak Jack.


Bram mengangguk. Pak Jack langsung keluar ruangan. Sedangkan Laura mulai membereskan peralatan makan dan dua tempat tidur.


Aku juga membereskan barang-barang yang kubawa dari rumah. Sedangkan Bram terlihat sedang menelepon seseorang.


"Kenapa secepat itu Pa? Aku wisuda sebulan lagi lho. Apakah di sana baik-baik saja? Mama ikut juga ya?" tanya Bram melalui ponsel.


Hening sejenak. Aku menguping pembicaraan Bram, walau terdengar samar-samar, tapi cukup jelas apa yang mereka bicarakan.


Yup! Orang tua Bram akan ke sini. Apakah nanti aku akan dipertemukan dengan mereka? Bagaimana nanti ya tanggapan kedua orang tua Bram terhadapku?


Entahlah...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2