Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 44 : Kasus Selesai


__ADS_3

Kita sampai juga di kampus.


Cuaca tidak begitu terik dan kebetulan hatiku juga sedang adem. Jadi suasana kampus hari ini buatku terasa menyenangkan.


Aku dan Prita masuk ke dalam ruang kuliah. Teman-teman terlihat sudah mulai berdatangan. Tak berapa lama, masuk dosen perempuan. Hari ini kita hanya mendapatkan materi hukum secara garis besarnya saja.


Dosenku bernama Safna, orangnya masih muda dan cantik. Terlihat ramah dari sikapnya tapi sedikit judes dilihat dari tutur katanya.


Setelah selesai memberikan materi dan tugas, Dosen Safna beranjak keluar ruangan.


Tiba-tiba seniorku Kak Resa masuk ke dalam dan langsung menghampiriku. Sepertinya ada berita penting yang ingin disampaikannya.


"Zanu, ikut Kakak. Ada hal penting," ujar Kak Resa.


"Mau kemana Kak?" tanyaku.


"Ketua menunggu Zanu di luar. Biar Ketua yang jelaskan nanti," jawab Kak Resa.


"Oke Kak. Prita, aku keluar bentar ya," ujarku ke Prita.


"Sip. Nanti aku tunggu di kantin pas jam kuliah terakhir," jawab Prita.


Aku mengangguk dan berjalan mengikuti Kak Resa. Di sudut gedung Rektorat aku melihat Bram sedang berdiri. Dia melihat kedatanganku bersama Kak Resa.


Ada apa ya? Sepertinya penting banget, aku jadi merasa sedikit takut.


"Hai Zanu, apa kabar?" tanya Bram basa basi.


"Baik Kak. Ada apa?" jawabku langsung to the point.


"Zanu, orang tua Sari dan Lutfa datang ke sini. Sekarang mereka berada di ruang Rektor. Di sana juga sudah ada Dekan, dosen dan dari kepolisian," jawab Bram dengan serius.


Aku kaget! Aduh, apa lagi ini? Apa aku harus jadi saksi atau sebagai korban dari peristiwa pembakaran tenda kemaren? Bagaimana sih ini ceritanya jadi semakin panjang.


"Trus aku di panggil buat apa?" tanyaku.


"Gini, di sini kan posisi kamu sebagai korban saat kejadian perkemahan kemaren. Dan saat itu juga, kita sudah membuat laporan di kepolisian daerah setempat. Jadi sebelum masuk penyelidikan lebih lanjut, pihak polisi diskusi dulu dengan Rektor. Intinya, apa bisa kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan? Karena kondisi Sari dan Lutfa sedang dalam proses penyembuhan atas kecelakaaan yang dialami mereka kemaren," jawab Bram.


Aku diam dan Kak Resa juga dari tadi hanya diam menyimak pembicaraanku dengan Bram.


"Zanu, semua hanya menunggu keputusanmu. Apa dilanjutkan prosesnya atau kamu mau memaafkan mereka, jadi kasusnya bisa di tutup,"


"Kak, aku tuh sebenarnya bingung ambil keputusan. Jika aku hentikan kasus ini, apakah akan terjamin keselamatanku selanjutnya? Tapi jika dilanjutkan, kasihan kondisi mereka saat ini," jawabku nelangsa.

__ADS_1


"Ikuti saja kata hatimu. Aku akan jamin untuk keselamatan kamu. Selagi aku ada, semua akan berjalan dengan semestinya. Aku yakin dengan apapun keputusanmu, itu pasti sudah yang terbaik," ujar Bram meyakinkanku.


"Ketua, Pak Ahad ngasih kode tuh nyuruh kita masuk," ujar Kak Resa tiba-tiba sambil menunjuk ke arah pintu masuk ke ruang Rektor.


Di sana terlihat Pak Ahad sedang berdiri di dekat pintu. Bram menoleh ke arah Pak Ahad dan langsung mengangkat jempol tangannya. Pak Ahad masuk kembali ke dalam ruangan.


"Oke Zanu, sekarang kita masuk dan berfikirlah dulu dengan jernih sebelum mengambil keputusan. Selama kamu di dalam akan didampingi Resa," ujar Bram.


Aku mengangguk, Bram menggenggam tanganku dan langsung berjalan menuju ruang Rektor. Saat sudah masuk, Bram melepaskan tangannya dan langsung menghampiri Rektor.


Baru kali ini aku melihat Rektor dari dekat. Sekilas kulihat Rektor mirip Bram. Wajarlah kalau Rektor adalah pamannya Bram.


Di dalam ruangan sudah ada orang-orang yang di sebutkan Bram tadi. Semua mata tertuju padaku. Aku jadi semakin takut, seakan aku yang akan di sidang.


Pak Rektor mempersilahkan aku duduk. Bram dan Kak Resa berdiri dibelakangku. Sedangkan di hadapanku telah duduk kedua orang tua dari Sari dan Lutfa.


Di samping mereka sudah ada Dekan, dosen dan dua orang yang berseragam polisi. Sedangkan dua polisi lagi dan Dosen Ahad berdiri di pintu masuk.


"Zanu, ini kedua orang tua dari mahasiswa kampus kita bernama Sari dan Lutfa. Kedatangan Ibu dan Bapak ini ingin menyampaikan sesuatu perihal kejadian perkemahan kemaren. Dan ingin berbicara langsung dengan Zanu dengan disaksikan kita bersama yang ada diruangan ini," ujar Pak Rektor dengan mimik serius.


Aku mulai deg-degan. Aku menoleh ke belakang arah Bram. Bram menganggukan kepalanya. Mungkin kode untuk aku harus siap menghadapi ini.


"Nak Zanu. Saya Bapaknya dari Sari dan Lutfa. Saya sudah menerima informasi dari polisi atas kelakuan anak saya. Dan saat ini anak saya belum bisa hadir karena sedang proses penyembuhan. Selaku orang tua mereka, saya meminta maaf atas kelakuan anak saya terhadap nak Zanu. Di mohon nak Zanu mencabut kasus ini, agar anak saya bebas dari hukum," ujar Bapaknya Sari dengan terbata-bata.


Walau raut wajahnya terlihat sedih, tapi masih bisa menahan air mata yang hampir keluar. Aku jadi teringat Papaku.


"Iya nak, tolong maafkan anak-anak Ibu. Kami sudah bicara dengan anak kami dan mereka mengakui salah. Mereka tidak bisa hadir karena harus menjalani penyembuhan secara bertahap. Ibu tau, anak-anak Ibu sangat salah. Tolong maafkan anak Ibu ya nak...," tangis sang Ibu pecah dan terisak.


Sesekali sang Ibu melihat ke arah polisi yang ada disampingnya. Terlihat sekali Ibu ini tertekan dalam ketakutan atas perbuatan anaknya.


Aku juga tidak tega melihat Bapak dan Ibu ini. Pasti mereka sangat terpukul dengan dua peristiwa sekaligus yang menimpa anak-anaknya. Dalam waktu hampir bersamaan.


"Bapak dan Ibu. Saya sudah memaafkan. Dan saya tegaskan akan mencabut laporan dari kepolisian yang menangani kasus ini. Saya harap anak-anak Bapak dan Ibu segera pulih kembali seperti sedia kala. Dan pihak kampus bisa menerima mereka kembali. Jadi, Bapak polisi, tolong laporannya di cabut," jawabku dengan tegas.


"Alhamdulillah, terima kasih nak. Terima kasih," ujar sang Bapak terharu.


Istrinya masih saja menangis dan terharu saat mendengar ucapanku. Terlihat raut wajah bahagia dan lega dari mereka berdua.


"Baik Dek Zanu. Kami akan segera mencabut laporannya. Kedepannya tidak ada lagi tuntutan apapun dari pihak manapun. Kita semua hari ini sudah menyelesaikannya secara kekeluargaan dan kasus di tutup," jawab Pak polisi dengan tegas.


Semua yang berada diruangan terlihat senang dan lega karena sudah menemukan titik terang dan kasus ditiadakan.


"Baik. Saya selaku Rektor Universitas ini akan menerima kembali dengan baik anak-anak Ibu dan Bapak. Dan memberikan waktu off untuk menjalani proses penyembuhan. Nanti informasi lainnya akan saya serahkan ke dosen yang mengajar di jurusan masing-masing. Terima kasih atas hadirnya Bapak dan Ibu, Zanu dan Bapak Polisi," ujar Pak Rektor.

__ADS_1


Pak Rektor langsung berdiri dan menghampiri Polisi. Sedangkan Ibu dan Bapaknya Sari Lutfa ikut berdiri dan menghampiriku. Mereka langsung memelukku dan menangis.


"Terima kasih ya nak, terima kasih," ujar mereka hampir barengan.


Aku mengangguk dan meraih tangan mereka untuk di salami.


"Iya Pak, Ibu. Tolong sampaikan salam saya untuk Sari dan Lutfa, semoga lekas sembuh," jawabku.


"Pasti itu nak, kami pasti akan sampaikan," jawab sang Bapak.


Setelah itu semua Polisi yang berada di ruangan tersebut pamit untuk pulang. Sebelumnya mereka sudah meminta tanda tanganku untuk berkas penutupan kasus tersebut.


Bapak dan Ibu Sari Lutfa juga ikut pamit pulang. Setelah sedikit berbincang dengan Rektor, aku, Bram dan Kak Resa izin keluar ruangan.


********


Aku berjalan keluar ruangan dengan perasaan plong. Terlihat Bram tersenyum padaku dan berbisik.


"Terima kasih sayang, keputusan inilah yang terbaik dari orang baik sepertimu," ujar Bram lembut di telingaku.


OMG! Aku kaget! Bram menyebutku dengan kata "Sayang"?! Salahkah pendengaranku?


Terasa hatiku bergetar tidak karuan. Aku malu mendengar ucapan Bram.


Aku terdiam dan tertunduk malu. Bram menyadari itu dan malah makin tersenyum melihatku. Aku jadi salting.


"Kak, aku ke kantin dulu ya. Prita sudah menungguku di sana," ujarku untuk memecahkan kekakuan.


"Sekalian saja. Aku juga mau ke sana. Resa, terima kasih ya sudah menemani. Apa kamu mau ikut kami ke kantin?" tanya Bram ke Kak Resa.


"Sama-sama. Tidak usah Ketua. Aku mau mengurus sesuatu, kapan-kapan saja kita barengan lagi sama Zanu. Baiklah Zanu, Kakak ke sana dulu ya," jawab Kak Resa.


Aku dan Bram mengangguk. Kak Resa berjalan ke arah gedung lain. Dan tinggallah aku dan Bram berjalan berdua menuju arah kantin.


"Zanu, nanti pulang kita sama-sama ya. Prita juga boleh ikut, kita antar ke kost. Aku mau bawa kamu kesuatu tempat, oke," ujar Bram.


"Mau kemana Kak?" tanyaku.


"Ada deh, nanti juga kamu bakal tau," jawab Bram.


Aku cuma diam dan berfikir, mau diajak kemanakah aku sama Bram? Ah sudahlah, jika ditanyapun, Bram tidak akan mau memberitauku.


Terlihat sepanjang jalan, mahasiswa yang lalu lalang melihat ke arahku dan Bram. Terutama yang cewek, seperti kaget dan heran melihat kedekatanku dengan Bram.

__ADS_1


Dan aku sudah terbiasa menghadapi tatapan orang-orang disaat ada Bram disampingku. Walau Bram orangnya dingin tapi dia sangatlah keren.


...****************...


__ADS_2