Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 102 : Kak Siska


__ADS_3

Aku berjalan ke ruang tengah.


"Hai Zanu!" teriak Kak Siska, Kak Rosi, Kak Kinan, Rani dan Mira serentak.


Aku kaget! Kok tiba-tiba jadi rame? Perasaan tadi kost ini sepi.


"Duh, duh, yang di antar sama ayangnya," ledek Kak Siska mendekatiku.


Aku cuma tersenyum melihat mereka yang antusias dengan kedatanganku.


"Apa kabar Zanu? Rasanya sudah lama kita tidak bertemu?" tanya Kak Rosi.


"Alhamdulillah baik Kak. Semua di sini bagaimana? Kangen nggak sama Zanu?" tanyaku balik.


"Ya kangen dong," jawab Mira.


"Sini Zanu, duduk. Kita mau dengar cerita selama kamu sama Ketua," ujar Kak Siska.


Dari mereka berenam, memang Kak Siska ini yang paling kepo tentang hubunganku dengan Bram. Tidak heran, setiap Kak Siska bertemu denganku, selalu ingin tau perkembangan Bram.


"Alhamdulillah Ketua sudah mulai pulih Kak, sekarang sudah bisa kuliah lagi. Tapi tidak bisa bergerak bebas melakukan aktifitas yang berat," jawabku sambil duduk di sofa.


"Syukurlah. Selama kamu pergi, kost kita jadi sepi dari pergosipan. Rasanya ada yang kurang kalau tidak mendengar tentang Ketua, ha.ha.ha..," ujar Kak Siska.


"Siska, udah deh. Zanu baru saja sampai, tanyain tentang dia dulu," ujar Kak Kinan.


Nah, Kak Kinan orangnya paling serius dan nyeletuknya nggak kira-kira, langsung to the point.


"Nggak apa-apa Kak. Keadaan Zanu baik-baik saja. Oiya, bagaimana dengan anak kost yang baru? Masih tinggal di sinikah? tanyaku.


"Oh Sacia. Dia cuma dua hari nginap di kost ini, setelah itu dia out. Dia sempat menanyakan keberadaan Prita malam itu sebelum dia keluar dari kost ini. Entah kenapa, malam itu juga Prita bilang mau ke Prn menyusul kamu. Jadi mereka berdua tidak bertemu. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kak Rosi penasaran.


Waduh! Apa yang harus aku jelaskan ke mereka ya? Kalau aku ceritakan yang sebenarnya, mungkin mereka tidak akan percaya. Jikalau mereka percaya ceritaku, justru akan mempersulit kondisi Prita.


"Tidak ada apa-apa Kak, kebetulan saja Prita mau main kerumahku," jawabku.


"Tapi kenapa harus malam-malam perginya? Kan bisa besok pagi atau siang," ujar Rani.


"Yaa, mungkin Prita mau berlama-lama ditempat Zanu," jawabku sekenanya.


"Kalau Prita selama ini di tempat Zanu, sekarang Pritanya di mana? Kamu nggak barengan sama Prita?" tanya Kak Kinan.

__ADS_1


Deg! Aduh, ini gimana ya ngejelasinnya? Aku juga nggak tau Prita lagi di mana sekarang.


"Prita pulang duluan Kak. Tapi, tadi Bibi bilang Prita belum kembali ke sini. Itu yang membuat Zanu bingung Kak, Pritanya lagi di mana," jawabku dengan perasaan was was.


"Jadi kamu belum tau keberadaan Prita sekarang? Waduh!" ujar Kak Siska.


"Prita ada cerita nggak kalau dia punya keluarga di sini? Mana tau dia singgah dulu kan ke rumah saudaranya?" ujar Mira.


Aha! Aku baru ingat kalau Gubernur kota P ini adalah pamannya Prita. Bisa jadi dia mampir ke sana atau nginap beberapa hari. Besok aku akan cari tau keberadaan Prita, minta bantuan Bram.


"Zanu nggak tau," jawabku terpaksa berbohong.


Prita sudah wanti-wanti memperingatkanku untuk tidak bercerita terlalu banyak tentang kehidupan dia. Karena situasinya bisa membahayakan nyawa Prita sendiri.


"Kasian kalau kenapa-kenapa sama Prita. Apa kita perlu laporkan sama Mami?" tanya Rani.


"Jangan dulu Kak, mana tau besok Prita ke sini," cegahku.


"Iya Rani, kita tunggu saja sampai besok," jawab Kak Rosi.


Semuanya mengangguk. Suasana hening sejenak, kita larut dengan pikiran masing-masing. Terutama aku.


Bisa-bisanya Prita tidak memberikan kabar kepadaku. Dan bagaimana dengan Atif ya? Apa dia sempat melapor atau memberi kabar ke Bram?


"Kak, Zanu bawa rambutan sekarung. Nanti kita bagi-bagi ya," ujarku memecah keheningan.


"Wah.., aku suka sekali rambutan," ujar Kak Kinan.


"Besok saja kita bagi. Sekarang sudah lewat jam sembilan malam. Saatnya kita tidur, besok kuliah kan?" jawab Kak Rosi.


Kita semua mengangguk serentak. Mira mematikan televisi. Satu persatu dari kita mulai berjalan ke kamar masing-masing.


"Goodnight semuanya," ujar Kak Siska.


"Goodnight too Kak," jawabku.


Aku menaiki tangga menuju lantai dua. Kubuka kamar dan kututup kembali. Aku meletakkan ransel di kursi. Rasanya lelah sekali malam ini, rasanya ingin cepat-cepat tidur.


Walau dalam keadaan ngantuk berat, aku sempatkan membersihkan tempat tidur, mencuci muka, sikat gigi dan ganti pakaian. Setelah semua beres, aku langsung rebahan di atas tempat tidur.


Sebelum tidur, aku sempat membayangkan wajah Bram. Berharap Bram bisa hadir dalam mimpiku.

__ADS_1


Goodnight Kak..


********


Kring...! Bunyi alarm masih nyaring.


Seperti biasa aku wudhu, sholat dan mandi. Setelah menyiapkan buku kuliah dan berpakaian, aku langsung turun untuk sarapan.


Di ruang makan, semua penghuni kost sudah duduk di tempat masing-masing sambil menikmati sarapan. Kebetulan menu kali ini, nasi goreng toping daging dadu. Tersedia juga susu coklat.


"Zanu, bareng Kakak saja ke kampus," tawar Kak Siska.


"Baiklah Kak, Zanu nebeng ya," jawabku.


Kak Siska mengangguk. Tidak banyak yang kita bicarakan pagi ini. Kak Kinan sudah berangkat duluan, kemudian di susul oleh Mira dan Rani. Tinggal aku, Kak Siska dan Kak Rosi.


Setelah sarapan selesai. Aku ikut mobilnya Kak Siska. Sedangkan Kak Rosi, mengendarai kendaraannya sendiri.


Setelah kita pamit sama bibi, mobil Kak Siska melaju menuju kampus.


Senang rasanya bisa kuliah lagi dan melihat kampus kesayanganku. Beberapa hari tidak masuk, aku merasa sudah beberapa minggu.


"Zanu, nanti pulangnya jam berapa? Sama Kakak saja kalau waktunya sama," Kak Siska menawarkan tumpangan lagi.


"Maaf Kak, pulang kuliah nanti, Zanu di jemput Ketua," jawabku.


"Duh...! Enaknya Zanu di jemput sama Ketua. Kakak ikut senang mendengarnya,"


"Kak, boleh tanya nggak? Kenapa Kakak selalu antusias mendengar tentang Ketua?" tanyaku serius.


"Zanu, Ketua itu orangnya dingin. Sedingin Es. Dulu awal-awal kuliah, Kakak naksir Ketua. Ternyata usut punya usut, hampir semua perempuan di kampus naksir Ketua. Karena orangnya cuek dan tidak peduli dengan namanya perempuan, kita tidak pernah melihat seorangpun perempuan yang bisa mendekati Ketua. Nah, yang suka dekatin Ketua itu ya temannya bernama Sari. Hebohlah satu kampus,"


Kak Siska berhenti sejenak.


"Semenjak itu, dia selalu berusaha bisa dekatin Ketua. Dia jadi angkuh, sombong dan seenaknya melabrak orang. Bukan kamu saja yang di labrak, sebelum-sebelumnya sudah beberapa yang nangis gara-gara itu perempuan. Kakak senang, ternyata Zanulah satu-satunya orang yang bisa meluluhkan hati Ketua. Semuanya juga ikut senang, karena rasa penasaran mereka terbayarkan dengan tersingkirnya Sari itu," ujar Kak Siska panjang kali lebar.


Aku hanya menyimak cerita Kak Siska.


"Sudahlah, kamu sekarang fokus kuliah dan jaga baik-baik hubungan kamu dengan Ketua. Jangan khawatir dengan perempuan lain di luar sana. Kakak yakin, hanya Zanu satu-satunya yang Ketua inginkan,"


Aku tercenung dan entah mengapa hatiku tiba-tiba terasa sedih. Andai saja aku bisa tau itu apa. Andai saja aku bisa bercerita dengan siapapun. Tapi bibirku kelu untuk bicara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2